KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Jangan Ragukan Cintaku...


__ADS_3

"Sayang, kenapa belum tidur? Kamu menungguku!" ujar Faiq lirih, Davina diam mengacuhkan pertanyaan Faiq. Davina tetap diam seakan dia tidak melihat Faiq ada di depannya. Jangankan menyahuti, menolehpun tidak seakan Faiq tak pernah menyapanya.


Davina sibuk dengan buku yang sedang dibacanya. Dia duduk bersandar di atas tempat tidur. Faiq mendekat pada Davina. Dengan manja Faiq meletakkan kepalanya di pangkuan Davina. Sekilas Faiq melihat raut wajah masam Davina. Entah apa yang sedang dipikirkan Davina? Faiq sendiri tidak mengerti. Semua masih baik-baik saja tadi, tapi entah kenapa sekarang semuanya berubah?


Faiq menghadap ke arah perut rata Davina. menciumnya lembut, berharap Davina merasa geli dan akhirnya tersenyum ke arahnya. Namun dugaan Faiq meleset. Davina tetap mengacuhkan Faiq. Meski sejujurnya Davina merasa geli. Ketika Faiq menyusup ke dalam hijabnya. Mencium lembut perutnya yang rata. Faiq akan sangat manja dan sedikit agresif. Bila Davina dalam mode cemberut dan mengacuhkannya. Davina terus menahan tawa, agar Faiq bisa merasakan kemarahannya.


"Sayang, kamu marah karena aku bertemu Zahra. Masih ragukah kamu, sehingga kamu harus cemburu!" ujar Faiq lirih, dia menenggelamkan wajahnya dalam perut Davina. Hanya diam yang terlihat dari Davina. Tak ada suara sekadar menyanggah perkataan Faiq. Diam Davina seolah membenarkan perkataan Faiq.


Faiq memeluk erat tubuh Davina. Sebenarnya Davina mengetahui pertemuan Faiq dengan Zahra. Sebab Faiq selalu mengatakan, dimana dan dengan siapa Faiq bertemu? Faiq selalu menghubungi Davina. Sekadar untuk mengatakan semua itu. Meski sejujurnya Davina tidak pernah berharap Faiq melakukan semua itu. Sepenuhnya Davina percaya pada Faiq, tapi terkadang rasa percaya akan membuat seseorang waspada.


Faiq sengaja berbohong di depan Fathan. Agar Fathan menyadari kesalahannya saat bertemu dengan Zahra. Kedekatan Fathan dan Zahra sudah sangat dekat. Rasa nyaman Fathan jelas terlihat saat bersama Zahra. Fathan seolah menemukan teman yang sepemikiran. Sebab itu tawa dan canda Fathan, bak sayatan pisau dihati Annisa.


Zahra seakan mampu membuat Fathan mencurahkan isi hatinya. Keduanya saling bicara sampai lupa akan tatapan orang di sekitarnya. Jika mereka tidak tahu, mungkin akan berpikir Fathan dan Zahra sepasang kekasih atau bahkan suami istri.


"Lantas aku harus bahagia melihat suamiku bertemu wanita lain. Jika kak Faiq bisa menyalahkan kak Fathan. Kenapa aku tidak bisa menyalahkanmu? Saat bertemu Zahra tanpa diriku. Bukankah sangat adil, bila kalian sama-sama bersalah. Sebab kalian telah bertemu dengan Zahra tanpa kami istri kalian!" ujar Davina kesal, Faiq tersenyum melihat cemburu Davina.


Faiq sangat paham sifat Davina. Meski dia cemburu, Davina tidak akan terlalu marah. Sebab Davina percaya pada Faiq. Sejak ada janji dengan Davina. Saat itu pula Faiq mengatakan pada Davina. Tidak ada niat Faiq bertemu dengan Zahra tanpa diketahui Davina.


Meski cemburu Davina bukan yang pertama kali. Namun dia merasa bahagia setiap kali merasakan amarah Davina yang dipenuhi rasa cinta. Cemburu Davina menjadi saat paling indah. Sebab saat itu Faiq merasakan cinta yang sangat dalam dari Davina. Dengan alasan yang sama Faiq selalu menganggap cemburu Davina sebagai bahan bercandaan.


