
Mentari tak lagi bersinar, berganti cahaya matahari yang terang. Panasnya menyentuh tubuh Hana. Mengingatkan Hana kalau haru tak lagi pagi. Tanpa terasa hampir satu jam lebih Hana berada di pemakaman. Hana tersadar saat ada tangan yang memberikan sebotol air mineral. Sontak Hana mendongak, dengan kedua mata sembab Hana menatap orang yang memberikan sebotol air padanya.
"Kak Naufal!" sapa Hana lirih, seketika Hana berdiri. Dia menghapus air matanya. Naufal tersenyum melihat Hana.
"Minumlah Hana, setelah tenang kita bicara. Aku akan berdoa sebentar. Jika memang perlu, kita bisa bicara setelah ini!" ujar Naufal Ramah, Hana mengangguk pelan. Dia menerima air mineral yang diberikan Naufal. Hana melihat Naufal yang sedang khusyuk berdoa. Hampir setiap tahun Naufal datang ziarah. Hari ini tanpa sengaja dia bertemu dengan Hana.
"Katakan padaku, apa yang mengganggu pikiranmu? Jika memang bisa, ceritakan padaku. Mungkin aku bisa membantumu, setidaknya aku tetap sama. Naufal yang pernah menjadi sandaranmu!" ujar Naufal lemah, Hana menggeleng. Naufal sudah menduga, Hana tidak akan pernah bersedia menceritakan keluhannya padanya lagi. Status mereka yang berbeda, membuat Hana menjaga jarak.
"Kak Naufal mungkin tetap sama, tapi aku kini yang berbeda. Banyak dalam diriku yang berubah. Bukan hanya status, sifat dan sikapku telah berubah. Aku bukan lagi Hana yang kuat. Aku lemah, karena cintaku pada kak Rafa. Aku tidak lagi tegar, aku rapuh demi sebuah cinta suamiku. Seandainya aku Hana yang dulu. Mungkin aku tak segamang ini. Setidaknya terima kasih sudah bersedia menjadi sandaran Hana dulu dan sekarang!" tutur Hana, Naufal mengangguk pelan. Dia mampu melihat kegelisahan Hana. Lama Naufal melihat Hana menangis dan melamun di depan makam kedua orang tuanya. Hana mungkin lemah, tapi dia kuat bila semua demi orang lain. Naufal berharap sebesar apapun masalah Hana. Akan selesai secepatnya.
"Baiklah, aku yakin kamu mampu menyelesaikan semua permasalahanmu. Hana yang kukenal, mampu berpikir bijak. Dia akan menyelesaikannya dengan hati dan pikiran tenang. Bukan dengan amarah yang tak pernah menyelesaikan. Sebab amarah hanya akan menambah masalah, bukan menyelesaikan masalah!" ujar Naufal, Hana mengangguk mengerti. Sengaja Hana berangkat pagi buta ke pemakaman. Bukan untuk menghindar, Hana ingin mencari ketenangan. Semalaman Hana tidak bisa memejamkan mata. Dia tidak berani menghadapi Rafa.
"Aku harus pulang. Fathan pasti membutuhkanku, aku meninggalkannya bersama Salsa. Satu hal lagi, Salsa menanti niat baikmu. Dia mungkin adikku, tapi aku mengenalnya sebagai wanita yang bekepribadian baik. Jangan lagi berpikir, harta mampu memberikan kebahagian. Sebab harta bukan segalanya, tapi hati yang utama. Jangan selesaikan semua masalah dengan harta. Sebab harta hanya titipan yang kelak akan hilang!" ujar Hana, sembari berlalu meninggalkan Naufal. Hanya punggung Hana yang terlihat semakin menjauh.
"Apapun masalahmu, aku yakin kamu mampu menyelesaikannya. Hana kamu tidak pernah berubah. Hanya saja kamu mulai merasa nyaman dalam perlindungan Rafa. Kamu telah menemukan sandaran yang seutuhnya. Seseorang yang mampu menjagamu dari badai atau panas. Namun sepertinya, sandaranmulah yang kini menjadi badai itu. Sama seperti dulu kamu bertahan hidup sebatang kara. Melawan dunia dengan keikhlasan. Hari ini aku percaya, kamu bisa melewati semua ini. Dengan ketulusan dan keteguhan cintamu. Keikhlasanmu akan menbuatmu sadar, bahwa Rafa satu-satunya imam dan pelindung terbaik untukmu. Doaku untukmu, bukti ketulusan rasaku untukmu!" batin Naufal.
