
Semeriah apapun pesta, semua akan berakhir bila para tamu pergi. Layaknya pesta meriah Raihan dan Vania. Setelah semua tamu pergi, tinggallah Raihan dan Vania sendiri. Sikap konyol Vania masih membekas dalam benak Raihan. Dia tidak menyangka, vania mampu berbuat nekat. Hanya demi menarik perhatian Raihan. Perkataan Faiq padanya, sedikit membuat Raihan menghadapi sikap nekat Vania. Apapun yang terjadi malam itu, semua telah berakhir.
Raihan dan Vania tidak akan tinggal dengan Hana. Mereka berdua memutuskan tinggal sendiri. Raihan sudah menyiapkan rumah untuk Vania dan putranya kelak. Raihan membeli rumah tak jauh dari kediaman keluarga Prawira. Semua demi Vania, Raihan tidak ingin melihat Vania merasa asing di rumahnya sendiri. Sebab itu dia membeli rumah dekat dengan rumah Hana. Agar Vania bisa dengan mudah menemui Hana. Raihan menyadari seberapa besar cinta Vania pada Hana. Rasa cinta yang melebihi anak pada ibu kandungnya.
Raihan dan Vania tidak akan berbulan madu. Vania menolak keras ajakan Raihan yang ingin bulan madu. Akhirnya Raihan dan Vania memutuskan langsung tinggal di rumah baru mereka. Rumah dengan gaya modern yang besarnya hampir sama dengan rumah Hana. Sengaja Raihan menjadikan rumah ini sama persis dengan rumah Hana. Agar Vania merasa betah.
Pagi ini Raihan dan Vania datang ke rumah Hana. Mereka memutuskan sarapan bersama keluarga besar Prawira. Kebetulan Faiq dan Davina menginap dan nanti siang kedua orang tua Vania akan kembali ke pesantren. Sarapan pagi ini akan menjadi sarapan perpisahan Vania dengan orang tuanya. Raihan dan Vania terlihag bahagia setelah resmi menjadi sepasang suami istri.
Setelah sarapan selesai, Raihan langsung berangkat ke kantor. Sedangkan Vania akan tinggal menemani kedua orang tuanya. Raihan hanya sebentar pergi ke kantor. Setelah rapat Raihan akan langsung pulang. Dia sendiri yang akan mengantar kedua orang tua Vania menuju bandara. Tidak mungkin Raihan membiarkan kedua orang tuanya pulang sendiri. Bagaimanapun Raihan telah menjadi putra mereka?
Setelah semua orang pergi, termasuk Faiq dan Fathan. Davina meminta izin pada Hana untuk keluar. Setelah sebelumnya dia meminta izin pada Faiq. Davina pergi dengan memakai mobil milik Annisa. Sejak seminggu yang lalu, Annisa sudah mengambil cuti. Dia tidak lagi bertugas di rumah sakit. Davina tidak membawa mobil saat datang ke rumah Faiq. Sebab itu dia memakai mobil Annisa. Davina ada janji dengan seseorang. Dia tidak ingin datang terlambat. Davina yang mengajak bertemu, jadi tidak mungkin Davina datang terlambat.
__ADS_1
Hampir setengah jam, Davina mengemudikan mobilnya. Akhirnya di sampai di taman kota, dia memarkirkan mobilnya. Lalu berjalan masuk taman menuju kolam yang berada di tengah-tengah taman. Sesampainya disana, Davina melihat orang yang akan dia temui telah datang. Davina bergegas menghampiri orang itu.
"Farah, apa kabar?" sapa Davina lirih, sontak Farah menoleh ke arah Davina. Terlihat Farah duduk di bangku taman yang menghadap langsung ke kolam. Farah duduk sembari membaca buku. Ternyata Farah datang setengah jam lebih cepat. Farah tersenyum melihat kedatangan Davina. Meski Davina tidak akan pernah lagi melihat senyumnya. Pertemuan pertama mereka semalam, meninggalkan kesan yang sangat mendalam.
Kepergian Farah yang tiba-tiba, membuat Davina bertanya-tanya. Persahabatan mereka sejak SMP, tidak semudah itu akan hancur. Davina ingin menanyakan alasan Farah tiba-tiba menghilang. Farah menjauh darinya tepat setelah Davina mengatakan dirinya mencintai Faiq. Selama ini Davina memendam rasa penasarannya. Sekarang dia akan menanyakan pada Farah. Kemana dan kenapa dia menghilang selama ini? Seolah dia tidak ingin melihat kebagian Davina.
"Duduklah Davina, aku sudah menunggumu sejak tadi. Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja! Tidak ada yang kurang satupun dari diriku!" ujar Farah menjawab kegelisahan Davina. Farah terlihat sangat tenang, sementara Davina terus bermain dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya bimbang. Davina duduk di sebelah Farah, keduanya mengingat kenangan saat duduk di taman kota. Mereka selalu duduk di bangku yang sama, bahkan terukir nama mereka di bawah bangku taman.
