
"Tenanglah sayang, semua akan mengetahui yang sebenarnya. Apa yang kamu lakukan bukan untuk menyakiti? Keputusanmu yang terbaik saat itu. Demi Hana dan Salsa, percayalah semua akan baik-baik saja!" uajr Cintya lirih, sembari memeluk Annisa. Dengan anggukan kepala Annisa menyahuti perkataan Cintya. Akhirnya keduanya memutuskan pergi menuju ruang rawat Naufal.
"Jadi kamu Annisa yang selalu dirindukan mama!" ujar Fathan, seketika Annisa dan Cintya menoleh bersama. Mereka melihat seorang pemuda memakai jas kantor. Penampilannya sebelas dua belas dengan Faiq, karena keduanya memiliki ketampanan yang nyaris sempurna. Hanya satu yang membedakan keduanya. Fathan terlihat berwibawa dengan jas kantornya. Faiq terlihat menawan dan gagah dengan jas putih kedokterannya. Annisa menghela napas panjang. Baru saja dia berhadapan dengan Faiq. Kini dia harus berhadapan dengan Fathan. Seorang anak yang sangat melindungi sang mama sejak dia kecil.
"Annisa sebaiknya kita pergi. Percuma kamu berbicara dengannya. Dia pasti berpikir sama tentangmu. Bukankah sudah cukup Faiq menyalahkan Annisa. Apa masih kurang kekesalan Faiq? Sehingga kamu ingin menyalahkannya juga!" ujar Cintya, Fathan diam membisu. Dia menatap lekat wanita bercadar di depannya. Dia tidak bisa mengenali wajah Annisa lagi. Seorang kakak perempuan yang sangat disayangi Hana. Meski bukan terlahir dari rahimnya. Lama Fathan menatap Annisa yang terus menunduk, menyembuyikan wajah dalam diamnya. Annisa tidak ingin menatap Fathan. Akhirhya tak berapa lama Cintya menarik tangan Annisa.
"Apa hanya pergi menghindar kemampuanmu sejak dulu? Haruskah aku berpikir sama seperti Faiq, yang menganggap dirimu tak lebih dari pengecut. Setelah kepergianmu selama bertahun-tahun. Tidak adakah kata yang ingin kamu ucapkan padaku. Aku tidak membutuhkan kata maafmu. Sebab aku tahu benar, kamu tidak bersalah. Aku juga tidak butuh alasan kepergianmu. Karena aku percaya bahwa kamu pergi demi kebaikan semua orang. Aku tidak menyalahkanmu atas luka hati mama. Sehingga aku selalu ada untuk mama. Agar mama tidak pernah mengingatmu. Namun keberadaanku tidak mengubah hati yang sudah terpaut. Mama terlalu menyayangimu, sehingga hanya air mata yang menetes saat mengingatmu!" ujar Fathan tegas, Annisa menunduk lebih dalam. Jika Faiq menyadarkan dirinya dengan amarah. Sebaliknya Fathan menyalahkannya dengan menyentuh hati nuraninya. Lalu Annisa menoleh pada Cintya, dia membisikkan sesuatu. Annisa meminta Cintya pergi, sebab dia ingin berbicara dengan Fathan.
"Kita bicara di kantin. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian!" ujar Annisa lirih, tanpa menunggu persetujuan Fathan. Annisa berjalan menuju kantin rumah sakit. Dia berjalan lwbih dulu, karena tidak mungkin baginya berjalan berdua dengan Fathan yang bukan mukhrimnya. Sedangkan Fathan yang berjalan tepat di belakang Annisa. Mengamati gadis kecil yang dulu pernah ada dalam bayangannya. Perbedaan usia 5 tahunl membuat keduanya tidak terlalu dekat dikala anak-anak.
__ADS_1
Sesampainya di kantin, Annisa memilih duduk di pojok. Suasana kantin sangat ramai, maklum saja sudah waktunya makan siang. Sengaja Annisa memilih berbicara di kantin. Agar lebih leluasa dan nyaman. Annisa tidak mungkin berbicara berdua dengan Fathan dalam suasana yang sepi. Fathan mengikuti langkah kaki Annisa. Dia duduk tepat di depan Annisa. Sekali lagi Fathan mencoba membayangkan wajah dibalik Cadar Annisa.
"Fathan, secara pribadi kita tidak saling mengenal. Aku mengingat saat kepergianku meninggalkan negara ini. Kamu masih sangat kecil. Kini kamu tumbuh menjadi pemuda tampan dan penuh wibawa. Wajahmu sangat mirip dengan om Rafa. Sedangkan Faiq dia lebih mirip dengan mama Hana. Namun meski semua berubah, kamu tetap Fathan yang dulu. Penuh kasih sayang dan hangat pada mama Hana!" ujar Annisa lirih, Fathan mengangguk mengerti perkataan Annisa. Lama keduanya saling diam, suasana canggung mulai terasa. Tak berapa lama, pesanan mereka datang. Keduanya terkejut saat pelayan meletakkan pesanan mereka.
