KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Kisah dibalik 6 tahun


__ADS_3

Setelah Hana dan Fathan tidur, Rafa menyelinap keluar dari kamarnya. Rafa berjala menuju ruang kerjanya. Kotak dan surat yang diberikan Gunawan belum sempat Rafa buka. Kenyataan pahit yang dialami ibunya. Membuat Rafa takut mendengar fakta yang lebih pedih. Hati Rafa seolah tak mampu lagi menahan rasa sakit. Air mata Rafa mengering, seakan tak mampu lagi menangis.


Kepahitan hidup ibu kandungnya, tak mampu terasa olehnya. Kesepian ibunya tertutupi oleh senyum yang selalu terlihat oleh kedua mata Rafa. Tak secuil rasa sakit ditunjukkan oleh ibunya. Hanya kebahagian semu yang tertutup oleh wajah teduh penuh kasih seorang ibu. Belaian hangat tangan sang ibu, mematahkan pendapat jika selama hidup ibunya merasakan dingin sikap sang ayah. Semua fakta yang menyakitkan seakan mengiris tipis hati Rafa yang lunak. Tulang Rafa seolah rapuh, mendengar kenyataan ibunya berdiri sendiri tanpa ada yang menopang.


Selama 6 tahun Rafa merasa terbuang. Dia berpikir ibunya tak lagi menyayanginya. Selama 6 tahun Rafa membenci keputusan ibunya yang selalu melarangnya pulang. Selama 6 tahun Rafa marah pada sang ibu yang seolah ingin menjauhkan Rafa dari ayahnya. Selama 6 tahun Rafa mengutuk dirinya, bahwa dia harus hidup kesepian di pondok pesantren saat teman-temannya kembali ke rumah. Selama 6 tahun Rafa memendam rasa rindu yang terbayar dengan kematian sang ibu. 6 tahun yang takkan pernah mampu dilupakan Rafa Akbar Prawira. Hidup jauh dari keluarga dan tersisih. Namun 6 tahun yang sama dilewati sang ibu dengan air mata dan kesepian. Pertemuan Rafa dan Gunawan membuka tabir alasan 6 tahun yang sulit untuk Rafa. Kisah 6 tahun yang tertutup rapat terkuak bersama kotak dan sepucuk surat terakhir sang ibu.


FLASH BACK


"Rafa kotak itu berisi peninggalan ibumu. Dia menitipkan padaku sehari sebelum wafatnya. Ada surat dalam kotak tersebut. Papa tidak pernah membuka kotak itu, apa isi surat itu papa tidak pernah tahu? Dulu mamamu berpesan, agar memberikan ini padamu setelah kamu menikah!" ujae Gunawan, dengan tangan bergetar. Rafa membuka surat dari orang tuanya.


"Mama, aku merindukanmu!" ujar Rafa sembari meletakkan surat di atas dada bidang Rafa.


Gunawan melihat jelas wajah Rafa yang merindukkan ibunya. Penyesalan yang terlambat, tapi Gunawan berniat menceritakan 6 tahun yang tak pernah diketahui Rafa. Kisaha semala 6 tahun saat Rafa menimba ilmu di ponpes. Kenyataan pahit yang terkubur bersama jasad sang mama. Kisah menyakitkan kehidupan ibu tercintanya. Semua rasa sakit yang diberikan oleh ayahnya sendiri.


"Papa, kenapa kotak ini ada ditanganmu? Apa alasan mama memberikannya padamu? Seharusnya mama memberikannya padaku langsung. Mama bisa memintaku menjagamu, tidak akan sulit bagi mama mengatakan tentang kotak ini. Lagipula kenapa papa menyimpan kotak ini begitu lama? Rafa menikah hampir dua tahun. Papa baru memberikannya saat Rafa sudah memiliki Fathan!" ujar Rafa bingung, Gunawan tersenyum simpul melihat Rafa. Semua yang dilakukan Gunawan sesuai dengan permintaan Ainun istrinya dulu.


