
"Sayang, kenapa diam saja? Katakan padaku, bagaimana kamu mengenal Dilla!" ujar Rafa lirih, Hana tetap terdiam. Lalu terdengar suara yang sangat merdu. Suara sang bintang pesta malam ini. Dengan anggun Dilla berjalan menghampiri Hana dan Rafa.
"Aku dan Hana pernah sekolah di SMU yang sama. Kami bertiga berada di kelas yang sama selama 3 tahun. Bahkan aku dan Hana selalu menjadi juara kelas. Tanpa ada yang memulai, kami bersanging secara adil dalam setiap pertandingan. Mulai dari rangking di kelas. Laki-laki yang kami cintai, sampai yang terakhir beasiswa kuliah di kampus kakak!" sahut Dilla lantang, mereka berempat serempak menoleh. Terlihat Dilla berdiri tepat di belakang Hana dam Rafa.
Diana mematung menatap Dilla yang kini berubah drastis. Tak ada lagi kacamata yang menutupi mata indahnya. Kedua mata Dilla terlihat sangat sempurna dengan kontak lensa warna coklat yang dipakainya. Tubuh yanh dulu sedikit berisi, kini langsing nampak seksi dengan balutan gaun indah buatan perancang ternama. Bahkan cara jalan Dilla yang dulu kaku dan cepat mirip seorang laki-laki. Kini sangat anggu dengan high heels yang dikenakannya. Kaki jenjangnya nampak indah berbalut gaun mewah. Penampilan yang pantas disebut bintang pesta malam ini.
"Sayang, apa yang dikatakannya benar? Kalian pernah satu sekolah. Bahkan kamu dan dia bersaing dalam segala hal!" ujar Rafa tidak percaya, Hana menoleh pada Rafa tanpa mengatakan apa-apa? Dilla berjalan anggun mendekati Rafa. Dia merangkul tangan Rafa tanpa canggung. Sedangkan Hana hanya menatap tanpa berpikir ingin mencegahnya.
"Kak Rafa, sejak kapan aku berbohong padamu? Kita mengenal sudah cukup lama. Kamu mengetahui baik dan burukku. Sebaliknya aku mengenalmu melebihi siapapun? Hanya aku yang bisa memahami dirimu. Kita berteman cukup lama, jauh sebelum kamu mengenal Hana. Dia tak lebih dari wanita yang selalu iri akan keberhasilanku. Tak kusangka kini aku yang terkejut. Mengetahui dia tak lain wanita yang kamu pilih sebagai istri. Wanita yang akan tinggal sebagai ibu anak-anakmu. Wanita yang ingin bersaing denganku menjadi bagian dari hidupmu!" tutur Dilla percaya diri, Hana diam seribu bahasa. Sebalinya Diana tersenyum sinis mendengar penuturan Dilla yang terlalu percaya diri.
"Dilla yang cantik dan pintar, sebelum kamu membanggakan dirimu. Seharusnya kamu belajar cara berbicara yang sopan. Agar kamu tidak salah dalam mengatakan sesuatu. Takutnya apa yang kamu katakan? Malah membuatmu malu. Satu saran terbaikku untukmu. Cari kebenarannya baru kamu bicara!" sahut Diana ketus, Adrian menarik tangan Diana. Berharap Diana diam dan tidak ikut menyalahkan Dilla. Sebab Dilla kini menjadi rekan perusahaan Prawira.
__ADS_1
"Apa kamu juga ingin membelanya? Katakan sekarang juga, aku siap untuk mundur. Aku memang tidak secantik dan sepintar Dilla. Namun aku bukan wanita yang penuh kedengkian seperti dirinya. Aku bukan pribadi yang menghalalkan segala cara. Hanya demi sesuatu yang aku inginkan. Kamu mungkin suamiku beberapa minggu terakhir, tapi kamu jangan lupa aku bisa merubah status itu dalam beberapa minggu ke depan!" ujar Diana emosi pada Adrian, Hana menggeleng lemah. Dengab langkah pelan Adrian mundur. Dia tidak ingin ikut campur dalam masa lalu istrinya dengan Dilla. Adrian tidak ingin mempertaruhkan pernikahannya demi sebuah dendam masa SMU.
Plok Plok Plok
"Diana, kamu selalu menjadi sahabat yang selalu setia membela Hana. Kamu akan menjadi benteng kokoh untuk melindungi Hana. Bahkan terkadang kamu buta, tidak bisa melihat sisi buruk Hana. Kamu harus bisa mengakui, jika aku jauh lebih baik dari Hana dalam segala hal. Termasuk menjadi wanita dalam hidup seorang Rafa Akbar Prawira!" tutur Dilla, Hana menatap wajah Dilla yang penuh kebencian padanya. Sebuah dendam hanya karena persaingan selama SMU. Sebaliknya Rafa yang sedari awal terdiam, mulai mencerna masalah yang ada. Entah apa yang terjadi dulu? Namun Rafa harus mengatakan pada Dilla. Hanya Hana yang ada dalam hati dan pikirannya. Tak pernah ada wanita lain, bahkan Dilla sekalipun yang mampu menggantikan Hana.
