
Sang fajar menyising di ufuk timur. Menandakan malam telah berganti pagi. Kicauan burung terdengar, bagai simfoni lagu yang indah. Udara pagi hari yang sangat sejuk, memberikan semangat bagi setiap makhluk. Keindahan alam dan kesegaran menyatu menjadikan pagi awal yang takkan terlupakan.
Setelah mengantar Vania ke rumah Rafa. Raihan berangkat ke kantor. Dia berencana datang ke rumah sakit setelah rapat. Raihan harus bisa menggantikan Vania memantau kondisi Fajar. Sebab hanya Raihan yang bisa Vania percaya selain Faiq kakaknya. Raihan sudah mulai memahami cara mengerti Vania. Kini cinta mereka tersirat nyata setelah ujian yang datang bertubi-tubi
"Dokter, bagaimana keadaan Fajar?" ujar Raihan lantang, seketika Daffa dan Faiq menoleh. Mereka baru saja melakukan pemeriksaan pada Fajar.
Raihan datang setelah selesai memimpin rapat dekat dengan rumah sakit. Vania tidak bisa datang, karena kondisinya tiba-tiba menurun. Raihan tadi pagi sudah mengantar Vania ke rumah Rafa. Dia akan aman bersama keluarga besarnya. Akan banyak orang yang menjaga Vania. Annisa kebetulan sedang libur, jadi dia bisa memeriksa Vania sewaktu-waktu. Davina selalu ada menjaga Vania. Meski kondisinya juga butuh perawatan. Namun Davina selalu merasa tenang dan nyaman berada ditengah-tengah keluarganya. Hana sebagai ibu mertua selalu memperlakukan kedua mantunya selayaknya Vania putrinya.
"Kondisi Fajar masih tetap sama. Kami masih mencoba memberikan pengobatan yang terbaik. Dokter Chalisa sedang memeriksa Fajar di dalam. Dia dokter spesialis paru-paru yang kami datangkan. Istri dokter Daffa tidak bisa membantu. Dia ada tugas di luar kota!" ujar Faiq, Daffa mengangguk mengiyakan perkataan Faiq. Sebaliknya Raihan terkejut mendengar nama yang disebutkan Faiq.
Raihan diam membisu, sesaat setelah dia mendengar nama Chalisa. Seakan dia mengingat nama itu. Sebuah nama yang begitu familiar di telinga Raihan. Satu nama yang membuatnya lupa akan jati diri.
"Chalisa Putri Ananta, apa dia yang dimaksud?" ujar Raihan heran, sontak Faiq dan Daffa menatap Raihan lekat. Mereka terkejut ketika mendengar Raihan menyebut nama Chalisa dengan benar.
Chalisa Putri Ananta dokter spesialis paru-paru terbaik. Dia dan Faiq menempuh pendidikan di fakultas yang sama. Hanya saja Chalisa memilih tinggal di negara lain. Dia juga merangkap dosen pengajar di fakultasnya dulu. Dia seorang wanita dengan karier yang luar biasa. Chalisa menjadi dokter bertangan dingin dalam menangani pasien-pasiennya.
"Kamu mengenalnya, apa dia wanita dari masa lalumu? Awas saja sampai aku tahu, dia mantanmu. Apalagi sampai Vania menangis lagi. Kamu akan menerima akibatnya!" ancam Faiq pada Raihan. Faiq berbicara sembari menatap Raihan lekat.
Faiq seakan tidak terima mendengar Raihan mengenal Chalisa. Faiq mengenal Chalisa ssbagai pribadi yang baik dan mudah bergaul. Kepintaran dan kecantikan yang dimiliki Chalisa. Mampu memikat hati setiap laki-laki yang mengenalnya. Tidak terkecuali Faiq yang pernah menaruh hati pada Chalisa.
__ADS_1
"Sabar Faiq, tidak perlu kamu bersikap keras pada Raihan. Jika kenyataannya kamu menutupi kelemahanmu sendiri. Jelas kita mengetahui, siapa yang pernah jatuh hati pada Chalisa? Pantas saja bila Raihan pernah menaruh hati pada dia. Kita saja terpikat padanya!" ujar Daffa lirih, Faiq menoleh ke arah Daffa.
