
"Kak Hana sayang!" sapa Kiara sembari memeluk Hana dari belakang. Kebetulan Hana sedang memasak di dapur. Sebenarnya ada koki khusus untuk memasak. Namun Hana terbiasa membuatkan sarapan untuk Rafa. Hana jarang meminta koki memasak untuk sarapan Rafa. Khusus pagi Ini, Kiara ingin membantu Hana menyiapkan sarapan. Dia berniat membuatkan Rizal sesuatu. Meski itu hanya secangkir teh. Kiara ingin membuatnya sendiri. Dengan dibantu Hana, Kiara membuatkan teh yang enak untuk suaminya.
"Kiara, kamu sudah bangun! Kakak pikir, kamu akan bangun sedikit siang. Maklum saja semalam, bukankah malam pertamamu dengan Rizal. Sudahkah kalian menyatukan cinta diantara kalian!" ujar Hana menggoda Kiara, dengan anggukan pelan yang terasa di balik punggung Hana. Kiara malu mengakui, jika dia telah menjadi milik Rizal seutuhnya. Kini Rizal benar-benar imam dunia akhiratnya. Kiara telah menyerahkan harta yang paling berharga yang dimilikinya.
"Kakak, aku ingin membuatkan kak Rizal secangkir teh. Bisa tidak kak Hana membantuku. Nanti setelah membuat teh, aku akan membantumu memasak. Tentu saja hanya memotong dan mencuci sayuran yang aku bisa. Jika aku yang memasak, bukannya kenyang malah akan sakit perut!" ujar Kiara lirih, Hana mengangguk pelan seraya tersenyum. Tanpa sengaja dia mendengar, Kiara memanggil Rizal dengan sangat mesra. Hana merasa bahagia melihat senyum di wajah Kiara yang senantiasa terlihat nyata.
"Melihat senyum yang selalu melekat di wajahmu. Sepertinya semalam terjadi penyatuan cinta yang membuang jauh jarak diantara kalian. Aku juga mendengar kamu memanggil dengan mesra pada Rizal. Kak Hana ikut bahagia melihat cinta kalian berdua yang tumbuh tanpa halangan. Sekarang kamu buatkan teh untuk suamimu dan kakakmu Rafa. Aku hanya membuat roti bakar. Sebab kalian akan sarapan bersama di rumah keluarga Prawira!" ujar Hana lirih, Kiara melepaskan pelukannya. Dia menatap heran ke arah Hana. Perkataan Hana seolah mengisyaratkan, dia tidak akan ikut ke rumah keluarga Prawira. Kiara merasa bingung dengan sikap Hana yang sedikit aneh.
"Kak Hana, kenapa aku merasa kamu tidak akan ikut dengan kami? Apa kak Hana masih marah pada keluargaku? Sehingga kak Hana tidak ingin bertemu mereka atau sekadar menginjak rumah kami lagi!" ujar Kiara, Hana menggeleng lemah. Hana menerawang jauh ke belakang. Dimana Hana sangat terhina dan tersakiti di rumah itu? Hana mengalami banyak kejadian buruk di rumah itu. Semenjak Hana mengalami semua kenangan pahit di rumah itu. Hana seakan trauma dan takut untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Namun penolakan Hana kali ini bukan karena pengalaman itu. Ada alasan lain yang sedikit tidak masuk akal.
"Kiara, bukan kak Hana tidak ingin pergi atau marah pada keluargamu. Namun kak Hana sedang tidak sehat. Sangat tidak mungkin aku datang dengan fisik yang lemah. Aku akan berada di rumah. Kalian bertiga harus datang, meski tanpa diriku. Tidak baik menolak undangan orang tua kita. Apalagi kakek sedang sakit!" ujar Hana lirih, Kiara mengangguk mengiyakan. Tidak pernah Kiara berpikir ingin memaksa Hana. Di selalu menghormati keputusan Hana. Sama halnya Rafa yang selalu mengikuti, apa yang menjadi keputusan Hana? Sesungguhnya Rafa sangat ingin mengajak Hana, tapi Hana terus menolak dengan banyak alasan.
