
"Sayang!" ujar Rafa lirih, Hana diam tak menyahuti panggilan Rafa. Terlihat Hana meringkuk di dalam selimut. Hari sudah sangat siang, entah kenapa Hana tidak ingin turun dari tempat tidurnya? Kejadian semalam membuat Hana menyesal dan malu. Hana merasa dirinya gagal memahami kedua putranya. Hana merasa tidak pantas menjadi seorang ibu. Dia telah menyakiti hati kedua putranya dengan harapan yang dia paksa menjadi kenyataan Hana. Keegoisannya membuat kedua putra terluka. Hana seakan malu menatap dunia. Dia menjadi ibu yang kalah oleh napsunya tanpa peduli akan luka hati sang putra.
Meski sejak awal perjodohan Fathan dan Davina hanya harapan tanpa tuntutan. Hana tidak akan memaksa, seandainya Fathan menolak. Namun kenyataannya Fathan mengiyakan, sehingga Hana merasa harapannya akan terwujud. Namun Hana lupa, dia tidak hanya memiliki satu putra. Faiq putranya yang lain berhak menjadi menantu Diana. Hana seakan tak mampu lagi bertemu kedua putranya. Keduanya terluka karena harapan Hana puluhan tahun yang lalu. Harapan yang menjadi alasan kepergian salah satu putranya. Sebuah keinginan Hana yang melupakan salah satu putranya. Hana sangat marah pada dirinya, karena telah bersikap tidak adil pada kedua putranya.
Rafa mendekat pada Hana, dia duduk di atas tempat tidur tepat di belakang Hana. Rafa menatap punggung sang istri yang tersimpan rapat dibalik selimut. Rafa mengerti perasaan istrinya saat ini. Dia memahami akan penyesalan Hana. Hidup bertahun-tahun bersama Hana. Membuat Rafa mulai mengerti cara berpikir Hana. Rafa mengetahui cara menenangkan hati Hana yang gelisah. Rafa tidak pernah ingin melihat Hana terpuruk atau terluka. Air mata Hana mampu menghancurkam hidup Rafa dan kedua putranya.
"Tidak ada gunanya kamu menyalahkan diri sendiri. Apa yang terjadi? Sudah terjadi, tidak bisa kita mengubahnya. Namun semua yang terjadi bisa kita perbaiki, bukan malah sibuk menyesal tanpa melakukan apapun!" ujar Rafa lirih, Hana tetap dia tak bergeming. Rafa membalik tubuh Hana. Meletakkan kepala Hana dalam pangkuannya. Rafa membelai lembut kepala Hana yang tertutup hijab. Dengan penuh kehangatan Rafa menenangkan hati Hana yang kacau. Rafa mencoba memberikan pengertian pada Hana. Apapun keputusan Hana sejatinya untuk kebahagian dan kebaikan keluarganya. Namun keputusan yang diambil tanpa perundingan. Terkadang menimbulkan salah paham. Layaknya saat ini, tanpa sadar Hana telah melukai hati kedua putranya.
"Sayang, sejak awal aku sudah mengetahui rasa cinta Faiq pada Davina. Sengaja aku tetap diam, aku tidak mencegah perjodohan antara Fathan dan Davina. Dengan harapan, Faiq akan berjuang demi rasanya pada Davina. Atau Fathan yang berani menolak permintaanmu. Namun aku lupa akan satu hal. Kami bertiga begitu mencintai dan menyayangimu. Aku lupa jika Fathan dan Faiq akan mengorbankan segalanya demi kebahagianmu. Mungkin kami terlahir sebagai seorang laki-laki yang kuat dan pemberani. Namun kami akan selalu lemah dan takut bila menyangkut tentang dirimu. Kamu seseorang yang membuat hidupku dan kedua putra kita berarti. Jadi tidak ada alasan kami mengecewakanmu. Seandainya kamu ingin menyalahkan dirimu, salahkan kasih sayangmu yang membuat kami tak berdaya. Kami tidak pernah ingin melihatmu kecawa. Air matamu seakan pisau yang mampu menyayat hati kami. Sekarang tidak ada gunanya kamu mengurung diri, menyalahkan dirimu atas perjodohan ini. Sikapmu hanya akan membuat kedua putramu terluka. Bangkitlah dan perbaiki semua, perjodohan ini akan tetap terjadi. Namun bukan Fathan dan Davina, melainkan Faiq dan Davina!" ujar Rafa lirih, Hana mendongak menatap wajah Rafa. Dengan raut wajah sedih Hana mencoba memahami arah pembicaraan Rafa. Dia sangat menyesal telah membuat keputusan yang tergesa-gesa. Keputusan yang akhirnya menyakiti hati kedua putranya. Dia tidak lagi peduli akan harapannya. Seandainya Hana mampu membalikkan keadaan. Hana akan menolak permintaan Davina.
