
"Nyonya Sabrina, ini yang anda minta!" ujar Raihan dingin, sembari dia memberikan beberapa berkas pada Sabrina. Rafa dan Hana seketika menoleh ke arah Raihan.
Terlihat Raihan datang dengan tim pengacaranya. Raihan datang dengan persiapan yang sangat matang. Sebenarnya Raihan ingin menyerahkan semuanya pada pengacara, tapi Raihan ingin bertemu dengan Sabrina. Seseorang yang membuat Vania terbaring tidak berdaya. Seorang nenek yang dengan sikap dingin dan angkuhnya telah menekan Vania.
Setelah semalam berbicara dengan Faiq. Raihan mulai mengerti. Kenapa Vania begitu cemas? Sampai Vania mengalami depresi dan jatuh sakit. Vania resah memikirkan permintaan Sabrina akan hak Kiara sebagai putri dari Gunawan Prawira. Sebagai adik kandung Rafa, Kiara berhak atas harta keluarga Prawira. Harta yang sesungguhnya tak pernah ada. Sebab semua telah hancur dan habis di bawah kendali Gunawan.
Harta keluarga Prawira yang ada saat ini. Semua murni hasil kerja keras Rafa Akbar Prawira. Tanpa campur tangan Gunawan atau kakeknya Ardi. Rafa mendapatkan semua kekayaan ini dengan kerja kerasnya. Namun sebagai seorang kakak, Rafa sangat menyayangi Kiara. Sejak dia mencapai kesuksesan, Rafa telah membagi beberapa aset ataa nama Kiara. Namun setelah menikah dengan Rizal. Kiara mengembalikan semua harta yang diberikan Rafa.
Kiara menolak semua pemberian Rafa, demi menjaga harga diri Rizal. Dia tidak ingin melihat Rizal merasa rendah dengan harta yang dimiliki Kiara. Dengan keikhlasan penuh, Kiara meminta Rafa mengambil kembali harta yang diberikan padanya. Namun Rafa bertekad akan memberikannya pada Vania. Sama halnya dengan Kiara, Vania menolak harta itu. Dengan alasan dia bukan orang lain. Dia juga putri Rafa, jadi tidak akan ada pembagian untuknya yang membedakan dengan Fathan dan Faiq.
Vania menolak pembagian, karena pembagian harta menandakan kehancuran sebuah keluarga. Vania meminta Rafa menjadikan satu seluruh aset keluarga Prawira. Tanpa ada pemindahan nama menjadi miliknya. Sifat sederhana yang berbeda jauh dari sifat Sabrina yang serakah. Alasan kegelisahan Vania beberapa hari terakhir.
Sabrina datang menemui Kiara. Dia meminta Kiara mengambil harta yang diberikan Rafa padanya. Namun dengan tegas, Kiara menolak permintaan ibunya. Tak patah semangat, Sabrina menemui Vania. Dia meminta Vania membujuk Rafa, untuk memberikan harta yang telah diwariskan Rafa pada Kiara. Awalnya Vania menolak sama seperti Kiara. Namun perkataan Sabrina seakan menampar pipi Vania. Sebuah utang budi atas hidup Kiara yang membuat Vania bimbang.
Vania mulai gelisah, antara menolak permintaan Sabrina atau menerima yang artinya dia mengharapkan perpecahan. Vania tidak pernah berharap pembagian. Awal kehancuran keluarganya. Lama Vania berpikir, dia semakin bimbang yang akhirnya stres.
Bisa saja Vania mengacuhkan Sabrina. Namun perkataan Sabrina, membuat Vania ragu dan membenarkan sikap serakah Sabrina. Sebagai calon ibu, Vania bisa merasakan betapa besar pengorbanan Sabrina? Meski sesungguhnya tidak akan pernah seorang ibu menuntut apapun atas pengorbanan yang pernah dia lakukan?
