KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Faiq Sang Pemenang


__ADS_3

"Umi tidak akan mudah menerimaku. Beliau menolakku karena masa lalu mama. Namun apapun akhir dari pernikahanku. Aku tidak akan menyalahkan mama. Dia ibu yang telah melahirkanku dengan menggadaikan nyawanya. Tidak akan pernah aku mampu membalas pengorbanan dan kasih sayangnya. Aku akan menerima jalan takdirku dengan ikhlas. Seperti perkataan kak Hana, semua sudah diatur kita hanya bisa menjalankan dengan tetap berusaha dan berdoa!" ujar Kiara mantap, Hana mengangguk senang. Kini Kiara mulai mengerti, semua ada dengan jalan masing-masing. Akan ada masa dimana semua akan baik-baik saja.


"Bersabar dan ikhlas, dua kata kunci keutuhan sebuah hubungan. Memang tidak mudah melakukan dua kata itu, tapi selama kamu yakin dan percaya Allah SWT selalu bersamamu. Semua itu akan mudah kamu lalui!" sahut Hana, Kiara tersenyum menatao wajah sang kakak ipar yang mampu menenangkan hatinya yang kalut.


"Terima kasih!" ujar Kiara lirih, Hana mengangguk.


"Sayang!"


"Kak Rizal!" sahut Kiara lirih, Hana dan Kiara seketika menoleh. Ketika mendengar suara sedang memanggil. Ternyata sejak awal percakapan Hana dan Kiara, Rizal berdiri tepat di depan ruangan Hana. Rizal mendengar seluruh isi hati Kiara. Kegelisahan Kiara yang dilihat sejak semalam. Kini terjawab dengan jelas dengan kejujuran Kiara pada Hana.


Semalam Rizal sempat melihat Kiara menangis dalam sujudnya. Kiara menangis dalam gelapnya malam. Namun Rizal tidak mengetahui, apa yang sedang dicemaskan Kiara? Saat tadi pagi, Rizal akan berangkat ke kantor. Tanpa sengaja Rizal melihat Kiara mengintip ke arah kamar Fathan. Rizal semakin merasa aneh dengan sikap Kiara. Akhirnya setibanya di kantor, Rizal tidak tenang. Dengan tergesa-gesa Rizal memutuskan menyusul Kiara ke rumah sakit.


Ternyata dugaan Rizal tidak meleset. Kiara sedang gelisah dan menceritakan semuanya pada Hana. Kedatangan Rizal ke rumah sakit tidak sia-sia. Dia akhirnya mengetahui kenyataan yang tersimpan dalam hati Kiara. Rizal bahagia sekaligus sedih setelah mendengar semua kenyataan itu. Rizal bahagia mendengar suara hati Kiara. Sebaliknya Kiara sedih, saat menyadari semua duka Kiara berawal dari penolakan umi.

__ADS_1


"Sayang, tidak pernah ada yang salah dengan masa lalumu. Kamu tidak kotor meski terlahir dari rahim wanita malam. Sebab seorang anak terlahir dengan suci tanpa noda, tapi bagaimana kehidupan yang kelak dia jalani yang harus dipikirkan? Meski umi menolakmu, jangan pernah lupa. Aku ada menggenggam tanganmu. Kita akan bersama berjalan beriringan melawan semua keraguan yang ada. Jika kamu sekarang menyerah, lalu dengan siapa aku akan berjuang? Aku tidak ingin menuntut apapun padamu. Termasuk anak yang terlahir dari rahimmu. Sebab kelemahan yang ada padamu. Pasti juga ada dalam diriku. Biarlah semua orang menatap sebelah mata. Meragukan keteguhan hati kita, bahwa kita akan bahagia dengan atau tanpa suara bayi dalam rumah kita. Apa yang kak Hana katakan benar? Setiap anak yang terlahir, pantas menjadi anak kita. Tidak harus seorang wanita melahirkan, agar pantas dipanggil ibu. Namun kasih sayang yang tulus, membuktikan bahwa seorang wanita layak menjadi seorang ibu. Jangan pernah lagi berpikir, jika kamu wanita yang tidak berharga. Perkataanmu seakan ingin meragukan ciptaan-NYA. Percayalah, janjiku nyata untukmu. Bersabarlah, agar aku bisa membuktikan padamu. Bahwa cinta kita kuat, pemikiran mereka yang lemah. Kasih sayang kita teguh, sebaliknya keyakinan mereka yang rapuh. Kita akan bahagia dengan ujian yang ada!" tutur Rizal tegas, Kiara menunduk pelan. Dia menyadari kesalahannya. Ketika sang suami juga berpikir sama layaknya Hana.


