KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Pertemuan...


__ADS_3

"Vania, sedang apa kamu disini? Melamun lagi, bukan pesan makanan!" ujar Farah lirih, Vania menoleh seraya tersenyum. Farah dan Vania janji bertemu untuk makan siang bersama. Mereka memutuskan makan di salah satu restoran ternama.


Sejak semalam Vania sangat ingin makan di tempat ini. Tadi pagi dia sempat mengajak Raihan makan siang bersama. Namun Raihan menolak, sebab dia akan ada rapat penting. Raihan lebih memilih pergi menemui rekan kerjanya. Daripada memenuhi permintaan kecil Vania. Namun apa daya Vania? Raihan memang selalu sibuk dengan pekerjaannya.


Meski kecewa Vania tetap berlapang dada menerima penolakan Raihan. Sebab itu dia meminta Farah menemaninya makan siang. Kebetulan Farah sedang tidak ada kegiatan. Memang hari pernikahannya dengan Faiz sudah ditentukan. Namun Farah dan Faiz menyerahkan semua urusan pada salah satu WO ternama di kota ini. Pernikahan dengan konsep sederhana dan penuh kekeluargaan. Akan menjadi pernikahan terbaik Farah dan Faiz.


Vania dan Farah datang menggunakan mobil yang berbeda. Vania datang lebih dulu, dia sangat ingin makan siang di restoran ini. Dia sengaja datang lebih awal. Agar bisa mendapatkan tempat yang diinginkan. Namun kenyataan tidak sesuai harapan. Meski kondisi restoran masih sepi, tapi hampir semua meja sudah penuh. Akhirnya setelah menghiba pada manajer restoran. Vania mendapat tempat duduk di pojok restoran. Memang bukan tempat yang Vania inginkan. Namun dari tempat duduknya kini. Dia bisa mengawasi seluruh ruangan restoran.


"Lihatlah arah jam 12, kamu pasti akan terkejut melihatnya!" ujar Vania lirih, seketika Farah menoleh ke arah yang dikatakan Vania. Seketika tubuhnya kaku melihat, siapa yang coba ditunjukkan Vania?


Sontak kedua bola mata Farah membulat sempurna. Dia terkejut melihat sosok yang tengah berada tepat di depannya. Seketika tubuh Farah lemas tak bertulang. Dia lemah tak berdaya, bak langit runtuh tepat menghantam tubuhnya. Farah menunduk tanpa mampu melihat ke arah yang dikatakan Vania.


Vania yang memahami kehancuran hati sahabatnya. Berdiri lalu memeluk erat Farah. Menepuk punggung Farah pelan, mencoba menenangkan sahabatnya yang sedang terluka dan shok. Vania memberika segelas air putih pada Farah. Sekadar untuk menenangkan hatinya yang bergejolak. Saat seperti ini hanya Vania yang mampu mendukung Farah. Bukan dengan harta, satu pelukan saja. Mampu membuat Farah bangkit dari keterpurukan.


"Papa!" ujar Farah lirih, hampir tak terdengar. Sontak Alfian menoleh ke arah Farah.


Farah terkejut ketika melihat kebahagian papanya bersama keluarga kecil Hanya terdengar tawa dari bibir Alfian. Kecerian Alfian dan keluarga kecilnya. Bagai garam yang tertabur sempurna di hati Farah. Tak ada lagi rasa sakit dan perih yang lebih dari ini. Dunia Farah seakan hancur tak bersisa. Tak ada lagi harapan Farah menyatukan kedua orang tuanya. Kepergiannya tidak membuat kedua orang tuanya berubah. Pengorbanan dan pemberontakan yang dilakukan berakhir sia-sia.


"Farah, sebaiknya kita cari restoran yang lain. Agar kamu tidak melihat semua ini!" ujar Vania, Farah menggeleng menolak ajakan Vania. Dia tetap berdiri di depan Alfian papanya.


Farah terus menatap raut wajah bahagia Alfian. Kebahagian yang seolah tak pernah ada dalam keluarganya. Ada rasa cemburu yang teramat, entah kenapa hidupnya semenyedihkan ini? Tak pernah ada tawa dan rangkulan ketika bersama kedua orang tuanya. Selalu hanya salah satu diantara Alfian atau Sesil yang menemani Farah selama ini.


