
Sejak pagi buta Hana sudah pergi dari rumah. Dia keluar setelah sholat subuh. Biasanya Hana akan kembali ke kamar. Namun pagi ini dia sengaja keluar dari rumah. Hana pergi tanpa pamit pada siapapun? Terutama Rafa, Hana tidak ingin Rafa mengetahui kemana dia pergi? Hana ingin pergi sendiri, tanpa ada yang mengikuti.
Sejak semalam Hana kepikiran akan sesuatu. Hari ini tepat hari dimana kedua orang tua Hana meninggal. Sudah lama Hana tidak pernah pergi ke makam. Rafa sengaja membayar lebih pada juru kunci makam. Agar dia merawat makam orang tua Hana dengan baik. Namun entah kenapa beberapa hari terakhir? Hana ingin sekali datang ke makam. Dulu Hana selalu datang, ketika dia sedih atau bahagia. Semenjak dia menikah dengan Rafa dan dia mengetahui Rafa orang yang tanpa sengaja menabrak kedua orang tuanya. Hana tidak pernah lagi datang ke makam. Hanya doa setelah sholat yang dia kirimkan demi ampunan dosa kedua orang tuanya.
Setelah sampai di makam, Hana membersihkan makam kedua orang tuanya. Hana meminjam sapu lidi dan parang dari juru kunci. Dengan telaten Hana membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di atas makam. Hana seakan lupa akan semua rasa gelisah dan penyesalannya. Hana mulai merasa tenang.
Hana datang bukan sebagai istri seorang Rafa Akbar Prawira. Dia datang sebagai seorang putri yang sederhana. Tak ada kemewahan yang melekat dalam tubuh Hana. Hanya daster sederhana yang Hana kenakan. Daster yang mungkin murah bagi seorang Rafa. Tapi sangat mahal bagi seorang Hana Khairunnisa. Ironi kehidupan yang Hana jalani. Kemewahan yang Hana rasakan, bak kisah cinderella. Namun Hana tetaplah Hana yang sederhana. Tidak ada yang akan berubah, meski dia mendapatkan kemewahan.
Sesekali Hana menengadah menatap langit yang muram. Sejak pagi, entah kenapa sang mentari malu menampakkan wajahnya? Tak ada sinar yang biasa menerangi pagi hari. Tak ada kehangatan yang memberikan semangat bagi seluruh makhluk. Hana mendengar suara langut bertasbih. Kilatan petir menyambar terasa sangat dekat. Meski tak terlihat mata, tapi bisa terasa oleh Hana. Angin bertiup sangat kencang, menerpa hijab panjangnya. Dingin angin menusuk tulang-belulang Hana.
Hana mempercepat pekerjaannya. Dia harus segera pergi dari makam. Jika tidak Hana akan kehujanan. Langit yang begitu gelap, menandakan akan turun hujan yang sangat deras. Beberapa menit kemudian Hana selesai. Dia bersimpuh diantara makam kedua orang tuanya. Hana menengadahkan tangan, memohon ampun bagi kedua orang tuanya. Tahlil dan yasin terdengar dari bibir Hana. Hanya doa yang kini mampu Hana berikan sebagai bakti terakhir bagi mendiang kedua orang tuanya.
"Hana!" sapa Rama lirih, Hana mendongak menatap ke arah Rama. Laki-laki yang pernah mengkhitbahnya. Namun harus mengalah, ketika jalan jodoh mempertemukan Hana dengan Rafa. Rama memilih mundur demi prinsip yang dipegang teguh Hana.
"Rama, sedang apa kamu disini? Siapa yang meninggal?" ujar Hana cemas, sembari berdiri berhadapan dengan Rama. Dengan gelengan kepala, Rama menjawab pertanyaan Hana. Meski heran Hana tetap diam menunggu jawaban Rama.
Hana menatap lekat Rama. Penampilannya tetap sama, rapi dan sopan dengan kacamata yang melekat dikwdua mata indahnya. Rama tidak pernah berubah sejak dulu. Tanpa sepengetahuan Hana, Rama selalu datang ke makam orang tua Hana. Demi hubungan yang pernah ada diantara mereka dulu. Tanpa berharap adanya hubungan yang baru diantara mereka.
