KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Pelukan yang Dirindukan


__ADS_3

"Kak Rafa!" panggil Hana lirih, raut wajah Rafa sangat serius. Hana duduk tepat di samping Rafa. Terlihat Rafa sibuk dengan tumpukan kertas yang Hana tidak pernah tahu isinya. Hana hanya lulusan SMU, dia tidak pernah mengenyam bangku kuliah. Hana beruntung bisa menyelesaikan bangku SMU. Dia tidak pernah menyangka, jika dia bisa lulus SMU.


Kedua tangan Rafa sibuk mengutak-atik keybord laptopnya. Dia terlihat sangat serius dan seolah lupa akan sekitarnya. Sebenarnya Rafa sangat sibuk. Namun kondisi Hana tiba-tiba mengalami penurunan. Kepalanya terasa sangat pusing. Tubuhnya sedikit demam, Rafa cemas saat Salsa menghubunginya. Mengatakan bahwa Hana sedang sakit. Tanpa banyak berkata, Rafa membawa semua pekerjaannya pulang. Akhirnya dengan terpaksa Rafa bekerja di atas tempat tidur sembari menemani Hana.


"Kak Rafa!" panggil Hana lagi, Rafa tetap dengan posisi semula. Serius dengan pekerjaannya, tidak menyahut atau sekadar menoleh pada Hana. Akhirnya Hana memutuskan untuk bangun. Dia menyadari jika Rafa sibuk dan serius mengerjakan pekerjaan kantornya.


"Sayang!" ujar Rafa, tangannya menahan Hana. Seketika Hana menoleh, merasa Rafa memegang tangannya. Namun saat Hana menoleh, Rafa tetap fokus pada laptopnya.


"Kak Rafa lepaskan, aku ingin ke dapur!" ujar Hana meronta, Rafa menoleh seraya tersenyum. Dia menggeleng pelan, Hana menatap datar ke arah Rafa. Hana bukan marah atau kesal pada Rafa. Hana sangat sadar, jika Rafa sedang sibuk. Sejujurnya Hana tidak pernah ingin Rafa menemaninya. Sebab akan mengganggu pekerjaannya.

__ADS_1


"Sayang, kamu akan kemana? Kenapa memanggil, tapi sekarang ingin meninggalkanku? Apa yang kamu inginka?" ujar Rafa, dia menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya. Hana diam memandang Rafa. Hana berpikir Rafa tidak menanggapinya. Sebab itu Hana ingin pergi ke dapur sendiri.


"Aku harus ke dapur, tenggorokanku kering. Aku juga lapar. Bukankah kak Rafa sejak tadi tidak menghiraukanku. Jadi aku akan pergi sendiri. Kak Rafa juga sangat sibuk. Sebaiknya aku ke dapur sendiri. Aku tidak ingin mengganggu kak Rafa!" cerocos Hana, Rafa menggeleng. Dengan lembut rafa mencium tengkuk Hana. Tercium harum shampo dari balik hijabnya. Rafa seakan tenang mencium harum tubuh Hana. Wangi yang seolah membuatnya nyaman dan tenang.


"Sayang, hidupku hanya untuk peduli padamu. Lalu kapan aku akan sanggup mengacuhkanmu? Meski mataku tak memandangmu, hati dan pikiranku selalu bersamamu. Aku diam tidak menyahuti, sebab aku sedang fokus. Namun sesungguhnya aku menunggumu mengatakan. Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Bukan mengatakan apa yang kamu inginkan? Kamu malah ingin pergi dariku!" ujar Rafa membantah, Hana terdiam lalu menyadarkan tubuhnya pada Rafa. Sejujurnya Hana sangat merindukan dekapan Rafa.


Pelukan Rafa yang terasa hangat mulai terasa menjauh dikarenakan kesibukan. Hana jarang bertemu dengan Rafa. Terkadang sekadar sarapan, Hana sulit untuk duduk berdua dalam satu meja. Rafa seakan terasa jauh dari jangkauan Hana.


Sebaliknya Rafa terdiam sesaat setelah Hana mengatakan segalanya pada Rafa. Ada rasa bersalah menelisik dalam hatinya. Rafa menyadari, jika akhir-akhir ini dia memang sibuk mengerjakan mega proyek yang diwakilkan pada Rizal. Rafa terlalu fokus sampai melupakan segalanya. Jangankan mengerti perasaan Hana. Sejenak mengistirahatkan tubuh dan pikirannya saja. Rafa seakan sangat sulit. Pekerjaannya mulai merenggut Rafa dari keluarganya.

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku yang terlalu sibuk. Aku seolah lupa jika memilikimu dan Fathan. Maafkan aku yang menyakiti hati dan perasaanmu. Jangan buat dirimu tertekan, aku yang salah. Hukum aku, jangan sakiti dirimu. Kenapa aku sebodoh ini? Mengacuhkan kerinduanmu yang selama ini selalu aku harapkan. Aku tenggelam dalam pekerjaan yang takkan pernah ada habisnya!" ujar Rafa lirih, dia mendekap erat Hana. Seakan tak ingin melepaskannya. Hana menggeleng dalam dekapan Rafa. Sedetik kemudian Hana menarik napas sedalam-dalamnya. Rafa mendengar jelas hembusan napas Hana. Kegelisahan yang tersimpan rapat dalam diam Hana. Sesuatu yang tanpa sengaja membuat Rafa menyakiti Hana dan calon buah hatinya. Setiap hembusan napas Hana. Ibarat sebilah pisau yang menancap tepat dihati Rafa. Rasa sakit yang menyayat tipis hatinya.