"Vania, semua rasa penasaranku terjawab sudah. Mungkin sudah saatnya semua terbuka. Kepalsuan yang selama ini aku lihat. Mungkin sudah waktunya rahasia ini terbongkar. Agar tak adal lagi Farah atau Vania yang lain!" ujar Farah lirih, Vania dia mencoba mencerna perkataan Vania.


Farah duduk menatap langit-langit restoran. Dia menerawang jauh, ketika dia bertemu dengan Alfian beberapa tahun yang lalu. Pertemuan yang menjadi alasan kepergian Farah dari kota ini. Rasa sakit yang tak mampu dia tanggung. Kekecewaan yang membuatnya marah dan membenci keluarganya. Pertemuan yang menjadi kilas balik kisah hidupnya. Mencari jati diri dan keimanan yang telah lama menghilang.

__ADS_1


FLASH BACK


Mentari menyapa para penghuni bumi. Menyerukan sebuah semangat untuk memulau hidup yang baru. Farah Nur Fitriya, gadis kaya yang selalu berpenampilan sederhana. Kehidupan seolah ingin selalu menguji dirinya. Kesepian yang dia rasakan seolah masih sangat kurang. Dengan nyata dia melihat fakta hubungan kedua orang tuanya yang memburuk. Farah semakin hancur dan terpuruk, ketika kedua mata indahnya melihat jelas. Alfian yang seharusnya melindungi dirinya. Sedang jalan berdua dengan seorang wanita. Alfian dan wanita itu sedang berbelanja di supermarket yang sama dengan Farah.


Dunia dan langit seolah jatuh menimpanya. Alfian tertawa bahagia bersma wanita itu. Terlihat mereka bertiga berjalan beriringan. Kedekatan yang tak pernah bisa Farah rasakan. Suara tawa yang seolah menggema di telinga Farah. Rangkulan mesra sang laki-laki, ibarat sayatan yang mengiris tipis hatinya. Gendongan lembut sang laki-laki, bak tusuk sate yang menancap tepat di uluh hati Farah. Laki-laki yang seharusnya Farah panggil papa. Dengan santai dan gembira sedang bersama wanita lain dan seorang anak laki-laki yang berusia kira-kira 5 tahun.


Dengan langkah gontai Farah menghampiri sang Alfian. Dia berjalan dengan sisa hati yang tersayat pilu. Farah menghampiri sang papa, demi ingin mengenal. Siapa mereka yang mampu membuat papanya tertawa dan bahagia? Suara tawa yang tak lagi terdengar di rumah besarnya. Kebahagian yang tak pernah Farah rasakan. Sebaliknya hanya sikap dingin yang diselingi pertengkaran yang selalu Farah lihat.


"Papa!" sapa Farah ramah, seketika Alfian menoleh. Dia terperangah melihat Farah putri kesayangannya berdiri tepat di belakangnya. Dengan tergesa-gesa, Alfian menurunkan anak laki-laki itu dari gendongannya. Terlalu tergesa-gesa akhirnya membuat anak itu terhuyung dan hampir jatuh. Dengan sigap Farah menangkap tubuh anak itu. Sekilas Farah melihat raut wajah sang bocah. wajah yang sangat mirip dengan Alfian. Ketampanan Alfian seolah menempel pada bocah itu.


"Farah!" sahut Alfian kikuk, sebaliknya Farah tetap tenang saat berhadapan dengan sang papa. Dengan senyum semanis mungkin. Farah mengulurkan tangan pada wanita di samping Alfian. Farah sangat ingin mengenal, siapa wanita yang mampu membuat papanya berpaling dari peson mamanya?


"Farah Nur Fitriya, putri tuan Alfian. Jika berkenan, boleh aku tahu siapa anda?" ujar Farah lirih, Alfian menunduk merasa malu. Dia tidak menyangka akan bertemu Farah. Seketika wibawa Alfian hancur di depan putri kesayangannya. Dengan tenang Farah berjalan menghampirinya. Bukan dengan amarah, Farah datang dengan sebuah senyum. Alfian melihat jelas luka yang Farah simpan dibalik senyumnya.


