KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Teguhnya Cinta


__ADS_3

"Sesilia Anastsya!" teriak Rafa marah, Adrian menahan tangan Rafa agar sedikit merendahkan suaranya. Rafa menghempaskan tangan Adrian kasar. Amarah Rafa sudah tidak bisa dikendalikan. Dia marah dan malu, setelah Hana mengetahui sejauh mana masa lalunya dengan Sesil. Rafa marah pada Sesil yang dengan sengaja ingin menghancurkan pernikahannya.


"Sesiiiilll!" teriak Rafa sekencang-kencangnya. Dia tidak peduli lagi bila keluarga Sesil marah atau mengusirnya.


Rafa sengaja mendatangi rumah Sesil. Dia ingin menyelesaikan semuanya dengan Sesil. Menjelaskan niat Sesil menemui Hana. Menceritakan semua kisah yang pernah terjadi diantara mereka. Rafa geram mengetahui sikap tak masuk akal Sesil.


"Rafa, apa yang kamu lakukan? Jangan bersikap tidak pantas. Kamu tamu, hormati pemilik rumah!" ujar Sabrina, Rafa tercengang melihat Sabrina berada di rumah Sesil.


Adrian mulai gelisah, dia tidak mungkin membiarkan Rafa bertemu Sabrina dalam kondisi seperti ini. Adrian mengajak Rafa pulang, tapi Rafa menolak. Dia ingin mengakhiri semua masa lalu dengan Sesil. Rafa ingin melangkah dalam masa depan tanpa ada bayangan kelam masa lalu.


"Sedang apa kamu di sini? Jangan katakan kamu ikut andil dalam rencana busuk Sesil. Sampai aku tahu kamu ikut terlibat, kamu akan membayar lunas semua rasa sakitku!" ujar Rafa sembari menunjuk wajah Sabrina. Bukan menunduk Sabrina menatap Rafa, seolah dia menantang Rafa.


Hubungan Sabrina dan Gunawan merenggang. Semenjak Gunawan mulai berani mengatur hidup Sabrina. Gunawan ingin menunjukkan pada Sabrina bahwa dia kepala keluarga. Sabrina semakin marah, saat mengetahui Gunawan mengizinkan Rafa mengirim Kiara menuju pondok pesantren.


"Aku sudah tidak takut hancur. Kamu sudah menjauhkan semua orang yang mencintaiku. Sudah sepantasnya kamu merasakan hal yang sama. Kamu membuka aibku, tanpa kamu sadari. Kamu menikahi Hana dengan aib yang tersimpan rapat. Apa salahnya Hana mengetahui kebenarannya?" ujar Sabrina dingin, Rafa menarik tangan Sabrina. Dia meradang mendengar Sabrina mengakui semua rencana busuknya dengan Sesil.


"Kita lihat siapa yang akan hancur? Aku atau kamu dan Sesil. Kepergian Kiara tidak ada sangkut pautnya denganku. Dia pergi untuk menata hati. Kiara tidak ingin anaknya kelak malu mengenalnya, seperti dirinya saat ini!" ujar Rafa sinis, Sabrina mengepalkan tangan. Dia merasa Rafa sedang menyindirnya. Rafa seakan ingin mengatakan, Kiara malu memiliki ibu sepertinya.

__ADS_1


Plaakkk


"Jaga bicaramu, Rafa! Aku memang wanita malam, tapi aku tak pernah menginginkan semua itu. Bukan aku yang merebut papamu, tapi dia yang mengemis cinta dariku. Ibumu saja yang tak bisa mendapatkan cinta papamu! Dia wanita yang baik, sedangkan Gunawan hanya laki-laki haus akan kasih sayang. Jika kamu ingin menyalahkan, salahkan kakekmu yang memaksa papamu menikah dengan pelayan!" ujar Sabrina kesal, Rafa mengangkat tangannya. Rafa sudah bersiap menampar Sabrina. Adrian menahan tangan Rafa, dia tidak ingin Rafa melupakan tujuannya datang kemari.


"Rafa, Hana tidak pernah ingin melihatmu menyakiti seorang wanita. Jangan biarkan putramu malu. Bila dia tahu, ayahnya seorang pengecut yang menyakiti seorang wanita!" ujar Adrian, Rafa menurunkan tangannya. Dengan sekuat tenaga, Rafa menghantam tembok di belakang Sabrina berkali-kali.


Bugh Bugh Bugh


Sabrina menutup mata takut melihat amarah Rafa. Namun ada rasa heran dalam benaknya. Rafa mampu tenang hanya mendengar nama Hana. Rafa yang dulu takkan tenang sebelum semua selesai. Jika tidak Rafa akan pergi menuju club. Sekadar untuk menenangkan diri.


