
"Sayang, kamu sedang apa? Kenapa tidak turun makan? Mama dan papa menanyakanmu!" cecar Fathan pada Annisa. Sekilas Fathan melihat Annisa menoleh, lalu kembali fokus pada laptopnya. Terlihat putra mungil mereka tertidur pulas. Fathan menghampiri si kecil, dia duduk ditep tempat tidurnya.
Fathan mendongak melihat ke arah Annisa yang terus fokus pada laptopnya. Sikap Annisa beberapa hari ini sedikit aneh. Dia jarang berkumpul dengan keluarga. Annisa lebih banyak menyendiri di kamar. Setiap kali akan makan malam. Annisa selalu mencari alasan, sekadar untuk menghindar agar tidak makan bersama. Bukannya hanya Fathan yang menyadari perubahan sikap Annisa. Hampir seluruh keluarga merasakan perubahan itu. Terutama Hana yang merasa ada jarak diantara dirinya dan Annisa.
"Sayang, kenapa kamu diam saja? Aku sedang bicara padamu!" ujar Fathan lagi, Annisa terus fokus pada laptopnya. Sekilas Fathan mendengar suara deheman Annisa. Tak ada kata lain yang keluar dari bibir Annisa. Fathan semakin cemas dengan perubahan sikap Annisa. Fathan mendekat pada Annisa yang terus menunduk menatap layar laptopnya. Entah apa yang sedang dikerjakan Annisa? Sehingga dia begitu acuh pada Fathan.
"Sayang, ada apa denganmu? Jangan buat diriku cemas dengan sikap diammu. Katakan apa yang mengganjal pikiranmu? Kita suami-istri, seharusnya tak ada rahasia diantara kita!" ujar Fathan merayu, dia berjongkok di depan Annisa. Dengan lembut Fathan menggenggam tangan Annisa. Lalu menarik tangannya dan menciumnya dengan lembut. Annisa menatap kedua mata Fathan. Usia yang berbeda, terkadang membuat jarak yang tak terlihat.
"Bukan aku yang seharusnya bicara, tapi kamu. Aku tidak pernah menyimpan rahasia apapun. Sebaliknya kamu yang mulai tidak jujur padaku. Aku hanya wanita biasa yang lemah. Di kota ini aku hidup sendiri. Jauh dari orang tua dan saudara. Dirimu dan keluargamu menjadi sandaranku satu-satunya. Seandainya kamu mulai lelah dengan diriku. Katakan dengan jujur, insyaallah aku bisa menerimanya dengan lapang!" tutur Annisa lirih, Fathan terdiam mendengar perkataan Annisa. Tubuhnya tiba-tiba bergetar tanpa Fathan sadari. Ketakutakan akan kebohongan yang dia lakukan. Serta merta menghantuinya.
Annisa diam melihat Fathan suaminya tertunduk lesu. Annisa menghindar dari keluarga dan Fathan. Hanya demi menutupi rasa sakitnya. Annisa tidak ingin orang lain melihat hatinya yang terluka. Pengkhianatan bukan hal yang biasa. Namun tanpa bukti Annisa tidak bisa menuduh Fathan bersalah. Sebaliknya tetap diam terluka, bukan hal yang layak diterima Annisa.
__ADS_1
Annisa selalu berusaha memahami semua orang dalam keluarga Prawira. Sebagai seorang anak menantu, Annisa selalu bersikap sopan. Sebagai seorang kakak, Annisa berusaha mengerti kegelisahan Faiq dan Vania. Sebagai seorang istri, Annisa berusaha memahami sifat Fathan yang manja dan kekanak-kanakan. Namun sebagai seorang ibu, Annisa tidak bisa diam menerima kekalahan. Setidaknya dia harus berjuang demi putra yang terlahir dari rahimnya.
"Maksudmu apa dengan berkata seperti itu? Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin kamu katakan!" ujar Fathan mengelak, Annisa tersenyum sinis. Dia juga tidak mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi? Semua bergantung pada kejujuran Fathan. Annisa bukan pribadi yang menyalahkan tanpa bertanya atau kebenaran yang pasti
"Apa yang aku maksud hanya dirimu yang mengetahuinya? Rahasia yang kamu simpan, seharusnya kamu sendiri yang mengetahuinya. Sekali lagi aku katakan, jujurlah padaku. Sebelum jujurmu terlambat kuterima. Hari ini aku mampu menyimpan air mataku. Ketahan emosi dan amarahku. Hanya agar aku bisa melihat kebenaran yang kupercaya ada!" ujar Annisa, lalu berdiri menjauh dari Fathan. Annisa duduk di tepi tempat tidur. Menatap sang putra yang sedang terlelap.