"Sayang, kamu salah paham. Dia teman papa, tanpa sengaja kami bertemu. Papa menemaninya belanja. Tidak lebih dari itu!" ujar Alfian gugup, Farah tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya. Senyum yang harus terlihat, tapi air mata yang harus tersimpan. Ironi kehidupan Farah saat ini. Dia kehilangan dua laki-laki yang paling penting dalam hidupnya. Farah kehilangan sosok Papa sebagai pengayom hidupnya. Sedang Faiq pergi dengan meninggalkan cinta.


"Sayang, selamanya papa akan ada di sampingmu. Dia hanya teman papa, tidak lebih. Jangan berpikir macam-macam!" ujar Alfian gelisah, Farah menunduk meratapi kehidupan yang memang tidak aadil padanya. Kekayaan yang dimiliki keluarganya, mampu menjadi senyum untuk orang lain. Dengan adil Farah. memiliki harta, tapi tidak cinta yang tulus.


Farah melihat wanita di samping papanya. Wanita yang cantik, dengan hijab modis yg dipakainya. Pakaian couple yang mereka pakai. Seolah menunjukkan mereka pasangan yang paling serasi. Farah merasa apa yang terlihat? cukup menjawab sejauh mana hubungan diantara mereka.


"Aku Saniya, istri kedua papamu. Aku harap kamu mampu mengangpku layaknya ibu kandungmu. Pertemuan kita hari ini, sebagai pertanda awal hubungan baik diantara kita!" ujar Saniya seraya tersenyum. Farah menelan ludahnya kasar. Ternyata papanya tidak lagi bersama orang lain. Papanya pergi dengan istri keduanya. Sebuah kenyataan yang tak pernah Farah harapkan. Sebuah kenyataan bahwa, papa kini milik orang lain. Bukan lagi miliknya.


"Senang bertemu anda. Semoga ini menjadi pertemuan pertama dan terakhir kita! Aku tidak ingin bertemu dengan anda. Anda mungkin istri kedua papaku, tapi aku bukan putrimu!" ujar Farah tegas, Saniya tersenyum mendengar perkataan Farah. Amarah dan ketegasan Farah seolah tak berarti. Sebab pernikahannya dengan Alfian sah secara hukum dan agama.


"Tuan Alfian yang terhormat, mungkin anda tidak bahagia bersama mamaku. Tapi setidaknya bisakah anda memahami luka yang dia rasakan. Sejak pertama aku melihatmu, aku merasa ragu. Tawamu terdengar menggema di telingaku. Pelukanmu pada wanita ini, seolah mengatakan betapa dia berarti untukmu. Sikap hangatmu pada anak itu, telah membuatku tersisih. Semoga pertemuan ini akan membuatmu tersadar. Ada seorang anak yang kesepian menunggu kasih sayang darimu. Namun sepertinya semua tidak berarti kini. Hidupmu terlalu bahagia, dengan menjauh dan menganggap kami tidak ada!" ujar Farah lirih.

__ADS_1


Alfian menunduk tanpa mampu menatap wajah sang putri tercinta. Dia melihat kekecewaan Farah pada dirinya. Farah menatap rangkulan manja anak laki-laki itu. Dia merangkul kaki sang papa. Pertemuan yang tidak mungkin Farah lupakan. Papa yang dia banggakan, mengkhianatinya dengan sangat dalam.


"Farah, papa bisa menjelaskan semuanya. Apa yang kamu lihat belum sepenuhnya benar? Meski papa dan Saniya menikah. Kamua dan mama tetap berarti dalam hidup papa. Tidak akan papa menjauh darimu atau mama. Hubungan papa dengan Saniya, sepenuhnya atas izin mamamu. Jadi jangan pernah salah paham pada papa!" ujar Alfian membela diri, Farah menatap wajah Alfian lekat.