"Maafkan aku Davina sebagai sahabat aku telah berbuat salah padamu. Aku pergi tepat dihari bahagiamu. Aku menjauh saat sahabatku akan memulai hidup barunya. Aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik untukmu. Aku terlalu pengecut melihat kebahagianmu bersanding dengan kak Faiq. Aku kalah akan rasaku pada kak Faiq. Aku melepaskan persahabatan kita. Demi luka yang kurasakan. Maafkan aku!" ujar Farah, sontak Davina terkejut mendengar perkataan Farah. Davina tidak percaya saat Sabrina mengatakan Farah mencintai Faiq. Namun hari ini, Davina mendengar langsung dari bibir Farah. Sontak Davina berdiri mendekat ke arah Farah. Davina memutar tubuh Farah menghadap ke arahnya. Dia melihat kedua mata teduh milik Farah. Kedua mata yang menyimpan air mata kepahitan akan cinta yang kandas.
"Kenapa harus pergi? Tidak bisakah kamu mengatakannya padaku. Kita bersahabat sejak kecil, tidakkah aku berhak mengetahui rasamu pada kak Faiq. Setidaknya aku tidak akan hidup dalam penyesalan. Seandainya memang aku harus hidup bersama kak Faiq!" tutur Davina menyesalkan sikap diam Farah. Davina marah pada dirinya yang tidak peka akan perasaan sahabatnya. Davina menyesal telah menyakiti sahabatnya sendiri. Dia tidak pernah menyangka, betapa kejam dirinya yang membuat sahabatnya menangis dan kehilangan cinta.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu tidak pernah salah, aku yang tidak pantas bersanding dengan kak Faiq. Cintaku hanya angin lalu dalam hidup kak Faiq. Aku tidak berhak memaksakan cintaku padanya. Dia akan bahagia, hanya bersamamu bukan denganku atau wanita lain. Kak Faiq mengajarkan diriku arti cinta sesungguhnya. Dia mengingatkan diriku akan cinta pada sang pemilik hidup. Sebelum kita mencintai sang pemilik hati. Aku pergi memang membawa luka. Kini aku datang dengan hati yang bersih. Tak ada lagi cintaku untuk kak Faiq. Semua telah kuserahkan pada Allah SWT. Kuletakkan nama kak Faiq di atas sajadah sujudku. Bukan berharap menjadi makmumnya, tapi berharap kebahagiannya. Jangan pernah kamu berpikir, aku datang berharap cinta kak Faiq. Kepergianku saat itu meninggalkan cinta kak Faiq, tapi membawa kasih sayang seorang kakak!" ujar Farah, Davina terdiam membisu. Dia alasan sang sahabat tersakiti. Sebaliknya Davina marah pada Faiq yang menyimpan rahasia sebesar ini.
"Tapi kak Faiq hanya diam. Dia tidak mengatakannya padaku!" ujar Davina marah, Farah mendekat pada Davina. Farah menggenggam tangan Davina erat.
"Dia tidak salah, aku yang meminta kak Faiq tetap diam. Aku pergi melupakan cintaku, demi mencari jati diriku. Cintaku pada kak Faiq tulus, tapi sayangku padamu jauh lebih tulus. Aku tidak akan menggadaikan sayangku padamu demi cinta semu. Satu pintaku teruslah bahagia bersama kak Faiq. Dia laki-laki baik, yang mencintaimu dengan iman!" ujar Farah, Davina menggeleng lemah seraya menunduk lemah. Farah memeluk sang sahabat, Davina menangis dalam pelukan Farah.
"Aku tidak akan sempurna menjadi istrinya. Dia tidak akan mendapatkan bahagia bila bersamaku. Seandainya kamu yang menjadi istri kak Faiq. Mungkin dia akan menjadi laki-laki yang sempurna. Sebaliknya bersamaku dia hanya akan mengalami kesedihan!" ujar Davina lirih dalam pelukan Farah.
"Terkadang kebahagian ada diantara kesedihan. Tersenyum bukan standart kebahagian. Air mata yang mengalir bersama orang yang kita sayangi. Mungkin kebahagian yang paling sempurna. Sebaliknya senyum tanpa orang yang kita sayangi. Akan menjadi luka yang paling menyakitkan. Jangan menyerah bila masih ada tangan kak Faiq. Davina bukan wanita lemah yang akan menyerah. Aku ada di sampingmu, aku akan menopang tubuhmu agar selalu kuat. Jangan pernah berpikir, Faiq akan bahagia tanpa dirimu. Jika kamu tidak ingin melihat air mata yang tak mampu menetes!" ujar Farah, Davina diam memeluk tubuh Farah erat.
"Cintaku telah bahagia dengan cintamu. Jangan pernah berpikir sempurnaku akan membahagiakannya. Sebaliknya lemahmu yang membuatnya bahagia!" tutur Farah.
__ADS_1