KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Mama Tersenyumlah


__ADS_3

"Sayang, kalian sudah pulang? Kita makan malam bersama!" sapa Rafa pada Hana yang baru saja pulang. Hana diam seolah tak mendengar perkataan Rafa. Dengan langkah cepat Hana melewati Rafa. Bahkan sejak di dalam mobil. Sedikitpun Hana tidak bicara. Dia diam membisu, Seakan dia sendirian tanpa anak-anaknya. Hana seolah tidak peduli akan keberadaan mereka. Hana tidak melihat kecemasan mereka. Setibanya di rumah, Hana malah mengabaikan perkataan Rafa. Semua orang hanya bisa diam membisu. Mereka mengenal Hana dengan baik. Tidak akan Hana bicara, sampai hatinya merasa tenang. Sikap yang sama setiap kali Hana sedang ada masalah. Dengan isyarat mata Rafa bertanya dan mendapatkan jawaban atas sikap acuh Hana.


"Siapa yang bertemu dengan mama? Sampai mama marah seperti itu. Sudah lama papa tidak melihat amarah mama. Apa yang terjadi tadi? Apa kalian tidak bisa menjaga mama? Kalian mengetahui benar wataknya, dia akan diam seperti ini!" ujar Rafa kesal pada kedua putranya. Rafa selalu menjaga perasaan Hana. Dia tidak pernah ingin melihat Hana terluka atau tersisih. Rafa selalu berusaha membuat Hana bahagia dengan sikap sederhananya. Sampai saat ini Rafa tidak pernah ingin melihat amarah Hana. Sebab itu Rafa sangat kesal saat melihat amarah Hana. Setelah bertahun-tahun Hana tenang. Hari ini dia melihat ketenangannya diusik. Rafa sangat marah, dia tidak akan tinggal diam.


Sedangkan Fathan dan Faiq hanya bisa diam menunduk. Mereka menyadari kesalahannya telah gagal menjaga Hana. Sejak dulu mereka selalu menjauhkan Hana dari hal yang membuat Hana tersakiti. Hari ini mereka membuat Hana mendengar lagi hinaan yang telah menghilang sejak bertahun-tahun yang lalu.


"Oma Sabrina bertemu mama di pusat perbelanjaan tadi. Dia sempat berbicara dengan mama. Kami datang terlambat, entah apa saja yang dikatakan oma Sabrina pada mama? Sejak di mobil mama sudah bersikap seperti itu. Mama marah dan tidak peduli pada kami. Maafkan kami yang gagal menjaga mama. Sehingga mama bertemu dengan oma Sabrina!" sahut Fathan, Faiq hanya diam mematung menatap punggung Hana yang menghilang. Annisa dan Davina terdiam, dalam hati mereka bahagia berada dalam keluarga yang saling peduli satu dengan yang lainnya. Kehangatan dan perhatian suami dan papa mertua mereka pada Hana. Menyadarkan mereka betapa seorang wanita sangat dimuliakan dalam keluarga ini. Mereka berdua melihat, rasa sayang yang begitu besar pada Hana. Sebuah rasa tulus pada wanita yang telah melahirkan dan menjadi alasan kebahagiaan mereka.


"Sabrina, ternyata dia ada di kota ini. Apa dia datanh hanya ingin membuat Hana menangis. Mungkin dia lupa, apa yang pernah aku lakukan padanya? Sekarang dia kembali hanya ingin memancing amarahku. Akan aku buat dia menyadari kesalahannya. Akan kubuat dia membayar lunas rasa sakit Hana. Sekarang papa menemui mama dulu. Kalian makan malam saja, papa akan makan dengan mama nanti!" ujar Rafa, lalu berjalan menghampiri Hana yang ada di kamar. Fathan Dan Faiq mengangguk pelan. Meski sebenarnya mereka tidak akan berselera untuk makan malam. Tidak mungkin mereka makan malam saat hati dan pikirannya cemas akan Hana. Mereka sangat menyayangi Hana. Sehingga sangat tidak mungkin mereka akan makan tanpa Hana di meja makan. Setelah Rafa pergi, mereka semua kompak masuk ke dalam kamar masing-masing. Annisa dan Davina juga ikut merasa sedih. Mendengar perkataan Hana yang membela mereka. Membuat mereka semakin menyayangi Hana. Bukan sebagai ibu mertua, melainkan ibu kandung sendiri.

