KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Laki-laki Terhebat


__ADS_3

Hubungan Hana dan Rafa semakin membaik. Kabar kehamilan Hana meredam amarah Hana. Sejenak melupakan kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Hana tak mampu jauh dari Rafa. Sebaliknya Rafa tak sanggup berpisah dengan Hana. Rafa menekan harga dirinya. Menghiba pada Hana. Sedangkan Hana menahan amarahnya, demi buah hati yang terlanjur hadir diantara mereka berdua.


Sebuah pengertian yang akhirnya membuat Hana dan Rafa tetap bersama. Namun tidak semudah itu Hana melupakan perlakuan keluarga Prawira. Kedamaian yang tercipta harus sedikit terusik dengan keangkuhan keluarga Prawira kala itu. Hana akan menepati perkataannya. Meski dia memaafkan Rafa sepenuhnya, tapi Hana tetap akan mengembalikan uang yang diberikan keluarga Prawira. Tanpa sepengetahuan Rafa, Hana mencairkan deposito uang tersebut. Hana mentransfer semuanya ke rekening pribadi Rafa. Terserah Rafa akan dipergunakan untuk apa? Selama uang itu tidak berada ditangannya lagi.


Sengaja Hana datang ke kantor Rafa. Dia ingin mengatakan langsung. Jika uang tersebut sudah masuk ke dalam rekening pribadi Rafa. Hana berangkat menuju kantor, setelah pulang dari bank. Hana pergi sendiri membawa Fathan. Bukan dengan kereta dorong, Hana menggendong Fathan dengan posisi menghadap ke depan. Sebenarnya Rafa sudah melarang Hana menggendong Fathan. Rafa sudah mengusulkan untuk mencari pengasuh Fathan. Namun Hana masih menolak, dia seakan tidak nyaman. Jika Fathan diasuh oleh orang lain. Hana meyakinkan Rafa, jika dia baik-baik saja. Tidak akan terjadi sesuatu pada dirinya dan janinnya.


"Assalammualaikum!" sapa Hana lirih, sembari membuka pintu ruang kerja Rafa. Hana langsung membuka pintu, tanpa bertanya pada Fia sekretaris Rafa. Akhirnya Hana terkejut saat melihat beberapa orang sedang berada di ruangan Rafa. Salah satunya Sesil dan Arka, juga terlihat Rama. Entah kenapa hari ini Hana harus bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Rafa tersenyum melihat Hana datang. Namun Hana langsung keluar, begitu melihat banyak orang di ruangan Rafa.


"Sayang!" teriak Rafa, seketika Rafa berdiri setengah berlari mengejar Hana yang keluar dari ruangannya. Tangan Rafa menahan Hana, lalu menarik tubuh Hana masuk ke dalam pelukannya. Tangan kekar Rafa memeluk Hana dan Fathan sekaligus. Hana meronta ingin melepaskan diri. Dia malu pada Fia yang diam mematung melihat Rafa memeluk Hana. Sebaliknya Rafa sudah tidak lagi malu menunjukkan kemesraannya di depan umum.


"Kak Rafa, aku mohon lepaskan. Aku malu dilihat pegawaimu. Bukankah kak Rafa sedang rapat. Kenapa malah mengejarku? Kasihan mereka menunggumu!" ujar Hana lirih, Rafa menggeleng lemah. Tangannya menarik Hana menghadap ke arahnya. Rafa mengambil Fathan dari gendongan Hana. Lalu merangkul Hana sembari menggendong Fathan. Fia tertegun melihat bos besarnya mampu bersikap lembut. Setiap wanita akan merasa bahagia, menerima perlakukaan spesial seperti itu.


"Sayang, aku sanggup melupakan semuanya demi tetap melihatmu. Jika kamu tidak ingin aku mengacuhkan mereka. Masuklah ke dalam, tunggu aku selesai rapat. Setelah itu kita bicara, Fathan biarkan bersamaku. Aku tidak ingin kamu kelelahan, kasihan kandunganmu!" ujar Rafa lirih, lalu mengecup lembut kepala Hana yang tertutup hijab. Hana mengangguk ragu, dia tidak ingin melihat Sesil atau Rama. Orang-orang dari masa lalunya.


