KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Antara Cinta dan Balas Budi


__ADS_3

Sudah seminggu Rafa dan Hana menemani kakek Pratama. Sebenarnya Rafa ingin segera pulang, sebab pekerjaannya tak bisa lagi ditinggal. Semalam Rafa sudah mengatakan niatnya pada Hana. Pagi ini Rafa akan mengatakan pada tuan Pratama secara langsung. Rencananya siang nanti Rafa akan kembali ke kota. Kondisi tuan Pratama mulai membaik, semenjak kedatangan Rafa dan Fathan.


Hana sangat betah di pedesaan seperti ini. Dia seakan sedang berada di desa tempat kakeknya dulu. Warga sekitar kebanyakan bekerja sebagai petani. Namun sebagian ada juga yang bekerja sebagai nelayan. Rafa dan Hana pernah sekali berkeliling. Fathan sangat senang saat jalan-jalan mengelilingi desa. Rafa dan Hana baru tahu. Jika laut tidak jauh dari rumah tuan Pratama. Hanya berjalan sekitar 15 menit sudah sampai di tepi pantai.


Hana sangat betah berlama-lama di laut. Memandang laut jauh lebih menenangkan. Sebab laut mengajarkan kita banyak hal. Laut membuat kita besyukur akan semua nikmat yang melekat pada tubuh kita. Kedua mata kita mampu melihat perpaduan laut dan langit yang seolah menyatu di ujung. Kedua telinga kita mampu mendengar simfoni nada yang dihasilkan oleh riak air laut dan angin laut. Kedua kaki kita mampu merasakan kelembutan pasir laut. Semua yang tercipta tanoa ada yang mampu menandingi. Sebuah perpaduan alam yang menakjubkan dan takkan mampu di balar akal manusia.


Setelah sarapan bersama, Hana menidurkan Fathan yang terlihat kelelahan. Sedangkan Rafa berniat bicara dengan tuan Pratama tentang kepulangannya. Lisa setiap pagi selalu menyuapi tuan Pratama. Lisa mungkin hanya cucu angkat, tapi sudah seperti cucunya sendiri. Rafa melihat kedekatan antara tuan Pratama dengan Lisa. Layaknya seorang kakek dan cucunya sendiri.


Lisa Putri Pratama seorang gadis cantik yang sejak kecil diasuh oleh tuan Pratama. Lisa kecil hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Semenjak itu Lisa kecil menjadi cucu angkat keluarga Pratama. Lisa tumbuh dengan baik, selain cantik dia juga pintar. Jika tidak ada halangan, tahun ini Lisa akan menjadi dokter spesialis kandungan. Lisa memang sekolah kedokteran. Kebetulan saat Rafa datang, Lisa juga baru pulang dari kota. Dia berniat menjenguk kakek Pratama.


"Kakek, boleh aku masuk!" ujar Rafa, dengan anggukan tuan Pratama. Rafa masuk ke dalam kamar utama rumah ini. Terlihat Lisa sedang menyuapi kakeknya. Setelah selesai menyuapi, Lisa memberikan obat untuk tuan Pratama. Rafa melihat betapa telatennya Lisa merawat kakeknya. Sekiat tahun Lisa yang bersama dengan sang kakek.


"Masuklah Rafa, aku sudah selesai sarapan. Lisa juga sudah memberiku obat. Maaf kakek tidak bisa menemani berkeliling. Tubuh kakek tiba-tiba melemah. Setidaknya meski sekarang kakek meninggal, sudah tidak ada ganjalan dalam hidup kakek. Aku sudah bertemu denganmu dan Fathan!" ujar sang kakek, Rafa dan Lisa menggeleng lemah. Lisa tidak akan pernah berpikir untuk berpisah dengan tuan Pratama. Rafa mendekat pada tuan Pratama. Dia duduk di sisi kanan, sedangkan Lisa duduk di sisi kiri tuan Pratama. Dengan kedua mata yang mulai pudar. Tuan Pratama memandang bergantian ke arah Rafa dan Lisa.


