
Malam gelap terlihat menawan dengan hadirnya bintang-bintang kecil. Bulan setengah menambah keindahan malam yang tak tergantikan. Langit malam terlihat sangat cerah. Malam yang dinantikan para pencinta. Malam yang selalu menyimpan suka-duka para pecinta. Malam yang penuh ketakutan, tapi menyimlan banyak keindahan bagi yang memahaminya.
Namun berbeda dengan malam ini, langit terlihat muram. Bintang dan bulan seakan malu menampakkan diri. Cahayanya tak lagi menyinari langit malam ini. Gelapnya malam semakin gelap. Seolah menyimpan misteri yang takkan mampu diartikan. Malam ini seolah ingin mengisyaratkan hati Faiq dan Zahra. Dua hati yang merindukan cinta dari hati yang terpilih.
Faiq merindukan Davina sang pemilik hati. Sebab malam ini tepat dua tahun Davina pergi. Dua tahun sudah Faiq merayakan hari ulang tahunnya sendirian tanpa Davina. Fathan dan kesua orang tuanya selalu ingat hari ulang tahun Faiq. Namun selalu mendapatkan penolakan dari Faiq. Dia tidak ingin merayakan hari, dimana Davina pergi? Hanya bersama Davina, Faiq akan merayakan ulang tahunnya. Hari dimana Davina akan datang mengucapkan selamat ulang tahun padanya?
Sebaliknya Zahra yang selalu merasa sepi tanpa bayangan Faiq. Zahra tidak pernah berharap lebih. Cukup melihat wajah Faiq, sia sudah sangat bahagia. Dua tahun bayangan Faiq menjauh dari Davina. Hanya kenangan yang pernah terjadi. Satu-satunya pelipur lara Zahra. Cinta sederhana tanpa mengharapkan balasan. Entah sampai kapan rasa itu ada? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun semua harapan Zahra akan terwujud malam ini. Dia akan melihat wajah yang dirindukan dalam diamnya. Zahra dan Faiq akan berada dalam satu acara yang sama.
Zahra yang merasa cemas saat akan memenuhi undangan Fathan. Semakin cemas saat Fathan mengatakan Faiq akan hadir mewakili rumah sakit keluarga Prawira. Faiq akan datang bersama Vania. Saudara sepupu yang paling dekat dengan Faiq saat ini. Meski Faiq menutup rapat dukanya. Vania mampu membaca hati Faiq. Kerja kerasnya selama ini, hanya cara Faiq menghindar dari kenyataan. Menghabiskan waktu agar tidak teringat akan Davina. Faiq seolah ingin lari dari kenyataan. Jika kepergian Davina, karena sikapnya sendiri. Kebodohan yang disesali Faiq sampai saat ini.
Tepat pukul 19.00 wib, Fathan dan Annisa tiba ditempat acara. Zahra datang dijemput pihak kanyor Fathan. Sedangkan Faiq dan Vania datang terlambat. Mungkin juga tidak akan datang. Sebab keduanya berangkat ke luar kota. Dalam satu bulan Faiq dan Vania bisa pergi ke pelosok sampai 4 atau 6 kali. Vania selalu mengikuti langkah Faiq. Bukan sebagai dokter atau perawat. Vania memutuskan menjadi relawan yang membantu sesama. Dia keluar dari pesantren Rizal ayahnya sendiri. Demi memenuhi panggilan hatinya. Berguna bagi sesama.
Setelah Fathan dan Annisa tiba, mereka langsung menempati tempat yang disediakan. Kebetulan Zahra datang hampir bersamaan. Pihak penyelenggara menyediakan meja yang sama untuk mereka. Bahkan Faiq dan Vania akan duduk di meja yang sama dengan mereka.
Fathan dan Annisa menjadi pasangan yang serasi. Annisa bukan pribadi yang mengenal fashion. Namun kecantikan Annisa terpancar nyata, meski gaun yang digunakannya sangat sederhana jauh dari kata mewah. Wajah yang tertutup cadar, membuat Annisa semakin dihormati.
