KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Rafa Sakit


__ADS_3

"Hana, bisa ikut kakek Ardi sebentar! Ada yang ingin kakek tunjukkan. Aku sudah mengizinkanmu pada Zyan. Jadi kamu hanya perlu ikut denganku!" ujar tuan Ardi, tiba-tiba dia sudah berada di dapur restoran. Tuan Ardi sengaja menemui Hana langsung. Tuan Ardi ingin membawanya ke rumah. Rafa sudah dua hari sakit. Memang beberapa hari ini, Hana tidak pernah bertemu dengan Rafa.


"Tuan, sedang apa anda di sini? Saya sedang bekerja, lagipula baju saya basah semua. Jadi tidak mungkin saya ikut dengan anda!" ujar Hana sopan, sebenarnya Hana selalu membawa baju ganti. Jadi apa yang dikatakan Hana, hanyalah sebuah alasan agar dirinya tidak perlu ikut dengan tuan Ardi.


"Aku tahu kamu hanya mencari alasan. Jika kamu tidak keberatan, kita mampir ke butik langganan keluarga Prawira. Aku yakin pasti ada baju yang cocok untukmu" ujar tuan Ardi, Hana menunduk malu. Di ketahuan berbohong. Akhirnya Hana memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Dia mengganti pakaiannya yang basah, dengan yang baru. Sekitar sepuluh menit Hana bersiap. Dia sudah keluar menemui tuan Ardi, Hana berpamitan pada Zyan.


Sebuah mobil mewah menungu di pelataran restoran. Tuan Ardi salah satu orang terkaya di kota ini. Zyan sangat menghormati tuan Ardi yang tak lain kakek dari Rafa. Mobil memah melaju dengan sangat pelan. Menyusuri jalanan kota yang sedikit sepi. Hana tidak pernah menyadari. Jika dia akan datang ke rumah kediaman keluarga Prawira. Rumah dimana suaminya tinggal?


Sekitar dua puluh menit, mobil memasuki kawasan perumahan elit. Hati Hana mulai tidak karuan. Dia mulai merasa curiga, apalagi saat dia melihat tuan Ardi senyum-senyum sendiri. Hana mulai gelisah, dia belum siap jika harus terhina di rumah suaminya. Namun bukan Hana jika tidak bisa tenang. Dari bibir mungilnya keluar lantunan sholawat yang mampu menenangkan hati dan pikiran yang kalut.


Setelah beberapa menit berputar, berhentilah mobil di sebuah rumah yang sangat megah. Gerbang utamanya sangat tinggi, setinggi perbedaan status Hana dan Rafa. Tuan Ardi meminta Hana tenang. Dia mengatakan tidak akan mengenalkan Hana sebagai istri Rafa. Sebab tugas mengenalkan Hana, itu sepenuhnya milik Rafa.


Hana menampakkan kakinya di halaman rumah keluarga Prawira. Hana melihat mobil Rafa masih terparkir manis. Itu artinya Rafa masih ada di rumah. Ikatan suci Hana dan Rafa teejalin tanpa ingin saling curiga. Itulah kenapa meski Hana dan Rafa tidak saling menghubungi? Namun mereka saling percaya dan saling menghormati.


"Masuklah Hana, ini gubuk kakek. Seharusnya di sini juga kamu tinggal. Namun penghuni rumah ini, hanya sekumpulan orang yang harus akam harta. Jadi kakek tidak ingin kamu terhina di rumahmu sendiri. Hana kamu harus ingat. Kamu datang atas undanganku, jadi tidak ada yang berhak mengusir atau menghinamu!" ujar tuan Ardi lirih, Hana mengangguk pelan. Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Jika dari luar sudah terlihat besarnya. Tentu saja di dalam tidak kalah mewah.


"Ayah, kenapa membawa pelayan Rafa kemari? Apa dia yang akan ayah tugaskan menjaga Rafa? Memangnya dia bisa apa?" cecar tuan Gunawan, Hana diam membisu. Tak ada keinginan dia membalas perkataan tuan Gunawan. Sebaliknya tuan Ardi sangat marah, mendengar perkataan tuan Gunawan.


"Jaga mulutmu, dia jauh lebih baik darimu! Jadi jangan banyak bicara. Lakukan apa yang biasa kamu lakukan? Ingat Gunawan, Hana tamuku. Jangan menghina atau mengusirnya. Jika kamu tidak ingin menjadi gelandangan hari ini juga!" ujar tuan Ardi emosi, Gunawan menggerutu kesal. Dia tidak menyangka jika ayahnya bisa berkata seperti itu! Gunawan meninggalkan ayahnya dan Hana. Dia berjalan menemui istri keduanya. Seorang wanita yang jauh lebih kejam dari dirinya.


"Tuan, sebenarnya apa alasan anda membawa saya kemari? Kak Rafa juga masih ada di rumah. Aku tidak ingin menciptakan keributan!" ujar Hana lirih, tuan Ardi menggeleng lemah. Dia sengaja meminta Hana datang, karena rindu masakan Hana. Rafa juga kehilangan napsu makannya. Oleh karena itu, sengaja tuan Ardi meminta Hana datang.