"Kamu, tutup mulutmu!" ujar Diana emosi, Hana menahan tangan Diana. Dia mengedipkan kedua mata indahnya. Berharap Diana diam, sebaliknya terlihat jelas senyum sinis dari Dilla. Merasa dirinya menang dalam perdebatan yang tidak penting bagi Hana. Rafa menjauh dari Dilla, dia ingin menunjukkan pada Dilla. Bahwa sampai kapanpun perkataannya sangat tidak benar dan tidak masuk akal?
"Sudah cukup Dilla, kamu salah paham mengenai pertemanan kita. Aku tidak pernah menganggap dirimu lebih dari seorang teman dan adik. Takkan aku pungkiri, pernah ada rasa kagum itu. Namun setelah aku mengenal Hana, kedua mataku seolah tak lagi mampu melihat wanita lain. Aku hanya mencintai Hana, bukan orang lain. Aku harap cukup kamu menghina istriku. Kita saling mengenal, sebab akan ada kerjasama secara profesional. Sekali lagi aku yakinkan padamu, secara profesional tidak akan lebih dari itu!" tutur Rafa tegas, Diana tertawa dengan sangat keras. Dilla seketika menunduk malu. Sedangkan Hana tidak bergeming, dia tetap diam tanpa mengatakan apapun?
"Kak Rafa, bukankah kamu dulu pernah mengatakan. Selamanya kamu tidak akan percaya cinta. Kamu akan menikah hanya untuk status saja dan hanya sebagai cara memiliki pewaris. Aku yakin kamu menganggap Hana seperti itu. Kehidupan malam yang pernah kamu jalani, tidak akan mudah kamu tinggalkan. Apalagi demi wanita sok suci seperti Hana. Dulu saja dia menjauh dari laki-laki, marah teman-teman menyentuhnya. Kenapa sekarang malah dia menikah denganmu? Laki-laki yang separuh hidupnya dijalani dalam dunia malam. Aku yakin Hana menikah denganmu hanya ingin hidup dalam kemewahan!" ujar Dilla ketus, Rafa meradang mendengar perkataan Dilla. Sebelum Rafa semakin kalut, Hana menarik tangan Rafa. Memintanya menjauh dan dengan santai Hana berjalan mendekati Dilla. Diana tersenyum penuh kemenangan, sebab Diana yakin jika Hana akan mengatakan semua isi hatinya.
__ADS_1
"Kak Rafa, mundurlah sebentar. Aku ingin bicara dengan wanita anggun di depanku. Sudah saatnya aku bicara dengannya, semakin aku diam. Wanita ini semakin hilang kendali. Aku tidak pernah ingin meladeninya. Namun telingaku panas saat dia mulai mengusik harga dirimu. Aku mulai marah ketika dengan santainya dia meragukan ketulusan dan keteguhan pernikahan kita. Sekarang saatnya aku membela harga diriku, yang bertahun-tahun lalu diinjak-injak olehnya. Aku akan mengatakan semua kebenarannya. Aku tidak akan menyesal, meski harus membuatnya malu dan terhina. Kak Rafa, aku akan tunjukkan padamu. Bintang seperti apa dia? Wanita yang kamu kagumi karena kepintarannya. Tak lebih dari wanita manja, yang selalu meminta pada orang tuanya demi tercapai semua keinginannya!" ujar Hana dingin, tanpa betpikir perlu untuk bertanya. Rafa mengangguk seakan percaya pada perkataan Hana. Dilla diam sembari mengepalkan tangannya.
"Ardilla Fitri Adiwijaya kebanggaanmu akan prestasi yang seharusnya menjadi milikku sangatlah memalukan. Sebenarnya kamu menyadari, siapa yang pantas mendapatkan beasiswa itu? Kamu juga tahu, dengan cara apa kamu mendapatkan peluang kuliah di luar negeri. Namun sepertinya kamu lupa cara berterima kasih, tapi kamu mulai hidup penuh dengan kesombongan. Sekarang akan kukatakan semuanya, bukan ingin membanggakan diriku. Namun aku ingin kamu menyadari, bahwa tidak semua orang akan diam saat dia dihina!" tutur Hana, semua terdiam menatap lekat Hana. Kemeriahan pesta berubah menjadi sunyi. Ketika dengan lantang Hana ingin mengatakan semua keburukan Dilla.
"Apa yang ingin kamu katakan? Aku ingin mendengarnya. Jangan banyak bicara, yang akhirnya hanya membuatmu terlihat bodoh!" tantang Dilla. Hana mengangguk perlahan, Diana tersenyum sinis pada Dilla. Rafa dan Adrian kini hanya bisa diam. Mereka tidak pernah menduga, bukan masa lalu mereka dengan Dilla yang layak dikuak. Namun persaingan yang pernah ada diantara Hana dan Dilla jauh lebih menarik untuk disimak.