Lama kelamaan Vania mencari cara memenuhi permintaan Sabrina. Bukan dengan mengatakan pada Rafa, untuk membagi harta yang menjadi haknya. Vania mencari cara yang lain. Akhirnya Vania memutuskan menjual satu per satu aset yang dimilikinya. Harta yang dia dapatkan dengan bekerja keras. Dalam setiap kebimbangannya Vania selalu mencari Faiq. Namun sepertinya beban yang ditanggungnya terlalu berat. Sehingga Vania mengalami tekana dan jatuh sakit.
"Apa ini Raihan?" ujar Rafa, sembari melihat isi berkas yang dibawa Raihan.
Rafa bertanya bukan tidak mengerti akan isi dari berkas itu. Rafa hanya tidak mengerti maksud Raihan memberikan semua itu. Sebab yang diberikan Raihan bukanlah sesuatu yang sepele. Semua permintan Sabrina ada dalam berkas itu. Tanpa ada yang terselip satupun. Seolah Raihan menyiapkan semuanya dengan sangat baik.
"Papa, seperti yang papa lihat. Semua itu aset yang diinginkan nenek Sabrina. Harta yang beliau minta sebagai ganti pengorbanannya pada bunda Kiara. Layaknya Vania yang ingin menebus bunda Kiara. Aku juga ingin menebus Vania dan kedua buah hatiku. Sudah cukup Vania menanggung hidup nenek Sabrina. Hari ini akan kuberikan yang dia inginkan. Namun sebagai gantinya aku meminta imbalan. Sebuah perjanjian yang membuatnya tak lagi bisa menyentuh Vania!" ujar Raihan tegas dan dingin, Rafa terdiam mendengar perkataan Raihan.
Terselip rasa tak enak hati. Ketika Raihan ikut campur dalam urusan pelik keluarganya. Apalagi Raihan memberikan sesuatu yang tidak sewajarnya. Raihan membuat Rafa bimbang, dia meras ragu menerima semua itu. Rafa merasa tidak pantas menerimanya. Ketika Rafa mengingat kedua orang tua Raihan. Seketika Rafa meletakkan semua berkas yang dipegangnya.
"Ternyata menantu Kiara jauh lebih berhati daripada mertuanya. Apalagi kamu Rafa, yang tak pernah menghargai diriku. Aku tidak butuh harta kalian. Aku hanya ingin kalian menganggap keberadaanku. Bagaimanapun aku ibu yang melahirkan Kiara? Dia darah dagingku!" ujar Sabrina lirih, Hana mendekat pada Sabrina.
__ADS_1
Dia duduk tepat di samping Sabrina. Hana menggenggam tangan Sabrina. Dengan lembut Hana menepuk punggung telapak tangan Sabrina. Rafa dan Raihan terdiam melihat sikap hangat Hana pada Sabrina. Ada rasa pesimis dalam hati mereka. Jika Sabrina bisa menerima pendapat Hana.
"Nyonya Sabrina, tidak ada yang merasa dirimu tak berharga. Selama ini kak Rafa selalu mengalah akan sikap kasarmu. Bukan karena kak Rafa mengasihimu, tapi karena dia menghargaimu. Kak Rafa tidak mengatasnamakan hak Kiara atau Vania padamu. Bukan karena kak Rafa tak pernah menganggapmu ada. Melainkan kak Rafa merasa malu, seandainya dia harus membayar setiap pengorbananmu dengan harta yang tak seberapa. Percaya atau tidak, aku percaya kak Rafa telah menganggapmu layaknya ibu kandungnya. Pengakuan yang tersimpan jauh dalam hati terdalamnya!" ujar Hana, Rafa menunduk menatap lantai.
Seketika Raihan melihat kehangatan yang ditunjukkan Hana. Raihan meminta semua pengacara dan stafnya keluar. Dia tidak ingin masalah keluarga Prawira terdengar keluar dari rumah keluarga Prawira. Raihan mulai memahami alasan Vania bersikap mandiri. Vania berpikir dengan kehangatan akan ada jalan terbaik. Namun sayangnya dia tidak terlalu kuat menahan beban pikiran. Akhirnya Vania tumbang sebelum bisa menyadarkan neneknya Sabrina.