"Kakek akan cepat sembuh, selama ada dokter Lisa cantik yang memeriksamu. Semua penyakit kakek akan kabur. Kakek akan hidup lebih lama, untuk melihat Fathan tumbuh besar!" ujar Rafa, Lisa mengangguk mengiyakan perkataan Rafa. Tuan Pratama menatap Lisa sendu. Ada ketakutan dalam hatinya, seandainya dia meninggal, akan tinggal bersama siapa Lisa?


"Apa yang dikatakan kak Rafa benar? Aku akan menyembuhkan kakek dengan ilmu yang aku pelajari!" sahut Lisa, tuan Pratama mengangguk lemah. Terlihat seutas senyum diwajah tuanya. Rafa menggenggam tangan kanan tuan Pratama, Lisa menggenggam tangan kiri tuan Pratama. Dua cucu keluarga Pratama, meski tak sedarah. Cucu kandung yang tak pernah diketahui, cucu angkat yang selalu menemani.


"Rafa, tubuh tuaku takkan selamanya sehat. Sudah waktunya tubuh ini istirahat. Meski saat ini aku meninggal. Aku akan pergi dengan tersenyum bahagia. Hanya satu yang masih mengganjal dalam pikiranku.Bagaimana Lisa akan hidup? Siapa yang akan melindunginya? Meski dia bukan darah dagingku. Namun selama ini dialah yang menemaniku dan membuang rasa sepi dan rinduku pada Ainun!" ujar tuan Pratama lirih, Rafa menepuk pelan tangan kanan tuan Pratama. Seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. Sedangkan Lisa menunduk sedih. Dia bukan takut hidup sendiri, melainkan dia sedih bila berpisah dengan tuan Pratama. Lama semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.


Hana berniat membuatkan teh untuk Rafa dan tuan Pratama. Fathan sedang tidur dalam gendongannya. Semenjak disini Fathan jarang sekali turun dari gendongan Hana. Mungkin Fathan merasa asing di tempat yang baru. Sembari menggendong Fathan. Hana membawa teh yang sudah dibuatnya menuju kamar tuan Pratama. Namun tepat di depan pintu kamar tuan Pratama. Ada rasa canggung untuk masuk ke dalam. Hana merasa sedang ada pembicaraan penting, antara seorang kakek dengan kedua cucunya. Firasat seorang Hana tepat. Beberapa menit kemudian Hana mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan.


"Kakek tidak perlu mencemaskan Lisa. Rafa akan menjaga Lisa. Dia telah menjaga dan merawat kakek selama ini. Tugas yang seharusnya Rafa lakukan. Sudah seharusnya aku membalas budi baiknya. Rafa akan menjaga Lisa, memastikan dia mendapatkan kebahagian. Kakek tidak perlu mencemaskan Lisa!" tutur Rafa, jantung Hana berdegub hebat. Ada rasa tak biasa saat Rafa mengatakan hal itu. Seolah sesuatu yang tak pernah Hana inginkan akan terjadi. Tangan Hana mulai bergetar hebat, nampan yang dibawanya mulai goyang. Segera Hana meletakkan nampan, agar tidak jatuh dan membuat keributan. Hana memeluk tubuh Fathan erat, seolah Hana membutuhkan sebuah kekuatan untuk tetap berdiri.


Lisa menoleh pada Rafa, sesaat setelah dia mendengar jelas perkataan Rafa yang akan menjaganya. Tuan Pratama merasa Rafa akan menerima permintaan terakhirnya yang tersimpan rapat. Tuan Pratama tersenyum melihat ke arah Rafa. Lalu menatap ke arah Lisa. Sebuah permintaan yang tak layak sedang dia pikirkan.


"Rafa, jika memang kamu bersedia menjaga Lisa. Maka kakek mohon, menikahlah dengannya. Dengan begitu kamu bisa menjaga Lisa seumur hidup. Jadikan Lisa istri keduamu, minta Hana menerima Lisa menjadi bagian dari keluarga kalian!" ujar tuan Pratama, Rafa dan Lisa mendongak bersama. Menatap wajah sang kakek yang datar. Sebuah permintaan yang sangat mustahil bagi Rafa dan Lisa. Rafa terdiam membisu memikirkan permintaan kakeknya. Sedangkan Lisa bimbang akan menerima atau menolak dijadikan istri kedua.

