
Setelah penantian selama dua tahun. Faiq mampu membuktikan bahwa cintanya kuat. Faiq dan Davina mampu melewati ujian cinta mereka. Waktu tak menggoyahkan cinta mereka. Meski selama dua tahun mereka terpisah. Jarak tak lagi menjadi penghalang cinta mereka. Faiq mampu membuktikan pada Davina. Bahwa cinta Faiq hanya untuk Davina seorang.
Siang ini Davina datang ke rumah sakit. Dia mengunjungi Annisa di kantin rumah sakit. Semenjak Faiq mengetahui kondisi Davina. Dia sendiri yang mengambil ahli pengobatan Davina. Annisa tidak diperbolehkan merawat Davina. Faiq merasa dirinya yang lebih pantas merawat Davina.
Sebenarnya siang ini Davina datang untuk mengantarkan makanan. Annisa menginginkan makanan yang dibuat sendiri oleh Davina. Annisa ngidam ingin makan siang dengan mie ayam yang dibuat sendiri oleh Davina. Sejak semalam Annisa merengek ingin memakan mie ayam yang dibuat oleh Davina. Selama di pesantren Davina belajar memasak. Hidup di pesantren jauh dari kata mewah. Jadi Davina harus bisa melakukan semuanya sendiri. Sebab itu Davina bisa dengan mudah membuat mie ayam.
Davina tiba tepat saat makan siang. Dia janji bertemu di kantin. Faiq tidak mengetahui jika Davina ada di rumah sakit. Annisa dan Faiq menjadi dokter terbaik di rumah sakit. Namun Faiq jauh lebih sibuk. Selain menjadi dokter, Faiq merangkap sebagai kepala rumah sakit. Annisa langsung pergi ke kantin. Begitu Davina mengirim pesan. Jika dia sudah ada di kantin rumah sakit.
"Dokter Annisa!" panggil Davina sembari melambaikan tangannya. Davina menyapa Annisa lebih dulu. Agar Annisa lebih mudah menemukannya. Davina merasa bahagia bisa membuatkan makanan sederhana untuk ibu hamil yang tak lain Annisa. Davina sangat antusias membuat makanan yang diinginkan Annisa. Davina seakan ikut merasakan bahagianya hamil. Davina membawa dua kotak mie ayam komplit. Satu untuk Annisa dan satu untuk dirinya.
"Davina, sudah lama kamu datang? Mana pesananku, sejak pagi aku belum sarapan. Aku menunggun pesananku datang. Sekarang mari kita makan. Aku benar-benar lapar!" ujar Annisa antusias, Davina dibuat melongo melihat sikap Annisa. Sikap yang jauh dari kata tenang. Annisa menjadi pribadi yang berbeda. Dia benar-benar menginginkan makanan yang dibuat Davina.
__ADS_1
"Silahkan dokter cantik, aku sudah memesan minuman hangat untuk kita. Aku sengaja tidak makan siang. Aku ingin menemanimu makan!" ujar Davina ramah, Annisa mengangguk seraya tersenyum. Dengan cepat Annisa mengambil kotak makanan dari tangan Davina. Setelah membaca doa, Annisa langsung menyantap mie ayam buatan Davina. Sedangkan Davina menatap penuh heran pada Annisa. Awalnya dia tidak percaya, bila seseorang mengalami ngidam. Namun siang ini, dia melihat Annisa sangat lahap memakan mie buatannya. Meski rasanya tidak seenak masakan restoran.
"Dokter Annisa, perlahan-lahan saja. Tidak akan ada yang merebutnya. Aku membawa sekotak untukku. Kita makan sama-sama!" ujar Davina, Annisa membalas perkataan Davina hanya dengan senyuman. Keduanya menyantap moe sederhana buatan Davina. Memang terkadang aneh melihat orang hamil ngidam. Apapun akan dilakukan demi memenuhi keinginan ibu hamil.
Saat Davina dan Annisa tengah menyatap makan siang dengan sekotak mie. Di lorong rumah sakit sedang teejadi kehebohan. Dua pewaris keluaga Prawira sedang berjalan berdampingan. Fathan dan Faiq berjalan bersama menuju kantin rumah sakit. Fathan mengetahui jika Annisa akan makan siang di kantin. Sebab pagi sebelum berangkat kerja, Annisa sudah berpamitan padanya. Biasanya Fathan dan Annisa akan makan siang bersama. Sedangkan Faiq ikut ke kantin. Saat dia mengetahui kalau Davina sedang ada di kantin. Fathan memberitahu Faiq, kalau Davina sedang makan siang dengan Annisa. Faiq kesal sebab Davina tidak menghubunginya dan mengatakan jika dia ada di rumah sakit.
Pesona kedua pewaris keluarga Prawira, menghipnotis mata kaum hawa. Fathan yang terlihat tampan dengan setelan jas kantornya. Prestasi yang didapatnya, menambah nilai plus sebagai seorang laki-laki. Faiq sang adik terlihat berwibawa dengan setelan jas kedokterannya. Sebagai seorang dokter, Kemampuan Faiq sudah tidak bisa diragukan lagi. Tidak akan ada yang bisa meragukan dua pewaris keluarga Prawira sukses dalam bidang yang berbeda.
Tanpa mengatakan apapun, Faiq merebut kotak makan Davina. Terlihat isinya tinggal setengah sisa Davina. Dengan lahap Faiq menyantap mie masakan Davina. Fathan dan Annisa terkekeh melihat sikap Faiq. Davina bengong melihat Faiq memakan mie sisanya. Dengan cepat Davina menarik kotak makannya. Faiq tak kalah dengan Davina. Dia menarik kotak makanan yang diambil Davina. Fathan melihat sikap kekanak-kanakan Faiq. Dia melihat Faiq berebut makanan dengan Davina.
