KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Hati yang Memilih


__ADS_3

"Permisi pak, nona Zahra sudah datang!" ujar sekretaris Fathan ramah. Fathan mengangguk mengiyakan, dia mempersilahkan Zahra masuk. Fathan sengaja mengundang Zahra datang ke kantornya. Kebetulan Zahra sedang ke kota untuk mengantar ayahnya. Fathan ingin memberikan undangan pada Zahra. Dia akan menjadi icon perusahan Fathan. Zahra menjadi panutan di kalangan anak muda.


Dua tahun setelah kepergian Davina. Banyak yang berubah dengan orang-orang yang dikenalnya. Fathan menjadi penerus Rafa yang mengambil ahli seluruh usaha keluarga Prawira. Rafa memutuskan pensiun dari dunia bisnis. Dia lelah melihat angka-angka dalam berkas. Rafa meminta Fathan mengambil alih semua urusan perusahaan. Keputusan Rafa tidak salah. Di tangan Rafa perusahaan Prawira semakin maju pesat.


Faiq pribadi yang acuh dan tanpa ambisi. Berubah penuh ambisi semenjak kepergian Davina. Dia menghabiskan seluruh waktunya hanya dengan bekerja. Rumah sakitnya menjadi yang terbaik dan terbesar di kota. Faiq menyerahkan seluruh waktunya pada pekerjaan. Hanya demi melupakan Davina. Faiq tidak ingin diam, yang akhirnya dia memikirkan Davina. Seandainya Faiq mengetahui keberadaan Davina. Mungkin Faiq akan pergi menemui Davina. Namun keberadaan Davina seolah menjadi rahasia. Keluarga Davina menutupi semua itu dengan alasan yang tidak masuk akal.


Sebaliknya Annisa tetap menjadi dokter bercadar kesayangan Fathan. Dia menjadi seorang istri dan calon ibu yang baik. Setelah dua tahun menikah. Akhirnya Annisa mengandung buah hatinya dengan Fathan. Kandungannya masih sangat awal. Annisa dan Fathan sangat bahagia. Penantiannya selama hampir dua tahun berakhir bahagia.


"Permisi pak, boleh saya duduk!" ujar Zahra ramah. Dia masuk ke dalam ruangan Fathan setelah sekretaris Fathan mempersilahkannya. Fathan mendongak ke arah Zahra, lalu menganggukkan kepala. Zahra masuk dan langsung duduk tepat di depan Fathan. Keduanya sering bertemu. Sebab Zahra menjadi salah satu generasi pembangun desa yang terpilih. Proposalnya disetujui oleh Fathan. Desa tempat tinggal Zahra, mendapat sumbangan dana untuk menjadi desa maju dari perusahaan Fathan. Sedangkan Zahra mengelola dana tersebut dengan sangat baik. Sehingga desa Zahra menjadi desa percontohan saat ini.

__ADS_1


"Zahra, nanti malam akan ada pertemuan beberapa yayasan ternama. Kamu mendapat undangan khusus sebagai salah satu generasi muda berpengaruh. Maaf undangannya mendadak. Awalnya aku tidak berniat memberikannya padamu. Sebab aku takut mengganggu waktumu. Aku tahu kamu sedang sibuk merawat ayahmu. Tapi tadi pagi Faiq mengatakan kamu akan datang. Jadi aku berpikir untuk memberikan undangan ini. Barangkali kamu bisa menghadirinya. Perusahaan akan menyiapkan semua keperluanmu!" tutur Fathan ramah, Zahra diam membisu. Dia bingung memikirkan jawaban yang paling tepat untuk undangan tersebut. Zahra bimbang akan menghadiri atau tidak acara tersebut. Kebimbangannya bukan tanpa alasan, dia takut kedatangannya membuat Faiq risih.


"Kenapa kamu diam? Ada yang mengganggu pikiranmu! Katakanlah, tidak ada paksaan agar kamu datang. Jika memang kamu harus pulang ke desa. Kamu tidak perlu datang ke acara itu!" ujar Fathan, Zahra menggeleng lemah. Zahra akan selalu siap bila untuk acara amal. Namun dia tidak ingin mengusik ketenangan Faiq. Selama ini Zahra merasakan perubahan sikap Faiq. Sikap Faiq yang ingin menjauh darinya. Bahkan Faiq menolak merawat ayahnya. Seorang pasien yang tidak tahu-menahu akan masalah dokter yang merawat dan putrinya.


"Bagaimana mungkin aku bisa menghadiri acara tersebut? Sedangkan dokter Faiq tidak menginginkan kehadiranku. Dia dengan sengaja menolak merawat ayah. Aku tidak mengerti, apa kesalahan ayah dalam hal ini? Tidak seharusnya dokter Faiq mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaannya. Aku tahu jika rasaku tidak terbalas dan mungkin juga diriku penyebab Davina pergi. Tapi bukankah selama ini aku tidak pernah menunjukkan rasaku. Aku menyimpan rapat rasaku untuk dokter Faiq. Aku menyadari rasaku tidak mungkin terbalas. Lagipula rasaku tidak salah. Hanya mungkin hatiku memilih pada hati yang salah. Entah kenapa rasa ini tetap bersemi? Meski jelas-jelas rasaku tak pantas untuknya. Muhammad Faiq Alhakim, aku tidak pernah meminta hatimu. Aku tidak pernah berharap cintamu. Aku tak pernah memaksa dirimu. Aku juga tidak pernah menginginkan hadirmu. Lalu kenapa kamu menjauh dariku? Seakan aku tak pantas ada di dekatmu. Tidak bisakah kamu tetap dalam pandanganku. Jika bukan demi diriku, setidaknya demi ayahku yang selalu mengharapkan tangan dinginmu. Seorang pasien yang mengharapkan perawatan darimu. Tidak bisakah semua itu terjadi!" batin Zahra pilu, seraya menunduk. Fathan mengamati perubahan raut wajah Zahra. Dia bisa menebak arti dari raut wajah Zahra.