"Dilla, buka telingamu lebar-lebar. Persaingan diantara kita sejatinya tidak pernah ada. Namun sepertinya kamu selalu merasa aku ingin menyayangi dirimu. Entah kenapa dalam benak dan pikiranmu? Aku seakan ingin merebut posisimu. Padahal sejak awal aku tidak pernah ingin bersaing denganmu. Entah dalam hal apapun, termasuk beasiswa itu. Kamu yang terobsesi ingin mengalahkanku. Bagimu sangat tidak pantas dan hina, bila gadis miskin sepertiku mengalahkanmu. Demi tujuanmu itu kamu rela melakukan apapun. Termasuk membiarkan orang tuamu menghiba padaku. Agar aku mengalah padamu dan memberikan beasiswa itu. Dengan senang hati aku mengalah padamu. Bukan aku takut padamu, tapi aku tidak akan rela melihat orang tua yang seharusnya dihormati. Malah menghiba padaku, mengemis demi kebahagian putrinya. Aku merasakan bagaimana hidup tanpa orang tua? Sejak itu aku tidak pernah ingin melihat, orang tua terhina hanya demi kebahagian anaknya. Jadi keberangkatanmu kuliah ke luar negeri, tak lain berkat rasa kasihanku bukan kemenanganmu!" tutur Hana, Dilla mundur beberapa langkah. Dia tidak pernah mengetahui kebenaran ini. Memang dia meminta beasiswa itu dengan cara apapun. Namun Dilla tak pernah menduga, semua berasal dari sikap Hana yang mengalah. Bahkan orang tuanya yang memintanya sendiri pada Hana.
"Kamu dengar Dilla, kesombonganmu berbanding terbalik dengan kenyataan. Hana jauh lebih baik darimu. Dia mengalah tanpa mengeluh. Agar dia tidak melihat orang tuamu mengemis padanya. Hana sebagai orang lain memikirkan kehormatan orang tuamu. Berbanding terbalik denganmu, yang buta akan kepedihan orang tuamu. Hanya meminta dan meminta yang bisa kamu lakukan. Tanpa sedikitpun berpikir ingin mengerti. Bahwa tak semuanya bisa kita miliki. Kamu harus sadar Dilla, dibalik setiap kesuksesan anak ada orang tua yang hebat. Sebelum kamu merasa bangga dengan keberhasilanmu. Bahagiankan kedua orang tuamu, hapus air mata mereka dan hilangkan setiap keluhan mereka. Saat itulah kamu bisa dikatakan berhasil!" tutur Diana dingin, Dilla semakin terpojok. Dia mundur beberapa langkah.
"Dilla, satu hal lagi yang harus kamu ketahui. Aku menikah dengan kak Rafa, bukan demi kehidupan mewah. Aku menikah dengannya murni atas rasa cinta dan saling melengkapi. Jika kamu berpikir, kak Rafa tidak lebih dari laki-laki brengsek. Kamu salah Dilla, semenjak aku menikah dengannya. Aku yakin dan percaya, kak Rafa mampu menjadi imam dunia akhiratku. Walau dia berasal dari kehidupan malam, aku percaya kebaikan hatinya akan terlihat. Lagipula aku tidak perlu menunjukkan kebaikan dan iman suamiku. Sebab iman seseorang bukan orang lain yang menilai. Hanya Allah SWT yang bisa menilai dan hanya kepada-NYA iman itu ditunjukkan. Jadi jangan pernah berpikir. Jika suamiku sehina itu, dia tetap terbaik dalam hidupku. Sebab kak Rafa bukan pilihanku, tapi pilihan Allah SWT untukku. Dia imam terbaik diantara yang baik. Pernikahan kami menjadi teristimewa sebab jodoh yang mempertemukan kami. Jika kamu menyadari, seandainya aku tetap pergi menerima beasiswa itu. Mungkinkah kamu yang mengenal kak Rafa atau bisakah aku menikah dengan kak Rafa? Dilla semua sudah diatur, jadi tidak pantas kita saling bersanging untuk kebanggaan dunia. Apalagi untuk seorang laki-laki. Kamu harus percaya jika kamu ada. Itu artinya ada seorang laki-laki yang menciptakan dirimu dari tulang rusuknya. Jadi jangan pernah bersaing untuk sesuatu yang sudah pasti!" ujar Hana, Dilla tertunduk lesu. Hana membalikkan badan, menghampiri Diana.
__ADS_1
"Kita pulang, pesta ini tidak cocok untuk kita. Biarkan para CEO berpesta. Kita bisa membuat pesta sendiri!" ujar Hana, Diana mengangguk.