
"Steven, apa kamu sedang menunggu Vania?" sapa Raihan ramah, Steven menoleh dengan raut wajah heran. Sedangkan Raihan terlihat tegang saat menyapa Steven. Rasa cemburu mengasainya. Dia tidak pernah menduga, Steven sahabatnya pernah meminang Vania. Dia laki-laki yang lebih dulu mengenal Vania. Wanita yang mencintai dirinya, sekaligus terluka oleh sikap Raihan. Kenyataan Steven pernah mencintai Vania. Membuka mata Raihan, Vania bukan wanita sembarangan.
Steven dan Raihan besar dalam lingkungan yang sama. Hidup dengan kemewahan yang sudah mereka miliki. Tidak pernah ada kata kurang dalam kehidupan mereka. Keduanya telah membagi suka dan duka bersama. Selama ini hanya Steven orang yang mengerti dirinya. Raihan tidak habis pikir, bagaimana bisa Steven menutupi kenyataan? Vania orang yang selama ini mengusik hatinya. Dalam satu detik, Raihan menerima dua pukulan. Dia telah meragukan ketulusan Vania. Sekaligus dia juga yang telah menghancurkan hati sahabatnya sendiri. Namun jika Raihan harus memilih. Tidak bisakah dia egois? Mempertahankan Vania dengan melukai hati Steven. Sebab hanya Vania wanita yang mampu meluluhkan hati beku Raihan. Hati yang melupakan cinta, hanya karena luka yang pernah dia rasakan.
Steven heran saat Raihan bertanya tentang Vania. Dia memang ada janji, tapi bukan dengan Vania. Steven juga melihat kegelisahan yang sangat tampak di wajah Raihan. Steven mampu menangkap rasa takut kehilangan yang dirasakan Raihan. Sebagai seorang sahabat, steven sangat memahami kecemasan di wajah Raihan. Dengan penuh ketenangan dan keramahan, Steven meminta Raihan duduk. Dia melihat sedikit jauh di belakang Raihan berdiri beberapa pengawal sekaligus sekretaris Raihan. Steven menduga jika Raihan baru saja selesai bertemu rekan kerjanya.
"Duduklah Raihan, sudah lama kita tidak duduk berdua. Itupun jika kamu memiliki waktu. Sepertinya ada yang ingin kamu katakan padaku. Aku siap mendengarkannya, aku tetap Steven yang sama. Steven yang akan selalu ada saat kamu membutuhkanku. Kita bisa bicara dari hati ke hati. Aku tidak ingin kesalapahaman yang ada menghancurkan hubungan diantara kita!" ujar Steven, Raihan mengangguk pelan. Dia menarik kursi tepat di sebelah Steven. Apa yang dikatakan Steven memang benar? Banyak yang ingin Raihan ketahui. Dalam benaknya terlintas banyak pertanyaan yang seolah ada tanpa jawaban. Hanya Steven yang mampu menjawab semua pertanyaan itu.
__ADS_1
"Katakanlah Raihan, apa yang ingin kamu ketahui? Aku bukan orang lain, sehingga kamu butuh waktu untuk mengatakan kejujuran. Kita sudah saling mengenal selama belasan tahun. Apa yang kamu pakai? Aku juga memakainya. Hubungan kita sangat dekat, sehingga tidak perlu ada batasan demi sebuah sopan santun. Selama ini tidak ada jurang diantara kita. Jadi aku harap kesalahpahaman hari ini. Bukan alasan terciptanya jurang diantara kita. Aku siap mendengar keluhanmu. Katakanlah tanpa ada rasa ragu. Sepahit apapun pikiranmu, utarakan agar aku bisa menemukan rasa manis yang membuat pahitnya tak terasa!" tutur Steven, Raihan menghela napas panjang. Perkataan Steven membuatnya tersadar. Sejujurnya Raihan tidak pernah sanggup bertanya atau mencari tahu kebenaran yang terjadi diantara Steven dan Vania. Dia terlalu takut untuk memilih salah satu diantara keduanya. Raihan tidak ingin bersama Vania, tapi menyakiti Steven sahabatnya. Sebaliknya dia tidak akan mampu untuk bertahan bila jauh dari Vania. Dilema yang tidak mudah antara cinta dan persahabatannya.
"Vania, siapa dia bagimu?" ujar Raihan singkat, Steven tersenyum mendengar pertanyaan Raihan. Semua terkuak sudah, Steven mulai memahami arti raut wajah Raihan. Kegelisahan yang Raihan rasakan tidak salah. Steven mengerti maksud pertanyaan Raihan. Steven melihat tangan Raihan terus memutar ponsel miliknya. Salah satu cara Raihan meluapkan kegelisahannya.
"Vania, wanita yang hebat. Keteguhan hatinya yang menyadarkan aku bahwa kesetiaan itu ada. Ketulusannya membuatku percaya cinta sejati itu ada. Kesabarannya meyakinkan hatiku yang hampa. Jika cinta suci itu nyata, sebuah cinta yang tidak akan pernah menyakiti. Melainkan cinta yang akan selalu berkorban demi kebahagian orang lain. Vania Aulia Azzahra, wanita lemah yang penuh kekuatan akan cinta yang tak pernah goyah. Dia mengajarkan diriku. Setiap hati memiliki cinta yang kekal. Hati akan bertemu dengan pasangannya. Bila sudah saatnya, sebab cinta ada dengan pasangannya. Tanpa kita takut, jika kita takkan pernah merasakan cinta!" tutur Steven, Raihan diam membisu. Dia mendengar Steven begitu memuji dan memahami Vania. Pengertian yang tidak akan pernah bisa Raihan berikan. Steven begitu tenang mengutarakan semua isi hatinya. Tidak ada beban atau rasa takut menyinggung perasaan Raihan. Entah kenapa Steven merasa Raihan harus mendengar pendapatnya tentang Vania? Salah satu cara agar Raihan menyadari. Kelebihan Vania yang dilihat oleh laki-laki lain.
"Kamu begitu mengagumi Vania. Terlihat jelas kamu sangat mencintainya. Kalau memang kamu sangat memahami dan mencintainya. Kenapa kamu tidak berjuang mendapatkannya? kenapa kamu harus menyerah? Seharusnya kamu berjuang, mungkin saja dia lebih bahagia bersamamu. Sampai saat ini aku tidak pernah bisa memahaminya. Aku tidak pernah bisa mengerti pola pikirnya. Mungkin aku bukan imam terbaik untuknya. Jika harus kalah oleh dirimu, aku ikhlas. Meski hatiku sakit, aku akan sanggup bertahan. Orang yang aku cintai bahagia bersama sahabat terbaikku!" tutur Raihan lirih, suaranya terdengar sedikit berat. Raihan menahan rasa sakit yang dirasakannya. Kedua matanya mulai terasa panas. Namun Raihan terus menahannya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Steven. Meski dia harus menyerah akan cintanya. Raihan tidak ingin lemah di depan sahabatnya.
__ADS_1
Sebaliknya Steven yang mendengar perkataan Raihan hanya menggelengkan kepala. Jika Raihan menganggapnya mengagumi Vania. Semua itu memang benar, tapi mencintai Vania. Steven tidak pernah membayangkannya. Mencintai wanita yang penuh ketulusan layaknya Vania. Cinta Steven tidak sebesar itu, sampai mampu menghancurkan kokohnya keteguhan hati Vania. Pengertian Steven akan sikap Vania tidak akan meluluhkan hati yang telah memilih dan dipilih dengan ketulusan. Semenjak Vania mengatakan alasan penolakan cintanya. Steven terlalu takut mencintai Vania. Bukan dia sakit hati, tapi keikhlasan Vania mencintai Raihan membuat hati Steven bergetar. Dia melihat sosok wanita yang begitu tangguh akan jalan hidup yang sudah tertulis untuknya. Vania membuat Steven menyadari, bahwa semua yang terjadi. Ada dengan maksud tersendiri.
"Aku tidak pantas berjuang mendapatkan cinta yang sepenuhnya memilihmu. Aku menganggumi Vania bukan karena kecantikan atau kebaikannya. Aku mengagumi keteguhannya kala dia mencintaimu. Dia memilihmu jauh sebelum dia melihat wajahmu. Dia menerimamu tanpa bertanya, seperti apa imam yang dipilih untuknya? Dia tulus memberikan hatinya untuk laki-laki yang mengkhitbahnya sejak putih abu-abu. Sangat bodoh bila aku berjuang mendapatkan cinta dengan menghancurkan kesabaran yang Vania jalani selama ini. Dia sabar menanti hari dimana dia bertemu denganmu untuk pertama kalinya. Kamu beruntung mendapatkan cinta Vania. Cintanya bukan hasrat memiliki, tapi sebuah keyakinan dan rasa percaya. Dirimu imam terbaik yang dipilihkan orang tuanya untuknya. Dia ikhlas menerima ketetepan-NYA, jika dirimu pelindung yang dia butuhkan bukan dia harapkan. Vania begitu menghargai cintanya untuk. Jadi jangan pernah pernah ragu akan cinta Vania. Namamu tidak akan tergantikan. Seandainya kamu belum mampu memahami Vania. Kelak waktu yang akan membantumu mengenalnya!" tutur Steven, Raihan mengangguk pelan. Semakin dia mendengar perkataan Steven. Dia semakin merasa bodoh. Cintanya belum terlalu kuat untuk Vania. Hanya hasrat ingin memiliki dan rasa takut kehilangan yang mengisi hati dan pikirannya.
"Aku memang bodoh!" ujar Raihan lirih, Steven menggeleng tidak setuju.
"Kamu bukan bodoh, tapi kamu belum belajar memahami Vania. Sesungguhnya kamu laki-laki yang beruntung. Cinta Vania itu suci dan abadi. Jagalah saat kamu merasa siap!"
__ADS_1