"Tanyakan pada hatimu, adakah kak Rafa membalas setiap sikap kasarmu pada kami? Dia selalu mencoba membalas sikapmu dengan kesabaran. Berapa kali kak Rafa mencoba menyadarkanmu? Entah kenapa aku merasa sikap baik kami malah semakin membuatmu terhina? Sejujurnya bukan kami yang tidak pernah menganggapmu. Tapi nyonya sendiri yang tak pernah ingin mengenal kami. Keangkuhan nyonya yang menganggap aku tak lebih baik darimu. Membuat nyonya enggan berada dalam satu atap denganku!" tutur Hana, Sabrina menunduk terdiam.
"Sudah saatnya nyonya mengalah, kak Rafa dan Vania sudah lama menantikan dirimu. Jika Kiara menolakmu dan Vania menentang permintaanmu. Semua itu wajar, karena mereka seorang istri yang bergantung pada suami mereka. Namun berbeda dengan kak Rafa, dia wajib merawat dan menjagamu. Tinggalah bersama kami, agar kak Rafa bisa memenuhi tanggungjawabnya sebagai putramu!" ujar Hana, Rafa dan Raihan melihat ketulusan Hana.
"Aku tidak salah dengar? Kamu memintaku tinggal di rumah ini. Rumah dimana hanya ada kebencian akan diriku? Perkataanmu seolah ada kasih sayang dari Rafa untuku. Namun yang aku rasakan hanya kebencian!" ujar Sabrina ketus, Rafa menggeleng lemah. Menyayangkan apa yang dipikirkan Sabrina? Rafa merasa sia-sia kehangatan dan ketulusan yang diberikan Hana.
"Sayang, sudahlah tidak perlu banyak bicara! Biarkan saja tante Sabrina memilih jalannya sendiri. Aku sudah memenuhi semua permintaannya. Tidak akan ada lagi ganjalan di hatinya!" ujar Rafa, Raihan mengangguk pelan.
Raihan setuju dengan perkataan Rafa. Meski dia tidak mengetahui, seberapa besar kasih sayang Rafa pada tante Sabrina. Satu hal yang dia yakini, kelak akan ada masa seperti ini. Jika Sabrina tetap berpikir harta segala-galanya.
"Aku setuju dengan papa, aku sudah menyiapkan semua berkas yang perlu ditandatangani nenek Sabrina. Semua yang diingkan akan aku penuhi. Selama dia bersedia menandatangani berkas yang aku berikan!" ujar Raihan tegas dan dingin, Rafa mengangguk setuju. Sebaliknya Hana menggeleng lemah tak setuju dengan keputusan Raihan.
"Nyonya Sabrina, aku sudah mengatakan apa yang seharusnya kamu ketahui? Semua terserah padamu, ambil keputusan sesuai kata hatimu. Di depanmu ada tumpukan berkas berisi harta keluarga Prawira yang kamu inginkan. Di sisi yang lain ada harta Raihan yang akan diberikan padamu sebagai kompensasi pengorbanan dan kasih sayangmu pada Kiara. Namun satu hal yang harus kamu ketahui. Harta yang ada di depanmu mungkin akan cukup menopang hidupmu hingga ajal menjemput. Tapi dalam harta itu tidak ada kasih sayang putra dan cucumu. Kamu akan sendiri sampai ajalmu!" ujar Hana, lalu pergi menjauh dari Sabrina. Faiq dan Fathan duduk di samping Hana.
Sabrina melihat Hana yang duduk diantara Fathan dan Faiq. Kedua putra Hana bersandar pada bahunya. Ada rasa cemburu dan marah, ketika melihat Hana memiliki dua kasih sayang tulus dari Fathan dan Faiq. Belum lagi Hana selalu mendapat dukungan dari Rafa.
"Baiklah aku akan tinggal di rumah ini. Aku ingin melihat benarkah perkataanmu. Namun ada syarat yang harus kamu penuhi!" ujar Sabrina, tanpa ragu Hana mengangguk. Sebaliknya Rafa menggeleng lemah. Dia merasa ada yang tidak beres dengan syarat Sabrina.
"Katakanlah!" sahut Hana singkat.