"Papa menyimpan kotak ini sampai waktu yang diminta ibumu. Ainun memintaku menyerahkan padamu saat kamu sudah menikah dan memiliki putra. Entah apa isi dari kotak itu? Hanya ibumu yang tahu. Tidak ada siapapun yang mengetahui kotak ini? Kakek bahkan Sabrina tak pernah melihat kotak ini. Papa menyimpannya sebaik mungkin. Hari ini kedua kalinya papa melihat kotak ini. Setelah papa mendapatkan dari ibumu, sejak itu papa menyimpan dan tak pernah melihatnya lagi!" tutur Gunawan, Rafa mengangguk seraya menatap lekat kotak di depannya. Dia gelisah memikirkan isi dari kotak tersebut. Rafa sangat merindukan sang ibu.


"Kenapa papa tidak membuka kotak ini atau surat yang ada di dalamnya? Barangkali saja isi kotak dan surat ini, bisa membuatku membenci papa dan Sabrina!" ujar Rafa lirih, Gunawan menggeleng lemah. Dia mengutas senyum simpul mendengar perkataan Rafa.


"Tanpa kotak atau surat itu, kamu sudah bisa membenciku. Tidak ada alasan yang lebih menyakitkan, saat aku tidak datang ke pemakaman ibumu. Bahkan saat ibumu sekarat, papa tidak ada disampingnya. Untuk apa aku takut akan isi surat itu? Jika rasa marahmu sudah sangat besar. Kotak itu amanah terakhir Ainun. Mungkin sebagai seorang suami, aku tak pernah bisa menjaganya. Setidaknya menjaga kotak ini, akan membuatku sedikit berguna untuk Ainun!" ujar Gunawan, Rafa mengangguk pelan. Rafa menatap wajah seorang ayah yang tak pernah bisa dia peluk. Dekapan hangat Gunawan tak pernah dia rasakan. Rafa lupa perasaan saat Gunawan menggendongnya dulu. Kehangatan tangan Gunawan sudah menghilang. Jangankan merasakan, membayangkan dekapan itu Rafa seakan enggan!

__ADS_1


"Kenapa papa bisa seyakin itu? Seandainya kebencian terpemdamku mencuat setelah membaca surat ini. Apa yang akan papa harapkan dariku?" ujar Rafa, Gunawan diam membisu. Lama mereka berdua bermain dalam pikirannya masing-masing. Dengan menghela napas panjang, Gunawan menatap wajah Rafa. Dia membulatkan tekad untuk mengatakan semuanya pada Rafa.


"Rafa, ada yang ingin papa katakan padamu. Sebuah kejujuran yang tersimpan rapat bertahun-tahun. Kebenaran yang mungkin tertulis dalam surat itu. Kenyataan pahit yang mampu membuatmu membenci papa seumur hidupmu. Entah apa yang ditulis Ainun dalam surat itu? Papa sudah bertekad akan mengatakan semuanya sekarang padamu!" ujar Gunawan lirih, Rafa mengangguk datar. Seakan apapun yang dikatakan, semua akan sama saja.


"Katakanlah, lagipula semua sudah terjadi. Tidak akan ada yang berubah, meski aku marah atau membencimu. Aku terikat janji dengan mama, akan selalu menjaga keluargamu! Jujurlah jika memang ingin jujur, jika tidak tetap diam bagiku sama saja!" ujar Rafa dingin, Gunawan melihat raut wajah Rafa yang dingin. Hubungan ayah dan anak tidak akan pernah hangat. Hanya akan ada sebuah tanggungjawab, tanpa kasih sayang antara anak kepada orang tuanya.


"Rafa, sebenarnya papa dan Sabrina sudah menikah secara agama, sebelum mamamu meninggal. Selama 6 tahun papa menduakan mamamu. Dia hidup dengan kenyataan suaminya telah memiliki istri yang lain. Alasan itulah yang mendasari Ainun mengirimmu menuju pondok pesantren. Mamamu tidak ingin kamu mengetahui, kalau papa telah menikah dengan Sabrina. Kakekmu juga mengetahui semua kenyataan itu. Selama 6 tahun Ainun melarangmu pulang, karena sejak kamu pergi menuju ponpes. Papa tidak pernah menginjakkan kaki di rumah itu. Ainun tak pernah ingin kamu melihat dukanya, dia tidak ingin melihat kebencian dimatamu untukku!" ujar Gunawan, Rafa meradang tangannya mengepal kuat. Namun Rafa mencoba tenang, amarahmya hanya akan membuat dirinya tidak pernah tahu fakta yang tersembunyi.