"Kak Rafa tidak salah. Aku yang terlalu perasa, seakan tak ingin kehilangan kehangatan yang selalu ada untukku. Aku merasa nyaman dengan perhatianmu, tapi seolah lupa cara mendapatkannya. Kehangatanmu selalu aku rindukan, tapi aku seakan malu mengakuinya. Aku sangat mencintaimu, tapi aku seolah lupa cara menunjukkan cinta itu. Perhatian dan dekapanmu, membuatku tinggi hati. Aku selalu menganggap tanpa diminta. Cintamu hanya untukku. Namun beberapa hari perhatian itu menghilang. Membuatku merasa telah kehilanganmu. Bukan kak Rafa yang menyakitiku. Aku yang tak pernah menyadari kasih sayangmu yang terlalu besar untukku!" ujar Hana lirih, tangannya menarik tangan Rafa. Hana mencium tangan Rafa penuh kelembutan. Hana meluapkan semua kerinduannya. Tak ada lagi keangkuhan yang menjadi pemisah diantara mereka. Rafa memutar tubuh Hana, memeluk erat tubuh wanita yang sangat dicintainya. Rafa membenamkan Hana dalam pelukannya. Berkali-kali Rafa mencium kepala Hana yang tertutup hijab. Rafa meluapkan cinta, seakan ingin membayar lunas kesalahannya. Tak pernah Rafa ingin menjatuhkan setetes air mata Hana. Sekarang jelas Rafa membuat Hana menangis. Bukan hanya kedua mata indah Hana yang menangis. Rafa seolah mendengar hati Hana menangis. Kerinduan Hana terasa begitu besar. Rafa merasakan dalam setiap sentuhan Hana. Cinta yang selalu Rafa pertanyakan. Cinta yang tertutup rapat oleh diam Hana.


"Sayang, aku tidak akan pernah bisa menjauh darimu. Setiap napasku hanya untuk mengingatmu. Maaf aku yang terlalu larut dalam pekerjaan. Aku terlalu bodoh membiarkan cintamu tak terasa olehku. Cinta yang selalu aku harapkan. Terima kasih telah mengatakan cinta ini. Sungguh aku sangat mencintaimu. Aku sanggup kehilangan apapun, tapi tidak dirimu. Aku akan mengganti setiap detik rasa sakitmu. Aku kuletakkan semua kertas ini. Kita akan pergi berlibur. Aku tak ingin kehilangan dirimu. Aku akan melupakan semua kertas ini!" tutur Rafa, Hana diam seraya menutup mata. Hana merasakan hembusan napas Rafa. Detak jantung yang seakan memanggil namanya. Hana merasakan hangat pelukan Rafa. membayar lunas kegelisahan hatinya selama ini. Hanya pelukan ini yang Hana rindukan. Bukan barang mewah atau kehidupan yang berlebih. Hanya cinta Rafa yang selalu membuat Hana bahagia.


"Kak Rafa, aku tidak ingin membuatmu memilih antara pekerjaan dan diriku. Aku tak meminta lebih, hanya pelukan ini yang selalu kurindukan. Pelukan yang meyakinkan diriku. Cintamu hanya untukku, Hana Khairunnissa wanita sederhana tanpa kelebihan. Aku mencintaimu tanpa berpikir ingin mengekangmu. Kamu harus bertanggungjawab akan keluarga ini. Sebagai seorang istri aku tidak pernah bisa membantumu. Kamu harus menanggung semua sendiri. Aku hanya membutuhkan pelukan ini. Agar aku merasa nyaman dan menganggap diriku pantas memilikinya. Meski aku menyadari, cintamu sudah terlalu besar. Ketulusanmu selama ini, menerima kelemahanku dengan kelebihanmu. Kesabaranmu menerima sikap dingin dan kasarku. Keteguhanmu yang yakin akan pertalian jodoh diantara kita. Rela membuang semua ikatan dengan keluargamu demi diriku. Kini demi satu keluhanku, kamu ingin meninggalkan pekerjaan. Tidak kak Rafa, aku sudah cukup merasakan cintamu. Izinkan malam ini saja aku memelukmu. Tidur dalam pelukan hangatmu. Semua sudah cukup membuatku sehat kembali!" ujar Hana, Rafa mengangguk mengerti. Tidak ada gunanya memaksa, Rafa sudah sangat mengenal siapa Hana?


"Sayang, aku tidak akan pernah kehilangan kerinduanmu lagi. Sikap manjamu yang selaku aku tunggu. Aku akan menemani tidurmu. Kita turun ke dapur. Aku akan membuatkanmu makan malam. Setelah itu kita istirahat!" ujar Rafa, Hana menggeleng dalam pelukan Rafa. Tangannya memeluk erat Rafa. Pelukan yang mampu membuat Rafa kehilangan akan. Rafa akan rela kehilangan semua yang dia punya. Demi pelukan ini.

__ADS_1


"Aku tidak lapar, aku butuh pelukan hangat ini. Aku merindukan pelukan hangatmu!" ujar Hana, Rafa diam lalu mencium puncak kepala Hana.


"sayang, kehilangan apapun aku rela. Asalkan kamu memelukku seperti ini. Pelukan penuh kerinduan, pelukan yang membuatku lupa akan dunia ini. Sayang, aku sangat mencintaimu. Maafkan aku jika membuatmu tersiksa, tapi setidaknya kini aku menyadari. Namaku yang ada dalam hatimu. Terima kasih telah merindukan pelukanku. Terima kasih telah mencintaiku. Terima kasih sayang, aku akan membayar lunas kegelisahanmu. Akan kubuat setiap harimu penuh kenangan indah. Agar kamu tidak merasa, aku akan menjauh darimu. Pelukan dan cinta ini hanya untukmu seorang!"


__ADS_2