KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Restu yang Dinanti


__ADS_3

"Adrian, akan ada manager baru untuk lapangan. Dia yang akan aku tugaskan untuk menyelesaikan proyek perusahaan Wirawan. Nanti kamu temui dia, sebab aku harus pulang. Hana mengajakku ke makam mama. Jadi saat makan siang aku pulang dan tidak kembali ke kantor" ujar Rafa, Adrian mengangguk seraya tersenyum. Perubahan besar seorang Rafa. CEO dingin yang luluh, karena cinta gadis sederhana.


"Siap pak bos, salam untuk sang bidadariku!" ujar Adrian sembari tersenyum simpul. Rafa melempar bantal sofa, yang mendarat sempurna di wajah Adrian. Diiringi suara nyaring jatuhnya bantal.


Bugh


"Jangan karena cintamu ditolak Diana. Kamu jadi hilang akal dan lupa siapa Hana? Aku heran pada Diana. Wajahmu tampan meski masih tampan aku. Kamu juga bukan dari keluarga biasa. Apalagi yang dicari Diana, sampai dia menolak dirimu!" ujar Rafa heran, Adrian menggeleng lemah.


Memang diakui Adrian, sampai saat ini Diana belum siap membawa Adrian pada orang tuanya. Diana seolah takut melukai hati orang tua yang membesarkannya. Jika tiba-tiba dia datang membawa, seorang laki-laki yang ingin menjadi suaminya.


Diana takut mereka kecewa, mengetahui Diana telah memilih hati orang lain. Bukan hati putranya yang sudah dianggap Diana layaknya kakak kandung. Diana seolah takut akan air mata yang mungkin terjatuh. Dengan penuh kesabaran Adrian menunggu kesiapan Diana membawanya di hadapan orang tua angkatnya. Bahkan Adrian berencana mengenalkan Diana pada orang tuanya. Sebelum Diana memantpakan hatinya. Kebetulan kedua orang tua Adrian ada di luar negeri. Dalam waktu kurang dari seminggu mereka akan datang.

__ADS_1


Tok Tok Tok


"Permisi pak, manager baru dari kantor cabang sudah datang. Dia ingin bertemu dengan pak Rafa!" ujar Fia, Rafa mengangguk. Setelah Fia keluar, Rafa meminta Adrian menemuinya. Membawa sang manager ke ruangan Adrian. Bukan hal baru jika Adrian berhak memutuskan sesuatu dalam perusahaan. Adrian bukan hanya asisten pribadi. Dia sudah selayaknya tangan kedua pengambil keputusan di perusahaan Prawira.


Adrian menghampiri karyawan yang baru datang. Membawanya menuju ruangan Adrian yang berada di depan ruangan Rafa. Setelah mempersilahkan masuk, Adrian mempersilahkan dia duduk.


"Silahkan duduk, maaf sebelumnya pak Rafa tidak bisa menemui anda secara pribadi. Dia sedang ada urusan penting. Saya Adrian asisten pribadi pak Rafa. Saya yang akan mendengar laporan anda. Nanti saya yang akan menyampaikan pada pak Rafa. Seandainya ada yang ingin anda bahas, silahkan saja. Pak Rafa memberikan wewenang penuh pada saya!" uja Adrian tegas, sang karyawan mengangguk dengan seutas semyum. Adrian mengamati laki-laki di depannya. Adrian merasa dia bukan hanya tampan, tapi kepintaran dan cekatan. Adrian mampu menilai orang dari penampilan dan cara bicaranya. Dunia bisnis bagi Rafa dan Adrian bukan hanya harus pintar, tapi mampu menilai orang dan kondisi.


"Tunggu, kamu kakak angkat Diana. Apa aku benar?" ujar Adrian heran, Arka mengangguk ragu. Pertama kalinya dia menginjakkan kaki di perusahaan ini. Jadi tidak mungkin ada yang mengenalnya. Apalagi hubungannya dengan Diana, adik angkatnya. Arka semakin heran, kenapa Adrian seolah sangat mengenal Diana? Seakan ingin mengatakan Diana memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Adrian.