"Tidak ada yang meninggal. Aku sengaja datang berziarah ke makam kedua orang tuamu. Hampir setiap tahun aku datang, tapi tahun ini sepertinya kita berjodoh bertemu. Apa kabar kamu Hana?" ujar Rama ramah, Hana mengangguk seraya tersenyum. Seketika Rama menunduk ketika melihat Hana tersenyum. Rama takkan sanggup melihat keramahan Hana. Senyum Hana yang membuat Rama terpikat dulu dan mungkin sekarang senyum itu mampu membuatnya terpikat kembali.
"Terima kasih, kamu selalu mengingat orang tuaku. Meski kamu tidak pernah mengenalnya. Kamu masih bersedia mendoakannya. Mungkin semua ini balasan atas kebaikan mereka padaku. Semoga kebaikanmu akan terbalaskan kelak!" ujar Hana lirih, Rama mengangguk pelan. Hana dan Rama menunduk menatap dua nisan yang berjejer. Nisan yang tertulis nama ayah dan ibu Hana.
"Hana, sekarang lebih baik kita mulai berdoa. Hujan mungkin akan segera turun. Jika terlalu lama kita bisa kehujanan!" ujar Rama, Hana mengangguk pelan. Lalu keduanya berjongkok di dekat makam orang tua Hana.
Hana duduk di samping makam ibunya, sedangkan Rama duduk di samping makam ayahnya. Keduanya mulai menengadahkan tangan. Membaca tahlil dan tahmid bersama. Hana dan Rama saling mengenal ketika menjadi anggota remaja mushola. Jadi keduanya sangat hapal akan bacaan tahlil dan tahmid.
__ADS_1
Ketika Hana dan Rama sedang khusyuk berdoa. Faiq dan Fathan meluncur menuju makam kedua orang tua Hana. Setelah mendengar perkataan Davina, Faiq merasa yakin jika Hana sedang berada di makam kakek dan neneknya. Faiq segera menghubungi Fathan dan memintanya pergi ke makam. Siapapun yang sampai lebih dulu? Dia yang akan menghubungi lebih dulu.
Faiq datang lima menit lebih awal dari Fathan. Dia dan Davina melihat Hana sedang berdoa diantara makam kedua orang tuanya. Faiq merasa sedikit heran. Ketika ada seorang laki-laki yang berdoa bersama Hana. Laki-laki yang tentu bukan Rafa. Davina ingin menemui Hana, tapi segera dicegah oleh Faiq.
"Tunggu, biarkan mama sendirian. Dia datang kemari tanpa mengatakannya pada kita. Tentu dia juga tidak ingin kita mengganggunya. Ada waktu ketika mama ingin sendirian. Biarkan mama sendirian, tugas kita hanya mengawasi mama dan menenangkan papa!" ujar Faiq tegas dan dingin, Davina mengangguk ragu. Lalu dia menoleh menatap wajah Faiq yang dingin. Ada kelegaan yang jelas terlihat, tapi ada rasa cemas yang masih belum bisa dijelaskan oleh Faiq.
"Kenapa kita harus menenangkan papa? Bukankah mama sudah ditemukan. Aku yakin papa akan baik-baik saja!" ujar Davina polos, faiq menggeleng lemah. Lalu menunjuk ke arah laki-laki yang duduk tak jauh dari Hana.
"Dia yang akan membangkitkan rasa marah papa. Dia laki-laki pertama yang dekat dengan mama setelah sekian tahun. Apalagi mama pergi tanpa pamit. Apa kamu pikir papa akan diam dan tenang melihat semua ini? Meski aku percaya laki-laki itu bukan siapa-siapa mama? Namun kamu harus memahami, ketika laki-laki cemburu. Hanya amarah yang bicara, akal seolah menghilang tanpa sisa!" ujar Faiq lirih, Davina mengangguk sembari tersenyum.
"Aku pikir hanya wanita yang cemburu tidak jelas. Nyatanya sekarang laki-laki juga cemburu tidak jelas!" ujar Davina menyindir Faiq, sontak Faiq mengeryitkan dahinya. Dia terkejut mendengar perkataan Davina yang seolah menyindirnya.
"Sayangku yang cantik, kita lanjutkan itu di rumah. Ada masalah yang lebih serius dari itu. Mama sedang berjalan kemari, sedangkan papa baru saja sampai dengan kak Fathan. Jadi bersiaplah menenangkan papa!" ujar Faiq mesra, Davina menggeleng lemah.
