
"Kak Fathan!" Teriak Vania lantang, dengan langkah lebar dan penuh emosi. Vania masuk ke dalam rumah. Vania mencari Fathan dengan penuh amarah.
Teriakan Vania menggema di seluruh 5., membuatnya begitu? Sampai Vania lupa akan kondisinya yang tengah hamil.
"Kak Fathan jelek, keluar kamu!" Teriak Vania lantang dengan kekesalan yang tak lagi terbendung. Hana menghampiri Vania putri kecilnya. Rafa sekilas melihat kekesalan Vania keponakan yang sudah seperti putrinya sendiri.
"Vania, ucapkan salam terlebih dahulu. Jangan berteriak seperti itu. Kamu sedang hamil, jaga emosimu!" Ujar Hana lembut, Vania mengerucutkan bibirnya lima sentimeter ke depan. Vania tidak marah Hana menegurnya. Namun kekesalannya pada Fathan sudah memenuhi benaknya.
Fathan yang mendengar teriakan Vania segera keluar dari kamarnya. Dengan wajah santai, seolah tak peduli pada kekesalan Vania. Fathan duduk di ruang tengah bersama Rafa. Vania semakin kesal melihat sikap acuh Fathan. Vania mendengus dengan amarah penuh. Bom amarah yang siap meledak.
"Mama, aku harus menemui kak Fathan. Malam ini, akan kubuat perhitungan dengan dia. Kak Fathan membuatku terlihat bodoh. Jika aku tidak meluapkan amarahku. Sampai kapanpun aku tidak akan tenang!" Ujar Vania kesal, Hana hanya bisa menggeleng tak percaya.
Fathan dan Vania sama-sama dewasa, tapi terkadang keduanya bersikap layaknya dua anak kecil berebut mainan. Maklum saja, hubungan Fathan dengan Vania. Tak seakrab dan sehangat hubungan Vania dengan Faiq. Sehingga Fathan selalu mencari cara, agar Vania dekat dengannya. Sepupu perempuan yang sudah dianggapnya sebagai adik perempuan kandung.
"Vania, ingat kandunganmu sudah cukup besar. Jangan bercanda atau berkelahi berlebihan. Hati-hati akan keselamatan bayimu. Mama tidak akan pilih kasih. Jika kamu yang salah, mama akan memarahimu!" Ujar Hana mengingatkan, Vania mengangguk tanpa ragu. Vania memeluk Hana erat, lalu meninggalkan Hana dengan keheranan yang tak terjawab.
"Kak Fathan!"
"Ada apa? Tidak perlu berteriak, aku tidak tuli. Suara cemprengmu mengusik ketenangan penghuni rumah ini!" Sahut Fathan acuh, tak sedetikpun Fathan menoleh melihat raut wajah kesal Vania.
Buuugh Buuugh Buuugh
Vania menghentakkan kakinya keras, dia kesal melihat sikap acuh Fathan. Sikap acuh yang sengaja Fathan lakukan. Hanya agar Vania semakin kesal. Fathan sudah menduga kalau Vania sedang kesal padanya. Meski Fathan tidak tahu alasan kekesalan Vania. Namun sikap usil Fathan mulai memenuhi benak Fathan. Dengan sikap acuh, Fathan memancing amarah Vania. Hana menatap tajam Fathan, berharap Fathan menghentikan sikap usilnya. Namun Fathan tidak menggubrisnya. Fathan semakin senang melihat sikap kesal Vania.
"Papa, Kak Fathan!" Teriak Vania ke arah Rafa. Vania mencoba mencari pembelaan dari Rafa. Namun Rafa dan Fathan sebelas dua belas. Keduanya merasa senang melihat kekesalan Vania. Rafa diam tak menggubris aduan Vania padanya.
"Papa jelek!" Teriak Vania keras dan menggema. Hana menghampiri Vania, dengan lembut dan penuh kasih sayang. Vania mengusap wajah Vania yang tertutup cadar. Hana mencoba menenangkan Vania, membuat Vania sadar jika sikap Rafa dan Fathan hanya bercanda.
__ADS_1
"Ada apa Vania? Kamu wanita, tidak seharusnya berteriak di dalam rumah. Suaramu membuat semua orang terganggu. Kamu akan menjadi seorang ibu. Belajarlah bersikap dewasa dan tenang. Jangan sampai kamu kalah oleh hawa napsu!" Ujar Faiq lirih, seketika Vania menunduk lesu.
Faiq satu-satunya orang yang mampu membungkam mulut Vania. Menghentikan kemarahan Vania yang tanpa alasan. Faiq menjadi orang yang paling dekat. Sekaligus paling ditakuti oleh Vania. Cara pandang dan tutur kata Faiq, membuat Vania takut dan tunduk. Bukan karena mencintai atau menganggumi. Namun lebih kepada saling mengerti dan menghargai. Faiq menjadi kakak yang paling disegani oleh Vania.
"Kak Fathan, dia yang membuatku kesal. Kak Fathan membuatku malu, sampai aku bingung meletakkan wajahku dimana? Dia membuatku tak berharga!"
