KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Harta paling Berharga


__ADS_3

Semenjak hari itu Annisa tinggal bersama Hana dan Rafa. Sengaja Rafa mempersiapkan kamar Annisa berada di sebelah kamar mereka. Agar Hana dengan mudah memeriksa kondisi Annisa. Rafa tidak pernah bisa melarang Hana untuk merawat Annisa. Sebab kasih sayang Hana murni untuk Annisa. Tidak ada sangkut pautnya dengan Naufal.


Kebahagian Hana sepenuhnya yang selalu ingin Rafa gapai. Hana seorang istri yang tidak silau dengan kemewahan. Sebab Hana pribadi yang sangat sederhana. Hanya dengan cara sederhana pula kebahagian Hana tergapai. Rafa selalu melakukan hal-hal kecil. Demi melihat senyum di wajah Hana. Istri cantik berhijab yang membuat dunia Rafa berputar di sekitarnya.


Semenjak ada Annisa di rumahnya, Hana memutuskan mengurangi kunjungannya ke ruko. Malahan sekarang Salsa lebih sering datang. Hana menangkap gelagat yang aneh dari sikap Salsa pada Annisa. Namun apapun itu, selama semuanya yang terbaik. Hana akan selalu mendukung keputusan Salsa.


"Assalammualaikum!" sapa Salsa pada Rafa dan Hana. Hana melihat Salsa datang dengan wajah berseri. Kebetulan Rafa baru turun sembari menggendong Annisa. Sedangkan Hana turun menggendong Fathan. Setelah menurunkan Annisa di depan meja makan. Rafa duduk di samping Annisa. Salsa menghampiri Rafa dan Hana, mencium punggung tangan kedua kakaknya. Lalu berganti mencium kening Annisa lembut. Baik Rafa dan Hana melihat sebuah kasih sayang yang berbeda dari Salsa untuk Annisa.


"Waalaikumsalam, ikut sarapan sekalian Salsa! Kamu khusus datang kemari. Sekadar ingin menyapa Annisa yang cantik!" goda Rafa pada Salsa, seketika Salsa salah tingkah. Hana melihat sikap Salsa yang nyata menunjukkan ketertarikannya pada Annisa dan Naufal.


"Tante Salsa ingin bertemu Annisa. Ada apa tante?" ujar Annisa polos, Salsa menoleh pada Annisa. Salsa tersenyum kikuk mendengar pertanyaan Annisa. Rafa dan Hana tersenyum melihat Salsa. Sebaliknya Annisa yang polos hanya diam tak mengerti.


"Annisa sayang, sini tante Salsa yang menyuapi!" ujar Salsa menawarkan diri, Annisa mengangguk pelan. Hana mengambilkan makanan untuk Rafa. Sedangkan Fathan seperti biasa akan tertidur dalam gendongan Hana.


"Sayang, sepertinya kita akan menggelar pesta pernikahan. Salsa kecil kita sudah menemukan tambatan hatinya. Kasihan Zyan harus kalah telak!" ujar Rafa menggoda Salsa, Annisa menoleh pada Rafa dengan mulut penuh makanan. Salsa menunduk malu mendengar perkataan Rafa. Hana tersenyum sekaligus takut, jika Salsa benar-benar mencintai Naufal. Itu artinya Salsa akan berurusan dengan keluarga yang membenci Hana seumur hidup mereka.

__ADS_1


Semakin hari Rafa semakin menyayangi Annisa. Semenjak di rumah Rafa, Annisa lebih sering tertawa. Naufal terkadang datang di saat Annisa sudah tertidur. Naufal terlalu takut melihat tatapan kecewa Annisa. Naufal sudah cukup bahagia mendengar dengkuran halus Annisa. Suara yang mampu membuat hatinya tenang dan bahagia. Setiap kali Naufal datang, Hana selalu menghindar, sebaliknya Rafa yang menemui Naufal. Sebuah pengertian yang tak perlu dikatakan.


"Kak Rafa aneh, memangnya kapan aku mengatakan akan menikah? Lagipula aku dan kak Naufal jauh berbeda. Aku tidak mungkin menyukainya!" ujar Salsa polos, seketika dia menutup mulutnya. Tanpa sadar Salsa mengakui perasaannya pada Naufal. Annisa mendongak melihat ke arah Salsa. Rafa terkekeh melihat Salsa yang kelabakan. Hanya Hana yang menunduk, apa yang dia takutkan terjadi? Salsa satu-satunya saudaranya mencintai. Seseorang yang mungkin tidak mudah digapainya. Hubungan yang akan sulit terjalin dan dijalani.


"Sayang!" sapa Rafa, Hana mendongak melihat Rafa yang menggeleng lemah. Tangan Rafa menggenggam erat tangan Hana. Sedetik kemudian Rafa mengedipkan kedau matanya. Mengisyaratkan semua akan baik-baik saja. Rafa memahami ketakutan sang istri. Hana tidak akan pernah mampu menyembuyikan rasa sakitnya. Dengan mudah Rafa akan mengetahui rasa sakitnya. Seketika Hana membalas dengan menganggukan kepala.


"Hore, tante Salsa akan menjadi mama Annisa. Aku akan memiliki dua mama. Satu mama Hana dan papa Rafa. Satunya lagi mama Salsa dan papa. Aku akan mengatakan pada papa!" sahut Annisa polos, Salsa menepuk jidatnya pelan. Dia malu pada Annisa, terlebih lagi jika dia mengatakan pada papanya Naufal.