__ADS_1
Zahra menggunakan gamis yang senada dengan hijabnya. Penampilannya terlihat sangat elegan. Zahra menunjukkan kepribadiannya yang tegas. Warna gelap yang dipilihnya. Seakan ingin mengatakan, bahwa dirinya kuat dan mandiri. Zahra menjadi panutan generasi muda yang ingin mengembangkan desanya. Sesuatu yang telah jarang dilakukan oleh anak muda jaman sekarang. Zahra tidak meninggalkan desanya meski dia bisa. Zahra memilih membangun desanya, agar anak-anak di desanya merasakan pendidikan yang sama dengannya.
Acara berlangsung dengan lancar. Sampai acara hampir selesai, faiq dan Vania belum juga datang. Fathan sudah menghubungi Faiq berulang kali. Sebab Faiq harus hadir sebagai salah satu pembicara. Faiq menjadi dokter muda yang menginspirasi. Jika Zahra membangun desanya. Faiq menjadi pemuda yang membangun masyarakat sehat. Sebab itu dia mendapat kehormatan menjadi pembicara dalam acara malam ini.
"Faiq, darimana saja kamu? Aku sudah menghubungimu berkali-kali. Jika kamu tidak hadir malam ini. Apa yang akan papa katakan?" ujar Fathan kesal, sesaat setelah Faiq duduk. Dia datang tepat saat namanya dipanggil. Faiq langsung naik ke atas panggung. Setelah mengatakan beberapa kata. Faiq turun menghampiri kedua kakaknya. Faiq menyapa Zahra dengan senyuman. Setelah dua tahun akhirnya mereka bertemu. Zahra benar-benar tidak menyangka. Pesona Faiq mampu membuatnya tak berkutik. Hatinya masih memilih dan akan tetap memilih Faiq.
"Sudahlah, lagipula Faiq sudah datang. Acara sudah selesai. Tidak perlu berdebat untuk sesuatu yang sudah selesai. Faiq mengerti tanggungjawabnya. Buktinya dia datang tepat waktu!" ujar Annisa mereda amarah Fathan. Dengan pelan Fathan mengangguk setuju. Fathan memperhatikan sikap Faiq dan Zahra. Keduanya saling mengenal, tapi seakan tak pernah bertemu. Dia melihat Faiq yang seolah acuh pada Zahra. Faiq bukan hanya dingin, tapi tak berhati. Sebaliknya Zahra bingung harus bersikap seperti apa?
"Maaf kak Fathan, kami terjebak macet!" sahut Vania mengatakan alasan keterlambatannya. Vania melihat ke arah Faiq. Dia mengikuti arah pandang Faiq. Dengan menutup mulut, Vania menyimpan rasa terkejutnya. Vania melihat sosok yang membuat Faiq tak berkedip.
"Kenapa kamu diam mematung? Bukankah selama dua tahun kamu menunggunya. Kenapa sekarang kamu diam saja? Temui dia, perjuangkan cintamu. Dua tahun kamu sudah membuktikan. Kepergiannya menjadi semangatmu untuk maju. Cintanya yang menjadikanmu pribadi penuh cinta. Jangan buang waktumu. Dua tahun kamu tersiksa, jadikan malam ini sebagai akhir rasa rindumu!" bisik Vania, Faiq terdiam mematung. Tatapannya mengunci satu sosok yang dua tahun lalu meninggalkan luka di hatinya. Namun dia pula yang mengajarkan Faiq apa itu bahagia?