"Sayang, bukankah aku sudah izin padamu untuk bertemu Zahra. Saat itu aku mengajakmu ikut dalam pertemuan. Bukannya setuju, kamu malah memilih menjaga si kecil. Sedangkan aku dan kak Annisa pergi bertemu Zahra. Lantas dimana letak kesalahanku!" ujar Faiq menggoda Davina. Seketika Davina menoleh ke arah Faiq. Dia menatap tajam Faiq yang sedang tersenyum.

__ADS_1


Faiq seakan merasa benar dengan segala alasannya. Bahkan Faiq tidak berpikir, jika Davina akan terluka melihat pertemuan itu. Faiq terus membela diri, dengan alasan Faiq sudah mengatakan dengan jelas pada Davina. Faiq merasa pertemuaannya dengan Davina bukan bentuk perselingkuhan. Sebab Faiq melakukannya terang-terangan.


Faiq terus mengelak, bukan karena takut disalahkan. Dia ingin melihat raut wajah kesal Davina. Kecemburuaan Davina bagai warna yang membuat pernikahannya terasa indah. Kehambaran hubungan Fathan dan Annisa terjadi hanya, karena komunikasi yang kurang. Annisa dan Fathan seakan tak memiliki waktu, untuk saling mengenal. Keduanya merasa hubungan mereka baik-baik saja. Padahal kehambaran awal keretakan sebuah hubungan.


Sikap Fathan yang selalu merasa takut salah. Berbanding terbalik dengan sikap diam Annisa yang seolah mandiri meski dalam hati berharap perhatiaan. Sebenarnya bukan Annisa yang terlalu dewasa, tapi cara pandang keduanya yang terlanjur berpusat pada perbedaan usia.


Annisa merasa usianya yang terlalu tua. Akan membuat Fathan malu mengakuinya sebagai seorang istri. Sebaliknya kedewasaan dan kesederhanaan Annisa. Terkadang membuat Fathan takut bila mengenalkannya pada dunia bisnis yang digelutinya. Kesalahpahaman yang tersimpan rapat dan ingin Faiq ungkap agar tidak terlalu berlarut. Faiq mulai resah melihat jarak yang terus ada. Tanpa terasa jarak itu semakin dalam. Baik Fathan dan Annisa merasa nyaman dengan jarak yang tak terlihat.


Faiq mendongak menatap wajah Davina yang terlihat kesal. Davina merasa Faiq sengaja memancing rasa cemburunya. Sejak dulu hanya Zahra wanita yang membuat Davina cemburu. Kesempurnaan secara fisik dan kepintaran. Membuat Davina merasa rendah diri. Sebab itu Davina akan sangat kesal bila mendengar nama Zahra disebut. Faiq semakin menikmati kecemburuan Davina. Raut wajah cemberut Davina menggoda iman Faiq. Kecantikan yang hanya bisa dilihat oleh Faiq. Kecantikan yang terdapat dalam kesederhanaan seorang istri.


Lalu tanpa aba-aba, Faiq menarik hijab Davina. Mendekatkan wajah Davina pada wajahnya. Dengan lembut Faiq mencium kening Davina. Sontak Davina meronta dan memaksa melepaskan cengkraman Faiq. Dalam hati Davina merasa bahagia, menerima perlakuan hangat Faiq. Sikap manja dan hangat yang tidak akan pernah terlihat di luar. Kehangatan yang hanya bisa dirasakan Davina ketika berdua dengan Davina.


Faiq bangun dari tidurnya, duduk di samping Davina. Faiq menarik tubuh Davina, mendekap hangat tubuh wanita yang sangat dicintainya. Faiq menyandarkan kepala Davina ke dalam dada bidangnya. Lalu mengecup puncak kepala Davina yang tertutup hijab. Faiq mendekap hangat Davina. Berharap kehangatan yang Faiq berikan mampu membuat Davina tenang dan hangat. Faiq ingin mengatakan pada Davina. Bahwa hanya dia satu-satunya wanita yang ada dalam hatinya. Tidak ada wanita lain, apalagi Zahra yang sejak dulu tidak pernah bisa memasuki hati Faiq.


"Sayang, cemburumu ibarat candu bagiku. Cemburu dan marahlah bila melihatku bersama wanita lain. Semua itu hakmu, aku milikmu seutuhnya dan tidak ada yang berhak merebutnya darimu. Cintaku sepenuhnya kuserahkan padamu. Tidak ada wanita lain yang mampu membuat cintaku berpindah. Hari ini aku masih bisa mengingat janji ini. Kelak bila janji ini terlupa olehku. Jangan pergi meninggalkanku, tapi ingatkan diriku akan berharganya dirimu!" tutur Faiq, Davina mengangguk pelan. Davina merasa nyaman berada dalam pelukan Faiq. Ketenangan yang ada hanya saat Faiq mendekap tubuhnya erat.


