
Waktu terus bergulir, hari berganti bulan. Bulan berganti tahun, waktu seakan tak menyadari luka hati Faiq. Hampir dua tahun kepergian Davina. Semua terasa berbeda bagi Muhammad Faiq Alhakim. Hidupnya yang dingin kini penuh dengan cinta. Dia mulai menyadari arti saudara dan kedua orang tuanya. Faiq mulai menghargai kasih sayang yang mereka berikan. Cukup Davina yang pergi meninggalkan dirinya. Faiq tidak ingin kehilangan cinta yang lain.
Meski semua telah berubah, tapi satu hal yang tetap sama. Cintanya pada Davina tetap terjaga. Mungkin Faiq menghargai cinta yang diberikan orang disekelilingnya. Namun Faiq tetap dingin, bila ada yang datang menawarkan cinta untuknya. Faiq menepis tangan para wanita yang berharap lebih darinya. Dia tidak ingin memberikan harapan. Sebab sampai saat ini hatinya masih setia pada satu cinta. Entah cinta itu akan kembali atau tidak. Namun yang paling penting, Faiq akan menjaga hatinya. Sampai ada yang benar-benar bisa menggantikan Davina dihatinya. Wanita biasa dengan cinta yang luar biasa. Wanita sederhana tapi menyimpan hati yang mulia.
Selama dua tahun Faiq menata hidupnya. Tidak sedikit air mata yang mengalir. Ketika dia mengingat kebersamaannya dengan Davina. Tidak mudah Faiq berdiri menatap dunia. Kala kedua matanya hanya mampu melihat bayangan Davina. Tidak sebentar Faiq menjadi pribadi yang kuat. Saat kedua tubuhnya seakan rapuh. Tanpa Davina penopang hidupnya. Namun tidak pernah Faiq melupakan perkataan Davina. Kata demi kata yang terucap dari bibir Davina. Kata yang membuatnya tetap semangat dan berani berdiri menatap dunia. Faiq seolah mendapatkan kekuatan setiap telinganya mendengar suara merdu Davina.
Faiq berubah menjadi orang yang bertanggungjawab. Dia bukan Faiq yang dulu, hari-harinya dijalani dengan penuh ambisi. Dia mengejar cita-cita yang pernah ingin dia gapai. Faiq menjadi salah satu dokter muda berbakat. Faiq membuat rumah sakit yang dipimpinnya sukses. Dibawah kepemimpinannya rumah sakit tersebut menjadi rumah sakit terbaik dan teebesar di kotanya. Dalam hidupnya hanya ada pekerjaan dan pekerjaan. Jika dulu dia hidup tanpa ambisi. Sekarang ambisi menjadi bagian dalam hidupnya.
Pagi ini Faiq akan pergi ke luar kota. Salah satu kegiatan Faiq. Menjadi dokter relawan yang akan memeriksa pasien-pasien tidak mampu. Faiq akan mengunjungi daerah terpencil. Bukan untuk mencari nama, tapi dia berniat menyehatkan seluruh masyarakat. Kepergian Davina mungkin meninggalkan luka. Namun disisi lain, kepergiannya membawa semangat baru untuk Faiq. Membuat Faiq menghargai kasih sayang orang lain. Serta Faiq lebih menyayangi orang lain. Bukan sebagai seorang laki-laki, tapi sebagai seorang dokter.
__ADS_1
"Dokter Annisa, ini berkas kesehatan ayahnya Zahra. Hari ini mungkin dia akan datang. Aku mohon periksa beliau atau minta dokter Rey yang menggantikanku. Aku tidak bisa memeriksanya. Aku akan ke desa, untuk melakukan pengobatan gratis. Jadi aku mohon sementara waktu. Gantikan aku memeriksa ayahnya Zahra!" ujar Faiq, Annisa menerima berkas dafi Faiq dengan raut wajah pias. Bukan sekali atau dua kali, Faiq menghindar bertemu Zahra dan ayahnya. Setelah kepergian Davina, Faiq mulai menjaga jarak dengan Zahra. Meski terkadang mereka saling menyapa. Namun Faiq berusaha sebisa mungkin menghindar. Dia tidak ingin Zahra salah mengartikan kedekatan mereka.
Fathan sudah mulai terbiasa melihat sikap Faiq pada Zahra. Sejujurnya Zahra memiliki kerjasama dengan perusahaan Fathan. Dia menjadi salah satu orang yang masuk dalam program santunan perusahaan Fathan. Zahra menjadi salah satu guru yang menerima bantuan yang digunakan untuk membangun desanya lebih maju. Bantuan yang diperuntukkan dalam bidang pendidikan. Namun meski Zahra menjadi bagian dari program kerja Fathan. Faiq sedikitpun tidak terpengaruh. Dia lebih memilih tidak ikut campur urusan kakaknya.
