
..."Masa lalu ibarat sebuah buku diary. Setiap kenangannya tertulis rapi dan indah. Kisah sedih dan bahagia bersatu dalam satu buku. Namun masa lalu tetaplah masa lalu yang tersimpan rapat dalam hati. Tak sepatutnya masa lalu menjadi sandungan menggapai masa depan yang indah. Selamanya tulisan akan tetap ada dan membekas. Ibarat masa lalu yang akan terus mengikuti langkah kita. Hadapilah masa lalu, jangan biarkan merusak masa depan. Tak pernah ada manusia tanpa masa lalu. Entah baik atau buruk, sebab setiap manusia terlahir tak sempurna dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Selamanya masa lalu bukan alasan mengacuhkan kebahagian masa depan."...
...☆☆☆☆☆...
"Maaf Diana, kamu lama menungguku. Setelah Hana melahirkan, Rafa jarang ke kantor. Sekarang Rafa lebih betah di rumah. Akhirnya aku yang kewalahan menyelesaikan urusan perusahaan!" ujar Adrian, Diana mengangguk pelan. Diana sangat memahami kesibukan Adrian. Selama menjadi sekretaris Rafa, Diana tahu benar peran Adrian di perusahaan Prawira. Adrian menjadi tangan kedua pengambil keputusan setelah Rafa.
"Tidak apa-apa? Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku meminta bertemu di saat jam kerja. Sehingga mengganggu pekerjaanmu. Lebih baik pak Adrian pesan minum dulu. Pasti lelah haus setelah berlari!" ujar Diana lirih, Adrian menggaruk tengkuknya. Diana melihat napas Adrian yang memburu. Sudah bisa dipastikan jika Adrian setengah berlari menghampiri Diana.
"Diana, jangan panggil aku paka! Usia kita tidak terlalu jauh. Kamu juga bukan bawahanku. Panggil aku Adrian atau kak Adrian. Setidaknya akan membuatku merasa dekat denganmu!" ujar Adrian, Diana tersenyum tipis. Adrian menangkap kegelisahan Diana. Terlihat jelas dari sikapnya, Diana seperti tidak nyaman dengan duduknya. Minuman di depannya hanya diaduk, tanpa sedikitpun diminum. Adrian meminum kopi yang dipesannya. Dia mencoba bersikap setenang mungkin. Adrian ingin membuat Diana merasa nyaman.
"Kak Adrian, aku sudah memutuskan menceritakan semua tentang diriku. Apa yang dikatakan Hana benar? Kamu berhak mengetahui alasan penolakanku. Agar tak ada lagi harapan palsu. Seandainya setelah ini rasamu untukku menghilang. Aku tidak akan mempermasalahkannya. Kita akan menjadi teman yang baik, tak bisa dipungkiri. Kita akan sering bertemu, sebab Hana dan kak Rafa sahabat kita berdua!" ujar Diana setenang mungkin. Adrian menatap tajam Diana, dia ingin mencoba menyelami pikiran wanita yang mengetuk hatinya. Namun hasilnya nihil, wajah Diana datar seolah tak terjadi sesuatu.
"Katakanlah Diana, sepahit apapun aku siap. Asalkan semua itu kejujuran, aku tidak ingin hubungan kita didasari oleh kebohongan. Aku siap menerima masa lalumu. Selama kamu menyadarkan dirimu padaku dengan setulus hati!" ujar Adrian, Diana menarik napas panjang. Seolah butuh kebesaran jiwa, untuk menceritakan masa lalunya. Adrian menatap Diana lekat. Hanya kejujuran yang terlihat dari kedua mata Diana. Adrian sudah bertekad, apapun masa lalu Diana. Selama Diana bersedia bersandar dan percaya padanya. Adrian akan menerima Diana apa adanya?
FLASH BACK
Beberapa tahun yang lalu, Diana Larasati Permana duduk sendiri diatas ayunan. Diana kecil sedang asyik bermain dengan beberapa teman sebayanya. Dia sedang bermain ayunan di taman panti asuhan tempatnya tinggal.
__ADS_1
Diana bukan putri kandung keluarga Permana. Diana hanya seorang anak angkat yang sengaja mereka adopsi dari panti asuhan. Sebenarnya keluarga Permana sudah memiliki seorang putra. Dwi Arka Permana tak lain kakak angkat Diana. Namun nyonya Sinta tidak bisa memiliki keturunan lagi setelah rahimnya diangkat.
Demi memenuhi keinginannya, nyonya Sinta mengadopsi Diana kecil menjadi putri mereka. Awalnya semua berjalan sangat baik. Diana dam Arka seperti saudara kandung. Mereka tumbuh selayaknya kakak dan adik. Sebab Diana tidak pernah mengetahui. Jika Arka bukanlah kakak kandungnya.