__ADS_1


Jeddderrr


Terdengar suara petir menyambar di pagi hari. Kedua telinga Hana mendengar sebuah permintaan yang sangat sulit. Tulang Hana seakan remuk, tak sanggup lagi menahan tubuh nya dan Fathan. Hana mundur beberapa langkah, tubuhnya bersandar pada dinding luar kamar. Air mata Hana menetes membasahi rambut hitam Fathan. Tangan Hana bergetar, bibirnya kelu membisu. Hana memeluk Fathan sangat erat, mencari alasan untuk tetap berdiri. Pagi yang cerah berubah menjadi kelam. Hana tak sanggup lagi mendengar apapun. Kedua telinganya seakan tuli, tak sanggup mendengar satu katapun. Semua seolah berakhir untuk Hana. Dengan mata sayu, Hana menatap wajah polos Fathan. Hana mencium kening Fathan lembut, air mata yang menetes membasahi kedua mata indah Fathan.


"Sayang, maafkan mama yang lemah. Mama tidak akan bisa meminta papamu tetap bersama kita. Seandainya dia menerima permintaan itu. Mama juga tidak akan sanggup berada disamping papamu. Menjadi yang pertama, tapi menyakiti yang kedua. Mama akan menerima apapun keputusanmu papamu. Lebih baik kita pergi, mama tidak sanggup mendengar perkataan papamu lagi. Sakit, terlalu sakit sayang!" batin Hana lalu mencium lembut pipi gimbul Fathan. Sedikitpun Fathan tidak terusik, dia seakan nyaman berada dalam dekapan Hana.


Hana meninggalkan rumah keluarga Pratama. Hana menjauh dari kenyataan yang menyayat hatinya. Dengan langkah gontai, Hana pergi keluar mencari ketenangan hati. Fathan tak terusik dengan rasa sakit sang ibu. Dengan nyaman Fathan tidur dalam dekapan Hana.


"Kakek sangat tidak mungkin aku menjadi istri kedua kak Rafa. Meski kamu baru saja bertemu, bukankah dia sudah selayaknya kakakku sendiri. Aku tidak ingin menjadi alasan sebuah hati yang terluka!" ujar Lisa tegas, tuan Pratama menunduk sedih. Dia tidak ingin melihat Lisa sendirian. Hanya Rafa yang bisa dia andalkan untuk menjaga Lisa. Sejak kecil Lisa yang menemaninya. Tuan Pratama tidak ingin Lisa hidup sebatang kara.


"Biarkan Rafa sendiri yang memutuskan. Bersedia tidak dia memenuhi permintaan terakhirku. Sebuah permintaan dari laki-laki tua tak berdaya ini. Seumur hidup kakek, hari ini pertama kalinya aku memohon pada seseorang. Aku memohon sebuah kebahagian untuk cucuku. Rafa, bersediakah kamu menerima Lisa sebagai istri keduamu. Menjaganya seumur hidupmu!" tutur tuan Pratama lirih, Rafa menunduk membisu. Lisa melihat jelas kebimbangan Rafa. Selama seminggu Rafa disini. Sangat bohong jika Lisa tidak tertarik padanya. Ketampanan dan kemapanan Rafa mampu membuat kaum hawa bertekuk lutut. Rela melakukan apapun, meski harus menjadi yang kedua. Namun di sisi lain, Lisa melihat kebahagian sebuah keluarga kecil. Sebuah keluarga yang bisa hancur dengan permintaan ini.


"Kakek, maafkan Rafa jika harus menjadi cucu yang durhaka dan tidak tahu balas budi. Namun cinta dan balas budi itu berbeda. Aku tidak ingin menjadi orang yang egois. Mencintai yang lain, tapi menikahi yang satunya hanya demi balas budi. Aku menikahi Hana dengan cinta. Jika aku memaksa menikah dengan Lisa untuk balas budi. Tidak akan ada kebahagian, hanya akan ada rasa sakit. Akan ada tiga hati yang terluka. Menikah tanpa sebuah cinta hanya akan meninggalkan luka. Pernikahan untuk balas budi, hanya akan menyakiti. Banyak cara untuk membalas budi Lisa. Meski tanpa menikah dengannya, aku bisa selalu menjaganya. Maafkan Rafa kakek, maaf!"