__ADS_1


Rafa berjalan menuju kamarnya, dia melihat Hana berdiri mematung menatap keluar jendela. Jika dulu Hana akan berdiri di balkon kamar. Sekarang Hana hanya bisa berdiri di pinggir jendela kamarnya. Menatap keluar kamar yang menghadap taman rumahnya. Sekadar ingin melupakan sejenak kegelisahan hatinya. Hana tetap sama, dia akan diam mencari ketenangan bila sedang mencemaskan sesuatu.


Rafa menutup pintu perlahan. Dia tidak ingin membuat Hana menyadari kedatangannya. Rafa menghampiri Hana yang berdiri di samping jendela. Saat Rafa berdiri tepat di belakang Hana. Dengan sigap Rafa memeluk Hana dari belakang. Tangan kekarnya melingkar di atas perut Hana yang tak lagi ramping. Rafa menyandarkan kepalanya pada pundak Hana. Rafa mencium tengkuk Hana lembut. Sedikitpun Hana tidak bergeming menerima perlakuan Rafa. Entah kenapa Rafa semakin tertantang melakukan hal-hal manis? Demi sebuah senyum di wajah Hana.


"Sayang, kamu tidak perlu menganggap keberadaan Sabrina. Meski aku tidak mengetahui, apa saja perkataan Sabrina? Namun aku pastikan, apa yang dia katakan sangat tidak berarti? Jadi jangan pernah hilangkan senyum di wajahmu hanya, karena dia wanita yang tidak berarti. Kamu senyum dan kebahagianku. Aku tidak akan pernah rela bila senyum manismu hilang. Jika perlu akan kubuat perhitungan dengan wanita itu. Mungkin dia lupa, jika Rafa Akbar Prawira bisa khilaf bila menyangkut dirimu. Aku bisa melakukan apapun? Pada siapapun?" ujar Rafa tegas, Hana menggelengkan kepala. Dia melepas pelukan Rafa, Hana tetap diam menatap langit malam di luar jendela.


"Sayang!" panggil Rafa lirih, sekuat tenaga Rafa menarik tubuh Hana. Dia menenggelamkan wajah Hana dalam pelukannya. Rafa mendekap Hana dengan erat. Kehangatan Rafa menelisik jauh ke dalam relung hati Hana. Kehangatan yang seakan ingin menunjukkan. Hana satu-satunya wanita yang meluluhkan hati pewaris keluarga Prawira. Dia satu-satunya pemilik hidup Rafa Akbar Prawira. Bukan dengan harta atau cinta yang memaksa. Namun dengan ketulusan yang tidak pernah dimiliki wanita yang mengenal Rafa.


Rafa mengangkat dagu Hana, sontak tatapan keduanya bertemu. Rafa menatap wajah yang telah menemaninya selama ini. Kedua mata indah yang menghiasi hari-harinya. Rafa gelisah memikirkan setiap kata yang terucap dari bibir Hana. Sesuatu yang tidak benar bagi Rafa, tapi seolah kenyataan dan kebenaran bagi Hana. Selama hidup bersama Hana. Sedikitpun Rafa tidak pernah merendahkan atau menghina Hana. Bagi Rafa Hana segalanya dan harta termahal yang dia miliki. Dalam hidupnya Hana bukan hanya seorang istri. Dia teman yang selalu menjadi sandaran dalam penatnya hidup Rafa. Dia semangat yang selalu ada dikala lemahnya Rafa. Hana bukan hanya tulang rusuk yang melindungi dan dilindungi Rafa. Hana bagai tulang punggung bagi hidup Rafa yang lemah dan miskin akan iman.