"Tapi di dalam ada Sesil dan kak Rama. Bisakah aku menunggu di kantin!" ujar Hana lirih, Rafa menggeleng sembari menarik tangan Hana masuk ke dalam. Semua orang melihat ke arah Rafa dan Hana. Sedangkan Hana hanya menunduk malu, Rafa menuntun Hana duduk di kursi kerjanya. Sedangkan Rafa kembali menghampiri yang lainnya untuk rapat. Fathan sangat tenang dalam gendongan Rafa.


Rapat berlangsung sekitar satu jam, Hana tertidur di atas meja Rafa. Hana menjadikan tangannya bantal. Memang belakangan ini Hana sedikit lemas. Rafa menyadari kondisi kehamilan Hana yang sedikit berbeda. Kehamilannya kali ini Hana lebih manja dan perasa. Rafa selalu berhati-hati saat berbicara, dia takut Hana salah paham. Perasaan Hana sangat sensitif, sebisa mungkin Rafa mengalah agar tidak terjadi keributan.

__ADS_1


Selama rapat berlangsung ada dua pasang mata yang selalu memperhatikan Rafa dan Hana. Sepasang mata tak berkedip melihat kehangatan Rafa pada Fathan. Sepasang mata lainnya, menatap sendu wajah Hana yang sedang tertidur pulas. Dua orang yang pernah ada dalam masa lalu Hana dan Rafa. Sesil yanh menatap kehangatan seorang Rafa pada putranya dan Hana. Ada rasa cemburu, tapi Sesil menyadari jika kebahagian Rafa hanya bersama Hana. Sebaliknya tatapan sendu Rama, seolah masih berharap Hana yang menjadi makmumnya dulu.


"Pak Rafa, anda terlihat berbeda di depan istri dan putra. Aku melihat kehangatan yang tak pernah nampak dalam kepemimpinanmu. Kharisma yang terpancar bukan seorang pengusaha sukses. Melainkan seorang suami dan ayah yang penuh dengan kelembutan. Aku merasa iri melihat keharmonisan keluargamu. Dalam satu waktu, anda mampu menjadi pengusaha sukses sekaligus suami dan ayah yang hebat. Anda menjadi inspirasi tersendiri bagiku. Aku ingin menjadi seorang suami dan pengusaha yang sukses layaknya anda!" tutur Arka, Adrian mengangguk seraya mengacungkan jempol. Adrian setuju dengan perkataan Arka. Sesil menunduk menyesal, bukan dirinya yang berada di samping Rafa. Melainkan Hana wanita yang beruntung menjadi bagian hidup Rafa Akbar Prawira.


"Setiap pernikahan memiliki jalan sendiri-sendiri. Selalu ada kesedihan dan pertengkaran. Selama ini aku dan Hana selalu berusaha, untuk saling mengerti keinginan masing-masing. Mungkin aku berbeda di depan Hana. Sebab dia alasan bahagiaku kini. Hana duniaku yang tak mungkin akan aku hancurkan. Terkadang sebagai seorang laki-laki kita harus bisa mengalah dan memahami sifat keras wanita. Bukan menghiba cinta, tapi tanpa kita sadari. Laki-laki akan jauh lebih hancur, saat dia kehilangan cinta. Sebab wanita memiliki kekuatan bertahan, demi terus berjuang dalam hidup!" tutur Rafa lirih, lalu menoleh pada Hana yang sedang tertidur. Sedangkan Fathan sangat nyaman berada dalam dekapan Rafa. Semua orang mengangguk mengiyakan perkataan Rafa. Setelah menutup rapat, semua keluar dari ruangan Rafa. Dengan perlahan Rafa membaringkan Fathan di atas sofa. Tanpa Rafa sadari Fathan tertidur dalam gendongannya.


