KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Karmila Intan Safitri


__ADS_3

"Sayang, ayo masuk. Kamu belum makan siang, nanti kamu sakit!" sapa Rafa lirih, Hana menoleh melihat Rafa berdiri tak jauh darinya.


Setibanya Rizal dan Mila masuk ke dalam Restoran. Rafa memutuskan keluar dari restoran. Dia ingin mencari Hana, Rafa cemas sebab sudah lama Hana belum kembali. Si kecil tertidur pulas, sebab sebelum pergi Hana sudah memberikan ASI. Rafa menitipkan si kecil pada Salsa dan Diana.


Rafa berpamitan pada Mila dan Rizal untuk mencari Hana. Rafa cemas setelah Rizal tanpa sengaja mengatakan baru selesai dari mushola. Rafa cemas jika Hana bertemu dengan Mila. Rafa tidak ingin Hana berpikir buruk tentang hubungannya dengan Mila. Rafa meninggalkan Mila dan Rizal, dia meminta Zyan dan Adrian menemani mereka berdua.


Setibanya di luar restoran, Rafa melihat Hana sedang bermain dengan beberapa anak. Rafa melihat Hana tertawa lepas. Hana saling mengejar dengan anak-anak jalanan. Kebetulan saat Hana berada di mushola. Mereka sedang berada tidak jauh dari Hana. Sifat sederhana Hana yang tidak membedakan sesama membuat Hana merasa nyaman diantara merekan. Hana tidak merasa risih, saat melihat anak-anak itu.


Hana tertawa lepas di bawah teriknya matahari. Tak ada panas dan haus yang terasa olehnya. Terlihat jelas raut wajah bahagia dari Hana. Rafa tak pernah melihat tawa yang begitu lepas. Kebahagian sederhana istrinya yang tak mampu diberikan Rafa.


"Kak Rafa, kenapa ada diluar? Ada yang tertinggal di mobil!" ujar Hana santai, Rafa melihat sikap santai istrinya sebagai sesuatu yang aneh. Rafa berpikir jika Hana sengaja ingin melupakan semua tentang dirinya.


"Sayang, kamu pasti lelah. Lebih baik kita masuk. Biarkan mereka ikut masuk juga. Kita belikan makanan!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Sebenarnya Hana sudah memborong satu gerobak bakso untuk mereka. Hana bermain dengan mereka, untuk menghabiskan waktu menunggu bakso selesai dibungkus.


"Aku sudah membelikan mereka bakso. Kami bermain menunggu semua selesai dibungkus. Maaf aku tadi memesan satu mangkok. Jadi mungkin aku akan makan disini, tidak di dalam!" ujar Hana, Rafa mengangguk pelan. Dengan raut wajah heran, Rafa menatap Hana yang selalu tersenyum.


"Sayang, kamu sudah tidak marah. Sejak tadi kamu tersenyum padaku. Apa itu artinya kamu tidak cemburu lagi?" ujar Rafa heran, Hana menggeleng lemah. Hana duduk di atas trotoar, Rafa melakukan hal yang sama. Keduanya duduk berselonjor, pengalaman pertama seorang CEO duduk di bawah beralasakan trotoar. Anak-anak jalanan sudah pulang, tinggalah Hana dan Rafa.


"Cemburuku percuma, dia wanita yang mencintaimu tidak pernah berpikir ingin memilikimu. Lalu kenapa aku harus marah? Bukan salahnya mencintaimu, dia lebih dulu mengenal. Namun aku yang berjodoh denganmu!" tutur Hana lirih, Rafa menggenggam tangan Hana. Lalu menciumnya lembut penuh kasih.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu tidak masuk ke dalam? Aku ingin mengenalkanmu pada mereka!" ujar Rafa, seketika Hana menangkupkan kedua tangannya. Rafa menarik tangan Hana turun, Rafa tidak butuh permintaan maaf Hana. Bagi Rafa senyum Hana sudah lebih dari cukup.


"Aku tadi melihat mereka di tepi jalan sana. Aku teringat akan diriku dulu. Aku ingin membagikan sedikit kebahagian, untuk itu aku panggil mereka. Tanpa sadar aku bermain dengan mereka. Kak Rafa lihat sendiri, senyum mereka saat membawa sebungkus bakso. Tak ada senyum paling membahagiakan selain itu!"


"Sayang, aku pikir kamu bertemu Mila. Lalu berpikir yang bukan-bukan tentang aku dan dia. Aku takut kamu menepati perkataan tadi. Meninggalkan diriku tanpa pamit. Aku bisa hancur sayang!" ujar Rafa, Hana tidak peduli dengan perkataan Rafa. Hana sibuk dengan semangkok bakso, Rafa mengusap kepala Hana yang tertutup hijab. Tak pernah Rafa berpikir kehilangan Hana.