"Kak Faiq, itu sisaku jangan dimakan. Aku akan pesankan makanan yang lain. Aku mohon, tidak baik kak Faiq memakan sisaku. Jangan buat aku merasa bersalah!" ujar Davina lirih, Faiq menggeleng lemah. Dia seakan tidak setuju dengan perkataan Davina. Dengan muka kesal Davina menatap Faiq yang terus melahap mie buatan Davina. Fathan dan Annisa merasa bahagia melihat Faiq. Setelah sekian lama, Akhirnya Faiq bisa tersenyum dengan penuh keikhlasan. Rasa bahagia jelas terpancar dari wajah Faiq. Seolah dia bahagia melihat wajah kesal Davina.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu harus kesal? Tidak ada kata pantas atau tidak pantas. Baik atau tidak baik bila aku memakan sisamu. Dalam cinta tidak ada dirimu atau diriku. Apa yang kamu suka? Akan menjadi kesukaanku, meski aku tidak pernah menyukainya. Apa yang kamu inginkan? Akan menjadi semangatku untuk mendapatkannya. Kita bukan hanya dua hati yang saling mencinta. Kita akan menjadi satu dalam ikatan pernikahan. Jangan meninggikan diriku, sebab aku akan ada disampingmu. Merangkul dan mendekapmu, bukan berada di atasmu untuk menindasmu. Mungkin aku imam sholat dan langkahmu, tapi makmum berhak mengingatkan imam. Sebab seorang imam akan tetap salah. Aku ingin menghalalkanmu demi kesempurnaan iman. Bukan menjadikanmu istri yang mengagungkan diriku yang lemah. Aku tidak akan pernah jijik, meski makanan ini sisamu. Aku ingin belajar hidup dengan caramu. Apa yang kamu makan? Itu pula yang akan aku makan. Cukup kamu memikirkan diriku. Sekarang hiduplah dengan caramu. Aku yang akan belajar memahamimu!" tutur Faiq, lalu menyentil hidung Davina. Annisa tersenyum di balik cadarnya. Dia tidak menyangka Faiq mampu mengatakan semua itu. Fathan terperangah saat mendengar isi hati Faiq. Dalam dingin sikapnya, faiq tersimpan kehangatan yang tak terucap.
"Kak Faiq, tetap saja tidak baik kamu melakukan semua itu. Lihatlah mereka melihat ke arah kita. Sangat tidak baik untukmu, dokter hebat bertekuk lutut pada wanita sepertiku. Bahkan kak Faiq tidak merasa jijik melakukan semua itu!" ujar Davina lirih sembari menunduk, Faiq tersenyum simpul. Dia mengangkat dagu Davina pelan, tatapan Faiq penuh kehangatan. Dia menatap wajah Davina lekat, Faiq seakan melihat keteduhan dari wajah Davina.
"Sayang, inilah yang membuatku tidak bisa melupakanmu. Aku tidak akan pernah bisa menjauh dari bayanganmu. Aku juga tidak akan peduli pada pendapat mereka. Sebab wanita di depanku membuatku lupa akan segalanya. Kamu bukan wanita yang biasa, dengan lantang kamu memintaku untuk berhenti melakukan hal-hal yang kamu anggap bodoh. Padahal mereka yang memandang ke arah kita. Berharap aku melakukannya pada mereka. Kamu wanita yang ingin menjaga kehormatanku. Kamu tidak ingin melihatku terhina karena mengemis cinta padamu. Sebuah prinsip sederhana seorang istri yang telah kamu miliki. Kamu ibarat pakaianku, kamu menutupi aibku dan menjaga kehormatanku. Dengan tujuan yang sama. Aku ingin mereka melihat, betap cintaku padamu tulus tanpa batasan. Tidak akan ada status yang berbeda, sebab kita tercipta untuk saling melengkapi. Bukan saling mengungguli, aku ada karena dirimu. Sedangkan kamu tercipta untuk diriku!" ujar Faiq lirih, Davina menunduk malu. Davina seakan melayang mendengar perkataan Faiq. Davina meremas gamisnya, dia tidak mampu lagi menatap Fathan dan Annisa. Davina merasa malu, tidak lagi yang bisa dia katakan.
"Seandainya kak Fathan bisa mengatakan semua itu. Aku pasti menjadi istri yang paling bahagia!" ujar Annisa lirih, Fathan menoleh kesal. Dia tidak terima bila Annisa membandingkan dirinya dengan Faiq.
"Sayang, aku bisa mengatakan semua itu!"
"Jika setelah mendengar Faiq mengatakannya, itu bukan isi hati. Lebih tepatnya menjiplak, tapi meski kamu tidak mengatakannya. Aku yakin hanya dirimu yang membuatku bahagia. Tidak akan ada sisimu yang membuatku kecewa. Sebab iman yang ada dalam dirimu, membuatmu selalu sempurna di depanku. Kamu suami terbaik dan calon ayah yang baik. Apapun dirimu, sudah menjadi rejekiku. Tidak akan aku menyesal atau meminta lebih. Cukup cintai aku dengan iman. Agar dirimu takut bila melukaiku dan mengkhianatiku. Sebab imam yang baik, akan membawa makmumnya ke jalan yang baik. Sebaliknya imam yang buruk, akan menjerumuskan makmum yang baik. Jangan pernah tinggalkan agamamu dan imanmu. Keduanya alasan kuatnya ikatan suci kita!" ujar Annisa, lalu menarik tangan Fathan. Mencium punggung lembut Fathan dan dibalas Fathan dengan kecupan singkat di puncak kepala Annisa.
__ADS_1
"Terima kasih!" sahut Fathan, Annisa mengangguk pelan. Davina dan Faiq bahagia melihat keharmonisan rumah tangga Kakaknya.