
"Achmad Raihan Maulana!" sapa Faiq, Raihan mendongak. Dia meletakkan kopi yang baru saja diminumnya.
Raihan sengaja pergi ke kantin rumah sakit. Pertemuannya dengan Putri adik sambungnya. Membuat Raihan bingung dan malu. Sebagai seorang kakak, Raihan ingin sekali memeluk adik tercintanya. Namun apa yang terjadi pada Chalisa? Membuat Raihan merasa bersalah sampai saat ini.
"Kenapa Raihan? Rahasia sebesar ini kamu sembuyikan dibalik senyum dan kuatmu. Bahkan Vania tidak pernah menceritakannya padaku!" ujar Faiq, Raihan diam membisu.
Tatapannya tak berarah, terdengar suara helaan napas yang teramat berat. Entah bahagia ataukah harus bersedih? Ketika dia bertemu Chalisa, adik yang tak pernah bisa dia sentuh.
"Apa yang ingin dia katakan? Keberadaanku hanya menjadi aib keluarga besarnya. Adik yang tak pernah dia harapkan. Tidak mungkin mudah dia akui. Bahkan pada istrinya, aku yakin dia tidak mengatakannya!" sahut Chalisa lirih, Raihan menggeleng lemah. Dia tidak sependapat dengan perkataan Chalisa.
"Dokter Chalisa, aku mengenal Raihan. Dia tidak mungkin menolak keberadaanmu. Selama ini dia menyayangi kami. Seperti saudaranya sendiri. Ada alasan yang kuat, kenapa Raihan diam?" ujar Faiq mencoba menengahi.
"Alasan!" ujar Chalisa menirukan perkataan Faiq. Chalisa merasa tidak adil dengan cara pandang Faiq akan masalahnya.
"Lebih penting mana, alasannya atau rasa sepi saudara kandungnya? Aku hidup sebatang kara, tanpa ibu atau ayah. Sedangkan kakak yang aku miliki. Hanya diam mematung, melihat aku kesepian. Katakan alasan apa yang membenarkan sikap kejinya? Kami memang lahir bukan dari rahim yang sama. Namun darah yang sama mengalir dalam nadi kami. Meski bukan saudara seibu, aku adik yang kelak menjadi tanggungjawabnya!" ujar Chalisa kecewa.
Amarah yang terpendam sekian tahun. Terungkap tanpa bisa dikendalikan lagi. Raihan sang CEO hebat bertangan dingin dan berhati baja. Diam membisu bak patung. Tak ada lagi keberanian, sekadar membantah perkataan Chalisa. Semua kata yang keluar dari bibir Chalisa seakan nyata. Tak lagi mampu terbantahkan.
"Maaf!" ujar Raihan lirih penuh penyesalan. Chalisa tersenyum sinis. Dia menganggap kata maaf Raihan tak pantas diterima. Setelah perjuangan Chalisa hidup sebatang kara. Tanpa ada tangan, sekadar untuk dia genggam.
__ADS_1
"Percuma!" ujar Chalisa ketus, Faiq menggeleng tak percaya. Sebaliknya Raihan semakin menunduk tak percaya.
"Ternyata benar pepatah, jangan pernah melihat sampul buku. Namun lihat juga isi di dalamnya. Layaknya dirimu yang pernah kukagumi. Namun kini aku merasa, penilaianku salah tentangmu. Ada dendam yang begitu menakutkan dibalik ketenanganmu!" ujar Faiq, Chalisa diam membisu.
Penilaian Faiq pada Chalisa seketika menghilang. Keanggunan dan kepintaran Chalisa lenyap di telan dendam tak berkesudahan. Sisi baik dari Chalisa, hanya tameng menutupi keburukan hatinya. Faiq tidak pernah menyangka. Chalisa menyimpan duka dan dendam yang sangat dalam.
"Kak Faiq, Chalisa tidak salah. Aku memang tak layak dipanggil kakak. Selama ini aku hanya diam melihat air mata Chalisa. Aku lemah menghadapi kekuasaan keluarga Maulana!" ujar Raihan membela Chalisa, Faiq menoleh ke arah Raihan. Dia tidak menyangka dengan mudah Raihan mengaku salah.
"Dokter Faiq, dia tidak lebih dari laki-laki lemah. Seandainya dia lebih berani, tentu aku tidak akan hidup sebatang kara. Namun harta dan kekuasaan keluarga Maulana membuatnya merasa nyaman. Sehingga dia lupa akan tanggungjawabnya kepadaku. Lantas sekarang, haruskah aku mengakuinya sebagai seorang kakak!" ujar Chalisa ketus, Raihan diam menunduk. Faiq melihat kehancuran Raihan.