"Kenapa dia diam tak menyapaku? Apa masih kurang lama dua tahun dia menghilang? Kenapa dia tidak menghampiriku? Apa dia masih marah? Atau rasanya untukku telah hilang. Dua tahun aku menahan rindu ini. Dua tahun aku tersiksa dengan rasa ini. Dua tahun aku hampa tanpa bayangmu. Dua tahun hidupku sepi tanpa senyummu. Sekarang aku melihatmu diam. Kamu mengacuhkan diriku. Apa yang harus aku lakukan? Agar kamu bersedia menggenggam hatiku kembali!" batun Faiq sembari menatap makmum yang dirindukannya.
Lama Faiq menatap wajah yang dirindukannya. Tanpa Faiq menyadari sekitarnya. Hanya Vania yang menyadati arti diam Faiq. Fathan dan Annisa tidak menyadari arti sikap Faiq. Mereka merasa diam Faiq hanya karena Zahra berada dalam satu meja dengannya.
__ADS_1
"Faiq, kenapa kamu diam? Setidaknya bicaralah Zahra yang ada disampingmu. Sangat tidak sopan kamu mendiamkan Zahra. Kamu jangan lupa dia tamu perwakilan perusahaan kita!" ujar Fathan, buka menjawab Faiq malah berdiri keluar dari ruang acara. Dia meninggalkan acara tanpa pamit. Faiq terus berjalan tanpa mengucapkan apapun. Dia terus berjalan mengejar sosok yang dipandangnya sejak dia duduk.
Jeddeerr Jeddeerrr
Terdengar suara langit bergemuruh, seirama dengan gemuruh hati Faiq. Kilatan petir terlihat indah, bagai kilatan rasa rindu Faiq akan sosok yang ditatapnya. Langit yang semula muram, tiba-tiba menangis. Seolah ingin menangis untuk pertemuan dua hati yang terpisah.
"Dua tahun lalu dibawah hujan kamu pergi meninggalkanku. Sekarang dibawah hujan kamu menghindar dariku. Bukankah langit ingin mengatakan, dia menangis saat kamu meninggalkanku. Masih kurang lamakah dua tahun kamu pergi? Apa aku harus menunggumu lagi? Aku siap menunggumu, tapi setidaknya temui aku. Tersenyumlah, meski sekali. Agar aku merasa, kamu masih Davina yang sama. Davina Nur Latifah yang namanya terpahat dihatiku!" ujar Faiq lirih, sembari memayungi Davina. Faiq berdiri di bawah guyuran hujan. Faiq merasakan air hujan menyentuh tubuhnya. Dingin sikap Davina, lebih dingin dari air hujan. Davina diam mematung, saat dia mendengar suara Faiq. Dia segera keluar dari ruang acara saat melihat Faiq memperhatikannya. Tanpa banyak bicara Davina berjalan menuju mobilnya. Davina menerjang hujan, demi menghindar dari Faiq.
"Jika memang senyum itu bukan lagi untukku. Aku akan menerimanya. Ambillah payung ini, aku tahu tubuhmu renta terhadap air hujan. Maaf sudah mengganggu waktumu!" ujar Faiq, dia memberikan payung pada Davina. Tanpa menoleh Davina menerima payung yang diberikan Faiq.
"Terima kasih!" sahut Davina.
"Seharusnya aku yang berterima kasih. Aku bisa melihat dirimu tepat di hari ulang tahunku. Hadirmu hadiah paling indah, terima kasih gadis berhijabku!" ujar Faiq lirih.
"Maaf, aku belum bisa menemuimu. Banyak yang berubah dariku. Aku bukan Davina yang sama. Kamu jauh lebih sempurna, cintamu terlalu sempurna untuk gadis sederhana sepertiku! Selamat ulang tahun imam yang kuimpikan, maafkan aku telah menyakitimu. Sesakit yang kamu rasakan, sesakit itu pula hatiku saat ini. Kamu mampu bertahan tanpa aku, selamanya kamu akan mampu tanpa diriku! Cintaku tak sempurna tanpa dirimu. Tapi kamu sempurna tanpa diriku!" batin Davina pilu.
__ADS_1