KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Akhiranya...


__ADS_3

Suasana tegang menyelimuti keluarga Rafa. Salsa datang dengan berlinang air mata. Kondisi Naufal terus memburuk. Kecelakaan fatal yang menimpanya, membuat tubuhnya harus bergantung pada alat bantu kesehatan. Sungguh tidak ada yang bisa menolak sebuah musibah. Sekian tahun Naufal menunggu kedatangan putrinya. Namun saat putrinya kembali, malah Naufal tidak bisa memeluknya.


Salsa datang bersama Rey putranya dengan Naufal, adik sambung Annisa. Rey juga seorang dokter muda, tapi dia masih menjadi dokter umum. Usia Rey sedikit dibawah Faiq, sebab Rey dan Davina terlahir di tahun yang sama. Sehingga Davina dan Rey berteman baik sejak di bangku sekolah. Pertemanan yang sempat disalahartikan oleh Faiq. Ketika Rey mencemaskan kondisi Davina malam itu. Annisa tidak ikut pergi ke rumah Hana. Annisa terus memantau kondisi Naufal. Tak ada perubahan yang berarti. Malah kondisi kesadaran Naufal semakin menurun. Sebab itu pagi ini, Salsa datang ke rumah Hana.


Kedatangan Salsa pagi ini untuk menyerahkan kepemimpinan rumah sakit pada Rafa. Sejak awal rumah sakit ini sudah menjadi milik keluarga Prawira. Keluarga Naufal tidak mampu mengembalikan modal yang mereka pinjam. Sehingga mereka harus menggadaikan rumah sakit ini pada Rafa. Namun baik Hana dan Rafa tidak pernah ingin mengambil rumah sakit ini dari Naufal. Maka dari itu, Rafa menyerahkan sepenuhnya kepemimpinan rumah sakit pada Naufal. Namun kondisi Naufal yang semakin menurun. Membuat Salsa harus melepaskan kepemimpinan rumah sakit pada Rafa. Salsa merasa tidak mampu lagi mengendalikan rumah sakit.


Salsa tidak lagi mengurus rumah sakit. Setelah melahirkan Rey, Salsa mudah sakit dan cepat lelah. Sehingga Naufal meminta Salsa untuk tidak bekerja lagi. Semenjak Salsa berhenti mengurus rumah sakit. Sepenuhnya kepememimpinan rumah sakit berada di tangan Naufal. Kini Naufal lemah tak berdaya, lalu siapa yang akan mengambil alih rumah sakit ini? Akhirnya Salsa memutuskan, mengembalikan kembali kepemimpinan rumah sakit. Semua tergantung Rafa pada siapa rumah sakit ini akan diambil alih?


Sstelah perdebatan panjang serta mengingat kondisi Salsa yang tidak mungkin bisa memimpin rumah sakit. Rafa menerima kembali tanggungjawab rumah sakit. Rafa akan menjaga rumah sakit, sampai menemukan pengganti yang tepat. Jadi selama tidak ada yang cocok menjadi pemimpin. Rafa meminta Fathan menjadi direktur sementara yang akan dibantu oleh Rey. Semua setuju dengan keputusan Rafa. Fathan juga setuju untuk memimpin sementara rumah sakit. Semua masalah selesai dengan Fathan mengambil alih rumah sakit.


Salsa kini bisa merasa lega, satu tanggungjawab Naufal sudah diselesaikan. Hana melihat beban berat yang sedang ditanggung sang adik. Hana tidak mampu membantu Salsa. Setiap orang memiliki masalah sendiri-sendiri. Kita tidak akan pernah bisa menolak musibah yang datang tiba-tiba. Kita tidak akan bisa menduganya. Hanya ikhtiar dan doa jalan melewati semua musibah. Selalu percaya jika semua akan baik-baik saja.


"Faiq, sarapan bersama kita. Gantilah pakaianmu dan langsung turun. Mama akan menyiapkan sarapan untukmu!" sapa Hana ramah, Faiq menggeleng sesaat setelah memijat pelipisnya yang sedikig pusing. Hana menghela napas panjang. Faiq berbeda dengan Fathan. Jika fathan tidak akan menolak permintaan Hana, meski Fathan tidak menyukainya. Namun Faiq akan menolak, bila dia tidak sependapat dengan Hana. Meski keduanya berbeda dalam hal bakti pada Hana. Namun soal kasih sayang, keduanya sama-sama menyayangi Hana dengan sepenuh hati.


Tanpa menoleh lagi Faiq berjalan masuk ke dalam kamar. Semalaman Faiq harus terjaga demi merawat para pasien yang membutuhkan bantuannya. Faiq merasa sangat lelah, sehingga dia harus langsung masuk ke kamar. Faiq benar-benar pusing, dia tidak lagi peduli perasaan Hana. Penolakannya sedikit melukai hati Hana.