Kiara keluar membawa nampan berisi dua cangkir teh dan sepiring roti bakar. Setelah memberikannya pada Rafa dan Rizal. Kiara duduk di samping Rizal. Tanpa ada yang meminta, tangan Rizal tiba-tiba memeluk Kiara. Rafa melihat kemesraan kedua pengantin. Kebahagian kedua pengantin berbanding terbalik dengan hati Rafa saat ini. Hubungannya dengan Hana mendingin, setelah semalam tanpa sengaja Rafa marah pada Hana. Seakan tak mampu menahan amarah. Rafa membentak Hana, bentakan yang selalu membuat Hana takut. Sejak pagi Hana dan Rafa belum bertemu. Hana turun saat Rafa berada di kamar mandi. Keduanya bersikap dingin satu sama lain.
"Kak, kenapa kak Hana tidak ikut kita ke rumah papa? Kasihan kakek dan papa, mereka pasti merindukan Fathan. Jika kak Hana tidak ikut, Fathan pasti tidak ikut. Secara Fathan selalu menempel pada kak Hana!" ujar Kiara lirih, Rafa terdiam termenung mendengar pertanyaan Kiara. Masalah ini juga yang membuat Rafa dan Hana sempat bedebat. Kiara duduk menjauh dari Rizal, sembari melepaskan pelukan Rizal. Kiara melihat perubahan raut wajah Rafa. Terlihat kesal dan dingin, sesaat setelah dia menanyakan alasan Hana tidak ikut bertemu dengan keluarganya.
"Biarkan saja Kiara, aku sudah mencoba membujuknya. Hana tetap keras kepala, dia tidak ingin ikut dengan kita. Dia tidak akan mendengarkanku, dia selalu merasa benar dengan sikapnya. Hana tidak pernah salah, kita yang selalu salah dimatanya. Kebenciannya pada keluarga kita tidak akan pernah hilang. Dia akan selalu menyimpannya!" ujar Rafa emosi, Kiara dan Rizal melihat Rafa dengan raut wajah yang sangat kesal. Tanpa sengaja Hana lewat di samping mereka. Hana mendengar jelas amarah Rafa. Meski Hana menjelaskan alasan penolakannya. Rafa tetap marah dan membentaknya semalam.
__ADS_1
"Kak Rafa, mungkin ada alasan lain yang membuat kak Hana tidak bisa ikut dengan kita. Aku pernah membencinya dan menghinanya, tapi dia tidak pernah mengatakan apapun padaku. Saat aku bertanya tentang mama Sabrina. Aku jelas melihat pengertian yang tak mungkin kita dapatkan dari wanita lain. Jadi sangat tidak mungkin kak Hana menolak pergi. Jika hanya karena benci pada keluarga kita!" ujar Kiara lirih, Rafa menggeleng lemah. Meski Kiara berusaha meredakan amarah Rafa. Tetap saja dia marah pada Hana. Rizal dan Kiara diam melihat sikap Rafa yang sangat emosi.
"Banyak alasan yang membuat Hana tidak ingin menginjakkan kakinya di rumah keluarga Prawira. Apalagi sekarang di sana tinggal Lisa. Aku sengaja meminta Lisa tinggal disana. Agar bisa memantau kondisi kakek. Bukan mengerti akan alasan keberadaan Lisa. Hana terus saja hidup dalam kecemburuannya. Meski aku tahu semua itu, karena hormon kehamilannya. Tidak seharusnya Hana bersikap seperti itu. Dia seorang istri yang seharusnya menuruti perkataan suaminya. Bukan malah hidup dengan pemikirannya. Dia selalu menganggap dirinya benar dan orang lain yang salah menilainya. Biarkan saja dia bersikap seperti itu, aku juga tidak peduli. Aku heran mengalah demi kakek saja dia tidak bersedia! Meski disana ada Lisa, aku juga tidak pernah berpikir ingin menjadikan Lisa yang kedua. Aku sudah berusaha meyakinkan dia, tetap saja dia cemburu tanpa alasan!" ujar Rafa dengan nada emosi. Kiara menunduk lemah, dia melihat Rafa yang dulu telah kembali. Penuh dengan amarah dan keangkuhan. Rafa seakan benar-benar marah pada sikap Hana. Tanpa peduli lagi alasan Hana menolak untuk ikut. Hana yang mendengar amarah Rafa hanya diam. Dia tidak ingin menjelaskan apapun pada Rafa. Meski Hana menjelaskan Rafa akan tetap marah. Hati yang dipenuhi amarah, tidaka akan bisa mendengar penjelasan apapun!
