KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Cinta Segitiga


__ADS_3

Vania berjalan menjauh dari Raihan. Vania tidak marah, saat Raihan menuduh dirinya tak menghargai pemberiannya. Vania bukan pribadi yang mudah tersinggung. Vania selalu berpikir logis. Dia menganggap apa yang dipikirkan Raihan? Tak lain imbas dari sikap dingin Vania yang seolah tidak menyukai kehadiran Raihan disampingnya. Vania menganggap sikap yang diambil Raihan itu wajar.


Vania pergi menjauh dari Raihan bukan karena marah. Setelah dia menerima koper dari Raihan, Vania berniat membersihkan diri. Kondisi Vania sangat tidak baik. Tidak hanya berantakan, gamis dan hijab Vania penuh dengan noda darah. Sejak tadi Vania tidak bisa berganti pakaian. Sebab dia tidak memiliki Pakaian ganti. Beruntung Raihan membawakan kopernya. Sehingga Vania bisa membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Vania tidak lupa membawa botol air meneral yang diberikan Raihan.


Tanpa menoleh dan banyak berkata, Vania pergi menjauh menuju kamar mandi. Sedangkan Raihan menatap sendu punggung Vania yang menjauh. Raihan melihat dengan mata kepalanya. Vania membawa serta air minum yang diberikannya. Ada rasa bersalah dihati Raihan. Dia telah menuduh Vania dengan sangat keji. Dia menganggap Vania tidak menghargai pemberiannya. Namun pemikirannya sangat salah. Semua terbantahkan saat Vania mengatakan alasan penolakannya.


"Wanita berhati mulia seperti itu. Kenapa aku mampu menuduhnya sekeji itu? Dia tetap diam meski aku menuduhnya. Bukan amarah yang aku lihat. Namun pengertian yang membuatku terkejut. Bahwa semua pemikiranku bukan hanya menghina sikapnya. Namun aku meragukan keteguhan imannya. Dia wanita yang memiliki iman. Bahkan diatas diriku yang jauh dari iman. Lalu bagaimana aku bisa berpikir menjadi imam dunia akhiratnya? Wanita dengan segala kelebihannya, tidak mungkin pantas bersanding denganku!" batin Raihan lirih.


"Achmad Raihan Maulana!" sapa seorang dokter muda. Sontak Raihan menoleh, dia melihat sahabat sekaligus kerabat jauhnya berdiri tak jauh darinya. Dokter muda yang kebetulan pemilik rumah sakit ini. Laki-laki yang kebetulan juga sedang memperhatikan Vania. Saat dia melihat Raihan, dengan rasa ragu dia menyapa Raihan.


Mereka berdua saling berpelukan, lalu keduanya berjalan menuju kantin rumah sakit. Keakraban diantara keduanya sudah terjalin sejak kecil. Meski berbeda mereka saling menghormati. Setibanya di kantin keduanya mencari tempat duduk yang paling nyaman. Setelah memesan kopi, keduanya saling mengobrol melepas kerinduan. Sudah lama keduanya tidak saling bertemu. Kesibukan Raihan dan jadwal rapat yang sangat padat membuat keduanya tidak pernah bisa bertemu. Kehangatan dan persaudaraan jelas terasa saat keduanya saling berbicara.


Raihan pribadi yang tegas dan mandiri. Dia sangat tidak suka diatur oleh siapapun? Termasuk kedua orang tuanya. Namun hanya pada dokter muda di depannya. Raihan mampu menceritakan seluruh keluh kesahnya. Termasuk rasa sukanya pada Vania yang tiba-tiba hadir. Raihan menceritakan seluruh isi hatinya. Tak ada yang ditutupi Raihan dari sang dokter muda. Lama keduanya larut dalam percakapan yang panjang dan hangat. Tak ada sekat atau rasa canggung, hanya kehangatan yang jelas terasa.

__ADS_1


Tak berapa lama, keduanya terperangah akan sosok wanita bercadar yang baru saja masuk ke dalam kantin. Penampilannya jauh dari kata seksi, tapi dia terlihat sangat anggun sebagai seorang wanita. Gamis dan hijab panjang membalut sempurna tubuh indahnya. Tak ada sedikitpun terlihat lekuk tubuhnya. Pesona seorang wanita yang semakin sempurna dengan balutan iman dan islam. Wanita yang tak lain Vania Aulia Azzahra. Wanita anggun dengan iman yang menjadi pedoman hidupnya.


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Vania pergi ke mushola rumah sakit. Dia duduk di teras masjid sembari menunggu azan magrib. Tepat setelah azan berkumandang, Vania berbuka dengan air mineral yang diberikan Raihan. Setelah sholat magrib, Vania pergi menuju kantin rumah sakit. Disinilah dia sekarang, di kantin rumah sakit. Tempat dua laki-laki terperangah menatap ke arahnya. Keduanya terpesona akan penampilan Vania. Sekaligus heran melihat Vania berada di kantin rumah sakit.