__ADS_1


"Sayang, kamu terlalu kejam bila berkata seperti itu tentang diriku. Semenjak mengenalmu, aku tidak pernah bangga akan nama besar keluarga Prawira. Aku menjauh dari nama dan kehormatan Prawira. Namun darah yang mengalir dalam diriku. Seolah tidak pernah mengijinkan aku menjauh. Aku tidak akan sanggup berpikir kamu merasa menyesal telah mencintaiku. Sebab hadirmu membuat hidupku jauh lebih berarti. Kita sudah bersama bukan untuk satu atau dua tahun. Kita bersama selama puluhan tahun. Kamu tahu benar, aku meninggalkan nama Prawira demi dirimu. Apa yang aku miliki? Sepenuhnya karena kerja kerasmu. Jika memang nama Prawira membuatmu begitu marah dan terhina. Aku mohon maafkan diriku. Akan aku lakukan apapun agar kamu memaafkan diriku. Tapi tidak dengan meninggalkan diriku. Aku bisa tiada tanpa cintamu dan buah hati kita!" ujar Rafa, lalu mencium kening Hana lembut. Kemudian memeluk erat tubuh Hana. Menenggelamkan wajah Hana dalam dekapannya. Rasa taku Rafa akan kehilangan Hana tidak akan pernah menjauh dari hidupnya. Selamanya dia akan merasa takut. Sebab Hana segalanya bagi Rafa.


"Mama, kami tidak pernah menyesal terlahir dari rahimmu. Kami tidak akan malu, meski harus terhina hanya kerena status mama. Selama ini kami bangga menjadi putramu. Kami akan melawan dunia yang terus membedakan papa dan mama. Jangan pernah takut kami akan terluka, karena pandangan orang lain. Bagi kami pendapat dan penilaianmu yang terbaik. Mama tidak perlu merasa kami akan jatuh hanya dengan hinaan itu. Mungkin hari ini mama yang membela istriku. Kelak aku yang akan melindungi mama dan istriku. Menjadi wanita biasa di depan orang lain. Jauh lebih terhormat, asalkan kita bisa menjaga kehormatan pasangan kita. Percuma bila istimewa di depan orang lain. Namun terhina dalam ikatan suci. Mama tidak akan pernah sendiri. Kak Fathan dan aku akan selalu bersamamu. Harta yang menghina mama, akan menjadi harta yang tak bernilai. Sebab mama jauh lebih berharga. Kami siap kehilangan harta, kami tidak takut hidup sederhana. Selama senyum mama tetap menghiasi wajah teduhmu. Kami tidak akan sakit meski terhina, karena kuat kami ada dalam pelukan dan dekapan mama. Jangan pernah menyerah dan kalah. Kami membutuhkan mama, bukan pendapat mereka!" tutur Faiq, dia masuk tanpa mengetuk pintu. Faiq langsung memeluk Rafa dan Hana yang sedang berpelukan. Mungkin Faiq sudah dewasa, tapi di depan orang tuanya dia masih sangat kecil.


"Mama tidak hanya memiliki Faiq. Aku juga akan ada di samping mama. Tangan kami yang akan menopang tubuh lemah kalian. Jangan pernah khawatir akan rasa sakit kami. Sebab sakit kami hanya ada saat mama terluka. Kami akan mampu melawan kerasnya hidup. Dengan doa dan dukungan mama. Sukses kami hanya untukmu, bukan pendapat orang lain!" sahut Fathan, yang kemudian ikut memeluk Hana. Annisa dan Davina berdiri mematung di depan pintu. Kehangatan keluarga yang mereka lihat. Mengajarkan bahwa keluarga akan terus bersatu dan saling menjaga. Bukan saling menjauh dan mengacuhkan.


"Terima kasih!" ujar Hana, Fathan dan Faiq mengangguk pelan. Hana menjadi wanita paling bahagia. Dia mendapatkan pelukan dari ketiga laki-laki tampan yang sangat mencintainya.


"Tersenyumlah mama!" ujar Fathan dan Faiq bersamaan, sontak Hana tersenyum sesaat setelah mendengar perkataan mereka.

__ADS_1


"Hana, ini alasan kenapa aku takut kehilanganmu? Putra kita tidak akan menjauh darimu, tapi mereka akan sanggup pergi dariku. Jika aku kehilangan dirimu, tentu aku akan kehilangan putraku. Jangan pernah takut melawan dunia. Aku ada bersamamu selamanya. Meski kelak tubuhku tak lagi mampu menopangmu. Namun ada putra kita yang akan menopangmu. Mereka yang akan ada disampingmu, menjaga dan melindungimu. Kelak tubuhku akan lemah dan tua, tapi cintaku padamu tetap teguh dan muda. Tidak akan ada cinta lain dalam hidupku. Hadirmu jawaban setiap doa dan harapanku!" batin Rafa pilu.


__ADS_2