Dia merasakan kehangatan yang diberikan Faiq. Kebahagian Davina terasa lengkap, ketika pengertian Faiq selalu ada untuk dirinya. Faiq selalu mampu membuat Davina merasa berharga. Bukan hanya dengan rayuan kata yang terangkai indah. Namun sikap Faiq yang selalu menempatkan Davina di atas segala hal sangat jelas terlihat. Faiq selalu mampu membuat Davina yakin. Jika hanya dirinya wanita yang sempurna dimata Faiq.


"Kak Faiq, terkadang aku takut. Kebahagian ini hanya mimpi yang kelak akan menghilang saat aku terbangun. Pengertianmu akan kelemahanku, semakin membuatku takut kehilanganmu. Sebagai seorang wanita aku beruntung mendapatkan cintamu. Ketika banyak wanita menghiba cintamu. Sebagai seorang istri aku merasa rendah. Sebab aku belum mampu memberikanmu kebahagian. Aku belum bisa menghadirkan tawa seorang anak diantara kita. Sebagai pelengkap dalam pernikahan kita. Sebagai seorang ibu, aku mungkin belum pantas melahirkan seorang anak. Sehingga Allah SWT belum menitipkan anugrah terbesarnya padaku!" ujar Davina lirih, seketika Faiq menarik tubuh Davina menjauh dari dekapannya.


Faiq menangkup wajah Davina, Faiq menatap lekat kedua bola mata Davina. Lalu dengan tegas Faiq menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan perkataan Davina. Faiq seolah kecewa mendengar perkataan Davina. Faiq tidak pernah peduli akan pendapat orang lain. Namun Faiq akan sangat peduli, bila Davina sendiri yang mengatakannya. Sekali Davina merasa ragu akan dirinya. Selamanya Davina akan merasa ragu akan kelebihannya.

__ADS_1


Faiq masih mengingat, depresi yang pernah dialami Davina. Terluka dan rasa takut kehilangan. Membuat Davina menyerah akan ketetapan-NYA. Sejak Faiq mengetahui kenyataan itu. Faiq seolah trauma akan terjadi hal yang sama untuk kesekian kalinya.


"Sayang, kapan aku meminta sebuah janji darimu? Pernahkah kamu mendengar, sekali saja aku mengeluh akan dirimu? Adakah syarat yang aku ajukan sebelum kita menikah!" ujar Faiq emosi dan tegas. Faiq harus tegas pada Davina, agar Davina melihat kesungguhan Faiq dan tak lagi meragukan cinta Faiq padanya.


Davina menggeleng lemah, dia melihat raut wajah Faiq yang penuh amarah. Sebuah hal yang wajar, ketika selalu mendengar keraguan yang sama. Hanya karena rasa rendah diri yang diyakini Davina. Amarah Faiq layaknya jawaban atas sikap lemah dan tak percaya Davina pada cinta mereka. Davina mulai menyadari, betapa Faiq sangat menyayangi dan menghargainya sebagai seorang istri. Cinta tulus Faiq sudah teruji oleh waktu. Faiq tak pernah ragu akan cintanya pada Davina. Sehingga tak pernah ada wanita lain yang mampu menggantikan Davina.


"Sayang, aku bukan laki-laki yang terlalu sempurna. Sehingga aku pantas merendahkanmu. Kebahagian bukan hanya diukur dengan hadirnya tawa seorang anak dalam pernikahan kita. Kita hanya manusia biasa yang tak berhak menghakimi. Kesempurnaan hanya milik-NYA. Lantas hak mana yang membuatku pantas menuntut padamu. Berkali-kali bukan hanya satu kali aku mengatakannya padamu. Aku menikah denganmu, bukan dengan syarat lahirnya seorang pewaris!" ujar Faiq tegas, Davina menunduk lemah. Terdengar suara isak tangis Davina. Faiq menarik tubuh Davina ke dalam pelukannya. Faiq mencoba menenangkan Davina yang terkejut mendengar bentakannya.