__ADS_1
"Tapi Fathan bagaimana? Apa Faiq tidak akan tersinggung? Aku menjodohkan Davina dengannya, setelah mencoba menjodohkannya dengan Fathan. Apa yang akan Faiq pikirkan tentangku? Dia pasti menganggap aku bersikap tidak adil. Aku lebih mementingkan Fathan daripada dirinya!" tutur Hana lirih, Rafa menggeleng tidak setuju akan perkataan Hana. Fathan membungkuk mencium kening Hana. Kemesraan yang tetap terjaga diusia yang tidak lagi muda. Rasa cinta Rafa pada Hana semakin besar dan tidak akan termakan oleh waktu. Hanya Hana wanita yang mampu membuat Rafa bertekuk lutut. Sampai kapanpun senyum Hana yang menjadi semangat Rafa? Meski kini Rafa dan Hana telah menjadi orang tua bagi dua putra yang hebat.
"Sayang, Fathan dan Faiq menyayangimu dengan cara mereka sendiri. Baik Fathan dan Faiq tidak pernah ingin melihatmu kecewa. Air matamu tidak akan pernah menetes selama mereka masih hidup. Keduanya sangat mengerti, kasih sayangmu tidak akan pernah terbagi. Faiq menyadari alasan dibalik keputusanmu menjodohkan Fathan dan Davina. Bukan berniat meremehkan Faiq, tapi kamu tidak ingin membuat Faiq terikat dalam sebuah pernikahan. Kamu berpikir Fathan akan siap terikat dengan Davina, karena secara pemikiran Fathan dewasa dan bijak. Berbeda dengan Faiq yang seakan masih ingin terus mencari jati diri. Sehingga akan sangat sulit bagi Faiq bila terikat dengan orang lain!" ujar Rafa menerangkan, Hana mengangguk pelan. Dia tidak menyangka, jika Rafa memahami alasan dibalik perjodohan Fathan dan Davina. Namun Hana melupakan satu hal. Dalam cinta tidak dibutuhkan kedewasaan. Sebab dewasa akan ada bila hati telah terpaut. Masalah yang ada akan mengajari seseorang untuk bersikap dewasa.
"Baiklah, aku akan mencoba bicara dengan Fathan. Akankah dia bersedia melepas Davina demi Faiq. Aku tidak ingin salah dalam mengambil keputusan. Aku akan bicara dengan Faiq, apakah dia bersedia menjadi imam Davina? Setelah berbicara dengan mereka. Aku akan mengambil keputusan. Sekarang harapanku tidak lagi penting. Hanya kebahagian Fathan dan Faiq yang aku perjuangkan!" ujar Hana, Rafa mengangguk penuh kelegaan. Lalu mengangkat tubuh Hana. Memeluknya erat seolah tak ingin melepasnya. Rafa sangat menyayangi Hana. Air mata Hana mampu menghancurkan Rafa dan kedua putranya. Tidak ada alasan bahagia tiga laki-laki hebat, kecuali senyum dari wajah Hana Khairunnisa.
"Mama, Fathan ingin bicara dengan mama dan papa. Bolehkah Fathan masuk!" ujar Fathan lirih, Hana menoleh lalu mengangguk. Rafa dan Hana sedikit terkejut saat melihat Fathan berdiri di depan kamar mereka. Dengan langkah perlahan Fathan berjalan masuk ke dalam kamar Hana. Dia melihat kedua orang tuanya yang saling menguatkan. Bukan saling menyalahkan, tapi mengingatkan sebagai pasangan yang abadi. Sejatinya setiap manusia tidak akan luput dari salah.
"Katakanlah Fathan, mama akan mendengarkannya. Jangan sembuyikan apapun dari mama. Buat mama memahami pemikiranmu, agar mama tidak menjadi orang tua yang egois dan kejam!" ujar Hana, Fathan mengangguk ragu. Dia duduk di depan Hana dan Rafa. Fathan terus menunduk, sedikitpun tidak berani menatap wajah Hana. Seakan yang ingin dikatakannya, sesuatu yang salah. Fathan seolah takut akan penolakan Hana. Menolak rasanya untuk Annisa. Sebuah rasa tulus yang seolah salah bagi sebagian orang. Cinta yang tumbuh diatas perbedaan. Namun cinta suci yang tidak akan kalah oleh penolakan. Selama rasa itu suci dan di dasari dengan iman dan demi kesempurnaan iman.