"Aku tidak akan marah, meski kamu membentakku. Aku tidak akan menangis, meski kamu memarahiku. Aku tidak akan terluka, meski kamu menghinaku. Namun aku akan tersakiti, saat kamu mulai meragukan diriku. Marahlah kalau perlu tampar aku, tapi jangan pernah menyalahkanku. Keputusanku ada dan hanya diriku yang tahu alasan dibalik semua itu. Bentak diriku bahkan kamu berhak mengusirku, tapi jangan pernah meragukan ketulusanku pada keluarga. Seberapa besar sayangku dan pengorbanan yang kuberikan. Hanya Allah SWT yang mengetahuinya, hanya DIA yang berhak menyalahkan dan meragukanku. Aku tidak perlu pembelaanmu, aku juga tidak berharap perlindunganmu. Cukup kamu percaya, aku takkan pernah ingin menyakiti keluargamu. Namun hari ini aku melihat amarahmu yang seakan mengatakan diriku membenci keluargamu. Jika memang bukan diriku yang terbaik untukmu. Semoga ada yang jauh lebih baik untukmu daripada diriku. Sebagai seseorang yang mencintaimu. Aku selalu mendoakan kebahagianmu. Meski bukan aku yang ada di sampingmu. Mendampingi dalam suka dan dukamu!" batin Hana lalu pergi menuju kamarnya. Hana hendak menyiapkan diri Fathan yang akan ikut dengan Rafa.
Tak lama Fathan turun bersama pengasuhnya. Rafa dan Hana memutuskan mencari pengasuh, untuk membantu Hana merawat Fathan. Amarah Rafa seakan bertambah, saat dia melihat Fathan turun tanpa Hana. Seketika Kiara berdiri menggendong Fathan, Rafa dan Rizal mengikuti dari belakang. Mereka bertiga masuk dalam satu mobil. Tepat di depan rumahnya Rafa berdiri menatap ke arah kamarnya. Dia mendongak berharap Hana bersedia ikut dengannya.
"Sayang, aku mohon turunlah. Sejujurnya aku tidak ingin pergi tanpamu. Aku tidak ingin kamu terluka memikirkan pertemuanku dengan Lisa. Sayang, aku mohon mengalah untuk kali ini saja. Aku tersiksa dengan amarah ini. Aku tidak pernah bisa marah padamu. Aku mohon mengertilah, ikut denganku agar aku tidak menjadi orang yang jahat di depanmu. Aku mohon!" batin Rafa penuh harap, sembari menatap kamarnya pilu. Hana mengintip di balik tirai kamarnya. Kepalanya terasa berat, dia bersandar pada dinding agar dia bisa tetap berdiri.
"Dia ada di kamarnya, kami akan pergi ke rumah papa. Aku tahu kenapa dia tidak ikut? Mungkin dia sedang ada janji denganmu!" sahut Rafa dingin, Diana menggeleng lemah. Rafa berjalan melewati Diana, sikap dingin Rafa sangat terlihat. Diana bisa melihat jelas semua itu. Semalam Hana sudah menghubunginya, karena itu dia bisa melihat amarah Rafa pagi ini.