...☆☆☆☆☆...
"Salsa, dimana Hana? Aku ada janji dengannya, sekaligus aku ingin memberikan kunci ini padanya!" ujar Diana, Salsa mengangkat kedua bahunya tanda dia tidak mengetahui keberadaan Hana. Sejak pagi buta Hana sudah pergi. Sengaja Hana menitipkan Fathan pada Salsa. Sebab saat Hana pergi, Fathan masih tidur. Hana pergi tanpa bicara sedikitpun. Alhasil Salsa tidak pernah tahu kemana Hana pergi?
"Kak Hana pergi sejak pagi. Bahkan dia pergi sendiri, tanpa diantar supir. Memangnya kalian janji akan pergi kemana? Kak Hana tidak mengatakan apa-apa padaku? Kak Hana tidak berpesan akan pergi bersamamu!" ujar Salsa heran, Diana menggeleng membalas pertanyaan Salsa. Terlihat Adrian datang, dengan alasan mengantar Diana. Adrian ingin melihat keadaan Rafa. Sejak semalam dia cemas memikirkan kondisi sahabatnya. Ketakutan akan kehilangan Hana jelas terlihat. Hidup Rafa seakan berhenti, semua berakhir hanya dalam hitungan menit. Rafa hancur dalam sekali pukulan.
__ADS_1
"Sayang, sudah bertemu Hana. Aku akan menemui Rafa dulu. Aku akan mengingatkan rapat pagi ini!" ujar Adrian santai, Diana mengangguk. Salsa menyiapkan sarapan. Dia menggantikan tugas Hana. Sebab sampai waktu sarapan Hana belum juga pulang. Diana membantu Salsa menyiapkan meja makan. Fathan sedang asyik tidur dalam kereta dorongnya. Tanpa peduli dengan orang di sekitarnya.
"Rafa, kamu baik-baik saja!" ujar Adrian lirih, Rafa turun dengan pakaian rapi. Sebenarnya sejak semalam Rafa dan Hana tidak tidur dalam satu kamar. Rafa memilih tidur di kamar tamu. Dia terlalu takut melihat Hana. Bayangan kecelakaan itu menghantui Rafa. Dia tidak menyangka, kecelakaan itu berakibat fatal. Dua nyawa melayang dalam sekejap. Rafa termangu menatap Fathan yang sedang tertidur. Rafa seakan tidak mampu kehilangan Hana dan Fathan.
Adrian melihat sendiri diam Rafa tanda awal kehancurannya. Rafa pribadi yang pemarah, jika diam seperti ini. Berarti beban pikirannya sangatlah berat. Rafa seakan tak mampu lagi berdiri dengan kedua kakinya. Dengan langkah gontai, Rafa menghampiri Fathan. Dia membungkuk mencium lembut pipi Fathan. Tiga pasang mata menatap Rafa sendu. Hanya Adrian yang mengetahui arti ciuman Rafa. Bukan hanya bentuk kasih sayang Rafa, melainkan rasa bersalah yang seolah membunuh Rafa.
"Rafa, tenanglah semua pasti akan baik-baik saja! Hana bukan pribadi yang pendendam. Buktinya dia bisa memaafkan keluarga Wirawan. Kenapa dia tidak bisa memaafkanmu?" bisik Adrian, Rafa menunduk terdiam. Dia memilih duduk di meja makan. Salsa dan Diana menatap Rafa heran. Sikap diam Rafa seakan menunjukkan beban beeat. Kepergian Hana pagi buta, seolah ingin mengatakan sedang terjadi masalah yang sangat besar.
"Lebih baik kita sarapan. Percuma menunggu kak Hana, dia tidak akan datang!" ujar Salsa santai, sontak Rafa menoleh pada Salsa. Dia kaget saat mendengar Hana tidak berada di rumah. Apalagi Hana pergi tanpa Fathan. Rafa menatap tajam ke arah Salsa dan Diana. Seakan bertanya, dimana Hana sekarang? Adrian melihat kecemasan dan ketakutan dalam tatapan Rafa
"Kemana kakakmu pergi? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku? Kenapa kamu tidak ikut? Bukankah kondisi kakakmu tidak stabil!" cecar Rafa sedikit emosi, Salsa menunduk takut. Apa yang dikatakan Rafa benar? Namun Salsa sudah memaksa ikut, Hana melarang dengan alasan tidak ada yang menjaga Fathan. Diana dapat dengan mudah menangkap adanya sebuah masalah yang sedang terjadi pada sahabatnya.