"Kak Rafa, kenapa tidak menemani mbak Mila? Malah ditinggal menemuiku, aku sebentar lagi masuk!" ujar Hana sembari mengunyah bakso, Rafa mengambil tisu. Rafa mengelap lembut bibir Hana yang penuh dengan kuah bakso. Rafa menatap Hana dengan lekat. Lahapnya Hana membuang semua kegelisahan Rafa.


"Sayang, sungguh senyummu yang selalu ingin aku lihat. Sekarang aku mengerti, betapa berharganya dirimu? Seandainya mampu aku mengulang waktu. Tak pernah ingin aku mengenal Karmila Intan Safitri dalam hidupku. Takkan pernah kuhancurkan hidupku bersama Sesilia Anastsya. Cukup aku mengenal satu nama, Hana Khairunnissa. Agar tak pernah ada kata cemburu dalam hati dan benakmu. Sejujurnya aku bahagia melihat cemburumu, karena saat itulah nyata terlihat cintamu untukku. Aku akan selalu menggenggam tanganmu, sampai kamu memiliki alasan untuk melepas tanganku!" batin Rafa sembari menatap wajah ceria Hana.


"Kak Hana, si kecil sudah bangun!" teriak Salsa, sontak Hana berjalan cepat. Dia menghampiri si kecil, menggendongnya agar tidak menangis. Mila melihat wanita yang ditemuinya di mushola, tak lain istri Rafa. Laki-laki dalam sujudnya. Mila menunduk malu setelah mengetahui fakta bahwa dia telah mencintai suami orang lain.


"Bukan si kecil yang rewel, tapi papanya yang rewel mencari induknya. Aku sampai pusing melihat Rafa mondar-mandir tidak jelas. Dia seperti setrika!" ujar Adrian santai, Rafa menghampiri Adrian. Rizal tersenyum tipis, dia memikirkan perasaan Mila saudaranya. Rizal tahu bagaimana perasaan Mila saat ini?


"Kamu akan merasakan, apa yang kurasakan saat Diana menghilang?" ujar Rafa, Adrian menatap ke arah Diana. Seakan meminta agar Diana tidak pergi meninggalkannya.


"Hana, diakah wanita itu? Pantas kamu cemburu, cantik dan sholeha!" bisik Diana sembari merangkul Hana. Setelah berkenalan singkat dengan Rizal dan Mila, Hana sedikit menjauh. Hana ingin memberikan ASI pada si kecil.


"Kalian sibuk dengan pasangan masing-masing. Sedangkan aku tetap jomblo tanpa pasangan. Salsa, bersedia tidak jadi istri kak Zyan!" ujar Zyan, Salsa terperanjat mendengar perkataan Zyan.

__ADS_1


"Jangan!" teriak Hana dan Diana, Salsa menunduk setelah mendengar suara Hana. Salsa datang ke kota ini untuk sekolah. Bukan untuk sekadar mencari pasangan hidup.


"Kamu sudah mendapatkan jawabannya. Hana menolakmu dipinangan pertama!" ujar Adrian, Diana menoleh pada Adrian.


" Memangnya siapa yang menerima kak Adrian menjadi calon suamiku?" sahut Diana dingin, Rafa tertawa melihat kedua sahabatnya ditolak sekaligus.


Ketika semua sedang sibuk bercanda, Mila mendekati Hana. Dia duduk di samping Hana yang sedang memberikan ASI pada si kecil. Hana tersenyum semanis mungkin, berpura-pura tidak pernah mengetahui persahabatan Rafa dengan Mila.


"Mbak, maaf saya salah mencintai suamimu. Demi ALLAH, saya tidak pernah berpikir ingin menghancurkan rumah tangga mbak. Saya tidak pernah tahu, jika kak Rafa sudah menikah." ujar Mila sembari menangkupkan kedua tangannya. Hana menarik tangan Mila turun.


"Mbak tidak pernah salah, cinta itu anugrah yang tak bisa kita hindari. Bersyukurlah bila kita bisa merasakan cinta. Itu artinya kita masih memiliki hati yang penuh kasih sayang. Kita berdua mencintai laki-laki yang sama. Mbak Mila mengenalnya lebih dulu dariku, tapi jalan takdir menyantukan kami berdua. Aku tidak ingin meminta maaf pada mbak Mila. Sebaliknya aku ingin kita saling merangkul. Kita bisa menjadi saudara seiman. Percayalah, kelak akan ada pemilik tulang rusuk yang menciptakanmu. Dia akan datang untuk menjadikanmu pemilik hatinya. Siapapun dia kudoakan mbak Mila selalu bahagia? Yakinlah seteguh cintamu dan imanmu. Kelak akan ada imam dunia akhiratmu!" tutur Hana, Mila mengangguk pelan.


"Kak Rafa sangat mencintaimu, itu terlihat jelas dari kekhawatirannya. Sekarang semua terjawab, kak Rafa bukan hanya mencintaimu. Dia merasa nyaman bersamamu, suatu perasaan yang takkan mudah di dapatkan dari wanita lain!"


"Ana Uhhibbukkafillah, satu kata untuk suamiku!" ujar Hana dengan senyum.


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2