
"Berhenti, jangan berikan Gavi coklat!" teriak Rey sembari berlari ke arah CHalisa. Seketika dia membuang coklat di tangan Chalisa. Rey tidak akan membiarkan Gavi memakan choklat.
Sikap kasar Rey membuat Chalisa terdiam. Dia tidak menyangka Rey bersikap dingin dan terkesan kasar padanya. Saat mengambil coklat dari Chalisa, Rey langsung membuangnya tanpa bertanya atau menjelaskan. Rey sama sekali tidak peduli pada Chalisa.
Chalisa termenung melihat sikap Rey yang tak pernah bersahabat. Entah alasan apa yang membuat Rey begituembecinya? Satu hal.yang pasti, Chalisa hanya ingin berteman dengan Rey. Dia tidak ingin menjadi musuh Rey.
"Lain kali tanya dulu jika ingin memberikan sesuatu. Gavi alergi coklat, sebagai seorang dokter kamu sadar akibat yang bisa terjadi. Tidak seharusnya kamu bersikap ceroboh. Apalagi pada anak kecil, bertanyalah bila kamu tidak mengetahuinya!" ujar Rey kasar dan lantang, Chalisa menunduk merasa bersalah.
Rey mengambil Gavi dari Chalisa. Rey menjauhkan Gavi dari Chalisa. Seakan Chalisa tidak akan pernah bisa menjaga Gavi. Chalisa termenung menatap punggung Rey yang menjauh. Chalisa ingin meminta maaf, tapi suara terhenti ditenggorokan. Melihat sikap kasar Rey, tak ada hasrat Chalisa meminta maaf lagi.
"Aku mungkin salah, aku tentu akan meminta maaf. Seseorang tidak luput dari salah, tapi kenapa dia menghakimiku seolah aku tidak akan pernah benar? Aku wanita biasa yang berhati, tak pernah aku ingin menyakiti orang lain. Namun sikap kasarnya, bukan lagi amarah atau rasa kesal. Sikapnya lebih tak menghargai harga diriku. Aku mungkin menghormatinya, tapi aku tak akan peduli lagi padanya. Ketika dia tak menjaga harga diriku. Aku tidak akan lemah oleh rasa ini. Selama ini aku bertahan tanpa siapapun? Aku yakin akan terus bertahan tanpa balasan rasa darinya!" batin Chalisa kesal.
"Rey!" sapa Annisa dingin, terlihat tangan Annisa menahan tubuh Rey. Sontak Rey menghentikan langkahnya. Rey menatap heran ke arah Annisa. Tak pernah dia melihat sikap dingin Annisa padanya. Jangankan sikap Annisa, tatapan Annisa seolah ingin membunuh Rey. Penuh dengan amarah dan rasa kesal.
Annisa melihat bahkan mendengar sikap kasar Rey pada Chalisa. Sikap tak pantas seorang laki-laki yang tak menghargai wanita. Sebagai seorang ibu, dia jauh lebih khawatir akan kesehatan Gavi. Namun takkan pernah dia berkata sekasar itu. Apalagi hanya karena ketidaksengajaan. Sikap Rey berlebihan pada Chalisa. Annisa merasa marah, terluka dan kecewa sebagai seorang wanita.
Annisa merasa ngilu mendengar suara kasar Rey pada Chalisa. Annisa merasakan sakitnya tak dihargai oleh Rey. Seorang wanita mampu bertahan demi orang yang dicintainya. Namun akan rapuh dan hancur. Ketika rasanya diragukan oleh orang yang dicintai. Annisa melihat kekecewaan Chalisa. Rasa tak dihargai oleh Rey, membuat Chalisa terluka. Alasan sama yang membuat Annisa marah pada Rey.
__ADS_1
"Berikan Gavi pada pengasuhnya. Sedangkan kamu ikut kakak!" ujar Annisa dingin, Rey mengangguk tanpa membantah.
Annisa memanggil pengasuh Gavi, memintanya menjaga Gavi sementara waktu. Kebetulan Gavi sudah waktunya tidur. Dengan perlahan Rey memberikan Gavi pada pengasuhnya. Rey mengikuti langkah kaki Annisa menuju balkon lantai dua. Sedangkan Chalisa terlihat berjalan menunduk menuju dapur. Rey memperhatikan Chalisa yang berjalan menunduk menuju dapur. Keduanya bersalipan jalan, Rey berada di lantai atas dan Chalisa berada di lantai bawah.
"Rey, apa yang kamu lakukan pada Chalisa sangat tidak pantas? Dia seorang wanita yang membutuhkan perlindungan. Bukan sikap tak menghargai darimu yang pantas dia terima!" ujar Annisa dingin, Rey termenung mendengar dingin suara Annisa.