Rizal mendekat pada Kiara. Dengan penuh kasih sayang, Rizal menarik tubuh Kiara. Mendekap tubuh mungil sang istri. Rizal seakan ingin meringankan beban pikiran Kiara. Mereka larut dalam dunianya sendiri. Tanpa menyadari keberadaan Hana yang ada disampingnya. Sedangkan Hana tersenyum bahagia menatap Kiara dan Rizal mampu saling merangkul. Demi menyelesaikan permasalahan yang ada. Melawan jalan terjal penuh batu sandungan. Demi mencapai pernikahan yang abadi dan bahagia.


"Kita akan tetap bahagia!" bisik Rizal pelan, Kiara mengangguk pelan. Tak berapa lama Rizal mulai menyadari keberadaan Hana. Dia melepas tubuh Kiara. Hana terkekeh melihat dua adiknya kikuk. Ketika menyadari keberadaannya.


"Kalian tidak perlu kikuk. Apa yang kulihat saat ini? Tak lain sesuatu yang ingin dilihat oleh seorang kakak. Keteguhan cinta pondasi pernikahan sang adik yang melawan setiap badai yang menghadang. Ketulusan kasih sayang seorang adik ipar pada adiknya. Sehingga aku bisa melepaskan Kiara dengan tenang. Sebab dia kini berada dalam pelukan tangan dan hati yang menghargainya. Terima kasih Rizal, kamu menerima Kiara dengan segala kekurangannya. Sebagai seorang kakak, aku bahagia dan tenang. Kini adikku hidup bersama suami yang menjaga dan melindungi dirinya dengan sepenuh hati. Sebagai sesama wanita, aku sangar lega. Takkan lagi ada air mata yang menetes dati kaumku. Hanya karena suami yang tidak menghargai istrinya. Bahkan selalu bersikap kasar!" ujar Hana, Rizal mengangguk. Kiara beringsut menghampiri Hana. Dia memeluk Hana dengan sangat erat, mengucapkan kata terima kasih padanya. Pernikahan Kiara mulai menemukan cahayanya lagi. Hana memberikan sinar harapan, dikala pelita hati Kiara meredup dan mulai goyah.


"Kalian tidak akan pernah sendiri. Aku dan Hana akan selalu ada untuk mendukung langkah kalian. Pernikahanku dan Hana tidak sempurna, tapi aku menyadari jika Hana berusaha membuatnya sempurna. Rizal, kamu dulu sahabatku sekarang adikku. Status kita mungkin berbeda, tapi aku tetap akan menjadi Rafa yang sama untukmu. Sahabat yang bisa kamu percaya, berbagilah semua dukamu padaku!" tutur Rafa, Kiara berlari menghampiri Rafa.


"Menangislah Kiara, kakak siap menjadi sandaranmu. Namun jangan pernah lupa, Rizal suamimu kini. Tanggungjawab akan kebahagianmu sudah ada di tangannya. Jadi biarkan Rizal melihat tangismu, bukan hanya tawamu. Sebab dengan membagi kesedihanmu, saat itulah Rizal akan merasa dibutuhkan dan dianggap!" tutur Rafa bijak, Kiara mengangguk mengerti. Rizal tersenyum sembati menatap wajah sang sahabag yang kinu menjadi kakaknya.


