
"Dokter Faiq, apa kabar? Lama kita tidak bertemu!" sapa Zahra lirih, Faiq menoleh ke arah Zahra. Terlihat zahra datang bersama dengan ayahnya. Kondisi ayah Zahra sempat drop beberapa hari terakhir. Rumah sakit di kota Zahra tidak sanggup merawat beliau. Sehingga Zahra membawa ayahnya ke rumah sakit milik Faiq.
"Zahra, apa kondisi ayahmu memburuk? Kenapa kamu harus antri? Langsung saja masuk IGD!" ujar Faiq cemas, ketika melihat kondisi ayah Zahra yang lemah. Zahra menggeleng lemah, dia sempat datang ke IGD. Namun menurut dokter jaga, kondisi ayah Zahra masih stabil.
"Kenapa kamu menggeleng?" ujar Faiq, Zahra menunduk. Dia tak sanggup menceritakan kejadian di IGD. Zahra tidak ingin terjadi permasalahan yang tidak di inginkan. Bagaimanapun pihak IGD melakukan tanggungjawab sesuai prosedur yang berlaku.
Lama Faiq menunggu jawaban Zahra, tapi hanya kesunyian yang terdengar. Faiq mengenal Zahra, dia bukan pribadi yang akan diam melihat ayahnya kesakitan. Sontak Faiq berjongkok di depan ayah Zahra. Setelah memeriksa nadi ayahnya Zahra. Faiq mulai memeriksa alat-alat vital ayahnya Zahra, masihkah bekerja dengan baik. Lama Faiq memeriksa, lalu dia berdiri.
"Suster, cepat kemari!" teriak Faiq, Zahra terkejut mendengar suara Faiq yang menggelegar. Beberapa perawat berlari menghampiri Faiq, ssmbari membawa ranjang rumah sakit. Annisa kebetulan sedang berada di poli saraf. Poli tempat ayah Zahra menunggu diperiksa. Annisa segera keluar, dia mendengar suara teriakan Faiq. Annisa langsung memeriksa kondisi ayahnya Zahra.
"Dokter Faiq, harus dibawa menuju IGD! Aku akan segera menyusul!" ujar Annisa panik, Faiq mengangguk setuju. Dia pergi dengan suster yang membawa ayahnya Zahra. Sedangkan Zahra hanya bisa menangis melihat Faiq membawa ayahnya. Tanpa Zahra sempat bertanya akan kondisi ayahnya. Entah kenapa tulang belulang Zahra melemah? Dia seakan tak sanggup lagi mengikuti langkah kaki Faiq. Zahra jatuh terduduk di taman tak jauh dari ruang IGD. Dia menyerahkan seluruh perawatan ayahnya pada Faiq.
Setelah Annisa datang ke ruang IGD, dia langsung memeriksa dan melakukan penangan pertama. Kondisi ayahnya Zahra tidak baik-baik saja. Terjadi penyumbatan di saraf otaknya, sehingga kondisi ayahnya Zahra mengalami penurunan. Jika terlambat sedikit saja, ayahnya Zahra akan mengalami koma. Sebab pembuluh darah tak lagi mendapat asupan oksigen yang cukup.
__ADS_1
Ketika Faiq dan Annisa memeriksa ayahnya Zahra. Seluruh dokter di ruang IGD diam menunduk. Mereka takut terkena amarah Faiq, pemimpin sekaligus pemilik rumah sakit ini. Hampir setengah jam lebih Faiq dan Annisa mencoba mengembalikan kesadaran ayahnya Zahra. Setelah semua sedikit stabil, Faiq memerintahkan salah satu suster di IGD menjaga dan melaporkan perkembangan terakhir. Laporan ditunjukkan pada dirinya, bukan dokter lain.
"seluruh dokter jaga IGD, saya tunggu di ruangan saya. Sementara kalian tinggal, panggil dokter dari poli menjaga disini!" ujar Faiq tegas, terlihat beberapa dokter jaga menunduk. Faiq meninggalkan IGD. Setelah dia merasa kondisi ayahnya Zahra mulai stabil. Annisa juga kembali ke poli saraf. Namun ayahnya Zahra masih berada di IGD. Sebab masih harus dipantau kondisinya.