"Maafkan aku, kak Hana melarang aku ikut. Dia menitipkan Fathan padaku. Kak Hana hanya pergi sebentar. Aku tidak tahu jika kak Hana selama ini. Seharusnya aku memaksa ikut, jika akhirnya aku khawatir memikirkannya!" ujar Salsa lirih sembari menunduk menyesal. Rafa mengusap wajahnya kasar. Kepergian Hana membuat ketakutan yang begitu besar dalam hati. Sekarang Hana pergi tanpa pamit, seolah isyarat akan kepergian Hana selamanya. Rafa menopang dagunya dengan kedua tangan. Pikiran Rafa tak mampu lagi jernih. Hanya bayangan kepergian Hana dan rasa takut kehilangan Hana. Semua memenuhi pikiran Rafa.
"Tenang saja kak Rafa. Hana pasti pulang, aku mengenal siapa sahabatku? Aku tahu kemana Hana pergi sekarang? Dia butuh waktu untuk sendiri. Hana akan kembali, sebab cintanya ada di sini. Mungkin Hana sedang bimbang. Aku yakin dia pasti kembali. Hana tidak akan mengkhianati rasa yang kak Rafa berikan. Jika memang Hana pergi. Dia akan pergi dengan tubuh tegak. Dia bukan pengecut yang pergi tanpa pamit!" tutur Diana santai, Rafa menunduk. Perkataan Diana bukan angin segar, malah menjadi badai yang siap menghancurkan hati Rafa.
"Sayang, seandainya Hana mengetahui siapa orang yang menabrak orang tuanya? Apa yang akan Hana lakukan? Memaafkan orang itu atau membencinya. Kamu pasti memahami sifat Hana!" ujar Adrian pada Diana, sontak Diana menoleh dengan merah padam. Rafa menoleh pada Diana. Amarah Diana terlihat nyata, sahabat yang memahami istrinya lebih dari siapapun?
"Kalau Hana mungkin akan diam. Dia tidak akan membenci orang itu. Hana bukan tipe pendendam, sepenuh hati Hana akan memaafkan orang itu. Bagaimanapun semua sudah tertulis? Namun Hana tidak akan pernah ingin melihat orang itu. Hana terlalu takut untuk terluka. Hana pernah mengatakan, jika dia bertemu orang itu. Hana ingin memberikan sesuatu yang diberikan keluarganya dulu. Seandainya mereka datang dengan kata maaf. Mungkin Hana masih ingin mengenal orang itu!" ujar Salsa lirih, Adrian dan Rafa menoleh bersamaan. Mereka tidak mengerti maksud perkataan Diana. Rafa memberikan isyarat pada Adrian, untuk menanyakan pada Diana sejelas-jelasnya.
"Maksudmu apa sayang?"
__ADS_1
"Sebenarnya Hana tidak pernah marah pada penabrak itu. Sebab Hana menyadari semua sudah menjadi ketetapan-NYA. Tidak ada yang bisa menentang atau menolak semua yang telah tertulis. Namun keangkuhan keluarga itu, membuat Hana terluka dan marah. Bukan datang dengan kata maaf. Mereka memberikan uang sebagai ganti rugi dua nyawa telah melayang. Mungkin bagi mereka uang satu-satunya yang dibutuhkan gadis berusia 15 tahun. Sebagai asuransi hidupnya setelah kedua orang tuanya tiada. Sepeserpun Hana tidak pernah menggunakan uang itu. Hana mendepositokan semua uang yang diberikan keluarga kaya raya itu. Seandainya Hana bertemu orang itu. Mungkin Hana yang akan meminta maaf. Sebab dia yang menyebabkan orang itu kecelakaan. Hana tidak pernah menuntut, sebab Hana melihat sendiri. Laki-laki itu dibawa ke rumah sakit dalam keadaan yang parah. Belum tentu juga dia selamat dari kecelakaan itu!" tutur Diana, Rafa dan Adrian menunduk lemah. Mereka menggali sesuatu hanya sampai kulit. Mereka tak menyangka, ada luka yang dalam di balik kecelakaan itu. Sebuah Hinaan di atas luka kehilangan. Sungguh keluarga Prawira menganggap harta segalanya dan mampu menyelesaikan masalah.