"Sungguh hebat keluarga Prawira. Memperlakukan ibuku seperti sampah yang tak berguna. Setelah pewaris kalian dapatkan, dengan seenak hati papa meninggalkan mama demi wanita lain. Sedangkan kakek merestui keinginan putranya untuk menghancurkan hati seorang istri. Seorang ibu yang melahirkan cucu untuknya!" sahut Rafa dingin, Gunawan menunduk lemah. Apapun yang akan dikatakan Rafa, dia akan menerimanya.


"Malam sebelum dia meninggal, malam dimana dia menitipkan kotak ini. Ainun datang padaku, dia menghiba ingin bicara padaku. Awalnya Sabrina melarang, tapi dengan air mata Ainun menghiba ingin bicara berdua denganku. Malam itu aku menjadi manusia paling kejam. Wanita yang berhak atas diriku, menghiba hanya untuk bertemu denganku. Kenyataan yang paling kejam, saat Ainun melihat Kiara kecil dalam gendonganku. Bukan marah atau memaki, Ainun menghampiriku. Dia mencium lembut pipi Kiara, saat itulah mamamu mengetahui bahwa kamu memiliki seorang adik. Air mata Ainun jatuh membasahi pipi Kiara. Dengan lembut Ainun mendoakan agar Kiara tidak pernah merasakan kepedihan seorang wanita. Kesepian seorang anak tanpa dekapan ayahnya. Doa-doa tulus Ainun masih teringang di telingaku!"


"Papa memang salah Rafa, papa kejam. Bencilah sebisamu, maki papa sepuasmu. Takkan pernah papa marah atau terluka. Semua layak papa dapatkan. Kesalahan papa terlalu besar pada Ainun. Hari ini papa mengatakannya, papa tidak ingin tiada tanpa kata maafmu. Layaknya Ainun yang mengatakan pada papa. Bahwa kita tidak akan tahu sampai kapan hidup akan berlanjut? Pesan terakhir Ainun, menyadarkan papa semua harus terbongkar. Apapun yang tertulis di surat itu? Papa tidak berharap kamu maafkan!" ujar Gunawan lirih, Rafa mencengkram sofa sekuat tangannya. Seandainya dia mampu, Rafa ingin menghancurkan orang di depannya.


FLASH BACK OFF


Dengan hati was-was Rafa membuka kotak yang diberikan sang ibu. Rafa membuka kotak berpita pink, warna lambang kasih sayang. Layaknya sang ibu yang menyayanginya. Dengan hati-hati Rafa melihat isi dari kotak biru. Kedua bola mata Rafa membulat sempurna melihat isi dari kotak.


Rafa melihat dua pasang baju rajut bayi, ada warna biru dan pink. Sesuai dengan kotak yang membungkus baju dengan rapi. Rafa melihat ada dua gelang terseli di bawah baju rajut, satu terbuat dari emas dan satu terbuat dari perak. Rafa membongkar mengambil sepasang gelang yang terselip. Ada satu nama terukir di dalamnya, Ainun pada gelang emas dan Gunawan pada gelang perak.


Rafa semakin tidak mengerti, dia bingung melihat semua barang yang tersimpan rapat dalam kotak. Rasa penasaran semakin mengusai Rafa. Dengan tangan bergetar Rafa membuka surat yang ada. Dia membuka dengan sangat pelan. Meski Rafa sedikit lupa, tapi dia masih bisa mengenali tulisan tangan sang ibu. Surat yang benar-benar ditulis oleh sang ibu.

__ADS_1


^^^Rafa Putraku^^^


Rafa Akbar Prawira putraku, ada satu kata dalam tiga kata yang menyusun namamu. Kata yang berarti besar dan memiliki makna yang sangat agung. Layaknya nama tengahmu, Akbar. Ibu ingin kamu berjiwa besar dan berhati luas. Salah satunya memaklumi kelemahan ibu akan surat ini. Seandainya ayahmu yang menyerahkannya padamu, itu artinya ibu tak lagi ada disisimu. Kebesaran hati pertama yang ingin ibu lihat. Ikhlaskan kepergian ibu dengan selalu bahagia, tanpa merasa bersalah.