__ADS_1
"Mama, maafkan Fathan jika kali ini harus mengecewakan mama. Marahlah padaku, tapi jangan pernah membenciku. Seandainya aku telah membuatmu kecewa. Sesungguhnya aku tidak yakin bisa menjadi imam dunia akhirat Davina. Sebab dalam hatiku, ada seseorang yang telah mengisinya. Mama sesungguhnya, aku dan Davina hanyalah teman. Sejak dulu Davina hanya mencintai Faiq. Meski Faiq selalu dingin dan menyakiti hatinya. Davina telah mantap memberikan hatinya pada Faiq. Begitu juga aku, yang telah mantap memberikan sepenuh hatiku pada orang lain!" tutur Fathan lirih, Hana terdiam membisu. Dia sangat menyesal telah menyakiti hati kedua putranya. Keegoisannya hampir saja membuat banyak hati yang hancur dan terluka. Bukan hanya tiga hati yang Hana hancurkan. Hana menghancurkan empat hati sekaligus dengan keputusannya.
"Siapa dia?" ujar Hana singkat, Fathan semakin menunduk. Dia sangat takut bila Hana mengetahui. Jika Fathan mencintai wanita lain dan bukan Davina. Fathan ragu mengatakan siapa wanita yang ada dalam hatinya. Namun tetap diam bukan solusi yang tepat. Semua harus dikatakan dengan segala resiko yang ada.
"Annisa Maulida Zahro, wanita bercadar yang seakan membuat duniaku berantakan. Dia yang berhati lembut dan penuh pengertian. Aku ingin menjadikannya makmum dalam suka dan dukaku. Pelengkap kesempurnaan imanku. Wanita yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anakku!" ujar Fathan lirih, lalu mencium lembut punggung tangan Hana. Rafa dan Hana membisu saat mendengar sosok yang diimpikan Fathan. Hana melepaskan genggaman tangan Fathan. Dia berjalan menjauh dari Fathan dan Rafa. Hana bimbang memutuskan menerima atau menolak Annisa. Sebab bagaimanapun hubungan Annisa dan Fathan sekarang saudara sepupu. Hana memikirkan perkataan orang. Jika boleh jujur Hana bahagia bila Annisa benar menjadi menantunya. Namun bagaimanapun, Annisa itu saudara sepupu meski tidak sedarah dengan Fathan. Hana tidak bisa memberikan keputusan dengan cepat. Banyak pertimbangan yang harus Hana pikirkan. Terutama pemikiran Naufal dan Salsa kedua orang tua Annisa.
"Fathan, kenapa harus Annisa? Tidak adakah wanita lain yang mampu mengisi kekosongan hatimu. Annisa bukan orang lain, dia sepupumu. Dia putri sambung tante Salsa. Lalu bagaimana mama akan menjelaskan pada tante Salsa? Jika kamu menginginkan Annisa menjadi bagian hidupmu. Apalagi kamu belum mengenal siapa Annisa? Wajahnya belum terlihat olehmu, lalu atas dasar apa kamu mencintainya?" ujar Hana lirih, Fathan berdiri menghampiri Hana. Dia berdiri tepat di belakang Hana. Rafa melihat usaha Fathan menaklukkan hati Hana. Rafa selalu berharap, kedua putranya berani berjuang demi kebahagian mereka. Rafa tidak akan menentang pada siapa hati kedua putranya terpaut? Selama wanita yang mereka cintai mampu memberikan kebahagian sebagai seorang pendamping. Rafa akan selalu mendukung setiap langkah kedua putranya.
"Fathan mencintai Annisa karena iman. Fathan ingin bersama Annisa karena islam. Fathan ingin mendampingi Annisa dalam kesederhanaan bukan kemewahan yang semu. Fathan tidak perlu wajah cantiknya. Sebab kecantikan hati Annisa telah membuatku terpesona. Aku seakan takut dia menjadi milik orang lain. Mama, izinkan aku menikah dengan Annisa. Restui cinta kami, agar langkahku terasa ringan!" ujar Fathan, dia bersimpuh di depan Hana. Fathan berlutut memohon demi keridhoan sang mama. Keridhoan yang akan menjadi ridho Allah SWT. Fathan bersimpuh bukan untuk memaksa. Namun Fathan ingin menunjukkan kesungguhan hatinya pada Hana. Bahwa Annisa wanita yang mampu membuatnya tersenyum bahagia. Alasan semangat hidup Fathan. Sosok yang ingin Fathan lindungi.
__ADS_1
"Izinkan Fathan menemukan tulang rusuk.yang telah lama menghilang. Tulang yang aku percaya hilang hanya untuk menciptakan Annisa. Izinkan aku menikahinya!" tutur Fathan lirih sembari menunduk di depan Hana. Rafa melihat kegigihan sang putra. Namun Rafa tidak akan ikut campur, semua keputusan ada ditangan Hana.