"Dia diam bukan karena takut. Kak Raihan tak memilihmu, bukan berarti dia tak menganggapmu. Sekali saja kamu mencoba melihat air matanya. Pasti kamu akan menemukan kerinduan yang teramat besar untukmu. Pernahkah kamu bertanya pada hatimu. Akankah seorang teman layaknya Raihan yang dulu mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkanmu. Akan diam melihat penderitaan adik perempuannya!" sahut Vania, sembari berjalan pelan menghampiri Raihan.
"Dokter Chalisa, lihat cara Raihan memperlakukan Vania. Tidak mungkin dia akan tega menelantarkan adik perempuan satu-satunya!" ujar Faiq, Chalisa menggeleng tak percaya.
"Dia bersikap baik hanya pada Vania. Buktinya bertahun-tahun aku menunggu uluran tangannya. Namun sampai hari ini, tak pernah dia menghubungiku. Sekadar dia bertanya kabarku!" ujar Chalisa, Vania menggeleng lemah.
"Selama ini, apa kamu pikir keluarga Maulana akan diam saja melihat pemberontakanmu? Tidak mungkin, mereka mampu melakukan hal paling buruk padamu. Sikap keras kepalamu membuat keluarga Maulana malu. Sudah sewajarnya bila mereka marah. Alasan itulah yang membuat Raihan menjauh darimu. Dia berjudi dengan orang tuanya. Dia menjauh darimu, demi kebebasanmu!" ujar Vania, Chalisa menatap Raihan heran.
"Sayang, darimana kamu tahu semua ini!" ujar Raihan tak percaya.
__ADS_1
"Mungkin kamu tidak pernah percaya padaku. Sampai kamu takut menceritakan rahasia ini. Namun bunda menganggapku putrinya. Dia menceritakan semua beban dalam hatimu. Hanya agar aku bisa melihat sisi lemahmu. Aku tulang rusukmu yang harus menopang lemahmu!" ujar Vania, Raihan mengangguk mengerti.
Raihan menarik tangan Vania. Dia mencium lembut punggung tangan Vania lembut. Chalisa terdiam mendengar kenyataan yang tak pernah dia ketahui. Bertahun-tahun Chalisa membenci Raihan. Namun kebenciannya salah alamat. Raihan menyayanginya meski Chalisa tak pernah mengetahuinya. Mata hati Chalisa tertutup hanya karena sikap arogant keluarga Raihan.
"Chalisa, tidak pernah kak Raihan ingin menjauh darimu. Selama ini dia yang selalu menjagamu. Tanpa kamu menyadari, selamanya Raihan akan menjadi kakakmu. Meski tak pernah kamu menerimanya. Seperti kasih sayang kak Faiq padaku. Dia menyayangiku tanpa berpikir hubungan darah diantara kami!" ujar Vania tegas.
"Menyimpan dendam memang sangat mudah, tapi alangkah baiknya bila kita belajar memaafkan. Sesulit apapun kata maaf terucap, tidak akan sesulit bila kita hidup sendiri. Sudah cukup Raihan menyimpan kerinduannya padamu. Sebaliknya sudah cukup kamu marah pada Raihan. Dia berhak memelukmu, meluapkan rasa sayangnya padamu!" ujar bunda Raihan.
"Bunda!" panggil Chalisa, sontak bunda Raihan memeluk Chalisa. Dia membelai lembut rambut hitam legam Chalisa. Lalu mencium kening Chalisa lembut.
"Maafkan bunda dan Raihan, kami terlalu lemah melawan kekuasaan keluarga Maulana. Kami memang salah telah menelantarkanmu. Namun percayalah Chalisa kami menyayangimu!" ujar bunda Raihan.
"Aku merindukan bunda. Jangan tinggalkan aku sendirian. Aku kesepian bunda!" ujar Chalisa sembari memeluk erat bunda Raihan.
"Raihan, kenapa kamu diam saja? Bukankah kamu ingin memeluk Chalisa. Dia ada di depanmu, hampiri dia. Peluklah adik yang selama ini kamu rindukan!" ujar Faiq lantang, Raihan menggeleng lemah. Faiq mengeryitkan dahinya heran.
"Chalisa bukan lagi gadis kecilku. Memeluknya akan membuat Vaniaku cemburu. Dengan melihat tatapan hangat Chalisa padaku. Aku sudah bahagia, meski tanpa memeluknya!" ujar Raihan tegas, Vania seketika merangkul Raihan.
"Aku mencintaimu!" ujar Vania mesra.
__ADS_1