"Rafa, sepertinya semua akan sangat sulit. Keluargamu benar-benar tidak berhati. Mereka memberikan uang pada gadis sebatang kara. Hanya agar nama keluarga mereka tetap terhormat. Dimana hati nurani mereka? Apa kedua mata mereka buta? Seolah air mata yang mengalir tak terlihat!" bisik Adrian, Rafa mengangguk lemah. Tiba-tiba Fathan menangis, Seketika Rafa menggendong Fathan mengambilnya dari gendongan Salsa.
Semua orang melihat kasih sayang Rafa yang begitu besar pada Fathan. Hana belum terlihat, entah dia berada dimana? Rafa seolah semakin hancur mendengar fakta tentang keluarga Prawira. Fathan tidur dalam gendongan Rafa. Kepala Fathan bersandar pada pundak Rafa. Dengan lembut Rafa, membelai punggung Fathan.
"Sayang, beri papa kekuatan untuk menatap wajah mamamu. Bantu papa mendapatkan kata maaf dari mamamu. Luluhkan hati mama agar bisa melihat cinta papa. Jadilah pengikat papa dan mama. Satukan papa dan mama, seperti dulu kamu menyatukan papa dan mama. Hanya kamu alasan mama tetap berada di sisi papa. Kehilangan mamamu akan membuat papa hancur. Papa mohon, jadilah alasan keluarga kita tetap bersatu. Jadilah Fathan pemenang yang akan membuat papa dan mama tetap bersama!" batin Rafa, sembari mengelus lembut punggung Fathan. Lalu mencium lembut rambut Fathan. Rafa meluapkan kegelisahannya dengan memeluk Fathan. Buah cintanya dengan Hana.
Adrian melihat kelemahan Rafa Akbar Prawira yang nyata. Rasa takut kehilangan nyata terlihat dari pelukan Rafa pada Fathan. Belaain Rafa seolah kegelisahan yang tak berujung. Kecupan Rafa pada Fathan obat ditengah kegalauan hatinya.
"Pertama kalinya aku melihat lemahmu. Alasanmu rapuhmu tak bertulang. Sungguh tak pernah kusangka. Cinta mampu merubahmu, Hana membuatmu mati rasa. Cintanya merubah duniamu yang kasar menjadi lembut penuh kasih sayang. Haruskah aku bersedih melihat perubahan hidupmu yang penuh cinta. Atau aku harus bahagia melihat lemah dan rapuhmu karena cinta!" batin Adrian menatap Rafa pilu. Bertahun-tahun Adrian hidup bersama Rafa. Hari ini dia melihat jelas ketakutan Rafa akan kehilangan sosok Hana.
Setelah Fathan tertidur, Rafa meletakkannya di dalam kereta dorong. Tidak ada satu orangpun yang berselera untuk sarapan. Semua menunggu Hana yang tak kunjung datang.
"Kenapa belum ada yang sarapan? Apa masakan kurang enak?" ujar Hana, semua serentak menoleh. Terlihat Hana datang dengan wajah sangat santai. Sontak Rafa berdiri sesaat setelah melihat Hana datanga. Rafa mendorong kursi dengan sangat keras, sehingga kursi terjatuh. Hana diam mematung menatap wajah Rafa. Dia takut Rafa mengatakan semuanya sekarang. Hana masih takut mendengarnya langsung dari bibir Rafa. Hana mundur beberapa langkah, tapi terlambat dia menghindar. Rafa menarik tubuh Hana, memeluknya sangat erat. Rafa meluaokan semua kecemasan yang dia rasakan.
"Jangan lagi, aku tidak sanggup melihatmu pergi tanpa pamit padaku. Aku mohon, jangan pernah menjauh dariku. Aku tak mampu bernapas tanpamu. Jangan lagi, aku mohon tetaplah di sisiku. Benci aku jika itu bisa membuatmu tenang. Tapi jangan pernah pergi dariku. Aku mohon!" bisik Rafa tepat di telingan Hana. Suara parau Rafa jelas terdengar oleh telinga Hana. Rafa menangis dalam pelukan Hana.
"Bisa lepaskan pelukannya, aku harus mandi!" sahut Hana dingin, Rafa menggeleng lemah.
"Sebelum kamu berjanji tidak akan meninggalkanku!"
__ADS_1
"Aku tidak akan pergi, tapi aku juga tidak ingin di sampingmu!" sahut Hana, Rafa mengangguk pelan. Rafa melepaskan pelukannya.
"Itu jauh lebih baik, daripada kamu pergi jauh dariku!"