
"Rafa, sudah larut malam. Lebih baik kita pulang. Kasihan Hana pasti dia cemas menunggumu. Kamu tidak biasa pulang selarut ini!" ujar Adrian, Rafa tetap diam tak bergeming. Sejak dua jam yang lalu Rafa duduk di tempat yang sama. Dengan posisi yang sama, menatap fokus pada langit malam ini.
"Kemana aku akan pulang? Ke rumah dimana istriku tinggal? Istri yang tetap diam meski mengetahui masa laluku yang kelam. Aku belum sanggup menatap kedua matanya indahnya. Mata yang tak pernah memandang jijik padaku. Dia tak pernah berpikir ingin menghinaku. Aku brengsek, kenapa aku bisa melakukan semua itu di masa laluku?" ujar Rafa lirih, tatapan yang jauh ke atas langit. Melihat indahnya bulan dan bintang menghiasi langit malam ini.
"Sekarang tidak ada gunanya kamu menyesal. Semua sudah terjadi, masa lalu akan tetap menjadi masa lalu. Seharusnya bukan diam menyesal, tapi pulang menemui Hana. Meminta maaf atas kesalahan yang pernah kamu lakukan!" ujar Adrian, Rafa menggeleng lemah.
Rafa dan Adrian memutuskan untuk pergi ke atap gedung perusahaan Prawira. Jika dulu mungkin Rafa akan mengajak Adrian menuju club. Namun sekarang bagi Rafa club menjadi tempat yang enggan dia datangi. Rafa ingin mencari ketenangan di atas gedung yang tinggi. Gedung yang menjadi hidup kedua bagi Rafa. Setiap hari dia habiskan waktunya untuk mengembangkan sayap perusahaan ini.
"Aku terlalu malu melihat Hana. Dia tidak pernah mengeluh akan diriku. Setiap orang selalu menghinanya, karena menikah denganku. Berpikir Hana tak pantas untukku, tapi kenyataannya. Bukan Hana yang hina, tapi aku yang berlumur dosa!" ujar Rafa, Adrian mengangguk mengerti perkataan Rafa.
Kini Adrian memahami makna sebuah cinta. Jika terkadang orang bisa kehilangan akal karena cinta itu wajar. Rafa sahabatnya dulu tak lebih dari tubuh tanpa hati. Sikap dingin dan kasarnya terbentuk semenjak kepergian ibu kandungnya. Kehidupan bebas yang dijalani, imbas rasa marah pada ayah yang seolah melupakan ibunya begitu saja. Rafa mencari kasih sayang dari wanita-wanita yang terpesona oleh penampilannya. Bagi Rafa cinta tak lain sebuah rasa yang dinikmati tanpa berpikir menggenggamnya dan meyakininya.
Namun malam ini Adrian melihat Rafa yang lemah karena cinta. Sebuah rasa cinta untuk wanita berhijab. Cinta sederhana tapi bermakna indah. Rafa luluh melihat iman dan ketakwaan Hana. Adrian tak pernah melihat Rafa lemah. Terakhir Rafa lemah dan marah akan takdir ILLAHI. Ketika ibu semangat hidupnya diambil dari sisinya. Semenjak itu Rafa seolah menyalahkan jalan yang tertulis untuknya.
"Rafa, sebaiknya kita pulang. Jangan jadikan malumu sebagai pembenaran. Dengan membiarkan Hana menunggumu sendirian. Kamu jangan lupa, Hana butuh istirahat yang cukup. Kehamilannya sudah semakin membesar. Dia butuh kamu, bukan penyesalanmu!" ujar Adrian, Rafa mengangguk pelan. Dia melirik jam ditangannya, malam sudah semakin larut. Dengan langkah gontai Rafa mengajak Adrian pulang. Rafa akan meminta maaf. Jika perlu berlutut, agar Hana bisa menerima dirinya yang penuh dosa. Meski sebenarnya tak pernah Hana menyepelekan dirinya.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
Rafa tiba di rumah tepat pukul 00.00 wib. Malam semakin larut, hanya terdengar suara hewan malam. Simfoni nada indah alam yang takkan mampu ditiru. Hanya mampu didengar dan dikagumi. Perpaduan alam yang sangat indah, menyatukan kensuyian dan suara hewan malam.
Rafa berjalan masuk menuju rumahnya. Adrian menurunkan Rafa di depan gerbang. Rafa sengaja menumpang Adrian, agar Hana tak terbangun saat mendengar suara mobilnya. Namun dugaan Rafa salah, lampu kamarnya masih menyala. Itu artinya Hana masih belum tidur. Dengan langkah pelan Rafa berjalan menuju kamarnya.
Tepat di depan pintu kamarnya, Rafa tertegun saat telinganya mendengar suara merdu istrinya. Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran terdengar indah keluar dari bibir mungil istrinya. Ayat demi ayat yang terucap, menelisik hati Rafa. Menembus relung hati Rafa yang telah menjauh dari-NYA. Rafa menangis mengingat hari dimana dia mengutuk ayat-ayat suci? Kini setelah sekian tahun Rafa menjauh. Telinganya mendengar kembali lantunan ayat suci Al-Quran.
Perlahan Rafa membuka pintu, dia melihat Hana duduk bersila dengan Al-Quran dalam tangannya. Hana melantunkan ayat demi ayat tanpa kesalahan. Rafa tak pernah mendengar suara Hana saat mengaji. Pertama kali bagi Rafa mendengar istrinya mengaji dengan sangat merdu.
Sebenarnya Hana sempat tertidur, saat menunggu Rafa pulang. Hana terbangun tepat pukul 23.00 wib, dalam rasa cemas menunggu Rafa. Hana memutuskan melakukan sholat malam. Biasanya Hana sholat malam, di saat Rafa sudah terlelap. Hana tidak pernah ingin Rafa mengetahuinya. Hana tak pernah ingin melihat Rafa rendah diri dengan perbedaan iman diantara mereka.
