KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Gerimis malam...


__ADS_3

Langit malam yang semula cerah, nampak mulai mendung. Sinar bulan sembunyi, tergantikan langit merah. Dingin malam semakin terasa menusuk ke tulang. Kala angin berhembus membawa uap pertanda sang hujan ingin menyapa. Suara gemuruh petir yang bersahutan. Menambah syahdu malam, memecah sunyi yang tercipta. Tak terdengar suara merdu hewan malam. Melodi indah kala malam cerah, menghilang bersamaan dengan rintik gerimis yang mulai menyapa.


Tepat di lantai teratas sebuah rumah megah. Faiq berdiri dengan tangan bertumpu pada pagar besi balkon. Rumah yang terletak di salah satu kawasan elit. Rumah megah nan mewah dengan lantai 4. Berdiri kokoh di atas luas tanah yang tak tanggung-tanggung. Bangunan yang seolah mampu menggapai langit tinggi. Meski sampai kapanpun takkan pernah semua itu nyata. Faiq menengadah menatap langit yang tak bersahabat. Merasakan tetes demi tetes air yang menyentuh lembut wajahnya. Gerimis yang seakan mengerti air matanya.


Faiq diam merasakan dingin malam. Tulangnya begitu kuat, seakan dingin tak mampu membeku tubuhnya. Faiq tak lagi peduli kondisi sekitar, benaknya penuh dengan beban yang tak mampu dikatakannya. Pendapat Sesil tentang Hana, mengusik ketenangan hati Faiq. Meninggalkan gelisah yang nyata tak mudah terlupa.


Huuufff


Suara hembusan napas Faiq, lemah tapi serasa mengalahkan suara angin yang berhembus. Faiq merasa kalut dengan pendapat Sesil yang nyata menghina harga diri Hana. Mungkin Faiq diam mendengar hinaan Sesil. Namun hati dan jiwanya menjerit. Setiap kata penuh keraguan yang terucap, bagai sebilah pisau tajam yang menyayat kulitnya tipis.


"Kenapa harus mama yang terhina? Bagaimana mungkin papa bisa setuju dengan pendapat gila tante Sesil? Mama tak pantas menerima hinaan dan keraguan akan cintanya. Masih kurangkah pengorbanan mama. Sampai papa merasa benar akan pendapat tante Sesil. Mama bukan sombong, dia terlalu takut mendengar keraguan akan ketulusan cintanya. Papa, betapa kejamnya hatimu? Dengan mudahnya papa percaya dengan perkataan orang lain. Seseorang yang selalu menghina dan merendahkan harga diri mama. Papa, jika mama bersedia. Akan kuberikan kehormatan yang seharusnya dia miliki. Bukan dengan harta yang papa miliki, tapi dengan peluh keringatku. Setiap tetes keringatku, setiap sen penghasilanku. Hanya kupersembahkan demi kebahagian mama. Namun penolakan mama, karena statusku yang tak sendiri. Nyata membuatku sadar, jika mama akan selalu peduli pada bahagia orang lain. Mama tak egois, hatinya terlalu tulus untuk diragukan!" Batin Faiq sendu.


"Aku sudah menduga, kak Faiq akan berada disini!" Sapa Davina ramah, sembari berdiri tepat di samping Faiq. Davina menatap sendu laki-laki yang sangat dicintainya.


Sejak sore Davina mencoba menghubungi Faiq. Namun tak satupun panggilan atau pesan yang ditanggapi oleh Faiq. Kecemasan mulai menghantui Davina. Kala sore beranjak pergi, tergantikan malam yang sunyi dan sepi. Dengan perasaan campur aduk. Davina mencari keberadaan Faiq. Davina mulai kalut, saat malam semakin larut dan rintik gerimis mulai menyapa. Davina menghubungi Fathan dan Vania, mencari tahu keberadaan Faiq. Namun tak ada satupun yang mengetahui, dimana Faiq berada saat ini?