"Memang wajahmu tak terlihat, bukankah cadar sudah menutupnya. Lantas pada siapa kamu malu? Sampai kamu bingung meletakkan wajahmu!" Sahut Fathan menggoda, Vania menatap tajam Fathan. Tanpa teriakan atau suara hentakan kaki. Faiq membuat Vania benar-benar diam. Tak ada perlawanan Vania akan sikap kasar Fathan.
"Kak Fathan cukup, Vania sedang hamil. Setidaknya hentikan bercandamu, saat semua sudah berlebihan. Ingat kak Fathan, sangat beresiko bila Vania stres. Dia akan melahirkan lebih cepat dari HPL-nya!" Ujar Faiq lirih, Fathan terdiam membisu.
Fathan merasa bersalah dengan sikapnya. Meski Faiq yang mengingatkan, Fathan merasa tidak masalah. Nyata memang Fathan salah telah mempermainkan emosi Vania yang sedang hamil.
"Maaf!" Ujar Fathan lirih, Vania membalas dengan menjulurkan lidah. Isyarat dia mengejek Fathan yang salah dengan sikapnya. Faiq menoleh menatap tajam Vania. Sontak Vania menunduk menggantikan Fathan yang merasa bersalah.
"Maaf!" Ujar Vania lirih, Faiq diam mengunci raut wajah Vania.
Faiq mengambil berkas dari Vania, sekilas terlihat kening Faiq mengerut. Dia tidak mengerti tulisan yang ada di dalam berkas. Faiq bukan ahli dalam dunia bisnis, Faiq hanya tahu soal obat dan penyakit. Faiq tidak ingin mempelajari hal lain lagi. Beguna bagi orang lain menjadi tujuannya.
"Katakan dengan jelas, aku tidak mengerti maksud berkas ini!" Ujar Faiq tenang, lalu memberikan berkasnya pada Fathan.
Perlahan Fathan memeriksa isi dari berkas yang diberikan Vania. Fathan membuka lembar demi lembar, mengamati isi dari berkas yang ada ditangannya. Lalu sekilas, Fathan mengangguk seraya tersenyum. Dia memuji keberhasilan Vania dalam hati.
"Tidak ada yang salah dengan Berkas ini!" Hjar Fathan tenang dan santai. Vania mendengus kesal melihat sikap pura-pura Fathan. Faiq hanya bisa diam mengamati. Dia akan bertindak, jika semua belum ada ujungnya
"Kak Fathan, jangan pura-pura. Jelas kak Fathan tahu, berkas itu berhubungan dengan siapa? Kak Fathan sengaja mengirimku, agar aku bertemu dia!" Ujar Vania lantang penuh kekesalan. Faiq memilih minggir, menjauh dari perdebatan yang tidak penting baginya. Faiq memilih duduk di samping Rafa. Mengacuhkan pertikain Vania dan Fathan yang tak berujung.
"Kamu sudah bertemu dengannya. Dia semakin tampan dan sukses. Kamu tidak menyesal mencampakkannya!" Sahut Fathan santai, Faiq menoleh heran. Dia merasa perdebatan Fathan dan Vania akan membuat keduanya bermusuhan abadi.
__ADS_1
"Siapa yang kalian bicarakan? Ingat ada batasan yang harus dijaga. Vania tidak lagi sendiri, dia sudah menikah dan akan segera memiliki buah hati!" Sahut Faiq tegas.
"Kak Fathan memintaku bertemu rekan bisnis perusahaan. Bukan tugasnya yang aku permasalahkan, tapi orang yang aku temui menjengkelkan!"
"Siapa?" Sahut Faiq.
"Rama tetangga depan rumah yang dulu mengejar Vania!" Sahut Fathan lantang.
"Oh Dia ternyata!"
"Vania, kamu bahagia bertemu dia!' Ujar faiq lirih sembari menggelangkan kepalanya.
"Malas bertemu dia!"
"Kak Fathan, aku tidak akan bekerja bila Rama yang harus aku temui!"
"Kenapa kamu menolak? Kamu takut terpesona dengannya. Rama si culun yang suka mengejarmu dulu. Ingat Vania, menghindar hanya untuk orang yang takut. Melawan hanya bagi orang yang berani tapi benar. Jangan takut melakukan sesuatu yang nyata baik adanya. Sebaliknya berhenti, jika ada rasa yang mulai mengusik hatimu. Ingat kamu sudah tak sendiri. Jadi berhati-hati dalam melangkah!" Ujar Faiq tegas dan dingin.
"Sebaliknya kak Fathan, jangan bercanda dengan status Vania. Ingat ada batasan kakak memperlakukannya. Vania tak lagi sendiri, hargai hubungan suci diantara Vania dan Raihan!" Ujar Faiq lalu berdiri, Vania dan Fathan terpojok dengan perkataan bijak Faiq.
"Vania!"
"Iya kak Faiq!" Sahut Vania ramah.
"Salam buat Rama, katakan padanya aku mencarinya!" Ujar Faiq lirih, Fathan terkekeh melihat raut wajah tegang Vania.
"Kak Faiq jelek!" Ujar Vania lirih, Faiq tersenyum melihat sikap lucu Vania.
__ADS_1