__ADS_1


"Aku ingin kamu membuatkan masakan untukku dan Rafa. Kebetulan dia sedang sakit, jadi mungkin dia akan makan jika kamu yang memasak!" ujar tuan Ardi, Hana mengangguk pelan. Dia menuju dapur rumah ini. Sengaja tuan Ardi meminta seorang pengawal mengawasi Hana. Tuan Ardi tidak ingin Hana dianiaya oleh anggota keluarga Prawira. Sekitar satu jam Hana memasak. Tuan Ardi setia menunggu masakan Hana. Setelah siap, Hana menghidangkannya di meja makan. Hana hanya membuat beberapa porsi.


"Hana, kakek ingin merepotkan kamu lagi. Tolong antar makanan ini ke kamar Rafa. Dia tadi pagi belum sarapan. Jika aku meminta ART di sini. Rafa pasti marah, tapi jika kamu kakek yakin. Rafa tidak akan marah!" ujar tuan Ardi sopan, Hana mengangguk pelan. Dia tidak mungkin menolak merawat suaminya sendiri. Apalagi suaminya sedang sakit. Pengabdian seorang istri yang takkan pernah bisa diganti dengan apapun?


Hana berjalan perlahan menaiki anak tangga menuju kamar Rafa. Tuan Ardi sudah memberitahu posisi kamar Rafa. Hana tinggal mengikuti arahan tuan Ardi. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Hana sampai di depan pintu kamar Rafa. Kebetulan kamar dalam kondisi tidak terkunci.


Hana ingin mengetuk pintu pelan, agar tidak mengagetkan Rafa. Namun bukan Rafa yang kaget. Melainkan Hana yang kaget melihat Rafa. Kedua bola mata indah Hana membulat sempurna. Dia melihat sesuatu yang tak pantas dia lihat. Mungkin bagi orang lain, itu biasa. Namun bagi Hana itu sangat memalukan.


Hana mundur beberapa langkah. Dia menjauh dari pintu kamar Rafa. Dia bersandar pada dinding luar kamar Rafa. Hana bingung ingin akan berbuat apa?


"Hana, belum kamu berikan makanan itu pada Rafa! Apa dia tidak ingin memakannya?" ujar tuan Ardi lantang, lalu membuka pintu kamar Rafa.


"Rafa!" teriak tuan Ardi, Rafa dan Sesil kelabakan. Sebenarnya Rafa sudah menolak, tapi Sesil terus memaksa Rafa. Dengan cepat Rafa mendorong tubuh Sesil hingga terhuyung jatuh.


"Hana!" ujar Rafa terkejut, dia melihat tangan dan tubuh Hana bergetar. Tak ada kata yang terucap. Rafa mengusap wajahnya kasar. Dia yakin Hana akan salah paham.


Sebaliknya Hana bersikap setenang mungkin. Hanya sholawat dan dzikir yang bisa menenangkan Hana. Dengan sangat sopan, Hana meletakkan nampan berisi makanan. Hana tidak ingin menatap wajah Rafa. Mungkin ini yang dinamakan cemburu. Hana merasakan sesak napas yang tak pernah di alami.


"Tuan Rafa, silahkan dimakan itupun jika anda berkenan. Maaf saya permisi, sudah waktunya saya masuk kerja!


"Tuan Ardi, saya akan pulang sendiri. Pelayan seperti saya, tidak pantas menaiki mobil semewah itu. Terima kasih atas undangannya! Saya permisi!" pamit Hana sopan, tanpa berpikur ingin menatap Rafa.

__ADS_1


"Hana, kita harus bicara!"


"Tuan Rafa, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Apa yang saya lihat sudah membuktikan? Posisi nona Sesil, lagipula untuk apa anda bicara dengan pelayan rendah! Hanya akan membuang waktu berharga anda. Lebih baik rencanakan masa depan yang indah bersama nona Sesil. Kalian sungguh pasangan yang romantis!" ujar Hana, dia berjalan menuruni anak tangga. Membawa serpihan hati yang telah hancur. Hana berjalan keluar dari rumah megah keluarga Prawira. Tanpa sedikitpun menoleh ke arah Rafa. Hana pribadi yang kuat.


"Rafa!" sapa Sesil, dia melihat Rafa mematung. Menyalahkan dirinya sendiri. Hana istri yang dicintainya telah terluka.


"Minggir!" ujar Rafa kasar, saat Sesil bergelayut manja. Namun bukan Sesil jika dia menyerah. Sejak lama dia menyukai Rafa. Bukan hanya karena ketampanannya, melainkan juga hartanya!


"Rafa, kita lanjutkan yang tadi!"


"Mingggggiiiìrrr!" teriak Rafa histeris, dia melempar nampan berisi makanan yang dibuat Hana penuh cinta. Namun Rafa malah menyakitnya.


Pryaaaaarrrr


"Rafa!"


"Kamu minggir dari hadapanku atau aku akan melemparmu seperti nampan itu!" ujar Rafa kasar, Sesil mundur beberapa langkah. Dia takut melihat amarah Rafa. Tuan Ardi yang mendengar Rafa marah, sudah tidak peduli lagi. Rafa membanting semua barang yang ada di kamarnya.


"Hana, kenapa harus sekarang? Di saat aku melihat cinta dihatimu. Malah aku orang yang menghancurkannya. Hana, apa salahku sehingga selalu saja aku menyakitimu? Aku mencintaimu Hana, tapi sikap diammu. Perkataanmu, seolah ingin menunjukkan padaku. Kita tidak mungkin bersama. Hana, kembalilah aku membutuhkanmu!" batin Rafa pilu. Namun nasi sudah menjadi bubur, Hana terlanjur kecewa.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH😊😊😊😊


__ADS_2