"Kenapa kalian disini?" ujar Hana, Davina merangkul tangan kiri Hana. Sedangkan Faiq merangkul tangan kanan Hana. Keduanya meluapkan kecemasan yang sempat melanda mereka. Rasa takut akan kehilangan Hana.
"Maaf kak Rama, aku lupa. Dia Faiq putraku dan ini Davina menantuku. Aku sampai lupa mengenalkan kalian!" ujar Hana mengenalkan keduanya. Dengan sopan Faiq mencium punggung tangan Rama, sebaliknya Davina menangkupkan tangan ke arah Rama. Dengan tersenyum simpul, Rama membalas sikap hangat Faiq dan Davina.
"Kamu beruntung Hana, putramu tampan dan menantumu cantik. Keduanya sopan dan baik seperti dirimu. Baiklah, sepertinya hujan akan turun. Aku harus segera pulang!" ujar Rama, Hana mengangguk seraya tersenyum.
Lalu tiba-tiba Faiq menyikut lengan Hana, dia mengedipkan mata ke arah Hana. Isyarat ada sesuatu yang sedang melihat ke arahnya. Hana menoleh ke arah yang ditunjuk Faiq. Terlihat Fathan berdiri bersama dengan Rafa.
"Hana, kamu pergi sembunyi-sembunyi demi bertemu dengannya. Apa kamu tidak malu bertemu Rama di pemakaman? Aku cemas memikirkan kepergianmu. Sedangkan kamu malah sibuk bersama Rama. Kamu keterlaluan Hana!" ujar Rafa emosi, Faiq menggeleng lemah. Sedangkan Fathan menahan tangan Rafa. Dia tidak berharap amarah Rafa semakin menjadi. Sebaliknya Hana bersikap sangat tenang. Dia tidak peduli, bahkan mengacuhkan emosi Rafa yang meledak-ledak.
"Aku memang pergi tanpa pamit, tapi bukan untuk bertemu Rama. Dia sendiri yang datang ke makam ayah dan ibu. Kebetulan kami bertemu!" ujar Hana tenang, Rafa semakin meradang ketika Hana mengakui telah pergi diam-diam. Fathan dan Faiq heran melihat pertengkaran yang tak pernah mereka lihat. Davina melongo melihat kedua mertuanya yang bertolak belakang. Rafa yang tempramental dan Hana yang sangat tenang. Bak api dan air yang bertemu. Satu membakar dan yang lain mendinginkan.
__ADS_1
"Hana, kamu tidak malu mengakui telah pergi tanpa pamit dariku. Kamu istriku, seharusnya kamu meminta izin padaku. Setidaknya aku tahu kamu pergi kemana? Aku bisa pergi denganmu bila diperlukan. Bukan malah aku melihatmu bertemu mantan terindahmu!" ujar Rafa semakin kesal, sontak Faiq dan Fathan mendongak tak percaya. Davina menutup mulutnya, tepat setelah Rafa selesai bicara.
"Pantas papa semarah ini. Ternyata om Rama mantan kekasih mama!" batin Faiq sembari menggelengkan kepala.
Hana diam mendengar perkataan Rafa yang semakin lama semakin melantur. Hana tidak percaya, Rafa bisa semarah ini. Hana tidak ingin terjadi kesalahpahaman yang lebih besar. Hana sangat mengenal watak Rafa. Bila Rafa emosi, terkadang diluar batas nalar.
"Sebaiknya kita pulang, tak pantas bila kita berdebat di makam. Setidaknya hargai para penziarah yang lain!" ujar Hana lirih dan tenang, Rafa menggeleng lemah. Dia menahan tangan Hana agar berhenti. Ketika melihat Hana berjalan menuju mobil Faiq. Fathan terlihat cemas melihat amarah Rafa.
"Papa, mama benar. Lebih baik kita pulang. Sangat tidak pantas bila kita bertengkar disini!" ujar Fathan lirih, Rafa langsung menoleh menatap tajam ke arah Fathan. Seakan Rafa meminta Fathan untuk diam. Faiq menempelkan telunjuknya di depan bibirnya. Isyarat agar Fathan atau Davina diam. Mereka hanya bisa mengawasi, tanpa berhak ikut campur. Faiq percaya Hana atau Rafa sama-sama dewasa. Namun bila terjadi sesuatu yang melebihi batas, Faiq orang pertama yang akan bertindak.