"Jika memang semua ini atas persetujuannya. Itu artinya anda telah melukai hati mamaku dengan sadar. Mungkin mama akan diam, tapi tidak aku. Maafkan kami yang tak pernah bisa membuat anda bahagia dengan keluarga ini. Sehingga anda harus membentuk keluarga baru demi sebuah senyum. Namun tanpa anda sadari, senyum dan tawa yang kudengar. Ibarat pisau tajam yanh mengiris hatiku tipis. Pisau yang lama kelamaan akan membunuhku secara perlahan!" ujar Farah emosi, Alfian menarik Farah dalam pelukannya. Sebuah pelukan yang lama tak pernah dirasakan Farah.


"Sayang, maafkan papa. Apapun akan papa lakukan, asal kamu bersedia memaafkan papa!" ujar Alfian, Farah menggeleng lemah. Dengan sekuat tenaga, Farah mendorong tubuh Alfian agar menjauh. Lalu Farah mundur beberapa langkah.


"Tuan Alfian, anda tidak perlu melakukan apapun. Jaga keluarga anda dengan sebaik mungkin. Cukup aku putrimu yang terluka. Jangan buat anak yang memanggilmu papa terluka lagi. Aku berharap kebahagian kalian abadi. Tidak semu layaknya kebahagianku!" ujar Farah seraya pergi. Saat Farah berbalik, dia merasa ada tangan yang menahannya.


"Mama!" ujar Farah, sesaat setelah membalikkan badan. Dia melihat sang mama berdiri dengan menggunakan pakaian kerjanya. Anggun meski sederhana. Sesil wanita yang begitu cantik dengan keanggunan yang tak terbantahkan. Wanita yang pernah ada dalam masa lalu Rafa.


"Alfian, aku mengizinkanmu menikah dengan Saniya agar kamu merasa bahagia. Aku tidak mampu membahagiakamu, kusadari itu semua. Namun saat itu dengan jelas aku mengatakan. Jangan pernah buat putriku menangis. Biarkan aku yang terkhianati, tapi tidak putriku. Aku sudah memintamu, jangan perlihatkan hubungan kalian di depan putriku. Kenapa kalian melanggar janji itu?" ujar Sesil emosi, Farah melihat wajah Sesil yang datar. Tak ada kesedihan, mungkinkah hatinya telah mati.


Farah merasa heran melihat Sesil seolah tidak peduli dengan pernikahan kedua Alfian. Entah mungkin benar yang selalu dia dengar? Bahwa pernikahan kedua orang tuanya tidak baik-baik saja. Ada luka yang menganga, tapi tak terlihat dan tak terasa. Sikap biasa Sesil seolah menjawab semua rasa penasaran Farah. Mungkin kesalahan bukan sepenuhnya ada pada Alfian. Namun sikap Sesil, semakin membuat Alfian merasa benar dengan keputusannya.


"Sayang, jangan bersedih. Meski papa tidak lagi milik kita seutuhnya. Mama masih bersamamu. Kita bisa bahagia bersama. Jangan terluka dengan semua ini. Mama janji akan buat dirimu bahagia!" ujar Sesil, Farah menggeleng lemah.


Dia bukan marah pada Alfian saja. Farah jauh lebih kecewa pada sikap diam dan acuh Sesil. Seakan pernikahannya tak berarti. Sesil bak wanita karir yang tidak peduli akan kebahagian dalam pernikahannya.


"Kalian berdua tidak berhati. Satu mengkhianati dan satunya merestui. Satu bahagia dan tertawa dan satunya sedih serta menangis. Seandainya kalian bertanya padaku, apa yang membuatku bahagia saat ini? Tak lain tak bukan pergi jauh dari hidup kalian. Orang tua yang lupa akan senyum putrinya. Orang tua yang lupa akan hari ulang tahun putrinya. Lanjutkan sandiwara kalian. Jangan pernah libatkan aku dalam hubungan aneh kalian berdua!"


FLASH BACK OFF


"Jadi maksudmu? Dia istri kedua om Alfian dan dia adik sambungmu!" ujar Vania lugas sembari menunjuk ke arah anak laki-laki di depannya. Farah mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Vania.

__ADS_1


"Tenyata papa jauh bahagia dengan keluarga barumu! ujar Farah lirih. Sengaja Farah mendekat. Agar dia bisa menyapa Alfian.


__ADS_2