Faiq berjalan menuju ruangannya dengan menahan amarah. Meski dia tidak mendengar langsung dari Zahra. Faiq bisa menebak, jika Zahra sudah datang ke IGD. Namun menurut pihak IGD ayahnya masih dalam kondisi stabil. Setelah sampai di ruangannya, Faiq menggebrak meja. Dia marah pada dirinya sendiri. Hampir saja seseorang telat mendapatkan perawatan, hanya karena prosedur yang mengikat.
"Aku tidak akan menyalahkan kalian. Setiap orang tidak akan selalu benar. adakalanya kita melakukan kesalahan. Aku memanggil kalian, hanya ingin mengatakan. Jangan berpacu pada peraturan yang ada. Sebagai seorang dokter, jangan hanya menggunaka otak dan kepintaran saja. Gunakan hati kalian, agar kalian bisa melihat dan merasakan rasa sakit pasien. Jika tadi kita terlambat menolongnya. Akan ada satu nyawa melayang tanpa pertolongan!" tutur Faiq tegas, dengan menunduk mereka mengangguk mengerti.
...☆☆☆☆☆...
"Minumlah Zahra agar kamu bisa tenang. Percayalah, kak Faiq bisa membantu merawat ayahmu. Semoga tidak terjadi sesuatu pada ayahmu. Sekarang yang paling penting kamu kuat!" ujar Davina lirih, sontak Zahra menoleh. Dia melihat ketulusan Davina padanya. Tak ada amarah atau rasa cemburu yang Davina tunjukkan.
Sejak Faiq membantu Zahra tadi, Davina berada tidak jauh darinya. Davina melihat kecemasan Faiq akan kondisi ayahnya. Bukan cemburu akan perhatian Faiq pada keluarga Zahra. Namun Davina menyadari tanggungjawab Faiq akan menolong orang yang membutuhkan.
__ADS_1
"Davina, kamu ada disini! Maaf aku masih mengganggu dokter Faiq. Sungguh aku tidak bermaksud menyusahkannya. Entah kenapa dokter Faiq datang di saat kondisi ayah memburuk!" ujar Zahra lirih, Davina menggeleng lemah. Dia tidak menyalahkan Zahra atas kecemasan Faiq pada ayahnya. Davina memahami pekerjaan Faiq. Seandainya Faiq bukan seorang dokter. Mungkin Davina akan marah dan cemburu.
"Tenanglah Zahra, sekarang jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak cemburu melihat perhatiannya padamu dan ayahmu. Jika di rumah Faiq suamiku dan milikku seutuhnya. Namun jika di rumah sakit, Faiq tidak lebih dari seorang dokter yang wajib menolong orang yang membutuhkan!" ujar Davina tegas, Zahra menunduk malu. Dia tak menyangka Davina begitu baik. Davina mampu menahan rasa cemburunya. Demi bakti sosial Faiq pada lingkungannya dan emak.
"Maafkan aku yang pernah berlikir dokter Faiq akan berpaling darimu!" ujar Zahra tegas sembari menunduk. Davina menarik tangannya, lalu mengusap punggung tangan Zahra.
"Zahra aku sangat mencintai suamiku. Namun cintaku penuh rasa percaya dan yakin akan janji suci diantara kami berdua! Tidak ada alasan aku meragukan cintanya padaku" ujar Davina tegas.
...☆☆☆☆☆...
..." PERCAYA awal dari semua hubungan. Percaya pada sang pemilik hidup, membuat kita ikhlas menerima apa yang tertulis sebagai jalan hidup kita?. Percaya bahwa rejeki sudah diatur sesuai kebutuhan, niscaya tidak akan timbul rasa iri dihati kita akan rejeki orang lain. Percaya bahwa jodoh itu ada, niscaya kita akan menanti dengan sabar kehadirannya. Percaya bahwa orang tua selalu adil, niscaya kita tidak akan pernah merasa kurang kasih sayang dan merasa iri dengan saudara kita. Percaya bahwa sekali kita dicintai, sang pemilik hati teguh memegang cinta dan janjinya untuk kita. Namun sedikit saja ada keraguan, mampu menghancurkan iman, menghancurkan hubungan persaudaraan dan kekeluargaan. Keraguan mampu menghancurkan hubungan dua kekasih yang jatuh hati, maka dari itu awali semua hubungan dengan kepercayaan. Agar hati kita tenang, tanpa sedikitpun rasa gelisah dan rasa kurang yang kelak menghancurkan."...
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1