Keluarga Permana sangat menyayangi Diana. Mereka menyayangi Diana layaknya putri sendiri. Sampai Diana selesai kuliah, tak terlihat perubahan sikap Arka pada Diana. Kedua orang tuanya juga sangat mencintai Diana. Sehingga Diana tak pernah merasa dirinya bukan anak angkat.
Sampai pada suatu hari, Diana pulang bekerja. Kedua orang tuanya meminta Diana duduk bersama, terlihat Arka duduk tak jauh dari Diana. Malam itu menjadi malam kelam Diana. Dia mengetahui kenyataan, bahwa dirinya hanya anak angkat. Arka bukan kakak laki-lakinya, melainkan saudara angkat Diana. Sebaliknya meski Arka mengetahui Diana bukan adik kandungnya. Arka tak pernah seperti itu. Arka menganggap Diana seperti adik kandungnya.
Malam itu hujan turun begitu derasnya, sederas air mata Diana yang mengetahui fakta dirinya hanya anak angkat. Malam itu kedua orang tua Diana meminta sesuatu yang tak pernah Diana pikirkan. Mereka meminta Diana menikah dengan Arka. Agar Diana seutuhnyq menjadi bagian dari keluarga Permana. Namun denga tegas Arka menolak. Selain dia hanya menganggap Diana layaknya adik kandung sendiri. Arka juga sudah memiliki tambatan hati.
Diana sempat berpikir, jika kedua orang tuanya seolah menjauhkan dirinya dengan Arka. Baik Diana dan Arka tidak pernah tinggal dalam satu rumah. Semenjak remaja Arka sudah tinggal bersama neneknya, dia juga kuliah jauh di luar kota. Sehingga meski Diana dan Arka bersaudara. Mereka tidak pernah benar-benar tinggal dalam satu rumah. Malam itu semua terjawab, jika Diana hanyalah anak angkat. Namun sampai kapanpun Diana menganggap keluarga Permana seperti keluarganya sendiri. Keluarga itu yang memberikan nama belakangnya pada Diana. Memberikan kehidupan baru pada Diana.
Akhirnya dengan berat hati, Diana meninggalkan rumah tempat dia di besarkan. Tak pernah lagi Diana menginjakkan kakinya di rumah itu. Bukan tak berterima kasih, tapi Diana terlalu malu. Diana merasa tak pantas lagi bertemu mereka. Harapan sekecil itu tak pernah mampu Diana penuhi. Diana hanya mampu melihat dari jauh keluarga yang dicintainya.
FLASH BACK OFF
Diana menceritakan semua kisah hidupnya. Diana menutup semua ceritanya dengan menghela napas lega. Adrian mendengarkan Diana dengan seksama. Tak luput setiap kata yabg diucapkan Diana.
__ADS_1
"Minumlah, kamu pasti haus. Aku akan memesan makanan. Sebentar lagi waktu makan siang!" ujar Adrian sembari menyodorkan segelas air putih. Diana menerima air yang diberikan Adrian. Kini hati Diana sudah sangat lega. Dia sudah menceritakan semua dengan jujur. Tak ada lagi yang sengaja Diana tutupi.
"Sekarang semua terserah kak Adrian. Namun alangkah lebih baik kak Adrian mencari wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku tidak pernah tahu siapa keluargaku. Jadi sebaiknya kak Adrian melupakan rasa cinta untukku. Sebagai gantinya kita bisa menjadi sahabat yang saling mendukung!" ujar Diana, Adrian terdiam membisu. Sejujurnya Diana sudah tidak berharap hubungannya dengan Adrian. Diana cukup tahu diri. Meski Adrian bawahan Rafa, tapi tidak bisa dipungkiri keluarga Adrian keluarga berada. Tak pernah Adrian hidup dalam kekurangan. Sebab keluarga Adrian mampu mencukupi kebutuhan putranya.
"Diana, kapan aku bisa bertemu keluarga angkatmu? Aku akan memintamu secara baik-baik. Segera setelah itu aku ingin kita menikah!" ujar Adrian tegas, seolah tak pernah mendengar fakta Diana hanya anak angkat. Seorang anak yang akan dipandang sebelah mata.
"Tapi, aku hanya...!" ujar Diana terpotong.
"Kamu anak angkat atau bukan. Bagiku tidak pernah ada masalah. Cintaku tak serapuh itu, sehingga akan kalah oleh fakta dirimu hanya anak angkat. Sudah kukatakan aku siap menjadi sandaranmu, selama kamu menyerahkannya dengan tulus padaku. Katakan kapan kamu siap memperkenalkan diriku pada mereka? Setelah itu aku akan membawamu bertemu orang tuaku. Akan kujadikan tulangku sebagai penopangmu. Akan kupastikan hanya bahagia yang akan kamu rasakan!"
"Tapi...!"
"Diana, cintaku tak butuh kamu uji. Hanya percaya padaku. Pasrahkan kebahagianmu padaku, itu sudah lebih dari yang aku harapkan darimu!"
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
__ADS_1