"Aku akan tinggal di rumah ini, tapi kamu harus keluar dari rumah ini!" ujar Sabrina, Rafa meradang mendengar perkataan Sabrina. Hana tersenyum ke arah Faiq dan Fathan. Seolah mereka berdua mengetahui jawaban yang akan dikatakan Hana.
"Mama akan pergi dari rumah ini. Selama nenek bersedia tinggal di rumah ini. Kapan nenek akan pindah kemari? Kami akan menyiapkan kamar untuk nenek!" ujar Fathan lirih, Rafa dan Raihan tersentak kaget. Mereka tidak menyangka Fathan akan menyetujui permintaan Sabrina. Faiq dan Hana mengangguk mengiyakan perkataan Fathan.
__ADS_1
"Kamu sadar dengan ucapanmu. Aku meminta Hana keluar dari rumah ini. Bukan memintanya tinggal di rumah ini. Hana harus meninggalkan Rafa. Dia akan hidup sendiri tanpa Rafa!" ujar Sabrina tidak percaya.
"Mama tidak akan tinggal sendirian. Dia akan tinggal denganku. Mungkin mama akan jauh dari papa, tapi mama tidak akan kehilangan papa. Nenek berhak tinggal di rumah ini. Kak Fathan dan Vania akan menemani nenek dan Papa. Jadi tidak akan ada yang terpecah. Tidak ada gunanya nenek memiliki harta, tanpa orang yang menyayangimu. Vania terbaring lemah tak berdaya. Bukan karena marah padamu atau tertekan akan permintaanmu. Vania sedih menyadari, jika kelak nenek akan hidup sendirian!" ujar Faiq dingin, Rafa terdiam menunduk.
"Mereka alasanku tak pernah marah padamu. Fathan dan Faiq terdidik dengan kasih sayang bukan kebencian. Lihatlah sendiri tidak ada amarah di mata mereka. Ketika mendengarmu mengusir Hana dari rumah ini. Sebaliknya mereka menunjukkan kasih sayang padamu. Sekarang terserah padamu, dua putraku sudah memutuskan yang mereka anggap baik!" ujar Rafa, hana mengangguk pelan.
Sabrina diam melihat amarah dan kebenciannya seolah tak berarti di hadapan kedua putra Hana. Keinginannya melihat amarah kedua putra Hana. Agar dia merasa benar dengan pikirannya. Tidak menjadi kenyataan. Bukan amarah yang dilihatnya, Sabrina melihat kasih sayang Fathan dan Faiq yang menganggap dirinya seperti neneknya sendiri.
"Kak Faiq, kini aku mengerti alasan dirimu melarangku ikut campur dalam urusan ini. Maaf jika aku telah salah sangka padamu. Aku berpikir dirimu tak pernah menganggapku sebagai keluarga. Namun ternyata kamu ingin semua ini selesai dengan kasih sayang. Bukan dengan perpecahan!" ujar Raihan, Faiq mengangguk pelan.
"Faiq, bantu mama membereskan beberapa baju. Rumah mama yang dulu sudah selesai diperbaiki. Sementara mama akan tinggal disana. Jadi nenek Sabrina bisa tinggal di rumah ini!" ujar Hana lirih, Faiq mengangguk pelan.
"Aku akan meminta Davina membereskan beberapa barangku. Kita berangkat kesana bersama-sama!" ujar Faiq, Hana mengangguk pelan.
"Mama, Fathan akan membantu. Lagipula Fathan sedang tidak ada kerjaan. Jadi Fathan bisa membantu mama berkemas. Sekaligus membantu mama membersihkan rumah!" sahut Faiq.
"Tunggu Hana, kamu akan pergi tanpa bertanya padaku? Aku suamimu, seharusnya kamu izin padaku!" ujar Rafa lirih, Hana menoleh seraya tersenyum. Sebuah senyum tanda perpisahan, sedangkan Sabrina diam melihat kehangatan keluarga Rafa.