"Jadi kamu menolak permintaan pertama dan terakhirku. Apa Hana yang melarangmu menikahi Lisa?" ujar tuan Pratama, Rafa menggeleng lemah. Lisa melihat Rafa yang bijaksana, dia tetap teguh bertahan dalam pernikahannya.


"Lisa, maaf jika aku harus menolak permintaan ini. Bukan aku menolak dirimu secara pribadi. Namun menjadi yang kedua, sangat tidak pantas kamu dapatkan. Setelah semua pengorbananmu pada keluargaku, tapi menjadikanmu yang satu-satunya. Aku tidak akan pernah bisa. Sampai detik ini hanya Hana yang ada dalam benakku. Suara Hana yang selalu teringang dalam telingaku. Sentuhan Hana jelas terasa di seluruh tubuhku. Takkan mudah bagiku merubah semua itu!" tutur Rafa, Lisa mengangguk. Tuan Pratama menunduk terdiam, dia mencoba memahami pola pikir Rafa. Sejujurnya yang dikatakan Rafa tidaklah salah. Dia menginginkan kebahagian Lisa, tapi menawarkan luka dalam hatinya.


"Baiklah, jika itu keputusanmu. Kakek tidak akan memaksa lagi. Jaga Lisa dengan caramu, setidaknya anggaplah dia sebagai adikmu sendiri!" ujar tuan Pratama final, Rafa dan Lisa mengangguk bersama. Setelah semua selesai, Rafa dan Lisa keluar dari kamar tuan Pratama.


"Lisa!"


"Iya!" sahut Lisa, sembari menoleh pada Rafa.


"Aku tidak tahu kamu terluka atau tidak dengan penolakanku. Satu hal yang pasti, ada imam yang lebih baik dariku yang tercipta untukmu. Kamu pantas bahagia, bukan menjadi yang kedua. Layaknya Kiara, aku akan menganggap dirimu adikku. Akan kulindungi dirimu, semampuku. Akan kupastikan dirimu mendapatkan kebahagian itu!" tutur Rafa, Lisa mengangguk lalu meninggalkan Rafa. Dengan sebuah kelegaan Rafa melihat punggung Lisa yang menjauh. Saat Rafa menoleh, tanpa sengaja dia melihat nampan berisi teh. Firasat Rafa tiba-tiba tidak nyaman. Rafa meminum teh, kedua bola matanya membulat sempurna. Rasa teh yang sama dan masih hangat.


"Sayang, kamu mendengarnya!" ujar Rafa gelisah. Rafa berlari menuju kamarnya, tapi kosong. Rafa menghubungi Hana, terdengar suara ponsel di bawah bantal. Rafa gusar, dia mengusap kasar wajahnya. Rafa gelisah memikirkan kepergian Hana. Apalagi Hana pergi membawa Fathan. Dunia Rafa seakan hancur, Rafa tertunduk di tepi tempat tidur.

__ADS_1


"Sayang!" ujar Rafa lirih dan pilu. Kedua kaki Rafa lemah tak mampu bergerak. Waktu seolah berhenti berputar, alasan hidupnya telah pergi. Hana pergi tanpa pamit, kecemasan Rafa bertambah mengingat tempat ini sangat asing bagi Hana. Semua terasa menyesakkan, Rafa memukul dadanya yang susah bernapas. Semua berakhir tanpa Rafa bisa menjelaskan pada Hana.


...☆☆☆☆☆...


Hana meninggalkan rumah keluarga Pratama. Dia berjalan menuju mushola. Tempat dia dan Rafa pertama kali menginjakkan kaki di desa ini. Hana mencari ketenangan dalam rumah Allah SWT. Di rumah ini tak ada yang akan terusir, sebab rumah ini milik setiap hamba. Entah dalam kesedihan dan kesenangan. Setiap hamba berhak memasukinya.


Dalam kegelisan hati, Hana memasuki rumah yang penuh dengan kesejukan. Hana meletakkan Fathan yang masih tertidur. Hana mengambil wudhu, agar dirinya tenang dan melupakan yang telah terjadi. Hana melakukan sholat dhuha, berserah dan memasrahkan diri. Berdoa berharap ampunan dan rejeki yang terbaik.