Rafa sayang, kebesaran kedua yang ibu minta. Jangan pernah membenci ayah dan kakekmu. Atas apa yang menimpa ibu? Semua yang terjadi tak lain jalan yang sudah tertulis. Kelemahan setiap hamba akan ketetapan-NYA. Rafa tak pernah ada niat papamu menyakiti ibu. Meski ibu bukan wanita terhormat, papamu tak pernah menghina ibu. Papamu laki-laki berhati baik. Namun pertemuannya dengan Sabrina dan niat baiknya yang ingin menolong Sabrina. Menjadi awal hancurnya rumah tangga ibu dengan papamu.


Rasa sakit yang ibu derita, sebanding dengan penyesalan papamu akan niat baiknya pada Sabrina. Cinta tak pernah salah, meski terkadang ada di hati yang salah. Papamu tak pernah melupakanmu, setiap malam dia datang sekadar ingin mencium keningmu. Papamu terlanjur malu akan kesalahannya. Dia tak pernah berpikir ingin meninggalkanmu. Sebenarnya bisa saja ibu mengakhiri hubungan dengan papamu. Tapi perpisahan diantara kami, juga akan memisahkan ibu denganmu. Ibu yang memilih terluka daripada terpisah denganmu. Jadi jangan pernah menyalahkan papa atau kakekmu. Luka yang ibu rasakan, jalan yang ibu pilih sendiri. Kebesaran hati menerima permintaan maaf papamu, harapan ibu yang kedua.


Bersama dengan surat ini, ibu membuatkan dua baju rajut. Tangan lemah ibu membuatnya untuk putra-putrimu kelak. Rajutan ini ibu buat sebagai penghilang sepi. Ibu membuatnya dengan penuh kasih sayang. Sehangat baju rajut ini, sehangat itu pula ibu berharap kamu mendekap keluargamu.


Jangan pernah menyakiti mereka. Jangan menjauh dari mereka. Meski tulangmu rapuh, jangan pernah berpikir meninggalkan mereka. Jadikan tubuhmu sebagai sandaran yang paling kuat dan besar untuk keluargamu. Rafa sayang, dua gelang yang bertulis nama ibu dan papa. Ibu harap kamu bersedia memakaikannya pada putra dan putrimu kelak.


Seorang wanita ibarat emas. Indah dan berharga, tapi mudah patah. Laki-laki ibarat perak. Biasa dan tak berharga, tapi tidak mudah patah. Tanpa perak emas takkan terlihat bernilai. Tanpa perak emas takkan mampu terbentuk. Tanpa perak emas takkan ditinggikan.


Layaknya ibu takkan dianggap bila tanpa papamu. Takkan lahir dirimu tanpa cinta papamu. Besarkan hati dan jiwamu, sebesar arti namamu. Ibu takkan pernah meninggalkanmu. Jaga dan lindungi keluargamu. Jangan membenci, karena Rafa Akbar Prawira mampu berjiwa besar. Ibu menyayangimu, salam untuk wanita yang mengetuk pintu hatimu. Cinta ibu untuk cucu yang tak mungkin ibu lihat. Bahagialah karena kamu berhak bahagia.


^^^IBU yang Menyayangimu.^^^


"Maaf, maafkan Rafa. Pikiran yang kotor pernah menyalahkanmu. Tanpa berpikir bersih dan jernihnya pikiranmu untuk ketenanganku. Hatiku yang dingin pernah mengutukmu. Tanpa merasa hatimu mungkin lebih terluka hanya demi bahagiaku. Maafkan putramu yang tak pernah mampu melihat air matamu. Apa ini karma untukku? Disaat aku terluka melihat ibuku tersakiti, tanpa kusadari aku pernah melakukan hal yang sama pada istriku. Maafkan aku ibu, telah melukaimu dengan menyakiti menantumu. Maaf!" batin Rafa pilu, sesaat setelah membaca surat sang ibu. Rafa meneteskan air mata mengingat setiap amarah yang pernah dia tunjukkan pada ibunya. Setiap keluhan yang dia katakan pada sang ibu. Setiap tuduhan yang melukai sang ibu. Air mata Rafa membasahi surat yang penuh cinta dari sang ibu. Keyakinan dan keteguhan cinta seorang istri, ketulusan kasih sayang seorang ibu. Seandainya ada yang berpikir sang ibu bodoh, Rafa takkan pernah peduli. Setiap orang mampu berkata, karena mereka tidak pada posisi yang sama. Bukan amarah yang tertinggal, hanya kasih sayang yang tertanam.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2