"Maaf mama, Faiq mengantuk. Nanti saja Faiq sarapan sendiri. Semalam Faiq tidak bisa istirahat. Ada kecelekaan parah, jadi IGD mendadak ramai dalam sekejap!" sahut Faiq, Hana mengangguk lesu. Rafa melihat putra keduanya, memang terlihat Faiq sangat lelah. Pantas Faiq tidak mengiyakan ajakan Hana. Dengan langkah gontai, Faiq berjalan menuju kamarnya. Hana menatap sang putra dengan penuh kesedihan. Terkadang dia merasa kasihan melihat Faiq yang kelelahan merawat pasien-pasiennya. Namun ada rasa bangga saat Faiq bisa membantu sesama tanpa pilih kasih.


"Faiq, setelah istirahat papa ingin bicara denganmu!" ujar Rafa dingin, Faiq menganggguk pelan. Dia berjalan menuju kamarnya, Rafa menggenggam tangan Hana. Seolah mengatakan Faiq memang butuh istirahat. Rafa tidak ingin melihat Hana kecewa. Sebab itu Rafa memberikan pengertian pada Hana dengan sebuah isyarat. Faiq selalu bersikap dingin, sehingga tanpa sadar dia melukai hati orang lain. Sebab itu Rafa selalu berusaha menjadi penengah diantara Hana dan Faiq.

__ADS_1


"Salsa, bagaimana kondisi Naufal sekarang? Ada perubahan atau bagaimana? Jika memang diperlukan, aku akan menghubungi dokter dari luar negeri. Agar bisa membantu Annisa dalam merawat Naufal!" ujar Rafa, Salsa menggeleng seraya menangis. Salsa sudah tidak mampu lagi menceritakan kondisi Naufal. Salsa juga tidak bisa mengatakan, bahwa Faiq menolak merawat Naufal. Salsa tidak ingin Faiq disalahkan atas kondisi Naufal. Rafa pribadi yang bijak. Dia tidak akan membela Faiq, jika memang Faiq bersalah.


"Sebenarnya papa tidak perlu menghubungi dokter dari luar negeri. Cukup papa membujuk Faiq, agar dia bersedia membantu kak Annisa. Maka semua urusan selesai. Entah kenapa Faiq begitu keras kepala menolak untuk merawat om Naufal? Padahal dia memiliki kemampuan untuk merawat om Naufal!" ujar Fathan lirih, Hana dan Rafa langsung menoleh kaget. Mereka tidak percaya bila Faiq akan menolak membantu Annisa, untuk merawat Naufal. Fathan bisa mengetahui, penolakan Faiq karena saat Annisa memohon pada Faiq. Fathan berdiri tidak jauh dari mereka berdua. Bahkan Fathan bisa melihat tatapan berbeda Annisa pada Faiq. Ada rasa khawatir yang diselipi rasa cemburu. Fathan merasa tak berdaya, saat Faiq orang yang bisa membantu Annisa. Sedangkan dirinya hanya bisa melihat.


"Sudahlah kak, tidak perlu dibahas. Faiq menolak pasti dengan pemikiran yang matang. Annisa sudah mengatakan padaku, Faiq memiliki alasan yang sangat kuat. Jadi tidak perlu menyalahkan Faiq!" ujar Salsa lirih, Rafa mengangguk mengerti. Sedangkan Hana diam seribu bahasa. Banyak hal yang sedang dia pikirkan. Termasuk alasan dibalik penolakan Faiq. Mungkin putranya sosok yang dingin, tapi dia bukan pribadi yang acuh pada sesama. Apalagi Naufal bukan orang lain. Dia adik ipar dari kedua orang tuanya. Sungguh Hana tidak menyangka, jika Faiq akan menolak menjadi dokter yang merawat Naufal. Banyak pertanyaan dalam benaknya.


"Fathan, hari ini kamu tidak perlu ke kantor. Pergi ke rumah sakit bersama tante Salsa dan Rey. Kamu temui tante Cintya, koordinasikan masalah rumah sakit dengannya. Setelah itu kamu tanyakan pada Annisa. Jika memang diperlukan dan dia setuju. Kita datangkan dokter terbaik dari luar negeri!" titah Rfa tegas, Fathan mengangguk mantap. Fathan selalu mengikuti keinginan Rafa dan Hana. Dalam hidupnya dia tidak ingin mengecewakan Rafa dan Hana. Akhirnya setelah sarapan, Fathan pergi ke rumah sakit bersama Salsa dan juga Rey.


...☆☆☆☆☆...


RUMAH SAKIT


Setelah selesai rapat dengan Cintya, Fathan bertemu dengan Annisa. Dia akan membicarakan kemungkinan mendatangkan dokter terbaik dari luar negeri. Fathan berjalan perlahan menuju ruang rawat Naufal. Saat tiba di depan ruangan Naufal, Fathan melihat Annisa sedang duduk sembari menunduk. Fathan merasakan kegelisahan Annisa. Seandainya dia seorang dokter, tanpa diminta Fathan pasti membantu.


