
Hana pulang sekitar pukul 23.00 wib. Setelah sholat isya, Hana mengikuti pengajian di lingkungan sekitar. Malam ini topik yang dibahas tentang masalah kewajiban seorang istri. Hana mendengarkan penjelasan dengan seksama. Hana mencerna setiap perkataan dari uztad. Dia terkagum-kagum dengan cara penyampaian yang luwes dan cermat.
Setibanya di rumah, Hana melihat mobil Rafa sudah terpakir manis di halaman rumahnya. Sebagian tetangga Hana sudah mengetahui, kalau Hana sudah menikah. Mereka mengetahui status Hana, semenjak pertunangannya dengan Rama berakhir. Keluarga Rama terpandang. Jadi dengan mudah berita tentang mereka tersebar luas.
Hana berjalan perlahan menuju kamarnya. Dia melihat Rafa tidur dalam posisi terlentang. Kedua matanya di tutup dengan tangan. Kedua kakinya masih menggunakan sepatu. Pakaian Rafa masih sangat lengkap. Mungkin Rafa datang setelah pulang dari kantor.
Sebenarnya Rafa hanya ingin tiduran sebentar. Namun tubuhnya terlalu lelah, sehingga dia terlelep. Harum tubuh Hana yang melekat dalam sprei tempat tidurnya, membuat pikiran Rafa menjadi tenang. Setelah seharian beraktifitas, Rafa benar-benar lelah.
Hana melepas satu per satu sepatu Rafa. Dia melepas sepatu Rafa dengan sangat pelan. Hana tidak ingin membangunkan Rafa. Hana melihat raut wajah lelah suaminya. Hana tidak ingin mengganggu waktu istirahatnya.
"Sayang, kamu baru pulang!" sapa Rafa, tangan kekarnya sudah melingkar indah di tubuh ramping Hana. Seketika Hana menoleh, tapi terhalang kepala Rafa yang menyandar pada pundaknya.
Setelah berganti pakaian, Hana pergi ke dapur. Sekadar ingin membuat makan malam untuk suaminya. Takutnya nanti malam Rafa bangun, tidak ada makanan. Pelukan Rafa membuat Hana terkejut. Dengan cepat Hana mematikan kompornya. Rafa mencium lembut rambut Hana yang terurai indah.
"Kak Rafa sudah bangun. Aku pikir tadi masih tidur. Jika belum makan malam, Hana siapkan. Kebetulan ini baru saja matang. Kak Rafa duduk dulu!" Rafa menggeleng lemah, dia menolak ajakan Hana untuk makan malam. Rafa memeluk erat Hana, tubuhnya yang lebih tinggi dari Hana. Membuat Rafa sedikit menunduk.
"Sayang, aku menginginkanmu. Bolekah aku meminta hakku malam ini!" bisik Rafa mesra, Hana mengangguk lemah. Tidak ada lagi alasan yang membenarkan Hana menolak permintaan Rafa. Kewajiban Hana melayani Rafa, baik secara lahir dan batin. Apapun yang dilakukan Hana bersama Rafa. Semua sudah menjadi sebuah amal ibadah.
__ADS_1
"Lakukan apapun yang kak Rafa inginkan. Hana sudah siap lahir batin. Hana akan melakukan ibadah yang berganjar surga!" ujar Hana, Rafa membalik tubuh Hana. Kedua tangannya menangkup wajah Hana. Raut wajah Hana bersinar, berkat air wudhu. Rafa menatap Hana penuh dengan cinta.
"Sayang, kamu mengizinkan aku melakukannya! Kamu tidak menolakku, aku tidak bermimpi bukan!" ujar Rafa tak percaya, Hana mengangguk lemah. Dia mengingat jelas ceramah di pengajian tadi. Seorang istri yang tidak boleh menolak melayani suaminya. Sebab semua ibadah seorang istri yang paling baik hanyalah memuliakan seorang suami.
"Milik aku sepenuhnya, ambillah hakmu sebagai suamiku. Aku akan melayanimu, melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri. Tidak akan ada yang menghalangimu, kita akan bersatu secara hati dan jiwa!" ujar Hana lirih, Rafa tersenyum. Tanpa menunggu lagi Rafa menggendong Hana. Sontak saja Hana mengalungkan tangannya pada pundak Rafa.