Namun malam ini Hana gelisah memikirkan Rafa yang belum pulang. Hana takut terjadi seauatu pada Rafa. Demi ketenangan hatinya, Hana berserah pada-NYA. Berdoa demi keselamatan Rafa. Sembari menunggu Rafa, Hana memutuskan untuk mengaji. Hana tak pernah menyadari. Jika Rafa mendengarkan tepat di belakangnya.
"Kak Rafa, ada apa? Ada masalah?" ujar Hana, Rafa menggeleng lemah. Hana memegang kedua tangan Rafa yang memeluknya erat. Hana merasakan air mata Rafa yang terus menetes. Hana membiarkan Rafa menumpahkan semua kegelisahan hatinya.
"Maafkan aku, maaf!" ujar Rafa, Hana membisu mendengar perkataan Rafa. Hana merasa ada yang salah dengan Rafa. Hana membalik tubuhnya, mengangkat wajah Rafa yang menunduk. Dengan lembut Hana mengusap air mata Rafa. Hana mencium lembut kening Rafa.
"Kak Rafa, apa yang sedang terjadi? Katakan pada Hana. Jangan seperti ini!" ujar Hana lirih, Hana menarik tubuh Rafa tidur dalam pangkuannya. Dengan lembut Hana mengusap rambut hitam Rafa. Tangan Rafa memeluk perut buncit Hana. Rafa menenggelamkan wajahnya, menghadap ke arah perut Hana.
__ADS_1
Dengan lembut Hana memberikan pijatan pada kepala Rafa. Hana merasakan kepedihan yang dalam. Rafa hanya mampu menangis tanpa bisa mengatakan apa-apa?
"Kak Rafa, apapun yang terjadi? Kak Rafa tidak sendirian, ada Hana dan bayi kita di sini. Jangan tanggung semuanya sendiri!" ujar Hana, Rafa menggeleng lemah.
"Sayang, kenapa kamu harus menikah dengan laki-laki brengsek sepertiku? Seharusnya kamu mencintai laki-laki yang jauh lebih baik dariku. Aku hina, aku penuh dosa. Maafkan aku sayang, cintaku memaksamu berada di sampingku! Maaf, maafkan aku!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Hana mengangakat kepala Rafa, dengan lembut Hana mencium puncak kepala Rafa.
"Aku menikah denganmu, karena namamu jawaban setiap sujudku. Dirimu imam yang dipilih sebagai jawaban doaku. Jangan pernah berpikir ada laki-laki yang lebih baik darimu. Karena dirimu laki-laki terbaik yang dikirim ALLAH SWT, sebagai penyempurna agamaku. Cintamu tak pernah memaksaku, tapi cintamu menuntunku belajar arti mencintai dan menghargai!" ujar Hana lirih, Rafa menggeleng dalam pangkuan Hana. Rafa menatap langit-langit kamarnya.
"Dalam diriku terlalu banyak dosa, seandainya kamu bertemu laki-laki yang lebih baik dariku. Mungkin anak ini, takkan memiliki ayah yang hina sepertiku!" ujar Rafa, seketika Hana menutup mulut Rafa dengan tangannya. Hana menggelengkan kepala mendengar perkataan Rafa.
"Jangan pernah berkata seperti itu. Anak ini buah cinta kita. Jangan pernah meragukan atau menyesal dia terlahir menjadi putramu. Setiap manusia terlahir berpasangan. Sama halnya diriku yang begitu mencintaimu. Seandainya dirimu hina, itu artinya aku juga hina. Sebaliknya jika memang aku baik, aku yakin kak Rafa juga baik. Janji ALLAH SWT itu nyata, DIA menyatukan yang baik dengan yang baik. Sebaliknya yang buruk dengan yang buruk. Jadi tak sepantasnya kak Rafa meragukan jodoh yang sudah tertulis. Kecuali kak Rafa menyesal menikah denganku!" tutur Hana lirih, Rafa menggeleng lemah. Dia sontak bangun, duduk tepat dihadapan Hana.
"Sayang, jangan pernah berpikir aku menyesal mencintaimu atau menikah denganmu. Aku terlalu mencintaimu, hingga aku takut kehilangan dirimu! Penyesalan terbesarku, kenapa aku harus melakukan semua dosa itu bersama Sesil? Sekarang aku merasa tak pantas untukmu. Aku laki-laki tak beriman!" ujar Rafa kesal, Hana menggeleng lemah seraya tersenyum.
"Kak Rafa, aku tak pernah ingin tahu masa lalumu. Bagiku yang terpenting masa depanmu dengan diriku dan keluarga kecil kita. Aku tak pernah tahu, alasanmu menjuah dari iman yang pernah kamu pegang teguh. Satu hal yang aku tahu, jadikan cinta kita alasan kembalinya imanmu!"
"Sayang!"
__ADS_1
"Iya kak Rafa, aku mengetahui segalanya. Seseorang yang tak pernah mengerti agama. Takkan pernah tahu cara meletakkan Al-Quran yang benar. Sejujurnya tanpa sengaja aku melihat isi lemarimu. Kamu mengosongkan rak lemari bagian atas. Saat aku melihat isinya, semua buku tentang agama, Al-Quran dan kitab-kitab yang pernah kamu pelajari tertata rapi. Aku diam hanya ingin menunggu dirimu mengatakannya sendiri. Jadi jangan berpikir dirimu tak beriman. Mungkin saja sekarang kak Rafa masih ragu untuk kembali. Aku dan putramu siap menunggumu!"
"Sayang, terima kasih!" ujar Rafa sembari memeluk Hana erat.