"Zahra, maaf jika aku terlalu ikut campur. Namun sepertinya kamu salah mengartikan sikap Faiq padamu. Bukan aku ingin membela Faiq sebab dia saudaraku. Namun alangkah baiknya, jika kamu mendengar pendapatku!" ujar Fathan, Zahra mengangguk pelan. Zahra tidak mungkin salah mengartikan sikap Faiq. Sikap yang seakan menolak kehadiran Zahra disamping Faiq. Zahra sudah menelan pahitnya penolakan. Baginya mengetahui kebenaran dirinya tak dianggap oleh Faiq. Tidak akan membuatnya hancur.


"Silahkan katakan pendapat anda. Setidaknya saya ingin mengetahui pendapat anda tentang hubungan kami. Siapa yang salah diantara kami? Sehingga dokter Faiq merasa pantas bersikap seperti itu. Kenapa dia begitu antipati pada saya? Bahkan merawat ayah saya, dokter Faiq tidak bersedia. Dia selalu mencari alasan hanya untuk menghindar dari kami. Mungkin awal-awal aku berpikir semua sebagai kebetulan. Namun selama dua tahun semua terus terulang. Masih pantaskah dianggap sebuah kebetulan atau lebih tepatnya sikap dokter Faiq itu sebuah penolakan!" ujar Zahra tegas, Fathan menatap lekat Zahra. Ada rasa kagum sebagai seorang teman.

__ADS_1


Zahra tetap berdiri menatap Faiq. Meski hatinya tersakiti dengan sikap Faiq. Bukan ingin menghiba rasa cinta Faiq. Namun semua dia lakukan hanya demi sang ayah. Seorang anak yang rela menelan pahitnya penolakan Faiq. Terus-menerus direndahkan oleh sikap-sikap Faiq. Namun Zahra tetap kuat menatap dunia. Dia membuktikan pada dunia. Rasanya bukan untuk menghancurkan, tapi rasanya untuk membahagiakan. Jika bukan dirinya yang bahagia, maka orang yang dicintai yang bahagia. Prinsip sederhana tapi sulit dilakukan. Namun dengan keteguhan hati, siapapun akan mampu melewatinya? Sebab dalam teguhnya hanya ada keikhlasan dan ketulusan. Sesuatu yang bersumber pada iman dan hanya demi kesempurnaan iman.


"Apapun yang kamu pikirkan memang benar? Faiq memang sengaja menjauh darimu. Faiq memang menolak rasamu untuknya. Namun dibalik sikap keras dan kasarnya. Ada satu maksud yang tidak pernah kamu ketahui. Faiq menghindar darimu bukan karena tidak menganggapmu. Namun dia takut hadirnya dirimu, membuatnya bimbang. Tanpa Faiq sadari, keberadaanmu membuatnya lupa akan Davina. Semua itu benar, dia memiliki sedikit rasa untukmu. Entah rasa cinta atau hanya rasa kagum sesaat? Namun kepergian Davina, membuatnya sadar. Dia membutuhkan Davina sebagai penopang hidupnya. Semenjak itu dia mencoba menghindar darimu. Agar rasanya untuk Davina tetap abadi. Faiq tidak ingin sifat egois dalam dirinya melukai hati wanita lain. Sifat wajar seorang laki-laki yang mudah nyaman pada wanita lain. Sehingga hanya luka yang akan kamu terima kelak. Sikap acuhnya padamu hanya ingin melindungimu. Cukup Davina yang pergi karena sikap acuhnya. Faiq tidak berharap ada yang akan menangis lagi demi dirinya!" tutur Fathan, Zahra menunduk. Dia mencari makna yang tersirat dalam perkataan Fathan.


"Anda benar, bukan dokter Faiq yang salah. Namun rasaku yang telat datangnya. Davina yang mengenal dokter Faiq lebih dulu!" ujar Zahra lirih, Fathan terlihat menggeleng. Fathan tidak ingin melihat Zahra lemah dan menyerah.


"Zahra tidak pernah cinta itu salah. Sebab hati yang memilih, pada siapa cinta itu memilih dan dihati mana cinta itu bersemi? Semua menjadi rahasia-NYA. Cinta anugrah paling indah, bersyukurlah kamu masih bisa merasakan cinta. Artinya hatimu tidak pernah mati. Percayalah semua akan baik- baik saja!" ujar Fathan lirih, Zahra mengangguk mengiyakan.


"Sebab itulah aku merasakan sakit. Hatiku memilih Faiq yang tidak pernah memilihku. Seandainya hati mudah dimengerti. Ingin rasanya aku meminta pada hati ini. Melupakan satu nama yang ada didalamnya. Satu nama yang tersimpan dalam lubuk hati terdalam. Muhammad Faiq Alhakim, nama indah yang ingin aku hapus selamanya!" batin Zahra pilu.

__ADS_1


__ADS_2