Rafa menghampiri Hana yang tertidur di meja kerjanya. Rafa menatap lekat raut wajah polos Hana. Dia terdiam melihat Hana wajah teduh Hana. Dengan segenap jiwanya, Rafa berjanji akan melindungi Hana. Takkan pernah Rafa menjauh dari Hana. Wanita yang mengisi seluruh hatinya tanpa tersisa.


...☆☆☆☆☆...


Hana tiba di ruko saat makan siang. Sebenarnya Rafa ingin ikut dengan Hana. Namun Rafa ada acara yang harus dia hadiri. Rafa merasa tidak pantas jika tidak datang. Hana juga melarang Rafa ikut dengannya. Saat Hana datang ruko terlihat ramai. Namun keramaian bukan disebabkan banyaknya pelanggan yang datang. Keramaian disebabkan oleh kedatangan Mira Wirawan dan Sabrina. Dengan alasan ingin mengecek menu makanan. Agara acara tersebut tidak membuat mereka malu.


"Aku hanya ingin melihat menu yang akan kalian hidangkan. Keluarga kami dari kalangan atas. Aku tidak ingin kalian menyajikan makanan yang murahan. Bagaimanapun Nuafal putra keluarga Wirawan yang terpandang? Jangan buat kami malu dengan selera kampung kalian!" ujar Mira sinis, Salsa diam menunduk. Dia diam bukan takut pada Mira, tapi dia menghormati Mira yang merupakan calon ibu mertuanya. Diana yang selalu meledak-ledak merasa marah melihat sikap angkuh Mira dan Sabrina.


"Ternyata selera kalian tinggi juga. Apa Rafa yang membiayai semuanya? Maka kalian berani menghidangkan makanan kelas atas. Setahu aku kamu dan Hana sebelas dua belas. Berasal dari kampung dan juga sebatang kara. Dulu aku melarang Naufal menikah dengan Hana. Malah sekarang dia menikah denganmu, adiknya yang dari kampung!" ujar Mira sinis, Sabrina tersenyum seolah membenarkan perkataan Mira. Salsa mengutas senyum membalas perkataan Mira. Bukan amarah yang ditunjukkan Salsa. Baginya perkataan Mira hanya angin lalu. Salsa hanya peduli pada perkataan Naufal, calon imam dunia akhiratnya. Lagipula Nuafal dan Salsa akan hidup mulai dari awal. Tanpa harta atau nama kelurga Wirawan.


"Kenapa kamu tersenyum? Kamu menghina kami, seolah kami dua orang yang tidak penting. Ternyata kamu dan Hana memang sama. Dua wanita yang tidak punya malu. Menghalalkan segala cara demi hidup bahagia. Jangan-jangan kamu juga tidak berpendidikan. Sebab itu kamu bersedia menikahi Naufal yang duda!" ujar Sabrina sinis, Salsa menggeleng lemah. Diana beranjak ingin menampar mulut Sabrina. Diana mencoba tenang, tapi dua wanita di depannya sama sekali tidak berhati. Mereka berdua sama-sama wanita penuh kebusukan.

__ADS_1


"Salsa mungkin wanita kampung yang datang ke kota. Bukan untuk mengemis menjadi bagian keluarga Wirawan. Sebab jika Salsa bersedia, dia bisa menikah dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari putramu. Meski Salsa wanita kampung, dia jauh lebih berpendidikan dari kalian. Secara gelar sebentar lagi, Salsa akan menyandang gelas Megister di bidang menegement bisnis. Dari cara bergaul, Salsa lebih baik dari kalian dua wanita terhormat yang tak pantas dihormati. Kalian menyandang status kelurga terpandang, tapi bersikap layaknya orang tak berpendidikan yang tak pernah mengerti tata krama. Salsa bukan aku yang dulu, dia bukan wanita kampung tak berharga dan berharta. Rumah sakit tempat putra dan putrimu bekerja. Sepenuhnya telah menjadi milik Salsa. Aku telah membelinya dan memberikannya pada Salsa sebagai bekal dia hidup diantara kalian. Para wanita penggila harta dan tahta. Sekarang kalian bisa melihat, siapa yang berharga dan berharta? Salsa atau kalian berdua, dua wanita yang selalu merasa benar. Tapi tidak pernah sadar, jika kalian tak lebih dari sampah dalam keluarga terpandang kalian!" tutur Hana dingin, Sabrina dan Mira menoleh penuh amarah. Perkataan Hana menyinggung harga diri mereka. Sabrina dan Mira merasa diinjak-injak oleh Hana.


