
Setelah sholat magrib Rafa dan Hana mengikuti langkah kaki pak Ali. Saat Rafa akan membawa mobil, beliau menggeleng lemah. Dengan tersenyum beliau menunjuk sebuah rumah tak jauh dari mushola. Pak Ali berdiri di jalan besar depan mushola. Rafa dan Hana mengikutinya dari belakang. Pak Ali menunjuk sebuah rumah dengan tersenyum.
Rafa dan Hana melihat ke arah yang ditunjuk pak Ali. Sebuah rumah tak jauh dari mushola. Kedua bola mata Rafa membulat sempurna. Rumah yang ditunjuk pak Ali, bukan rumah biasa. Rumah yang besar dan megah, dibandingkan rumah di sampingnya. Rumah dengan pagar yang mengelilinginya. Rumah yang paling terang diantara rumah yang lain.
Rafa dan Hana menggeleng tidak percaya. Melihat rumah yang ditunjuk oleh pak Ali. Sebuah rumah yang sangat besar, Rafa tak percaya akan fakta yang dilihatnya. Pak Ali mengangguk penuh keyakinan. Dia membenarkan apa yang ditunjukkan? Pak Ali tersenyum sembari mengusap Fathan. Dia mencium kepala Fathan pelan. Rafa semakin heran melihat sikap pak Ali.
"Ainun, cucumu setampan putramu. Akhirnya tuan besar bisa melihat keturunannya!" ujar pak Ali, Rafa melongo heran. Hana hanya diam tak bersuara. Dia tidak ingin terlalu ikut campur. Keinginannya datang kemari, hanya ingin membawa Rafa mengenal keluarga Ainun.
"Maksud pak Ali apa? Tuan besar siapa? Siapa sebenarnya anda? Sepertinya anda begitu mengenal keluarga mama saya!" ujar Rafa bingung, pak Ali mengangguk sembari menepuk pelan punggung Rafa. Hana melihat sikap pak Ali layaknya seorang saudara. Dia seakan bahagia dan terharu bertemu dengan Rafa.
"Nak Rafa, itu rumah ibumu dulu. Ainun putri satu-satunya tuan besar Pratama. Ainun meninggalkan desa ini demi ayahmu. Gunawan Adi Prawira pemuda yang melakukan KKN di desa ini. Keluarga Ainun menentang keras hubungan itu. Sebab Ainun sudah dijodohkan dengan salah satu pemuda di desa ini!" ujar pak Ali, jantung Rafa berdetak hebat. Satu lagi kenyataan yang terkubur bersama jasad sang ibu. Hana menggenggam tangan Rafa erat. Hana merasakan tangan yang mulai berkeringat, tubuh Rafa bergetar hebat.
"Anda siapa? Kenapa mengenal mama dengan baik?" ujar Hana mewakili Rafa, keterkejutan Rafa membuat tubuhnya kaku. Bibir Rafa kelu mendengar kenyataan, yang tak pernah dia ketahui.
"Selama hidup aku bekerja pada tuan besar. Beliau orang yang terpandang di desa ini. Kebaikan beliau pada warga desa, membuat semua orang mengenal dan segan pada beliau. Kepergian Ainun kala itu, menjadi bukti ketegasan beliau. Dia menganggap Ainun bukan putrinya, saat dia lebih memilih tetap mencintai Gunawan. Tuan besar tidak ingin mengenal Ainun. Dengan tangan beliau sendiri, Ainun diserahkan pada keluarga Prawira. Semenjak itu tak ada lagi kebahagian di rumah itu. Rumah besar dan mewah, tapi sepi tanpa suara tawa atau tangis!" ujar pak Ali, Rafa mundur beberapa langkah. Tubuhnya lunglai mendengar kisah sang ibu. Dia terbuang dan tak dianggap demi cintanya pada Gunawan. Namun bukan kebahagian yanh dia dapat, melainkan pengkhianatan dan dicampakan.
"Mama tidak sebatang kara!" ujar Rafa lirih, Hana merangkul tubuh Rafa yang mulai goyah. Seakan kedua kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Rahasia besar terkuak tanpa mampu dicegah.
Bruuukkk
Tubuh Rafa jatuh ke tanah, lututnya menghantam tanah dengan sempurna. Kedua tangan menopang tubuhnya. Rafa menunduk melihat tanah di depannya, air matanya menetes membasahi tanah. Seorang wanita terhormat terhina di rumahnya. Seorang putri keluarga kaya menjadi pelayan di rumahnya. Sebuah cinta yang dipegah teguh, harus berakhir dengan pengkhianatan. Demi sebuah cinta meninggalkan keluarga. Sungguh sebuah pengorbanan yang besar dan tak layak disia-siakan.
"Kak Rafa, kita sudah sampai sini. Lebih baik kita temui kakek Pratama. Dia berhak mengenal cucu dan cicitnya. Meski dia tidak ingin melihat kita. Setidaknya kita sudah sejauh ini, tidak mungkin kita pulang tanpa bertemu dengan beliau!" ujar Hana, Rafa mendongak menatap Hana.