"Vania Aulia Azzahra!" sapa Steven dokter muda sahabat Raihan. Vania menghentikan langkahnya. Dia melihat ke arah Steven yang duduk tepat di sebelahnya. Tanpa sengaja dia menatap kedua mata indah milik Raihan. Vania terkejut melihat Steven duduk berdua dengan Raihan. Vania tidak menyangka akan bertemu dengan Steven di rumah sakit ini. Sebaliknya Raihan merasa heran, melihat Steven mengenal wanita impiannya. Wanita yang selama seminggu terakhir mengusik hatinya. Raihan cemburu dan kesal melihat cara Steven menyapa Vania. Terlihat sangat akrab, seolah keduanya sudah mengenal sangat lama.


"Steven!" sahut Vania lirih, Steven mengangguk seraya mengedipkan kedua mata indahnya dan mengutas senyum simpul ke arah Vania. Steven berdiri menghampiri Vania. Interaksi yang tidak luput dari tatapan lekat seorang Achmad Raihan Maulana. Seketika tangan Raihan mengepal erat, dia menghantam meja dengan penuh emosi. Meski hantamannya tak mengeluarkan suara. Namun rasa cemburu yang dia rasakan mampu menghancurkan meja. Raihan marah melihat cara pandang Steven pada Vania yang jelas terlihat berbeda. Tatapan yang sama dia berikan Vania. Namun yang berbeda Vania tidak membalas tatapannya, tapi sebaliknya pada Steven. Bukan hanya tatapan yang Vania berikan. Sikap hangat dan penuh keramahan yang Raihan rasakan. Entah kenapa darah Raihan mendidih? Seandainya dia bisa, ingin rasanya Raihan marah dan menghajar Steven.


Kedekatan Steven dan Vania semakin menjadi. Mereka seolah lupa akan keberadaan Raihan. Tak ada lagi jarak yang memisahkan mereka. Meski hubungan keduanya masih dikatakan wajar, tapi bagi Raihan keakraban keduaya mengusik hati dan batin Raihan. Suara tawa keduanya terdengar bagai suara petir yang menyengat tubuh Raihan. Tak dapat lagi dipungkiri, kedekatan keduanya membakar hati Raihan. Seketika Raihan mengambil segelas air. Dia meminumnya tanpa bernapas. Rasa marah membuat dadanya serasa sesak. Raihan seolah tak lagi mampu mengusai hati dan pikirannya. Raihan yang bijaksana, tak lagi ada menyisakan Raihan yang sedang dikuasai amarah.


"Duduklah bersama kami. Setidaknya kita bisa saling bercerita. Seandainya aku tahu kamu ada di kota ini. Aku tidak akan melewatkan kesempatan menjagamu. Faiq tidak menghubungiku, mengatakan dirimu ada di kota ini. Setidaknya aku bisa menemanimu jalan-jalan mengelilingi kota kelahiranku!" ujar Steven, Vania hanya mengangguk seraya tersenyum. Steven menarik kursi tepat di samping Raihan. Vania duduk sedikit menjauh dari Raihan dan Steven. Sedangkan Raihan hanya bisa diam membisu. Menyembuyikan rasa marah yang menguasai dirinya. Sangat tidak mungkin dia marah melihat kedekatan Steven dan Vania. Tidak ada hubungan diantara keduanya. Sungguh dilema yang tidak mudah dipecahkan oleh Raihan.


"Terima kasih atas tawaranmu. Aku datang kemari mendadak. Aku sedang ada urusan yang sangat penting. Jadi aku tidak ingin mengganggu atau diganggu orang lain. Lagipula kapan kamu mengatakan? Jika kamu tinggal di kota ini. Bukankah kamu pergi tanpa banyak berkata. Kamu pergi seolah ingin melupakan kami semua. Jadi tidak salah bila aku tidak menghubungimu!" sahut Vania tegas, Steven tersenyum mendengar perkataan Vania. Dia sudah menduga akan kalah bila berdebat dengan Vania. Kepintaran Vania diatas rata-rata. Sangat sulit menang bila berdebat dengan Vania.

__ADS_1


"Vania, kenalkan dia Raihan sahabat sekaligus kerabatku. Kebetulan kami bertemu di depan IGD. Dia datang demi wanita impiannya. Wanita yang membuatnya lari dari perjodohan. Dia meninggalkan wanita yang dijodohkan dengannya selama bertahun-tahun. Demi wanita yang baru seminggu dia temui!" ujar Steven, Raihan menatap tajam ke arah Steven seolah mengatakan dirinya tidak terima Steven menceritakan kisahnya. Sebaliknya Vania seolah acuh akan cerita tentang Raihan. Dia tidak peduli pada perkataan Steven. Vania pribadi yang acuh dan tidak peduli pada urusan orang lain.