Sedangkan Hana menunduk lemah. Perkataan Rafa sedikit menohok hatinya. Hana merasa tersindir, sebab selama ini dia selalu menyimpan rapat luka hatinya. Menelan setiap kepedihan jauh dalam lubuk hatinya. Hidup yang penuh lika-liku dan sendiri. Seakan mendidik dan membentuk Hana menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Pribadi yang tak pernah Hana sadari, membuatnya angkuh berpikir mampu menyelesaikan semuanya sendiri. Tanpa membutuhkan bantuan orang lain, termasuk suaminya Rafa.

__ADS_1


"Maafkan aku suamiku, aku belum mampu menjadikanmu sandaran seutuhnya. Aku masih angkuh mengakui. Jika kini aku membutuhkan dirimu. Aku takut terluka lebih dalam. Ketika aku menggantungkan diri ini sepenuhnya padamu. Kamu pergi tanpa bisa aku cegah. Aku mencintaimu, aku takut kehilanganmu. Karena itu, aku membuat dinding pembatas. Agar aku terus bisa bertahan mencintaimu. Tanpa berpikir aku bergantung padamu!" batin Hana.


"Sayang, aku tahu apa yang kamu pikirkan? Perkataanku bukan ingin menyindirmu. Hana Khairunnisa tidak akan bersandar padaku. Bukan karena tidak menghargaiku, tapi cintanya yang mrmbuatnya takut untuk bersandar padaku. Sayang, aku tidak akan pernah merasa tak dianggap oleh dirimu. Meski kata cinta dan ungkapkan kasih sayang tidak pernah kamu utarakan. Aku bisa menyadari dan merasakan besarnya cintamu padaku. Bukan dengan mulutmu aku mendengar ucapan cinta. Tapi dengan tatapanmu, aku bisa melihat cinta yang suci untukku. Tak perlu tanganmu merangkulku. Agar aku meras kamu menganggap diriku. Cukup dengan pengertianmu aku bisa merasa diriku dihormati. Diammu bentuk cintamu, jangan pernah meminta maaf padaku. Sebab cara kita mencintai itu berbeda. Namun semua tetap sama, keteguhan cinta kita sangat kuat!" ujar Rafa sesaat setelah mengangkat wajah Hana. Rafa mengecup lembut puncak kepala Hana. Meluapkan kerinduan yang mendalam. Kiara dan Rizal melihat cara mencinta dan pengertian yang luar biasa. Rafa yang tak pernah meminta maaf, tak menganggap cinta itu nyata. Kini bersimpuh penuh cinta pada Hana. Wanita sederhana tanpa ambisi yang tinggi.


"Terima kasih!" ujar Hana, seraya mengangguk. Rafa membalasnya dengan mengedipakan kedua matanya.


"Mama!" teriak Fathan, dia datang bersama Gunawan dan Sabrina. Fathan meronta ingin turun menghampiri mamanya. Rafa mengangkat tubuh mungil sang putra. Sontak Fathan langsung memeluk dan mencium wajah Hana. Seakan ingin meluapkan kerinduan pada mamanya.


"Selamat Hana, sekali lagi kamu melahirkan pewaris keluarga Prawira. Kini posisimu semakin kuat, dengan dua pewaris keluarga Prawira!"


"Terima kasih, mama bersedia menjengukku. Aku tidak membutuhkan mereka untuk menguatkan posisiku dalam keluarga Prawira. Aku yakin kelak Fathan dan Faiq, akan bisa mandiri dan berjaya tanpa harta keluarga Prawira!" tutur Hana, Rafa mengangguk pelan.


"Fathan sang pemikat dan Faiq sang pemenang. Akan bersama mengalahkan dunia, dua putra yang akan menopang hidup kita kelak!" sahut Rafa, Hana tersenyum menimpali.

__ADS_1


"Sabrina, Hana menjadi penyemangat dalam hidup Rafa dan putranya. Kapan kamu berubah memjadi istri dan ibu yang baik? Ingatlah kelak kita akan menua. Jika bukan pada Rafa kita bergantung, tentu pada Kiara kita bersandar!" bisik Gunawan, Sabrina langsung menunduk.


"Maaf!" sahut Sabrina.


__ADS_2