"Faiq, hampir dua tahun kamu menghindar dari Zahra. Dia tidak salah dalam hal ini. Lagipula kedatangannya bukan untuk bertemu denganmu. Dia hanya ingin memeriksakan keadaan ayahnya. Setiap kali dia datang, ayahnya menanyakan dirimu. Lebih baik kali ini kamu sendiri yang memeriksanya!" ujar Annisa lirih, Faiq menggeleng lemah. Dia tidak pernah menyalahkan Zahra atas kepergian Davina. Sebab kepergian Davina murni kesalahannya, bukan orang lain. Kelemahannya yang tidak mampu menjaga perasaan Davina. Dia yang salah menempatkan diri. Berpikir sikapnya tidak melukai Davina. Dia memang menghindar dari Zahra. Bukan karena menyalahkan Zahra, tapi Faiq merasa cukup satu hati yang terluka. Dia tidak ingin melihat Zahra berharap padanya yang kelak hanya meninggalkan luka.
"Dokter Annisa, aku memang menghindar darinya. Aku tidak ingin Zahra terus berharap padaku. Namun sesungguhnya hari ini memang aku ada jadwal kunjungan ke luar kota. Vania juga mengetahui akan jadwalku hari ini. Dia juga akan ikut bersamaku. Vania akan memberikan sedikit pengetahuan pada anak-anak disana!" ujar Faiq lirih, Vania mengangguk setuju. Fathan tersenyum bangga melihat kedua adiknya yang kompak. Annisa mengangkat kedua tangannya. Dia menyerah membujuk Faiq adiknya. Annisa tidak bisa merubah pemikiran Faiq. Dia selamanya akan merasa benar dengan sikapnya.
"Kenapa kalian sibuk membicarakanku? Lagipula kisah Vania lebih menarik. Kak Fathan kamu jangan lupa. Bukan hanya aku adikmu, ada Vania yang kelak menjadi tanggungjawabmu juga!" ujar Faiq lirih, Vania menoleh dengan kedua mata membulat sempurna. Faiq terkekeh melihat kekesalan Vania. Keduanya kompak melakukan bakti sosial. Kegiatan yang membuat Vania bertemu dengan laki-laki. Seseorang yang menawarkan cinta, tapi tidak akan pernah bisa dia raih.
__ADS_1
"kenapa kamu malah membahas diriku? Kisah cintamu yang rumit, kenapa malah aku yang terkena imbasanya? Jangan pernah dengarkan Faiq, beruntung om Rafa dan mama Hana tidak mendengarnya. Jika tidak mereka pasti berpikiran yang tidak-tidak tentang aku dan dokter Steve!" ujar Vania kesal, lalu menutup mulutnya dengan tangan. Tanpa sengaja dia menyebut nama dokter Steve. Rekan sesama Faiq, dokter berhati luhur yang ikut membantu Faiq memberikan pengobatan gratis. Vania tersenyum sendiri di balik cadarnya. Ketika mengingat kecerobohannya menyebut nama dokter Steve.
"Benar bukan yang aku katakan. Vania mulai memikirkan Steve. Kak Fathan lebih baik bahas malasalah Vania dengan Steve. Agar mereka segera menyatu!" ujar Faiq, sontal Vania berdiri. Dia histeris mendengar Faiq ingin menjodohkan dirinya dengan Steve.
"Jangan pernah lakukan itu. Aku tidak ingin menjadi alasan sebuah keluarga terpecah. Aku dan dia berbeda. Bukan dia imam yang aku rindukan!" ujarnya lantang, Fathan mengangguk pelan. Dia mengerti alasan perkataan Vania. Sebab Fathan mengenal siapa Steve sebenarnya.
"Sudahlah aku harus berangkat, aku tidak ingin terlambat bertemu para pasienku. Aku akan tetap kuat tanpa Davina. Karena sia yang memintaku kuat dan tetap semangat!" ujar Faiq lirih, Fathan mengacungkan kedua jempolnya ke uadara. Vania berdiri tepat di belakang Faiq.
"Sementara Davina tidak ada, aku yang akan menjagamu. Agar kamu menjauh dari wanita-wanita yang ingin perhatianmu!" ujar Vania lirih.
__ADS_1
"Masih ada satu nama dihatiku, tidak ada yang lain!" sahut Faiq, semua orang mengangguk pelan