"Tuan Rafa Akbar Prawira, mungkin anda mulai lupa watak sahabatku! Anda mulai merasa hanya anda yang mencintainya dengan sepenuh hati. Anda merasa Hana hanya wanita yang keras kepala dan egois. Semua orang berpikir anda orang yang sangat mencintai Hana. Seorang suami yang selalu siap melindungi Hana dan hanya kebahagian Hana tujuan hidup anda. Sebab anda selalu menunjukkan cinta dan kasih sayang itu. Sebaliknya Hana mencintai dan berkorban hanya dengan diammya. Pernahkah sekali saja anda merasakan cinta dan pengorbanannya. Jika bukan demi sebuah janji, aku ingin sekali mengatakan semuanya. Namun janjiku jauh lebih berharga, daripada melihat penyesalanmu. Hana bukan wanita egois yang akan menghancurkan kebahagian dan keutuhan sebuah keluarga. Jika memang tidak ada alasan yang tepat. Tentu Hana tidak akan melakukan semua ini. Seharusnya sebagai seorang suami anda mengetahui itu. Aku sebagai sahabatnya akan selalu percaya pada keputusannya. Aku tidak pernah meragukannya. Hana tahu yang terbaik untuk dirinya dan orang yang dia cintai!" tutur Diana dingin, Rafa menoleh dengan penuh amarah. Perkataan Diana seakan sedang menyindirnya. Rafa menghampiri Diana, dengan mata merah menahan marah. Rafa menatap wajah Diana.
"Apa yang ingin kamu katakan? Tidak perlu berputar, katakan saja. Apa yang ingin sahabatmu buktikan? Dengan sikap kerasnya. Bahkan menjenguk kakek yang terbaring sakit, saja dia tidak bersedia. Kakek yang merindukan cucu dan cicitnya. Mungkin dia sahabatmu, tapi bukan Hana ini yang aku kenal!" ujar Rafa sinis, Diana menggeleng seraya tersenyum. Seolah ingin mengatakan pada Rafa. Bahwa dia salah menilai Hana.
"Apapun yang ingin dibuktikan Hana. Anda akan mengetahui nanti, aku berdoa saat semua terungkap. Anda tidak terlalu terluka mengetahuinya. Lebih baik anda berangkat, waktu sarapan semakin siang. Jangan pernah khawatirkan sahabatku. Hana sudah terbiasa hidup sendiri, diacuhkan dan diragukan. Namun anda jangan lupa, selama ada aku. Hana tidak akan pernah sendirian." ujar Diana, Rafa berjalan menuju mobil. Sedangkan Diana masuk ke dalam rumah. Rafa merasa kesal, perkataan Diana seolah mengungkit kejadian yang membuat Hana harus hidup sebatang kara.
__ADS_1
"Mbak Hana pingsan!" ujar bik Sum, sontak Diana berlari menuju kamar Hana. Tanpa banyak bicara, bahkan hampir saja Diana terjatuh. Saat kakinya tanpa sengaja terpeleset.
"Hana!" teriak Diana sembari berlari, Rafa mendengar teriakan Diana langsung menoleh. Dengan cepat Rafa berlari menyusul Diana. Kiara dan Rizal mengekor di belakang Rafa.
Braaakkk
"Hana!" teriak Rafa panik. Dia melihat Diana sedang memangku kepala Hana. Tubuh Rafa lemas melihat tubuh Hana terkulai di lantai. Dengan cepat Rafa menggendong Hana ke atas tempat tidur. Seketika suasana menjadi panik. Diana mencoba menghubungi seseorang.
"Kiara, hubungi Lisa minta dia datang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Hana dan bayinya. Lisa dokter kandungan, dia bisa memberikan pertolongan pada Hana!" ujar Rafa cemas, dia kalut saat melihat Hana terbaring lemas tak berdaya. Rafa tidak pernah menyadari kondisi Hana yang sakit.
"Tidak perlu, aku sudah menghubungi Cintya. Dia yang akan memeriksa Hana, bukan orang lain apalagi Lisa. Sebentar lagi Cintya akan datang!" sahut Diana dingin, Rafa menoleh pada Diana heran. Namun semua tidak penting untuk saat ini. Kesehatan Hana jauh lebih penting.
"Sayang, bangun dan katakan dimana rsa sakit itu? Jangan buat diriku panik, sungguh aku tidak mampu melihatmu terbaring seperti ini. Maafkan aku yang tak pernah bisa melihat sakitmu. Aku mohon bangunlah!" batin Rafa sembari menggenggam tangan Hana.
...☆☆☆☆☆...
...TERIMA KASIH...
__ADS_1