"Hana, apa kamu pergi kemari sendirian? Karena akulah orang yang menabrak kedua orang tuamu. Sebab itu kamu diam-diam datang tanpa mengajakku. Apa kamu masih menyalahkanku atas kematian kedua orang tuamu? Berapa kali aku harus meminta maaf. Masihkah kamu menyalahkanku atas kematian kedua orang tuamu!" ujar Rafa lirih, Faiq dan Fathan semakin terkejut dengan kenyataan yang baru saja mereka dengar. Keduanya tidak pernah menyangka, ada rahasia besar yang tersimpan rapat dalam damainya pernikahan Hana dan Rafa.
"Aku tidak berhak menyalahkan atau membenarkan dirimu atas kematian kedua orang tuaku. Kenyataan jika kecelakaan yang menimpa orang tuaku, tidak lain akibat kelalaianmu. Tidak akan mudah terhapus begitu saja. Aku memang tidak ingin datang bersamamu, karena hari ini aku datang sebagai putri mereka. Bukan sebagai istri seorang Rafa Akbar Prawira. Orang yang tanpa sengaja menjadi alasan, kecelakaan tragis yang menimpa mereka. Jangan kaget tuan Rafa, dibalik kebahagian kita. Ada fakta yang akan melekat dan terus menyakitkan untukku. Lagipula tuduhanmu, ibarat telunjuk yang menuding ke arahmu!" ujar Hana, Rafa mundur beberapa langkah ke belakang. Fathan menahan tubuh Rafa yang mulai terhuyung. Seakan kejujuran Hana membuatnya hancur. Sebaliknya Faiq merasakan sakit yang coba ditahan Hana.
"Aku tidak akan mengungkit semua ini. Seandainya kamu diam dan percaya padaku. Aku bukan wanita murah yang akan dengan mudah mengingat masa lalu. Lagipula adakalanya aku ingin kembali menjadi Hana Khairunnisa yang sederhana. Kenyataan kemewahan dan kebahagian keluarga kita belum sepenuhnya membuatku nyaman. Kita terlalu takabur, berpikir kita akan bahagia selamanya. Jangan lupa ada bahagia tentu akan ada sedih. Hukum alam yang takkan bisa dirubah!" ujar Hana, lalu berjalan menjauh dari Rafa.
"Satu hal lagi, sejak dulu kamu mengetahui jelas. Cemburumu sangat tidak tepat. Aku tidak akan mencari kenyaman dari laki-laki lain. Meski kelak dekapanmu tak senyaman dulu!" ujar Hana lagi.
"Davina, jangan pernah cemburu pada Faiq. Jadilah wanita yang kuat, agar para laki-laki menghargai nilaimu. Kita memang lemah akan cinta, tapi kita kuat dalam memegang cinta. Ketika mereka mengkhianati cinta kita, ubahlah pengkhianatan mereka dengan penyesalan. Sejatinya sesuatu yang salah tidak akan selamanya benar. Kelak akan ada masa mereka terjatuh akan pengkhianatan mereka sendiri!" ujar Hana, lalu menarik Davina masuk ke dalam mobil Faiq. Hana meninggalkan Rafa yang termenung mendengar perkataannya. Rafa tersadar akan kesalahannya yang mengungkit masa lalu. Sehingga Hana mengatakan sesuatu yang tak seharusnya dia katakan.
"Mama, kamu membuatku terlihat salah!" ujar Faiq lirih. Lalu masuk ke dalam mobil. Hana duduk di jok belakang. Dia membuang muka ke luar jendela mobil Faiq.
"Kenapa mama melakukan semua ini?" ujar Faiq, sontak Hana menoleh sembari mengusap air matanya yang menetes.
"Maksudmu!"
__ADS_1
"Kenapa menyimpan air mata yang seharusnya menetes tadi?" ujar Faiq lirih, Hana menggeleng lemah. Faiq selalu bisa melihat air matanya.
"Karena mama mencintai papamu. Mama tidak ingin membuat papa hancur dengan melihat air mata ini. Cukup dia merasa bersalah, tidak perlu dia melihat kehancuranku. Cintanya padaku dan cintaku padanya, membuat kami harus bertahan dan bahagia. Meski ada air mata yang harus ditahan!"