"Hana, tidak perlu kamu keluar dari rumah ini. Aku sudah melihat kesungguhan perkataanmu. Aku tidak akan meminta apapun dari kalian. Aku akan menghabiskan masa tuaku di rumahku yang dulu. Sudah saatnya aku kembali pada hidupku yang dulu. Kelak jika aku tak lagi mampu hidup sendiri. Izinkan aku meminta bantuanmu. Rawatlah aku jika itu mungkin!" ujar Sabrina lirih, Hana mengangguk.
Tidak ada lagi yang bisa Hana perbuat. Sabrina sudah memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Hana mengerti jika ada rasa angkuh Sabrina menerima kasih sayang Hana. Namun disisi lain Sabrina mulai mengerti kasih sayang yang sesungguhnya.
"Mama, tinggalah bersama kami di pesantren. Kami akan senang bila mama bersedia tinggal dan hidup sederhana dengan kami. Maafkan Kiara yang pernah menolakmu. Bukan dia tidak ingin merawatmu, tapi statusnya sebagai seorang istri mengekang kebebasannya. Sekarang aku mohon ikutlah dengan kami. Agar harapan Vania terwujud. Vania tidak ingin melihatmu hidup sendiri di masa tuamu. Biarkan kami berbakti sebagai seorang anak. Pengorbananmu tidak akan pernah bisa kami bayar. Meski semua harta kami berikan. Karenamu aku bisa memiliki Kiara dan putri secantik Vania. Sangat tidak pantas bila aku membuatmu hidup sebatang kara!" ujar Rizal yang baru saja datang bersama Kiara. Seketika Kiara bersujud di kaki Sabrina.
"Maaf, maafkan Kiara!" ujarnya lirih, sembari mencium kaki Sabrina. Sontak Sabrina mendekap kepala Kiara. Air mata tulus menetes dari Sabrina. Bukan dari mata, tapi air mata yang mengalir dari hati terdalamnya.
"Kia…ra…!" ujarnya terbata-bata.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
..."Seorang wanita terlahir dengan lemah dan kuatnya. Seorang wanita tercipta dengan lebih dan kurangnya. Seorang wanita tak pernah lahir dengan kesempurnaan, tapi wanita tercipta untuk menyempurnakan. Jika wanita menjadi tulang punggung keluarganya. Maka dia sanggup menjadi tulang rusuk laki-laki. Sebaliknya bila seorang wanita telah menjadi tulang rusuk laki-laki, tidak akan mudah baginya menjadi tulang punggung keluarganya. Namun apapun kodrat seorang wanita, tetaplah dia makhluk yang dimuliakan. Di bawah telapak kakinya ada surga seorang laki-laki. Dari rahimnya terlahir generasi penerus. Dalam dekapannya ada kehangatan yang tak mampu terbayarkan. Dari kedua matanya tersimpan air mata jernih penuh keteduhan. Dalam tangannya ada doa, untuk buah hatinya. Seburuk-buruknya seorang wanita, ada satu nilai baiknya. Karena wanita ada untuk melengkapi hidup seorang laki-laki. Bukan terhina dengan keburukannya. Bukan tersakiti dengan kelemahannya. Tak semua wanita itu beruntung, tapi wanita lahir dengan keberuntungannya. Meski dia tidak ditakdirkan menjadi ibu. Dia akan menjadi pendamping dan teman terbaik seorang suami. Walau dia tidak ditakdirkan menjadi seorang istri. Dia akan menjadi putri bagi kedua orang tuanya. Sejatinya menjadi ibu atau istri menjadi harapan dan impian setiap wanita. Namun sebagai wanita biasa, ada batasan dia harus menelan kepahitan. Ketika harapan terbentur pada ketentuan-NYA. Bersyukurlah bagi wanita yang ditakdirkan menjadi seorang ibu sekaligus istri. Setiap lelahmu akan menjadi jalan surgamu. Setiap keluhanmu akan menjadi jalan sengsaramu. Sabarlah bila kita tak ditakdirkan menjadi ibu atau seorang istri. Percayalah ada bahagia yang tersimpan dan akan terasa pada waktu yang tepat. Yakinlah semua akan indah pada waktunya. Kesabaran dan keteguhan iman tidak akan pernah menyengsarakan. Sebab ujian ada hanya agar kita mengingat kata syukur."...