Davina mencoba mencari Faiq di tempat-tempat yang mungkin dikunjungi. Davina menghubungi beberapa teman dekat. Meski Davina tahu, tidak banyak teman yang dimiliki Faiq. Sikap dingin dan tertutup Faiq. Cenderung membuatnya jauh dari teman. Fathan kakak kandungnya, tak mampu memahami Faiq. Hanya Hana dan Davina yang menjadi sandaran, tempat paling nyaman Faiq.


"Dimana lagi aku harus berdiri? Ketika semua tempat yang kudatangi tak menerima mama. Bagaimana mungkin aku merasa nyaman? Kala telingaku mendengar mereka meragukan ketulusan mama. Aku sembunyi bukan karena takut, aku tak ingin melihat rasa kecewa mama. Seandainya mama melihat amarahku!" Sahut Faiq dingin, tanpa menoleh pada Davina.


Faiq terus menengadah menatap langit mendung. Rintik gerimis terasa nyaman menyentuh hatinya yang terasa panas. Faiq berdiri di lantai 4 rumah megahnya. Menantang dunia yang tak pernah ingin menerima Hana. Wanita yang paling berharga di hati dan hidup Faiq.


"Kak Faiq, kenapa harus sembunyi? Jika bisa, tutup mulut mereka dengan kelebihanmu. Buat mereka menyadari, mama Hana bukan wanita sembarangan. Dekapan dan belaian tangannya, nyata telah membesarkan laki-laki hebat seperti dirimu. Bungkam dunia ini, katakan pada mereka. Sehina-hinanya mama, dia menyimpan ketulusan cinta yang tak tergadai oleh harta. Wanita yang tak butuh status atau hidup mewah. Hanya bersama imam pilihannya, harapan yang ada dalam hidupnya!" Tutur Davina lirih, sembari menggenggam erat tangan Faiq.


Davina menyentuh tangan dingin Faiq. Lama Faiq berdiri di bawah rintikan gerimis. Nyata membuat tubuh Faiq kedinginan. Davina merasakan luka yang dipendam Faiq. Sikap yang selalu nampak, kala hati Faiq terusik. Sikap tenang yang menyimpan luka begitu dalam. Amarah yang tak pernah bisa dikeluarkan Faiq. Demi sebuah janji yang pernah Faiq ucapkan pada Hana. Janji yang tak pernah ingin Faiq langgar.


"Jika mama mengizinkan, akan kulawan semua orang. Kutantang dunia yang merasa mama tak pantas menginjaknya. Lingkungan yang seolah menerima mama, tapi nyata menghina mama dengan kejam!" Sahut Faiq dingin, Davina menatap lekat Faiq. Amarah yang jelas terdengar dari nada bicara Faiq. Sedikit banyak membuat Davina takut.


"Apa maksud kak Faiq? Kenapa mama menolak semua itu? Bukankah lebih baik mama menjelaskan alasan di balik sikapnya. Aku percaya, mama tidak seburuk yang mereka sangkakan. Mama punya alasan yang sangat kuat, alasan yang sangat kakak pahami!"


"Mama, kamu ingin mendengar mama menjelaskan. Sampai kapanpun dia tidak akan bicara? Mama akan terus diam, menerima pandangan sebelah mata orang-orang yang merendahkannya. Mama akan terus tersenyum menahan tatapan sinis rekan-rekan papa. Saat malam itu, seandainya mama tidak mencegahku. Mungkin sudah kututup mulut tante Sesil. Akan kuhentikan tawa papa bersama rekannya. Agar papa sadar, mama tersisih di dunianya yang glamauor!" Sahut Faiq dingin, tangan kuatnya mengepal menghantam besi pagar pembatas balkon.


Tak ada rasa sakit yang dia rasakan. Tangan Faiq seolah mati rasa. Hanya sakit mengingat hinaan Sesil pada Hana. Ingatan yang bermain di benak Faiq. Menyayat hati Faiq tipis dan perih. Davina tertegun menatap amarah Faiq. Dengan perlahan Davina menarik tangan Faiq yang mengepal penuh amarah. Davina meletakkan tangan Faiq di atas perutnya.