"Ya Allah engkau maha pembolak-balik hati. Seandainya diriku bukan lagi jodoh terbaik untuk suami hamba. Jauhkan dia dari pandanganku, hapuslah sakit yang kurasakan. Seandainya dia jodoh suamiku, dekatkan mereka tumbuhkan cinta dihati keduanya. Hamba hanya wanita biasa, yang takkan mampu bila harus berbagi. Jika surga balasan untuk wanita yang ikhlas berbagi. Maka biar tak kurasakan surga itu. Aku jauh lebih ikhlas mengalah, daripada berbagi. Apapun kehendakmu Ya Rabb, semua tentu yang terbaik untuk hamba. Maafkan hamba-Mu yang lalai, jika ini teguran dari-MU. Hamba akan menerimanya dengan ikhlas, terlalu banyak nikmat yang Engkau berikan. Tak sepantasnya hamba mengeluh dengan ujian sekecil ini. Namun izinkan hamba menangis dihadapan-MU. Air mata ini memaksa untuk keluar. Dihadapan-MU hamba mengeluh dan lemah. Berharap semua akan terasa ringan dan hilang. Berikanlah kebahagian dan selalu lindungi suami hamba. Imam dunia akhirat, penyempurna agamaku!" doa Hana setelah sujudnya. Hana mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata. Lalu memandang wajah Fathan yang polos.


Cup


"Sayang, tetaplah sehat dan bahagai. Kamu satu-satunya semangat mama. Kita akan tetap bahagia, meski tanpa papa. Kita akan bahagia!" bisik Hana di telinga Fathan, sesaat setelah mengecup kening Fathan. Hana mengusap seluruh wajah Fathan.


"Kemana kamu akan pergi meninggalkanku? Setega itu kamu pergi, tanpa mengatakan apapun! Apa kamu bahagia melihat kehancuranku? Kamu tega sayang!" tutur Rafa lirih tepat di telinga Hana. Rafa mendekap erat Hana, saat dia mendengar perkataan Hana pada Fathan. Hana merasakan dekapan Rafa yang sangat erat. Seketika tubuh Hana kaku, dia terdiam melihat Rafa sudah ada di dekatnya. Hana takut mendengar keputusan Rafa.


"Apa kamu pikir aku akan menerima permintaan itu? Sayang, kamu alasan bahagiaku. Sangat tidak mungkin jika aku menerima wanita lain dalam hidupku. Bertahun-tahun aku kehilangan kasih sayang mama Ainun. Aku hidup tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap. Hanya karena keegoisan cinta papa untuk Sabrina. Hidupku hampa saat itu, seolah kebahagian tak akan pernah menghampiriku. Sayang, aku tidak akan pernah membiarkan Fathan merasakan hal itu. Sudah cukup aku melihat mama Ainun terluka, karena pernikahan keduanya dengan Sabrina. Aku tidak ingin melihat wanita yang lain terluka. Tidak kamu, tidak juga Lisa. Jangan pernah berpikir menjauh dan mengalah. Aku akan selalu memegang teguh cinta kita. Aku akan berusaha sekuat tenaga melindungi pernikahan kita!" tutur Rafa, Hana hanya diam. Tiba-tiba Fathan terbangun, dia tertawa melihat kedua orang tuanya. Rafa memutar tubuh Hana, Menangkup kedua pipi Hana.


Cup


Dengan lembut Rafa mencium kening Hana. Menarik tubuh Hana dalam pelukannya. Menyadarkan kepala Hana ke dalam dada bidangnya. Rafa memeluk erat Hana, seolah meyakinkan Hana semua akan baik-baik saja.


"Dengarlah suara detak jantung itu. Suara yang akan terus terdengar bila kamu di sisiku. Suara yang akan menghilang seiring kepergianmu. Sebab dirimu alasan jantung itu berdetak. Jangan pernah berpikir menjauh, apalagi pergi dari hidupku!"


"Sayang, dengarlah tawa Fathan saat melihat kita. Ikhlaskah kamu menghilangkannya, menghancurkan kebahagian kecil putra kita. Percayalah padaku, tidak semudah itu kita akan terpisah. Banyak cara untukku membalas budi pada Lisa, bukan dengan caa menikahinya!" ujar Rafa, Hana mengangguk.


"Aku mencintaimu, imamku!"

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


__ADS_2