Dengan tatapan penuh arti, Faiq meminta Daffa untuk tidak mengungkit masa lalunya. Faiq tidak ingin melihat Davina cemburu. Chalisa mampu membuat wanita cemburu tak terkendali. Kelebihan Chalisa tidak bisa diragukan lagi. Raihan melihat Faiq kelabakan. Ternyata Chalisa mampu memikat hati banyak orang. Raihan sudah menduga, dia bukan wanita sembarangan. Dia mampu menaklukkan hati banyak pria dengan pesonanya.
"Ternyata sekelas dokter Faiq saja bisa terpikat. Apalagi aku mantan playboy sejati. Sudahlah lebih baik kita tutup masalah ini. Aku yakin Vania dan kak Davina tidak akan tinggal diam!" ujar Raihan final, Faiq mengangguk seraya mengacungkan jempol.
Daffa menggeleng tidak percaya, dia melihat dua laki-laki hebat tak berkutik di depan istri mereka. Sungguh cinta mampu merubah hati seseorang. Faiq yang dingin menjadi hangat penuh cinta. Sebaliknya Raihan yang liar, beruba h menjadi patuh.
"Kalian laki-laki takut istri!" goda Daffa, Raihan dan Faiq diam tak bernkat menyahuti perkataan Raihan.
Kreeeekkk
"Baiklah!" ujar Faiq singkat, menutupi rasa kagumnya pada Chalisa.
Jika boleh jujur, Faiq terpikat pada Chalisa bukan hanya karena kecantikannya. Namun kepintaran Chalisa membuat hati Faiq tergetar. Ada rasa ingin saling mengenal. Bertukar pikiran dan mengenal pengobatan dengan cara yang jauh lebih baik. Namun Faiq tidak pernah memiliki harapan ingin bersama dengan Chalisa. Rasa terteriknya hanya sebatas rasa kagum, tidak lebih. Faiq tetap memilih Davina satu dan selamanya.
"Apa kabar Putri? Kamu tetap sama seperti dulu. Kamu selalu bisa memikat hati laki-laki. Bahkan kakak iparku jelas tunduk pada pesonamu!" ujar Raihan lirih, Chalisa menoleh.
"Raihan!" ujarnya, Raihan mengangguk pelan. Lalu berjalan mendekat pada Chalisa. Raihan meneliti setiap inci Chalisa. Pesona Chalisa memang tidak bisa diragukan lagi. Banyak hal yang mampu memikat mata para pecinta.
__ADS_1
"Achmad Raihan Maulana, kita bertemu di tempat tak terduga!" sahut Chalisa dingin, Faiq dan Daffa saling menoleh. Bukan hanya Raihan yang mengenal Chalisa. Namun sebaliknya mereka saling mengenal satu sama lain.
"Kalian saling mengenal!" ujar Faiq, Raihan mengangguk pelan. Chalisa tersenyum melihat keterkejutan Faiq.
"Kami pernah saling mengenal. Dia wanita yang sangat ambisius. Kepintarannya membuatnya berpikir satu langkah di depan laki-laki. Dalam hidupnya, hanya karier yang dikejar. Dia mampu mematahkan hati siapapun? Sebab dalam hatinya hanya ada keinginan menggapai sukses!" ujar Raihan.
"Ternyata kamu masih mengingat diriku!" ujar Chalisa, Faiq dan Daffa terdiam. Keduanya melihat Raihan dan Chalisa. Layaknya dua sejoli yang pernah saling mencinta. Rasa cinta diantara kedunya terlihat nyata.
"Setiap detail dalam dirimu aku masih mengingatnya!" ujar Raihan dingin.
"Jika kalian masih ingin melanjutkan kisah cinta yang tertunda. Silahkan saja, saya akan pergi menjauh dengan dokter Daffa!"
"Tunggu tidak perlu pergi, aku datang hanya ingin melihat Fajar. Bukan bertemu atau mengenal dia lagi. Lagipula Vania segalanya dalam hidupku. Aku tidak ingin melihat Vania kecewa!" ujar Raihan dingin, lalu berjalan menghampiri keluarga Fajar. Raihan memberikan titipan Vania untuk mereka.
Faiq melihat Chalisa terus menatap punggung Raihan. Tanpa Chalisa sadari, Faiq berdiri di samping Chalisa. Menatap Raihan sang adik ipar.
"Dia bukan lagi Raihan yang sama. Dia sudah termiliki selamanya. Raihan kini menjadi adik iparku!" ujar Faiq.
"Aku tahu, sebab aku ada diantara para tamu!" sahut Chalisa singkat.
__ADS_1