"Tentu saja kamu bisa membeli rumah sakit itu, dengan uang Rafa kamu bisa sok berkuasa!" ujar Sabrina ketus, Mira mengangguk pelan. Hana menghampiri dua wanita gila kehormatan. Hana melempar berkas perjanjian dengan Rafa. Serta bukti transfer dana yang disepakati. Semua ini uang milik Hana yang diberikan pada Hana. Rafa menerima uang itu, dengan syarat uang itu akan digunakan untuk pengembangan rumah sakit keluarga Wirawan yang hampir bangkrut. Hana setuju dengan syarat bukan dia pemiliknya, tapi Salsa adiknya yang akan menjadi pemilik sekaligus pengelolanya.


"Lihat dengan jelas bukti itu. Aku bukan kalian berdua yang bangga akan harta suami, tapi tidak pernah peduli kesusahannya. Hanya menghamburkan harta suami yang kalian ketahui!" ujar Hana emosi, Diana tersenyum bangga melihat amarah Hana. Salsa hanya diam, bukan menyetujui sikap Hana. Namun Salsa selalu percaya, apapun yang dilakukan Hana? Semua yang terbaik untuknya dan demi masa depannya.


"Sejak kapan kamu berani berkata kasar pada kami? Apa kekayaan Rafa sudah membuatmu merasa lebih tinggi dari kami? Sehingga kamu seenaknya saja menghina kami. Bahkan menganggap kami lebih rendah darimu!" ujar Sabrina kesal, Hana menggeleng lemah sembari mengutas senyum simpul.


"Tidak perlu kedudukan tinggi untuk berbicara dengan kalian. Harkat dan martabat kalian mungkin di atasku, tapi tata krama dan akhlak kalian jauh di bawahku. Aku sudah lelah melihat kalian terus menekan keluargaku. Meski tanpa kak Rafa yang membelaku. Akan kupastikan kalian tidak akan bisa menghinaku. Sudah cukup aku mengalah, menghormati kalian berdua. Bukan untuk menghiba menjadi bagian keluarga kalian. Namun diam kami, hanya untuk menghargai status kalian sebagai seorang ibu. Tapi sepertinya kalian lupa, jika seorang ibu hanya memikirkan kebahagian anaknya. Bukan malah menghancurkan dengan alasan yang sangat tidak masuk akal!" sahut Hana lagi, akhirnya dengan kesal Sabrina dan Mira meninggalkan ruko. Diana dan Salsa mendekat pada Hana. Mereka bertiga melihat kepergian Mira dan Sabrina.


"Sejak kapan kamu berani menatap mereka? Bahkan kamu membalas setiap perkaraan mereka!" bisik Diana, Hana menoleh dengan senyum yang paling manis.


"Sudah waktunya mereka mengerti arti menghargai. Selama ini aku diam, berharap mereka akan sadar. Namun seteleh mendengar perkataan mereka. Aku pesimis akan ada kebaikan dalam diri mereka!" ujar Hana lirih, Diana mengangguk pelan.


"Mungkin kita miskin, tapi kita layak dihargai dan dihormati. Sebab kita terlahir dengan sempurna tanpa cacat. Kita terlahir dengan kelebihan yang tak pantas direndahkan orang lain!" ujar Salsa menimpali.


...☆☆☆☆☆-...

__ADS_1


__ADS_2