"Seandainya bukan karena permintaan mama. Aku sudah menjadikanmu pembantu di rumahku. Dengan sisa tenaganya dia memintaku menjagamu dan papa. Aku diam selama ini bukan karena aku takut menghancurkanmu. Aku terlalu takut mengkhianati air mata mamaku. Mungkin dia pelayan yang tak berguna. Mendapatkan cinta suaminya saja tak mampu. Mungkin dia seorang wanita yang lemah. Sehingga selalu diam, ketika telinganya mendengar namamu yang selalu disebut papa dalam tidurnya. Mama mungkin perempuan yang bodoh, terus menunggu cinta dari laki-laki brengsek seperti papa. Terus menunggu hingga napas terakhir, dengan menggenggam harapan papa akan datang memeluknya. Namun tanpa kamu sadari, mamaku yang memberikan hidup dan kebahagiannya untukmu. Dia wanita mulia yang teguh mencintai suamimu. Dia yang mengatakan padaku untuk menjadi kakak terbaik untuk putrimu!" tutur Rafa lirih, tak ada lagi suara keras. Hati Rafa terlalu pilu mengingat semua kenangan pahit mamanya.


Semua orang akan tahu hubungan gelap Sabrina dan Gunawan. Terutama Ainun istri yang menemani selama bertahun-tahun. Firasat seorang istri mampu merasakan. Jika suami mereka sudah berubah. Seorang istri akan dengan mudah menyadari. Jika suami sudah tak nyaman bersamanya.


"Itulah ibu yang kubanggakan. Meski hatinya menangis, dia tetap tersenyum hanya untuk menjaga kebahagian keluarga Prawira. Ibuku tak pernah mengeluh, meski jiwa dan tubuhnya lelah menerima perlakuan papa padanya. Diacuhkan dan dicampakkan, menjadi kehidupan sehari-hari ibuku. Sekarang kamu sadar, hidupmu hari ini semua hasil belas kasihan ibuku. Jika dulu aku hanya diam melihat ibuku terluka, tapi tidak saat ini. Aku akan menghancurkan siapapun yang berpikir ingin menyakiti Hana? Jangan pernah uji kesabaranku. Janjiku pada mendiang ibuku menjagamu dan papa, tapi tidak untuk urusan yang menyangkut Hana!" ujar Rafa sembari menatap tajam Sabrina. Dengan langkah tegas Rafa meninggalkan Sabrina yang mematung.


Rafa datang kemari bukan untuk bertemu atau berbicara dengan Sabrina. Namun untuk menyelesaikan masalah dengan Sesil

__ADS_1


"Kenapa kamu berteriak memanggilku? Apa kamu merindukanku?" ujar Sesil tanpa merasa bersalah, Rafa menoleh pada Sesil. Dia menarik tubuh Sesil turun dari tangga. Rafa menjatuhkan Sesil di atas sofa ruang tengan. Kedua orang tua Sesil hanya bisa melihat. Mereka takkan mungkin melawan Rafa yang sedang kalut.


"Sekali lagi kamu menemui Hana dan mengatakan yang tidak-tidak. Aku pastikan keluargamu akan jadi gelandangan. Jika kamu ingin merusak pernikahanku. Maka aku akan menghancurkan nama baik keluargamu!" ujar Rafa marah, Rafa memegang bibir Sesil kasar.


"Apa wanita itu mengadu padamu? Mengatakan hal yang tidak-tidak sehingga kamu marah padaku. Dasar wanita munafik!" ujar Sesil kesal, Rafa semakin meradang. Bukan minta maaf, Sesil malah seakan menyalahkan Hana.


"Diam kamu, satu kata Hana tidak mengatakannya padaku. Jadi jangan pernah salahkan Hana. Dia bukan wanita sepertimu, yang tak pernah mengerti arti kehormatan. Hana diam bukan berarti tidak terluka. Semua hanya demi kehormantanku!" ujar Rafa marah, tubuh Sesil bergetar melihat amarah Rafa yang menakutkan. Rafa bukan orang yang mudah dihadapi.


"Adrian, berkasnya mana?" ujar Rafa, Adrian maju beberapa langkah menghampiri Sesil.


Braaakkk


"Berkas yang kamu ajukan, jauh dari kata layak. Jadi balas dendammu salah, jika menemui Hana. Aku bukan pribadi yang mencampuradukkan masalah bisnis dan pribadi. Aku bukan orang yang membawa amarah dalam pekerjaan."


"Sekali lagi aku mendengar kamu mendatangi Hana. Akan kuselesaikan masalah diantara kita saat itu juga. Kamu akan tahu, sejauh apa Rafa Akbar Prawira bisa melindungi istriny!" ujar Rafa lalu pergi meniggalkan Sesil yang menangis.


...☆☆☆☆😊😉...

__ADS_1


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2