Rafa menggendong Hana menuju kamar mereka. Rafa meletakkan Hana dengan perlahan. Tangan Rafa menyibak rambut Hana yang menutupi sebagian wajahnya. Rafa berada tepat di atasa tubuh Hana. Tatapan Hana dan Rafa menyatu. Desiran darah terasa panas mengalir. Hasrat ingin memiliki, memenuhi seluruh otak Rafa.
Tubuh Hana bergetar karena gugup, baru pertama kali Hana sedekat ini dengan seorang laki-laki. Tangan Rafa bermain dengan bibir Hana, dengan lembut Rafa mencium bibir mungil Hana. Merebut ciuman pertama Hana, mata Hana tertutup. Dia membiarkan Rafa mengambil haknya sebagai seorang suami.
Kedua tangan Hana menggenggam erat sprei tempat tidurnya. Pengalaman pertama yang takkan mungkin bisa dilupakan Hana. Tubuh Rafa sudah berada diatas Hana. Bagi Rafa semua ini bukan pengalaman pertama. Rafa mengecup lembut kening Hana. Lalu dengan santai dia merebahkan tubuhnya di samping Hana.
"Sayang! Jangan marah. Bukan maksudku menghinamu, ayolah jangan seperti ini!" ujar Rafa memelas. Dia menelusupkan tangannya ke dalam selimut Hana. Memeluk erat tubuh Hana, bermain dengan pusar Hana Bahkan Rafa membuka beberapa kancing baju Hana.
"Kak Rafa, minggir aku lelah. Biarkan aku tidur. Kak Rafa juga butuh istirahat, bukankah besok harus bekerja!" ujar Hana lirih, Rafa mendekatkan tubuhnya pada Hana. Tanpa sengaja Hana menyentuh kulit Rafa. Sontak Han terkejut, saat mengetahui Rafa sudah tidak memakai pakaian.
"Sayang, kita akan menghabiskan malam ini bersama. Aku tidak akan membiarkanmu tidur, aku akan membuatmu lelah. Sehingga besok kamu tidak akan mampu berdiri!" ujar Rafa santai, Hana terdiam mendengar perkataan Rafa. Dia mengacuhkan Rafa, Hana tidak ingin kecewa untuk kedua kali.
__ADS_1
Hana mencoba untuk tidur. Dia sudah tidak peduli pada Rafa yang terus menggodanya. Hana memejamkan matanya. Mungkin Hana sangat lelah, sampai dia tidak sadar kapan tertidur. Rafa terkekeh melihat Hana tertidur. Malam pertama terlewatkan begitu saja.
...☆☆☆☆☆...
Hana sedang memasak di dapur. Hari ini kebetulan Hana libur, sebaliknya Rafa yang harus tetap bekerja. Hana sudah menyiapkan semua keperluan Rafa. Sarapan juga sudah siap. Hana berniat membangunkan Rafa. Namun ternyata Rafa sudah bangun dan sedang bersiap. Hana masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Rafa sudah selesai berpakaian.
"Kak Rafa, kenapa menggunakan baju santai. Bukankah seharusnya, kak Rafa berangkat kerja!" ujar Hana sopan, Raf menggeleng. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan berdua dengan Hana. Rafa ingin menghabiskan hari ini hanya bersama Hana.
"Aku akan menemanimu. Kamu yang utama sedangkan perusahaanku menjadi yang kedua. Aku tidak ingin kehilangan moment indah bersamamu!" ujar Rafa, Hana mengangguk mengiyakan. Rafa dan Hana tersenyum bersama. Rafa mendorong tubuh Hana ke arah tempat tidur.
Bugggh
Suara tubuh Hana mendarat sempurna di ataa tempat tidur. Rafa tidur di samping Hana. Dia menatap langit kamar Hana. Meski sederhana, kamar inilah yang selalu membuat Rafa merasa nyaman.
"Sayang, aku akan meminta hakku sekarang. Jika kamu melakukannya sebagai kewajiban. Aku memintanya sebagai keyakinan cintaku. Aku suamimu, berhak memilikmu seutuhnya. Aku tidak ingin, ada orang lain yang merebutnya. Izinkan aku memlilikmu sepenuhnya!" ujar Rafa, Hana mengangguk.
Rafa tersenyum, dia membingungjab dan selalu kurang. Tanpa dikomando Hana dan Rafa larut dalam kemesraan keduany. Apapun yang terjadi biarlah terjadi.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH