KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Bukan Salahku...


__ADS_3

"Davina Nur Latifah, lama tidak bertemu. Akhirnya kamu keluar dari persembunyianmu!" ujar Zahra, Davina menoleh ke arah Zahra. Dia melihat jelas tatapan teduh, tapi penuh kemarahan. Zahra menatap tajam Davina, seakan ingin menyalahkan semua yang terjadi padanya tak lain kesalahan Davina.


Sikap hangat Faiq kepadanya yang berubah sangat dingin. Penolakan Faiq untuk merawat ayahnya yang sedang sakit. Rasa sakit akan cintanya yang tak bersambut. Seakan menjadi paket komplit luka hati Zahra. Selama dua tahun, Zahra menyimpan dan mencoba bersabat menerima semua luka. Dia kuat setegar karang, hanya demi sebuah senyum di wajah orang tuanya. Zahra menutupi air matanya, agar tak ada kecemasan yang terlihat dari sekitarnya. Setelah dua tahun dia menyimpan semuanya. Tanpa ada satu pundak yang bisa menjadi sandarannya. Hari ini dia ingin meluapkan rasa sakitnya. Bukan demi apa? Hanya ingin Davina mengetahui, kepergiannya bukan hanya menyakiti dirinya dan Faiq saja. Namun ada hati rapuh lain yang tersakiti. Hati yang tidak bisa kembali utuh. Setelah dua tahun hancur tak bersisa. Menerima penolakan dan tatapan tak suka dari Faiq.


"Mbak Zahra, apa kabar? Silahkan duduk!" sahut Davina ramah, tanpa merasa ada yang salah. Davina tersenyum ke arah Zahra, tapi dia hanya melihat raut wajah dingin Zahra. Davina tidak pernah merasa ada yang salah dengannya. Selama ini dia tidak pernah berpikir buruk tentang Zahra. Meski kedekatannya dengan Faiq membuatnya cemburu. Davina merasa semua adil dalam cinta. Sebelum ada ikatan diantara dirinya dan Faiq. Selama itu pula, Faiq berhak dekat dengan siapapun? Sehingga Davina hanya bisa cemburu, tanpa bisa marah dan melarang Faiq.

__ADS_1


Namun pemikiran Davina seakan berbeda dengan Zahra. Sikap lapang Davina disalahartikan Zahra. Dengan arogan Zahra merasa, sikap Davina seakan ingin menjauhkannya dari Faiq. Davina mungkin masih sangat muda, bahkan dia cenderung manja. Namun dalam memahami rasa cintanya pada Faiq. Davina jauh lebih dewasa dari Zahra yang bersikap seperti anak kecil kehilangan mainannya.


Dengan wajah kesal, Zahra menarik kursi di samping Davina. Kebetulan keduanya diundang oleh perusahaan Fathan. Pertemuan mereka yang pertama kali setelah dua tahun. Seolah ingin membuka luka lama. Menguak alasan rasa sakit yang dialami dua hati. Davina dan Zahra merasakan sakitnya cinta yang tak terbalas. Zahra harus rela menerima sikap dingin Faiq. Sikap yang terang-terangan menolak cintanya. Sebaliknya Davina harus ikhlas menjauh dari Faiq. Menahan rasa rindu dan mengubur dalam-dalam rasa cintanya untuk Faiq. Hanya demi sebuah pemikiran, bahwa Faiq akan bahagia bila tanpa dirinya.


"Kenapa kamu kembali setelah dua tahun? Apa kamu merasa dua tahun waktu yang cukup menghancurkan hatiku? Apa kebohonganmu selama dua tahun sudah tidak bisa disembuyikan? Kamu pergi dari kehidupan dokter Faiq. Kamu meninggalkan sebuah penyesalan dan rasa bersalah dalam hatinya. Kamu pergi membawa keegoisan yang berpikir semua yang terjadi itu yang terbaik. Meski tanpa kamu sadari, kepergianmu membuatku terluka dan hancur!" tutur Zahra lantang, Davina terdiam membisu. Bukan dia takut atau membenarkan perkataan Zahra. Namun Davina tidak pernah mengetahui. Alasan kemarahan Zahra. Davina seolah tidak mengenal sosok Zahra yang ada di depannya. Sikap santun Zahra menghilang tergantikan perkataan yang menyakitkan. Keramahan dalam tutur katanya. Berubah menjadi amarah yang tak terbenduung lagi. Keteduhan dan keluguan yang selalu nampak dalam raut wajahnya. Namun kini yang terlihat hanyalah raut wajah penuh kebencian.

__ADS_1


"Mbak Zahra, aku tidak mengerti maksud perkataanmu? Lagipula kebohongan apa yang sedang aku sembuyikan? Aku merasa tidak pernah berbohong. Sesungguhnya apa yang membuatmu begitu marah padaku? Katakanlah agar aku menyadari kesalahanku. Bukan dengan amarah mbak Zahra menegurku. Sebab amarah tidak akan pernah menyelesaikan masalah!" tutur Davina lirih, Zahra menatap lekat wajah Davina. Dia mengamati setiap inci wajah yang membuat Faiq tergila-gila. Wajah yang dirindukan oleh Faiq selama dua tahun.


"Kamu tidak akan pernah mengerti, karena bukan kamu yang tersakiti. Kamu merasa kepergianmu menjadi jalan terbaik. Namun malah menjadi jalan terburuk untukku. Selama dua tahun aku hidup dalam penantian tanpa balas. Selama dua tahun aku menerima penolakan dokter Faiq. Bukan hanya rasaku yang dia tolak, tapi sekadar merawat ayahku saja dia tidak bersedia. Selama dua tahun aku harus melihat raut wajah sedih ayah. Dia harus menelan rasa kecewa, karena dokter Faiq menolak memeriksanya. Ayah selalu diam penolakan dokter Faiq, meski hatinya selalu bangga pada dokter Faiq. Sebaliknya demi menjauh dariku, dokter Faiq menolak menyembuhkan ayahku. Semua karena kepergianmu yang penuh kebohongan. Dua tahun kamu membohongi dokter Faiq. Kamu membuatnya merasa bersalah karena bersikap acuh padamu. Namun apa yang kamu lakukan? Diam-diam kamu sering bertemu dokter Rey, adik kandung dokter Annisa. Sebenarnya yanng mengkhianati bukan dokter Faiq, tapi kamu!" ujar Zahra menggebu, Davina melihat raut wajah penuh amarah. Zahra melupakan semua batasan yang ada. Dia ingin mengatakan seluruh isi hatinya. Zahra benar-benar kehilangan akal. Sedangkan Davina menunduk lemah, apa yang dikatakan Zahra tidak sepenuhnya benar atau salah?


"Maksud mbak Zahra apa? Jika kepergianku membuat kak Faiq menjauhimu. Itu semua bukan salahku dan tidak ada hubungannya denganku. Sedangkan pertemuanku dengan dokter Rey, hanya sebatas teman tidak lebih. Jadi jangan sangkut pautkan aku dengannya. Apa yang mbak Zahra lihat belum tentu sepenuhnya benar? Soal kebenaran yang aku sembuyikan pada kak Faiq. Sepenuhnya bukan demi diriku, tapi demi kak Faiq seorang. Aku tidak ingin melihatnya kecewa dan terluka melihat sisi lemahku. Sekarang atas dasar apa mbak Zahra begitu marah padaku!" tutur Davina, Zahra menunduk. Dia mulai merasa perkataannya salah. Namun menyimpannya terlalu lama. Sungguh Zahra sudah tidak mampu lagi.

__ADS_1


"Bukankah selama ini, kamu diam-diam bertemu dokter Rey. Kamu menyembuyikan kebenaran, jika kamu sedang sakit. Kamu mengkhianati cinta dokter Faiq. Seandainya kamu tidak pergi. Mungkin dokter Faiq tidak akan bersikap dingin padaku. Setidaknya kita bisa memperjuangkan cintanya dengan adil. Namun kamu pergi menjauh, seolah ingin membuat dokter Faiq merasa bersalah dan menghindar dariku!" ujar Zahra emosi, Davina menggeleng lemah. Dia tidak mrmbenarkan perkataan Zahra. Davina hanya shok mengetahui, Zahra menyadari sikapnya pada dokter Faiq. Davina dirawat di rumah sakit yang sama tempat Faiq bekerja?


"Anda salah menilaiku, aku tidak serendah itu. Cintaku pada dokter Faiq. Itu utuh tak tergoyahkan. Anda bukan Siapapun? Jadi anda tidak berhak menyalahkanku! Banyak alasan yang tidak mbak Zahra ketahui. Sebelum menyalahkanku, sebaiknya mbak Zahra menyadari kesalahan yang mabk Zahra lukukan!" ujar Davina, Zahra mematung tanpa ada satu kata yang terucap


__ADS_2