"Anda mengenal Diana. Dimana dia sekarang? Aku memang Arka kakak angkatnya. Aku mohon katakan dimana Diana tinggal? Ibuku sakit beberapa bulan setelah kepergian Diana. Kondisi ibu yang terus menurun, alasanku membawanya ke rumah yang berada di luar kota. Aku berusaha mencari Diana, tapi susah melacak keberadaannya. Aku pergi ke rumah Hana, sahabat Diana satu-satunya. Namun dia sudah pindah!" ujar Arka lirih, Adrian mengangguk mengerti. Adrian mengambil berkas yang dibawa Arka. Adrian menyimpannya di atas meja kerjanya. Arka heran melihat sikap Adrian.

__ADS_1


"Aku akan memeriksa sendiri berkas ini. Kamu akan menerima revisinya nanti malam. Aku sangat mengenal Diana, dia dulu sekretaris pak Rafa. Bahkan sebenarnya aku ingin menikah dengannya. Dengan kata lain, mungkin kamu akan menjadi kakakku. Aku beberapa kali datang ke rumah lama bersama Diana. Namun rumah itu terlihat sepi. Diana tidak pernah turun, sebab dia belum siap melihat air mata kedua orang tuanya. Sedangkan Hana yang kamu maksud, tak lain istri pak Rafa. Jadi seandainya bertemu dalam lingkungan formal jagalah sikap. Namun jika di luar kantor, kamu bebas bersikap seperti apapun. Hana dan Diana dua sahabat yang membuat dua pemimpin perusahaan Prawira kelabakan!" tutur Adrian, Arka melongo mendengar perkataan Adrian.


"Jika kamu tidak percaya, aku antar kamu bertemu Diana. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya. Apa kamu merestui hubungan kami? Jangan-jangan sekarang kamu menginginkan Diana menjadi istrimu!" ujar Adrian sinis, Arka menggeleng lemah. Dia tersenyum melihat tangan kanan perusahaan Prawira cemburu padanya.


"Mungkin darah yang mengalir dalam nadi kami berbeda. Namun tak bisa dipungkiri, kami besar dengan kasih sayang yang sama. Tak ada alasanku mencintai adikku sendiri. Diana adikku dulu dan sekarang. Aku menyayanginya sebagai adik, bukan sebagai seorang wanita yang dibesarkan orang tuaku. Sejak kecil aku mengalah padanya, hanya agar dia bisa tersenyum. Jadi tidak mungkin aku menghancurkan senyum di wajahnya. Anda lak-laki pertama yang sengaja dibawa Diana. Alasan itu sudah sangat cukup membuatku merestui hubungan kalian. Jadikan Diana adik kecilku, satu-satunya pemilik tulang rusukmu. Bahagiakan dia, karena Diana berhak bahagia. Hidup dengan kenyataan tak memiliki orang tua. Sudah cukup membuatnya hancur. Jangan pernah berpikir menghancurkan hati yang telah hancur!" tutur Arka sembari menangkupkan tangan di depan dada. Dia menghiba pada Adrian demi kebahagian Diana.


"Bahagia Diana tujuan hidupku, senyum Diana menjadi semangatku. Jangan pernah memohon. Sebab aku akan membuat Diana menjadi pemilik hati dan tulang rusukku. Tidak pernah aku berpikir melukai hatinya!" ujar Adrian sembari memeluk Arka. Pelukan saudara sebagai arti hadirnya sebuah restu.


"Sudah saatnya aku melepas Diana, datanglah ke rumah bersamanya. Ayah dan ibu merindukan putrinya. Tentang permintaan ibu, beliau sudah paham. Takkan pernah kasih sayang berganti cinta pada Diana. Beliau merasa kehilangan putri kecilnya. Jika memang anda benar-benar ingin membahagiakan adikku. Dengan sepenuh hati aku akan merestuinya. Aku titip kebahagian adikku padamu!" ujar Arka, sembari membalas pelukan Adrian.


"Diana, kini tak ada lagi alasanmu menolak cintaku. Aku mendapatkan restu dari kakakmu. Orang yang sangat kamu hargai. Kini tinggal restu orang tuamu. Namun semua itu akan kudapatkan dengan keteguhan cintaku padamu. Semua kegelisahanku terjawab, tak ada cinta dihat Arka untukmu. Dia tulus menyayangimu sebagai adik, aku tulus menyayangimu sebagai pemilik tulang rusukku. Akan kubuktikan padamu, jika cintaku pasti menang!" batin Adrian sesaat setelah berpelukan dengan Arka.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


__ADS_2