Air mata dan senyun Annisa kini hanya ada pada wajah polos dan teduh sang putra. Sakit hati Annisa hanya dia yang bisa merasakannya. Tak akan ada air mata yang menetes. Selama Annisa masih bisa melihat wajah teduh sang putra. Fathan semakin bingung dengan sikap Annisa. Tak ada kata, tapi seolah menyiratkan rasa sakit yang teramat. Dengan langkah gontai Fathan keluar dari kamarnya. Menjauh mungkin bisa membuat keduanya semakin tenang. Lalu
"Baiklah, jika kamu berpikir dengan tidak makan itu benar. Aku tidak akan memaksa, sebab aku yakin kamu mampu berpikir dewasa. Jangan lupa, putra kita butuh ASI darimu. Sebagai seorang ibu, seharusnya kamu memahami itu lebih dariku!" ujar Fathan tegas, dia keluar dari kamarnya dengan hati yang kesal. Terdengar Annisa menghela napas panjang.
Fathan berjalan keluar dari kamarnya. Dia tidak mengerti arah pembicaraan Annisa. Sejauh ini Fathan merasa tidak pernah melakukan kesalahan. Pernikahannya dengan Annisa baik-baik saja tanpa ada pertengkaran. Bahkan hubungan pernikahannya dengan Annisa terkesan hambar. Kedewasaan Annisa membuatnya bersikap terlalu mandiri. Tak pernah Fathan merasa dibutuhkan.
__ADS_1
Fathan berjalan menuju balkon lantai dua. Tempat yang selalu Fathan dan Faiq kunjungi. Ketika hati mereka gundah. Balkon yang menghadap langsung ke halaman belakang rumah Rafa. Terdapat kebun yang sengaja Rafa buat untuk Hana istrinya. Kolam renang mini yang dibuat Rafa, untuk putra-putranya semasa mereka kecil. Tempat yang membuat Fathan dan Faiq selalu mengingat masa lalu.
"Kopi!" ujar Faiq sembari menyodorkan secangkir kopi. Fathan menoleh melihat ke arah Faiq. Dia menerima secangkir kopi dari Faiq. Dengan lesu Fathan meneguk kopi buatan Faiq. Terlihat keduanya menatap ke arah halaman. Teringat akan kenangan yang pernah terjadi diantara mereka dimasa kecil dulu.
"Terima kasih, kopi buatanmu masih sama. Aku saja tidak pernah bisa membuat seenak ini!" ujar Fathan lirih memuji kopi buatan Faiq. Terlihat Faiq tersenyum mendengar pujian sang kakak. Meski mereka tidak sedekat waktu kecil. Namun hubungan darah tetap diantara mereka tetap ada. Darah yang membuat mereka bisa merasakan duka satu dengan yang lainnya.
"Tanpa kita sadari, sesungguhnya hubungan kita menjauh. Namun darah kita tetap sama, sehingga sebesar apapun jarak diantara kita. Tidak akan bisa membuat kita menjauh. Kesalahapahaman yanh pernah ada, tidak mungkin sanggup membuat kita terpecah. Sedangkan kak Annisa, dia istrimu yang terlahir dengan darah dan watak yang berbeda denganmu. Takkan mudah membuatnya memahami watak dan karaktermu!" ujar Faiq santai, sembari meneguk kopinya. Sontak Fathan menoleh pada Faiq. Kedataran raut wajah Faiq, tak sedatar perkataannya. Makna yang tersirat dalam perkataan Faiq sangatlah dalam.
"Maksudmu apa? Jangan bermain teka-teki denganku. Tadi aku mendengar Annisa yang berbicara melantur. Sekarang kamu yang bicara tidak jelas. Mungkin kamu bisa memahami Annisa, karena kalian memiliki pribadi yang sama. Aku bukan kalian yang hidup dalam dunia dingin. Merasa nyaman tanpa adanya orang lain. Jika ingin berbicara, katakanlah jangan berbelit-belit!" ujar Fathan kesal, Faiq menggelengkan kepala. Dia memahami sifat Fathan yang mudah emosi. Dibalik sikap manjanya, Fathan pribadi yang mudah kesal. Bila apa yang diinginkannya tidak terpenuhi.
"Kekesalanmu, tidak lebih dari kelemahanmu mengerti dan memahami Annisa. Sadarlah sebelum semua semakin terlambat. Annisa wanita yang menemanimu selama ini. Dia ibu dari putramu. Annisa wanita yang menerima keyakinanmu tanpa banyak bertanya. Berusaha memahami dirimu dan keluargamu. Semua kebaikannya tidak seharusnya kamu acuhkan dan berpikir hubungan kalian hambar. Sebagai seorang yang mencintainya, tidak sepantasnya kamu mencari kenyamanan dari yang lain!" ujar Faiq dingin.
__ADS_1