Rey dan Annisa terpisah bertahun-tahun. Keduanya lahir dari rahim yang berbeda. Namun kenyataan itu tak pernah membuat mereka saling menjauh. Sebaliknya keduanya saling mendekat dan memahami satu sama lain. Annisa menyayangi dan menganggap Rey adik kandungnya. Sedangkan Rey menghargai Annisa sebagai kakak yang akan mengajarinya kehidupan. Seorang kakak yang akan terus membela dan mengingatkannya ketika salah.
"Aku hanya mengingatkan Chalisa. Dia memang salah telah memberikan Gavi coklat. Aku rasa menegurnya itu tidak salah!" ujar Rey membela diri, Annisa menatap tajam Rey. Pembelaan diri Rey semakin membuat Annisa marah. Sikap Rey pada Chalisa bukan menegur. Sikap lebih terlihat seperti amarah dan rasa tidak suka.
"Rey, kakak tidak buta dan tuli. Sikapmu bukan menegur, tapi menyalahkan Chalisa. Kamu meragukan kredibilitas Chalisa sebagai seorang dokter. Dia seorang wanita, hatinya terlalu rapuh untuk menerima hinaanmu. Kakak tidak ingin melihat sikap kasarmu pada Chalisa. Seandainya kakak yang berada diposisi Chalisa. Apakah kamu akan terima sebagai saudara? Setidaknya hargai perasaan Raihan, dia kakak Chalisa. Tidak bisa dipungkiri, Raihan saudara ipar kak Fathan!" ujar Annisa tegas dan dingin, Rey menunduk lesu.
"Aku akan meminta maaf pada Chalisa!" ujar Rey lirih, Annisa menggeleng lemah.
Rey heran melihat gelengan kepala Annisa. Bukankah meminta maaf jalan Rey memperbaiki kesalahan. Namun anehnya Annisa malah menggeleng, seakan tak setuju dengan ide Rey.
"Kamu memang harus meminta maaf pada Chalisa. Sikapmu sudah sangat tidak pantas. Sebagai seorang laki-laki kamu bersikap tak seharusnya. Laki-laki yang seharusnya menghormati wanita, karena dia terlahir dari rahim wanita. Malah dengan lantang menyalahkan tanpa memberi kesempatan menjelaskan. Sebelum kamu meminta maaf padanya tanamkan dalam hatimu. Chalisa seorang wanita yang pantas dihargai. Setidaknya belajarlah menghargai Chalisa sebagai saudara. Jika sebagai seorang wanita, kamu tidak ingin mengenalnya!" ujar Annisa, Rey mendongak tak mengerti.
__ADS_1
"Apa maksud kakak?"
"Hatimu menyadari benar sikap berbeda Chalisa padamu. Jangan salahkan dia atas rasa yang ada dihatinya. Chalisa berhak merasakan kebahagian itu. Jika menerima rasa itu kamu tidak bisa. Cukup hargai saja, jangan menghina rasa itu!" ujar Annisa.
"Aku tidak mengerti!" sahut Rey dingin.
"Kamu tidak akan mengerti, karena cinta itu rasa tak butuh dimengerti. Cinta itu rasa yang penuh misteri. Kakakmu tidak ingin melihat kebencianmu pada Chalisa. Sikap yang mungkin akan kamu sesali kelak!" timpal Fathan, Rey dan Annisa menoleh. Mereka melihat Fathan datang dengan pakaian kantor. yang masih melekat.
"Maaf aku ikut bicara!" ujar Fathan, saat melihat dua saudara saling menatap dengan heran.
Tanpa aba-aba, Fathan langsung memeluk tubuh Annisa erat. Dia mencium puncak kepala Annisa. Lalu memeluknya lagi dari belakang.
"Cinta itu indah bila kita melihat dan merasakannya dengan hati. Jangan merasa mengenal satu dengan yang lain. Akan membuat kalian harmonis dan selamanya. Terkadang pertengkaran akan menjadi awal lahirnya kerinduan!" ujar Fathan lirih.
"Aku tahu, cinta itu indah. Sampai kalian tega bermesraan di depanku. Tidak sadarkah kalian, hatiku menangis kesepian!" ujar Rey kesal, lalu berjalan menjauh dari Fathan dan Annisa.
"Ada cinta kamu juga menolaknya. Jadi jangan salahkan kami, bila kamu sendirian menangis melihat kami!" teriak Fathan lantang. Rey menoleh seraya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Aku akan bahagia dengan seluruh keluargaku!" sahut Rey.