"Kak Rafa!" teriak Salsa kesal. Rafa terkekeh, lalu meninggalkan meja makan. Diikuti Hana di belakangnya, meninggalkan Salsa yang masih menyuapi Annisa. Memberikan kasih sayang yang tulus pada seorang anak.


"Aku harap begitu, Salsa satu-satunya saudaraku. Aku tidak ingin melihat cintanya kandas. Apalagi terhina hanya karena status kami yang berbeda dengan orang seperti kalian. Aku sudah merasakan sakitnya sebuah penghinaan. Aku tidak ingin orang lain merasakannya. Terutama Salsa adikku sendiri!" ujar Hana, Rafa mengangguk mengerti. Rafa memutar tubuh Hana menghadap ke arahnya. Rafa mencium Fathan yang tertidur dalam gendongan Hana. Lalu mencium kening Hana mesra.


"Sayang, Salsa tidak hanya memiliki dirimu. Dia memiliki aku sebagai kakaknya. Seujung kuku tidak akan kubiarkan keluarga Wirawan menyentuhnya. Semua tergantung jodoh antara Salsa dan Naufal. Jika mereka berjodoh, tidak akan ada satu orang pun yang mampu memisahkan. Soal aku dan dirimu berbeda, kamu salah sayang. Aku sama denganmu, aku tidak memiliki apa-apa? Aku hanya memiliki kalian berdua, harta terbesarku!" ujar Rafa sembari menangkup kedua pipi Hana. Rafa seakan ingin menanggung ketakutan Hana akan kehidupan Salsa.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


Rafa sampai di kantor tepat seperti biasanya. Hari ini akan diadakan rapat koordinasi dengan beberapa rekan kerja Rafa, salah satunya Sesil. Pertemuan akan membahas sejauh mana proyek yang telah dikerjakan Sesil dan timnya. Adrian tidak bisa menghadirinya, sebab dia harus ke luar kota. Melihat perkembangan proyek keluarga Wirawan.


Rafa masuk ke dalam ruang rapat. Terlihat Sesil di sudut pojok kiri. Rafa sekilas melihat penampilan Sesil yang anggun. Sejak awal pertemanan mereka, Rafa memang tertarik dengan kepintaran dan keanggunan Sesil. Namun sejak bertemu Hana, Rafa seolah enggan melihat wanita yang terlalu menor dan mencolok. Kedua mata Rafa seakan tertutup oleh pesona Hana.


"Apa kabar Rafa Akbar Prawira?" sapa Sesil ramah, dia mengulurkan tangan pada Rafa. Dengan sopan Rafa menerima uluran tangan Sesil. Uluran tangan pertemanan yang lama terjalin.


"Aku baik, lama tidak bertemu denganmu. Semoga kamu baik-baik saja!" sahut Rafa ramah, Sesil tersenyum manis. Sebuah senyum yang pernah membuat Rafa terpana. Senyum dari wanita yang pernah ada di hati Rafa.


"Kita tidak akan pernah bertemu. Semenjak kamu menikah dengan Hana. Kamu tertutup dari kami sahabat-sahabatmu. Kamu seakan melupakan kami. Sepenting itukah Hana di hidupmu? Sampai bertahun-tahun yang pernah kita lalui. Hilang begitu saja tak berbekas. Hana seolah menjauhkanmu dari dunia yang penuh kegembiraan. Hana mengurungmu dalam belenggu cintanya. Dia mengikat dirimu dengan hadirnya anak dalam pernikahan kalian!" tutur Sesil sinis, Rafa tesenyum simpul mendengar perkataan Sesil. Memang Rafa akui, semenjak menikah dengan Hana. Tidak pernah lagi Rafa menginjakkan kakinya di club. Rafa menjauh dari teman-temannya di dunia malam. Rafa seolah lupa akan kehidupan masa lalunya.


"Sesilia Anastsya, bukan seberapa penting Hana dalam hidupku. Namun Hana segalanya dalam hidupku. Dia semangat dalam setiap langkahku. Jika kamu menganggap Hana mengurungku dalam cintanya, kamu salah. Bukan cintanya yang mengurungku, tapi diriku yang ingin terkurung oleh cintanya. Aku yang tak pernah ingin kehilangan Hana. Jangankan membiarkan dia pergi, memikirkannya saja aku sudah tidak mampu. Hana dunia tempatku hidup. Fathan putraku memang pengikat antara aku dan Hana. Dia yang mengikat erat cinta kami. Saksi bisu cinta kami berdua. Hana dan Fathan harta paling berharga yang kupunya. Jangan tahun-tahun kita bersama yang terlupakan. Demi mereka aku mampu melupakan keluargaku sendiri. Jadi jangan pernah berpikir mengusik Hana atau putraku. Jika kamu tidak ingin aku menghancurkanmu!" tutur Rafa, lalu pergi meninggalkan Sesil yang tertegun mendengar perkataan Rafa. Sesil seolah bermimpi melihat Rafa yang jauh berbeda. Rafa yang siap melawan dunia demi Hana.


"Seistimewa itu Hana dalam hidupmu. Sampai kamu siap melawan dunia demi tetap bersama mereka. Rafa, aku memang mencintaimu, tapi aku tidak akan merebutmu dari Hana. Mengusik hidupmu hanya akan menghancurkanku. Jauh lebih baik aku diam melihatmu bahagia. Meski itu artinya, aku harus rela melihatmu bersama wanita lain!" batin Sesil sembari menatap punggung Rafa.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2