__ADS_1


Davina menggerakkan tangan Faiq, mengusap lembut perutnya yang semakin membuncit. Dengan penuh ketenangan dan cinta, Davina menuntun tangan Faiq. Membelai lembut sang buah hati yang tumbuh di rahimnya. Buah cintanya dengan Faiq. Anugrah terbesar dalam pernikahan mereka.


"Kak Faiq, rasakan setiap gerak putramu. Dia seolah merasakan amarahmu. Jika demi mama amarahmu ada, maka demi putra kita. Aku mohon tenanglah, dia butuh belaianmu bukan amarahmu. Aku percaya, mama kuat dengan segala hinaan ini. Sebab mama tidak pernah sendiri. Ada kakak dan kak Fathan yang selalu menjadi benteng mama!" Tutur Davina lirih, Faiq terdiam membisu.


Gerakan-gerakan kecil sang buah hati. Nyata membuat hati Faiq dingin dan tenang. Amarah yang menguasai hatinya, sedikit demi sedikit mereda. Faiq mencoba berdamai dengan kemarahan yang takkan pernah akan habisnya. Faiq benar-benar kalah oleh amarah sesaatnya.


"Apa yang dikatakan Davina benar? Mama tidak akan sendiri. Mama selalu kuat, kalian akan menjadi perisai terkuat mama. Demi kalian mama bertahan di samping papa. Kelak kalian yang akan menguatkan mama!"


"Mama!" Sapa Faiq, seraya menoleh ke arah Hana. Davina mengedipkan mata, isyarat memang Hana yang tengah menghampirinya.


Sejak Davina menanyakan keberadaan Faiq pada Fathan. Hana merasa ada yang salah dengan Faiq. Hana memahami sifat Faiq saat ada masalah. Faiq tidak akan pernah berlari memeluknya. Sekadar menceritakan gelisah hatinya, tapi Faiq akan menjauh dan menyendiri. Mencari tempat yang tak mudah diketahui orang lain. Hanya untuk melampiaskan amarah yang ada dihatinya. Bukan Faiq takut akan citra yang buruk, tapi pesan Hana agar selalu tenang menghadapi semua masalah. Nyata membuat Faiq memilih sendiri, agar tak mengecewakan Hana.


"Kenapa harus marah Faiq? Apa yang dikatakan Sesil tak semuanya salah? Mama memang angkuh dan egois. Mama tak pernah ingin mengenal dunia papa. Mama merasa nyaman dengan hidup sederhana. Padahal mama bukan Hana yang dulu. Ada nama Prawira yang melekat di belakang nama mama!" Ujar Hana, Faiq menggeleng lemah.


"Mama tidak seperti itu!" Sahut Faiq lirih, Hana mengangguk pelan seraya tersenyum.


"Jika Faiq percaya mama tidak seperti itu. Kenapa kamu marah dan peduli dengan pendapat itu? Bukan mereka hidup mama, tapi kamu dan Fathan. Jadi tidak penting mereka menilai mama. Pendapatmu yang jauh lebih penting!"


"Mama, tante Sesil keterlaluan!" Ujar Faiq, Hana menggeleng lemah.


Seketika suasana tiba-tiba sunyi. Perkataan Hana nyata membuat Faiq terdiam. Hana mengangguk mengerti arti diam Faiq. Pemikiran yang seolah membuat Faiq marah. Tak lebih dari amarah yang menutupi rasa kecewanya pada Hana.


"Kenapa Faiq diam?"


"Kamu malu dengan sikap mama?"


"Kamu marah pada keputusan mama?"


"Kamu kecewa dengan penolakan mama?"


"Kamu mulai meragukan mama!" Cecar Hana saat melihat Faiq terdiam. Menunduk semakin dalam yang kini dilakukan Faiq.