"Aku tidak mungkin menikah dengan wanita yang tidak pernah aku kenal. Apalagi setahu aku dia lahir dan besar di kota kecil. Aku yakin dia hanya wanita kampung yang tidak memiliki pendidikan dan tata krama. Aku menghindar dari perjodohan ini. Bukan hanya demi wanita itu, tapi aku tidak ingin menikah dengan wanita yang hanya akan membuatku malu!" tutur Raihan sinis, seketika Vania dan Steven menoleh ke arah Raihan. Mereka berpikir perkataan Raihan terlalu kasar. Sangat tidak pantas bila dikatakan oleh laki-laki berpendidikan dan sukses seperti Raihan.


"Tuan Raihan yang terhormat. Wanita bukan hanya barang yang pantas atau tidak pantas anda tunjukkan. Nilai seorang wanita jauh lebih mulia dari yang anda pikirkan. Tanpa anda sadari, anda terlahir dari seorang wanita. Dalam rahim seorang wanita anda tumbuh dan hidup. Air ketuban seorang wanita yang melindungi tubuh rentan anda. Agar anda terlahir sempurna, semua demi kesempurnaan fisik yang anda miliki sekarang. Keringat seorang wanita yang membuat anda terlahir. Sehingga hari ini anda bisa berdiri tegak penuh kebanggaan dengan kesuksesan yang anda gapai. Air susu seorang wanita yang memberikan anda kecerdasan dan kekuatan. Bukan demi rasa pujian semata, tapi agar anda bisa melawan dunia yang kejam ini. Darah yang mengalir dalam nadi anda. Tak lain darah yang sama mengalir dalam nadi seorang wanita. Darah yang menjadikan anda kuat tak terkalahkan saat ini. Seorang wanita yang anda panggil dengan sebutan ibu. Jadi sebelum anda menghina seorang wanita. Ingatlah apapun yang ada pada diri anda sekarang. Semua itu diberikan oleh seorang wanita. Satu hal lagi, tidak semua wanita yang terlahir di kota kecil layak disebut kampungan. Aku terlahir di kota kecil jauh dari perkembangan. Aku bangga terlahir di kota itu. Sebab kota yang kecil mengajarkanku cara menghargai orang lain termasuk anda. Lebih baik anda batalkan perjodohan itu, agar tidak ada hati yang terluka. Anda berhak mendapatkan yang lebih baik darinya. Sebaliknya dia layak mendapatkan suami yang bersedia memahami dan menghargai dirinya. Bukan suami yang kelak menganggapnya tak pantas menjadi makmumnya. Suami yang merasa malu akan statusnya, bahkan sebelum pernikahan!" tutur Vania lantang, Raihan seketika terdiam. Dia telah berbuat salah. Raihan membuat Vania marah. Sebenarnya Raihan ingin mengatakan pada Vania. Bahwa dia tertarik pada Vania. Namun perkataan Raihan melewati batas. Sehingga Vania merasa Raihan menghina wanita yang akan dijodohkan dengannya.


"Steven, aku harus ke bandara sekarang. Aku titip pasien kecelakaan yang sore tadi dibawa kemari. Aku sudah membayar semua deposit rumah sakit. Jika terjadi sesuatu, tolong hubungi aku segera. Jika biaya yang aku bayarkan kurang. Nanti tolong hubungi kak Faiq, minta dia membayarnya!" ujar Vania lirih, tanpa menoleh pada Raihan. Vania beranjak meninggalkan Stevan dan Raihan. Dia harus segera pergi ke bandara. Vania tidak sempat berbuka puasa. Hatinya terlanjur terluka dengan perkataan Raihan.


"Dia bukan wanita yang mudah dihadapi. Tapi dia bukan wanita yang jahat. Waktu akan membuatnya baik kembali. Jadi bersabarlah, Vania wanita yang penuh kejutan!" bisik Steven, lalu berdiri mendekat pada Vania.


"Vania aku akan mengantarmu ke bandara!" ujar Steven, Vania menggeleng. Dia mungkin marah pada Raihan. Namun Vania tidak akan pernah merasa nyaman, bila bersama Stevan yang bukan mukhirmnya. Vania akan pergi menuju bandara sendiri. Dia tidak ingin merepotkan siapapun?


"Terima kasih, aku akan berangkat sendiri. Aku sudah memesan taxi. Setelah membayar makananku. Aku akan keluar menunggu taxi pesananku!" ujar Vania ramah, Steven mengangguk pasrah. Dia tidak akan bisa memaksa Vania. Selama dia mengenal Vania, tidak akan pernah mudah membuat pikiran Vania berubah.

__ADS_1


"Steven, biarkan Raihan yang mengantar Vania. Itu sudah menjadi tanggungjawabnya!" ujar wanita paruh baya. Dia berdiri tepat di belakang Vania. Raihan merasa mengenal suara yang menyapa Steven. Sontak dia berdiri mendekat, dia menghampiri wanita itu.


"Bunda!" sapa Raihan dan Vania bersama.


__ADS_2