__ADS_1
"Sayang, mama bukan wanita yang layak dihina. Beliau lahir dalam keluarga terhormat. Lalu kenapa semua orang menganggapnya pembantu? Setega itu mereka menghina ibuku. Wanita yang melahirkanku!" tutur Rafa, Hana menggeleng lemah. Hana berjongkok disamping Rafa, menyadarkan tubuhnya pada Rafa.
"Kak Rafa, apapun yang terjadi dulu. Kita tidak pernah tahu dan tidak seharusnya kita menyesalinya. Sekarang yang harus kita lakukan. Meminta maaf pada kakek Pratama, beliau berhak tahu mama sudah tiada. Sebesar apapun kecewanya beliau. Tidak ada seorang ayah yang takkan merindukan putrinya. Beliau sudah hidup dalam kesepian bertahun-tahun. Sudah sepantasnya kita meminta maaf. Memeluk tubuh rentanya, dia amanah terakhir mama Ainun. Ayah yang telah membesarkan mama Ainun. Bukan saatnya kak Rafa lemah dan terpuruk. Jadilah seorang anak yang bisa dibanggakan mama Ainun. Dengan mengenal kakek Pratama!" bisik Hana, Rafa menoleh membisu. Dia bingung ingin mengatakan apa?
"Sayang, apa yang kamu katakan benar? Kita harus menemui kakek Pratama. Seandainya beliau tidak ingin bertemu kita. Itu wajar sebab kita telah melupakan beliau sekian tahun!" ujar Rafa sembari berdiri. Rafa menatap sebuah rumah yang besar. Tak sebesar rumah Rafa, tapi lebih besar dibandingkan rumah disekitarnya.
"Pak Ali, apakah kakek Pratama ada di rumah? Bisakah pak Ali mengantarkan saya menemui beliau. Saya ingin meminta maaf, sekaligus ingin bertemu beliau!"
"Nak Rafa, seandainya beliau menolakmu. Apa yang akan kamu lakukan?" ujar pak Ali lirih, Rafa tersenyum simpul.
"Pak Ali saya datang kemari hanya ingin mengenal keluarga mama. Jika seandainya beliau menolak bertemu saya. Tidak ada alasan saya marah. Puluhan tahun saya tidak mengenalnya, sangat wajar seandainya beliau marah pada kami!" ujar Rafa bijak, pak Ali mengangguk mengerti. Hana bahagia melihat sikap dewasa Rafa. Kebijaksanaan Rafa yang kelak mampu melindungi keluarganya.
"Kita berangkat setelah sholat isya. Tuan besar biasanya ada di luar rumah bersama cucu angkatnya. Seorang gadis yang diangkat menjadi cucunya sejak kecil. Jika dilihat dia berusia sama seperti istrimu!" ujar pak Ali, Rafa dan Hana mengangguk serempak. Memang sebentar lagi waktu sholat isya. Akhirnya mereka memutuskan menemui tuan besar Pratama setelah sholat isya.
...☆☆☆☆☆...
"Tuan besar, bolehkah saya masuk. Ada yang ingin bertemu dengan anda!" ujar pak Ali ramah, terdengar suara pintu terbuka. Keluar seorang wanita seusia Hana. Cantik dan berhijab. Pak Ali tersenyum ke arah Lisa cucu angkat tuan besar Pratama. Dengan anggukan kepala dari Lisa, pak Ali masuk ke dalam kamar.
Sebuah kamar yang sangat rapi dan besar. Dilihat dari desain kamar, sepertinya yang menempati seorang wanita. Tempat tidur yang indah penuh ukiran. Dinding yang dicat lebih terang, menunjukkan karakter seorang wanita. Rafa dan Hana berdiri mematung di depan kamar. Rasa canggung menelisik relung hati Rafa. Kakinya kaku tak mampu melangkah maju.
Pak Ali mengangguk seraya mengedipkan mata. Meminta Rafa dan Hana mendekat, Lisa heran melihat kedatangan dua tamu tak terduga. Sudah lama pintu rumah ini tertutup untuk tamu. Tuan besar Pratama enggan menerima tamu.
"Tuan besar, lihatlah siapa yang datang?" ujar pak Ali, Rafa menatap sekeliling kamar. Tatapannya mengunci sebuah foto yang menempel di dinding kamar. Sebuah foto berbingkai indah, foto wanita cantik yang tak lain ibu kandungnya. Tuan Pratama memutar kursi rodanya, dia melihat ke arah Rafa dan Hana bergantian. Lalu menatap fathan lekat, entah dorongan apa? Sehingga tuan Pratama kuat menggerakkan tangannya. Kaki yang telah lama lemah, tiba-tiba memaksa berdiri.