"Lantas kenapa kak Faiq mengacuhkanku beberapa hari ini? Kak Faiq menghindar, setiap kali aku mengingkan bersama dengamu. Kak Faiq selalu mencari alasan, untuk tidak menyentuhku. Aku merasa tak pantas untuk dimiliki. Kak Faiq mulai merasa bosan denganku!" ujar Davina, sontak Faiq mengangkat dagu Davina. Faiq menutup bibir Davina dengan bibirnya.


Satu kecupan hangat mendarat sempurna di bibir Davina. Kecupan yang tak lagi biasa, tapi penuh dengan hasrat dan cinta. Ciuman panas Faiq menutup bibir Davina serapat mungkin. Berharap tak ada lagi keraguan dan pemikiran yang aneh dari bibir Davina. Lama keduanya larut dalam kecupan hangat yang tak bisa diartikan lagi. Air mata bahagia Davina menetes, membasahi pipinya. Keraguan akan cinta Faiq yang memudar telah musnah dalam sekejap. Faiq mengusap air mata Davina dengan bibirnya. Faiq menyatukan keningnya dengan Davina. Napas keduanya memburu, hasrat bersatu mengusai pikiran mereka. Memaksa untuk menyatu dalam keintiman yang halal dan suci.


"Sayang, jangan pernah meragukan cintaku. Hatiku sakit mendengarnya, ketika kamu menganggap aku mulai melupakanmu. Marahlah atau maki aku, selama itu bisa membuatmu lega. Tapi jangan pernah pertanyakan seberapa besar cintaku padamu. Takkan pernah aku mencari kenyamanan dalam hubungan yang lain. Hanya bersamamu nyaman dan bahagiaku tercipta. Aku mengacuhkanmu bukan karena aku tidak menginginkanmu. Hasratku bisa melukaimu dan calon bayi kita. Rahimmu terlalu lemah bila terlalu sering melakukan hubungan intim!" ujar Faiq lirih, Davina mengangkat wajahnya. Davina terkejut mendengar perkataan Faiq.


"Maksud kak Faiq apa? Mungkinkah aku hamil! Kenapa kak Faiq menyembuyikannya dariku?" ujar Davina terkejut, Faiq mengangguk lemah. Sontak air mata Davina menetes tanpa henti. Marah dan bahagia menyatu dalam tangisnya. Davina marah ketika mengetahui Faiq menyimpan rahasia sebesar ini. Sebaliknya dia juga bahagia. Ketika mendengar bahwa ada janin yang tumbuh dalam rahimnya.


Faiq sengaja menutupi fakta kehamilan Davina. Bukan dia tidak bahagia, tapi kehamilan Davina termasuk dalam kehamilan yang rentan. Apalagi di usia yang masih sangat mudah. Faiq tidak ingin melihat kekecewaan Davina bila kelak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Faiq lebih memilih menahan hasratnya bersatu dengan Davina. Agar dia tidak menyakiti Davina dan bayinya. Namun sikap Faiq malah membuat Davina merasa tersisih. Sebagai seorang dokter, Faiq bisa melihat tanda-tanda kehamilan dalam diri Davina. Meski Davina belum merasakan apapun.


"Sayang, aku tidak bermaksud menyembuyikannya darimu. Kehamilanmu terlalu beresiko dan rentan keguguran. Aku tidak ingin melihatmu semakin kecewa. Ketika hal paling buruk terjadi. Alasan inilah yang membuatku menjauh darimu. Aku tidak ingin membahayakan dirimu dan janin dalam rahimmu. Harapan terbesar yang selalu kamu nanti. Akan segera hadir diantara kita. Percayalah Allah SWT memberikan ujian sebatas kemampuan hamba-NYA. Ketika seorang hamba ikhlas menerima ujian-NYA. Maka akan ada jawaban yang terbaik dari ujian itu. Sebab Allah SWT memberikan yang terbaik bukan yang dibutuhkan, untuk hamba-NYA yang bertaat. Agar kita selalu mengingat arti kata syukur, entah dalam ujian dan kebahagian!" tutur Faiq, Davina mengangguk mengerti.


"Jagalah amanah yang Allah SWT titipkan. Namun jangan pernah mengeluh atau mengutuk. Jika kelak Allah SWT mengambilnya kembali. Yakinlah semua sudah tertulis dengan seadil-adilnya. Dengan atau tanpa seorang anak, aku akan selalu bersamamu. Menggandeng tanganmu menuju jannah-NYA!" ujar Faiq, Davina mengangguk pelan.

__ADS_1


__ADS_2