Tak ada anggukan atau gelengan kepala yang mengiyakan atau menolak pemikiran Hana. Faiq bimbang dengan hati dan pikirannya saat ini. Faiq merasa kacau dengan semua yang terjadi. Disisi lain Faiq merasa marah mendengar hinaan pada Hana. Namun di sisi satunya, Faiq kecewa dengan sikap Hana yang terus diam menerima semua itu. Sikap Hana yang selalu menolak hidup mewah. Meski bukan dengan harta Rafa. Melainkan hasil jerih payah Faiq. Putra yang tak ingin melihat Hana terhina.

__ADS_1


"Faiq, jawab pertanyaan mama. Jangan hanya menunduk, mama butuh kejujuran!"


"Mama!" Sahut Faiq lirih, seolah itu sudah cukup menjawab pertanyaan Hana.


Hana berjalan mendekat ke arah Faiq. Tepat di depan Faiq. Hana mengangkat dagunya pelan. Dengan penuh kelembutan, Hana menangkup wajah Faiq. Menatap lekat wajah yang sangat mirip dengan Rafa. Melihat kedekatan ibu dan anak membuat Davina tersentuh. Dengan perlahan, Davina berjalan mundur. Namun langkahnya terhenti, ketika dia merasakan ada tangan yang menghentikan langkahnya.


"Kamu tidak perlu menjauh!"


"Kamu butuh waktu berdua dengan mama!" Sahut Davina, Faiq menggeleng lemah. Tangannya menahan langkah kecil Davina. Meminta Davina tetap berada di sampingnya.


"Kamu bukan orang lain, separuh hatiku milik mama dan separuhnya milikmu. Jika kamu berpikir aku akan melupakanmu saat bersama mama. Kamu salah, karena dalam hembusan napasku. Hanya ada dua nama, kamu dan mama. Kalian bagian terpenting dalam hidupku. Sedih dan bahagiaku hanya ingin kurasakan bersama kalian berdua!" Ujar Faiq seraya menahan tangan Davina.


"Faiq, alasan yang sama kenapa mama menolak semua kemewahan darimu?"


"Maksud mama?" Ujar Faiq tak mengerti.


"Rumah megah ini, rumah yang sengaja kamu persiapkan untuk mama. Rumah yang kamu pikir bisa membuat semua orang menutup mulut. Rumah yang nyata hanya untuk Davina dan putra kalian. Mama sengaja menolak semua ini, karena rumah papa tempat paling nyaman untuk mama!"


"Tapi papa meragukan mama!"


"Tak pernah papa meragukan mama. Jika memang papa meragukan mama. Tidak mungkin dia bertahan menerima sikap dingin mama. Rasa benci yang belum sepenuhhya hilang. Papa tanpa sengaja mengiyakan perkataan Sesil, karena papa mulai merindukan mama. Layaknya Davina yang mulai merindukan kasih sayangmu. Perhatian yang selalu kamu bagi dengan mama. Meski kamu mengatakan, mama dan Davina ada dihatimu dengan porsi yang sama!" Ujar Hana, Faiq menunduk seraya terus menggenggam tangan Davina.


"Faiq, belajarlah membaca keadaan. Davina butuh kamu!"


"Mama tidak butuh Faiq? Apa karena ada kak Fathan?" Sahut Faiq dingin.


"Mama butuh kalian berdua, tapi percayalah. Mama baik-baik saja, mama bahagia dengan cinta papa. Tidak perlu mama membuktikan apapun pada siapapun? Karena bukan mereka yang membuat mama bahagia!"


"Tapi mereka harus melihat kelebihan mama!"


"Kalau begitu buat mereka melihat kelebihan mama. Kelebihan yang mampu mendidik kedua putranya menjadi orang-orang hebat!" Ujar Hana pada Faiq.


"Kami sayang mama!" Teriak Fathan lantang.

__ADS_1


"Mama juga!" Sahut Hana sembari menerima pelukan Fathan.


__ADS_2