"Dokter Annisa, silahkan diminum!" ujar Fathan sopan, dia menyodorkan sebotol air mineral. Annisa mendongak seraya tersenyum dibalik cadarnya. Lalu dengan sopan, Annisa menolak air yang diberikan Fathan. Terlihat Annisa menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Terima kasih, tapi maaf hari ini saya sedang puasa!" ujar Annisa singkat, Fathan mengangguk mengerti. Satu hal lagi yang membuat Fathan semakin kagum pada sosok Annisa Maulida Zahro. Dia seolah terhipnotis dengan sisi lain seorang Annisa. Fathan seakan lupa siapa Annisa? Apa hubungan yang terjalin diantara mereka?


"Dokter saya datang atas perintah dari papa. Beliau meminta agar kita mencari dokter dari luar negeri. Papa ingin aku membantumu mencari dokter yang akan merawat om Naufal!" ujar Fathan lirih, Annisa mengangguk mengerti. Lama Annisa dan Fathan saling diam. Annisa belum memutuskan akan memanggil dokter dari luar negeri. Sedangkan Fathan sabar menanti keputusan Annisa. Tak ada suara diantara mereka. Hanya terdengar hembusan napas Annisa yang naik turun penuh keresahan.

__ADS_1


"Sebenarnya tidak perlu memanggil dokter dari luar negeri. Seandainya dokter Faiq bersedia membantu. Namun tidak ada salahnya saran yang diberikan om Rafa. Aku sudah tidak sanggup melihat papa seperti itu!" ujar Annisa lirih, akhirnya diputuskan akan memanggil dokter dari luar negeri. Fathan mengangguk memahami perkataan Annisa. Dia melihat kekecewaan dimata Annisa. Sekali lagi penolakan Faiq melukai hati tulus yang lain.


Selama Annisa berbicara, tak sedetikpun Fathan melepas pandangannya. Fathan seakan terhipnotis oleh keimanan Annisa. Bukan hanya Annisa menjaga pandangannya dan batasan-batasan yang ada. Annisa juga selalu melaksanakan puasa sunnah. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan di masa sekarang. Wanita dengan iman, ada untuk kesempurnaan iman.


"Sejujurnya aku tidak mengerti apa yang aku rasakan kini padamu? Namun satu hal yang aku sadari. Setiap keimananmu menggetarkan hatiku. Sosokmu mengingatkan aku akan mama. Wanita yang selalu ada dalam setiap langkahku. Annisa Maulida Zahro, aku tidak mungkin bisa membantumu. Aku tidak cukup kuat menjadi sandaranmu. Namun aku mampu menjadi tempat sampah yang akan menampung seluruh keluh kesahmu. Berharap tak lagi kamu merasakan kegelisahan yang tak berujung!" batin Fathan, terdengar Annisa menghela napas panjang. Beban berat yang sedang ditanggungnya, seakan tak mampu lagi dia pikul.


"Kak Fathan!" sapa Farah, dia berjalan mendekat bersama Davina. Annisa dan Fathan menoleh serempak. Mereka melihat Farah dan Davina berjalan berdua. Memang keduanya sangat akbrab. Pertemanan diantara mereka terjalin sejak bangku SMP. Davina dan Farah memiliki sifat yang hampir sama.


"Sedang apa kalian? Bukan ke kampus malah keluyuran!" ujar Fathan tegas, Farah dan Davina diam membisu. Mereka takut pada Fathan, sikap hangatnya berbanding terbalik dengan sikap dinginnya saat ini. Keduanya sangat patuh pada perkataan Fathan.


"Kak Faiq!" ujar Davina lirih. Davina melihat Faiq berjalan ke arahnya. Seketika Davina menunduk malu. Dia selalu takut menatap wajah Faiq. Namun disisi lain, Davina selalu ingin membuat Faiq tersenyum.


"Mulai hari ini aku yang akan bertanggungjawab merawat dokter Naufal sampai sembuh!" ujar Faiq, sembari melirik ke arah Davina. Faiq melihat Davina yang terus menunduk, seakan takut menatap wajah Faiq.


"Berikan rekam medis om Naufal?" ujar Faiq sinis. Mulai malam ini Faiq akan merawat Naufal. Faiq berjalan meninggalkan mereka. Davina menatap punggung calon imam yang dia impikan.


"Davina, kamu yakin bisa menjadi makmummya. Dia terlalu dingin, apa akan kebahagian dalam pernikahanmu kelak!" bisik Farah, Davina menggeleng lalu mengangguk. Seakan Davina bimbang menemukan jawabannya.


"Kak Fathan jangan terlalu sering memberi harapan kosong. Lihatlah dibelakangmu, sudah ada tiga wanita yang siap mengikutimu. Mereka sudah bergantung dan membutuhkanmu. Selalu ingat perkataam mama, jangan pernah sakiti hati seorang wanita!" ujar Faiq lirih, Fathan mengangguk pelan. Faiq masuk ke dalam ruangan Naufal. Tak sedikitpun Faiq menganggap keberadaan Annisa dan Davina. Faiq tidak ingin diganggu saat sedang merawat pasiennya. Apalagi dengan masalah pribadi.

__ADS_1


__ADS_2