__ADS_1
Pak Ali dan Lisa heran melihat tuan Pratama berjalan meski terhuyung. Rafa berdiri mematung menatap sang kakek yang tidak pernah dia kenal. Kakek yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Ainun, mata itu milik Ainun. Dia Ainunku!" ujar tuan besar Pratama pada Fathan. Kebetulan Fathan digendong dengan posisi menghadap ke depan. Tangan tuan besar Pratama bergetar saat menyentuh pipi Fathan. Rafa melihat kerinduan yang mendalam dari tuan besar Pratama. Sebenci-bencinya orang tua pada anaknya. Tetap saja akan ada kerinduan yang mendalam.
"Siapa kalian? kenapa mata Ainun tersemat indah di kedua mata anak ini. Apa dia cucu putriku? Apa dia cicitku?" ujar tuan Pratama lirih, Hana mengangguk pelan seraya tersenyum. Dengan lembut Hana menarik tangan tuan Pratama. Dia mencium punggung tangan tuan Pratama. Rafa melakukan hal yang sama, dia mencium lembut punggung tangan kakeknya. Air mata Rafa menetes membasahi tangan tuan Pratama.
"Tuan besar, ini Rafa dan itu istrinya Hana. Dia putra Ainun kita. Mereka datang untuk mengunjungimu!" ujar pak Ali, tuan besar Pratama mundur beberapa langkah. Pak Ali menahan tubuh tuannya. Lisa membantu tuan Pratama duduk kembali di kursi roda. Seketika suasana menjadi sunyi, tak satupun dari mereka yang berbicara. Hanya terdengar celoteh Fathan memecah kesunyian.
"Kakek, maafkan Rafa. Mama tidak pernah menceritakan keberadaan kakek. Maafkan Rafa, maaf!" tutur Rafa pilu, dia bersimpuh dibawah kaki tuan Pratama. Hana melihat ketegaran Rafa ambruk, Rafa meminta maaf sampai titik terendahnya. Tuan Pratama terdiam, bukan dia marah. Namun dia malu mengakui Rafa sebagai cucunya. Dengan tangannya sendiri tuan Pratama mengusir putrinya. Bertahun-tahun dia hidup dalam penyesalan.
"Kamu putra Ainun, dimana dia sekarang? Apa dia masih marah padaku? Katakan padanya, aku minta maaf. Minta dia datang menemui laki-laki tua ini. Aku akan membayar sikap kasarku. Katakan padanya aku minta maaf!" ujar tuan Pratama sembari mengusap rambut Rafa. Seketika Rafa mendongak, menatap wajah tuan Pratama. Wajah yang mirip dengan mamanya. Paras cantik yang dimiliki mamanya menurun dari tuan Pratama. Rafa diam seribu bahasa, tak sanggup mengatakan kenyataan yang akan melukai hati laki-laki tua di depannya.
"Kakek, mama Ainun sudah ada di depanmu. Lihatlah dia dalam cicitmu Fathan. Mama Ainun lahir kembali dalam diri Fathan. Kami datang mengunjungimu, sebagai bentuk kasih sayang dan kerinduan mama Ainun akan dirimu!" ujar Hana sembari meletakkan Fathan dalam pangkuan tuan Pratama. Rafa membantu dengan menopang Fathan. Tuan Pratama mencium Fathan tanpa henti.
"Apa Ainun sudah meninggal?" ujar tuan Pratama dengan suara bergetar. Sesaat setelah mencium Fathan. Rafa dan Hana mengangguk lemah. Air mata tuan Pratama menetes, dia memeluk erat tubuh Fathan. Dengan sisa kekuatan yang mulai melemah. Dia mendekap erat Fathan, cicit yang tidak pernah dia kenal.
"Sekarang ada kami, kakek tidak perlu cemas. Mama Ainun sudah tenang, hanya doa yang bisa kita berikan untuknya!" ujar Hana, tuan Pratama mengangguk mengerti.
"Ainun semoga kamu tenang disana. Terima kasih telah mengizinkanku melihat cucu dan cicitku. Mereka kebahagian yang kamu tinggalkan untukku. Terima kasih Ainun, terima kasih!" ujar tuan Pratama lirih.
"Mama, terima kasih pernah hadir dalam hidupku. Lihatlah menantu yang kupilih. Dia jalanku bertemu dengan kakek. Wanita yang mencintaiku dengan sepenuh hati. Wanita yang tak pernah ingin melihatku kalah dan lemah. Hari ini dengan cinta dan ketulusannya. Aku menemukan keluargamu yang telah laa menghilang. Hana wanita yang tak pernah ingin aku menjauh dari orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku. Mama, wanita yang melahirkanku dan membesarkanku. Hana wanita yang selalu menjaga kehormatanku. Kalian berdua dua wanita terhebat dalam hidupku. Terima kasih, tanpa kalian takkan ada Rafa Akbar Prawira yang kuat tak tergoyahkan." batin Rafa.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1