"Dokter Annisa, banyak yang ingin aku tanyakan. Namun semua seakan menghilang saat aku bertemu denganmu. Jika Faiq telah bertanya, kenapa kamu seolah menghindar dari mama? Jika boleh izinkan aku mengetahui jawabannya. Aku merasa selama ini, bukan hanya mama yang tersakiti, tapi dirimu juga terluka. Aku melihat kalung pemberian mama dulu masih ada. Kini berganti menjadi gelang rantai yang indah!" ujar Fathan, Annisa terkejut mendengar perkataan Fathan. Dia bingung kapan Fathan bisa melihat kalung pemberian Hana? Sebab kalung itu tersimpan rapat di balik jas kedokterannya. Fathan menangkap raut wajah bingung. Fathan berpikir kebinguangan Annisa tak lain saat mendengar masalah kalu g dari Hana
"Sejujurnya aku pergi, bukan marah atau menjauh dari mama. Namun tetap disisinya bukan pilihan yang tepat. Sebab akan selalu ada salah paham mengenai kasih sayang diantara kami. Aku menyayangi mama Hana layaknya ibu kandungku. Namun disisi lain, aku harus menyadari jika ada bunda Salsa yang menyayangiku. Tanpa aku sadari, aku melukainya dan membuatnya menangis. Ketika aku terus memanggil nama mama Hana. Aku tidak bisa memilih mama Hana atau bunda Salsa. Sebab aku hanya menganggap mama Hana sebagai ibu kandungku, tapi menganggap bunda Salsa sebagai istri papa. Saat itu aku tidak ingin memilih atau dipilih. Sehingga aku memutuskan pergi, mencari kebahagian hakiki sebagai seorang insan!" tutur Annisa, Fathan mengangguk pelan. Dia berusaha memahami pilihan Annisa saat itu. Namun setelah sekian tahun dia pergi, kenapa Annisa tetap tidak ingin bertemu Hana?
"Jika saat itu anda tidak bisa memilih dan tidak ingin dipilih. Kenapa saat ini anda masih menjauh dari mama? Dia ibu yang terus merindukanmu. Bahkan mama mengenalimu dengan mudah. Dia merasakan suara hangatmu saat itu. Lalu kenapa anda tetap diam membisu? Seakan anda mengatakan tidak pernah mengenalnya. Tidakkah hatimu terketuk, saat seorang ibu menangis merindukan putri kecilnya!" ujar Fathan lirih, Annisa menggeleng lemah. Dia bukan berniat mengacuhkan atau melupakan. Namu rasa malu dan bersalahanya, membuat tubuhnya kaku dan bibirnya membisu. Dalam dirinya hahya tertinggal penyesalan tanpa akhir.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa tiba-tiba mengatakan pada dunia aku kembali? Padahal kepergianku saat itu meninggalkan luka yang cukup dalam. Tidak mungkin aku memeluk mama Hana, di saat aku menyadari. Diriku telah membuatnya menunggu selama bertahun-tahun. Tak terkira air mata yang menetes demi dirku. Lalu pantaskah aku merakan kehangatan kasih sayangnya. Setelah semua rasa sakit dan dingin keputusanku. Aku tidak mungkin sanggup, air mata yang mengalir di kedua mata mama Hana. Air mata yang sama mwngalir di kedua mataku, merindukan mama Hana dan juga kamu!" ujar Annisa lirih, Fathan tersenyum mendengar perkataan Annisa. Kalimat terakhir Annisa seakan melambungkan dirinya jauh ke angkasa.
"Sayang, mama tidak pernah merasa tersakiti dengan kepergianmu. Sebab mama mengetahui pasti, kamu pergi demi kedamaian dan keutuhan keluarga papamu. Air mata mama tidak akan habis, selama itu untuk menangisi kepergianmu. Tubuh mama tidak akan pernah lelah, menunggu dirimu datang memeluk mama. Sekarang izinkan mama memelukmu, meluapkan segala kerinduan yang ada dihati mama. Sudah cukup mama menunggumu datang. Sehingga mama putuskan datang menjemput pelukan yang selalu mama rindukan!" sahut Hana lirih, dia berdiri tepat tak jauh dari Fathan dan Annisa. Hana merentangkan kedua tangannya, seakan ingin meminta Annisa datang memeluknya.
"Mama!" teriak Annisa dengan berurai air mata. Dia menangis dibalik cadarnya. Air mata membasahi cadarnya. Fathan terdiam penuh arti. Dia bahagia sekaligus sedih. Bila Annisa benar-benar menjadi kakaknya. Hana dan Annisa saling berpelukan meluapkan segala kerinduan yang ada.
"Jangan memandangnya tanpa berkedip. Ingat dia bukan mukhrimmu. Jika tidak bisa menahan napsu, maka jadikan dia makmummu!" bisik Faiq yang tiba-tiba sudah ada di samping Fathan. Sontak Fathan menoleh dengan penuh amarah. Seakan ingin mengatakan pada Faiq, dia tidak memilik rasa pada Annisa.
"Aku tahu itu, aku bukan sedang memandangnya. Aku sedang melihat senyum mama yang pernah menghilang!" sahut Fathan berbohong, Faiq hanya mengangguk seakan percaya perkataan Fathan. Padahal jelas terlihat, Fathan mulai jatuh cinta pada Annisa.
__ADS_1