
Kehamilan Hana sudah mendekati hari persalinan. Hormon kehamilan Hana sedikit membuat Hana berubah. Entah kenapa beberapa hari terakhir Hana mudah emosi? Hana sudah berhenti bekerja. Setiap harinya dia berada di rumah. Hana merasa bosan, karena tidak melakukan apapun. Dengan berdiam diri membuat Hana gusar, sedikit kesalahan akan memancing amarahnya. Apalagi jika tidak sesuai dengan keinginannya. Hana seketika akan marah. Rafa dibuat kewalahan menghadapi sikap Hana yang berubah menjadi pemarah.
Setelah semalam Rafa dan Hana ribut karena salah paham. Pagi ini Hana dan Rafa sudah berbaikan. Mereka mudah untuk bertengkar, tapi lebih mudah lagi untuk rukun. Sebab Rafa selalu mengalah menghadapi sikap keras Hana. Rafa tidak bisa bila melihat Hana marah.
"Adrian, pagi sekali kamu datang. Kamu mencariku atau ingin menumpang sarapan!" ujar Rafa santai, Adrian senyum-senyum kuda. Adrian melihat ke arah Hana yang cemberut. Bahkan godaan Rafa pada Adrian tak membuat Hana tersenyum.
Adrian melihat ke arah Rafa, dengan santai Rafa mengangkat kedua bahunya. Adrian sedikit heran melihat sikap Hana. Tidak biasanya Hana terlihat kesal, apalagi saat ada dirinya.
"Rafa, aku datang pagi sekali. Sebab aku ingin mengajakmu berangkat bersama. Bukankah kita harus meninjau proyek yang dikerjakan Sesil. Kamu juga harus melihat letak kecurangan Sesil!" ujar Adrian santai, Rafa mengangguk mengerti. Sebaliknya Hana semakin kesal mendengar nama Sesil disebut. Apalagi Rafa akan bertemu Sesil. Rafa tak menyadari perubahan sikap hana sebelum dan setelah mendengar nama Sesil.
"Baiklah, selesaikan sarapanmu. Kita harus berangkat, aku tidak ingin Sesil lolos. Aku harus menemukan bukti kecurangannya!" ujar Rafa, Adrian mengangguk dengan mulut penuh makanan.
Adrian dan Rafa sibuk membicarakan bisnis yang berhubungan dengan Sesil. Hana sibuk dengan kekesalannya. Hana hanya memakan sedikit sarapannya. Setelah selesai Hana berdiri, dia memutuskan untuk pergi dari meja makan.
"Sayang, kenapa kamu sarapan sedikit sekali? Kamu ingin makan sesuatu, aku akan meminta mereka membuatkannya untukmu!" ujar Rafa cemas, sembari menahan tangan Hana. Dengan santai Hana memukul tangan Rafa, agar melepaskan tangannya.
"Tidak perlu cemas, aku sudah kenyang mendengar kalian berdua membicarakan bisnis dan Sesil. Jadi aku ingin pergi, kalian lanjutkan saja!" ujar Hana kesal, Rafa mengangguk mengerti. Adrian terkekeh melihat Hana kesal setelah mendengar nama Sesil.
"Sayang, masih lanjut yang semalam. Aku sudah mengatakan dengan jelas. Semua bisnis yang berhubungan dengan Sesil aku serahkan pada Adrian. Aku juga sudah meminta Fia, untuk melarang Sesil masuk ke ruanganku. Ayolah sayang, dengan cara apa lagi aku membuatmu percaya?" ujar Rafa lirih, Hana tidak peduli dengan perkataan Rafa. Dengan santai Hana meninggalkan meja makan. Dia berjalan perlahan menuju ruang tengah.
"Rafa, Hana sepertinya kesal setiap kali mendengar nama Sesil. Memangnya kamu bertemu Sesil lagi?" ujar Adrian, Rafa menatap tajam ke arah Adrian.
"Jangan banyak bicara, jika Hana mendengarnya akan semakin salah paham. Semalam dia membongkar buku-bukuku. Tanpa sengaja die menemukan fotoku dan Sesil. Sejak semalam Hana selalu curiga padaku. Bahkan semalaman dia tidak tidur. Hana gelisah mengingat foto-foto itu!" ujar Rafa lirih, Adrian manggut-manggut mengerti. Sebaliknya Rafa semakin cemas memikirkan kondisi Hana yang marah. Semalam Hana sudah mogok makan, pagi ini Hana malas sarapan. Rafa semakin cemas memikirkan kondisi Hana.
"Kamu juga Rafa, foto Sesil masih disimpan. Pantas saja Hana marah, biasanya kamu dan Sesil berfose sangat mesra. Kalau bumil lagi marah, akan susah membuatnya tenang. Kamu cari masalah Rafa!" ujar Adrian, Rafa kesal mendengar perkataan Adrian. Bukan memberikan solusi. Adrian malam membuat Rafa semakin cemas.
__ADS_1
"Diam kamu, makanlah sepuasmu. Aku harus menemui Hana. Sebelum dia semakin marah. Aku bisa kehilangan akal melihat Hana marah!" ujar Rafa, Adrian tersenyum tipis mendengar perkataan Rafa.
Rafa berjalan menghampiri Hana. Dia melepas jas serta dasi. Rafa menggulung lengannya sampai siku. Hana melihat Rafa yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Dengan kepala bersandar pada pundak Hana.
"Kepala kak Rafa berat, aku susah menoleh!" ujar Hana, Rafa mendongak menatap Hana.
"Sayang, aku mohon sudah marahnya. Lebih baik aku tidak bekerja, pikiranku hanya berputar tentangmu. Wajah marahmu bisa membunuhku, aku frustasi tanpa senyummu. Aku lebih baik kehilangan proyek, dariapada kehilangan senyummu. Jadi aku mohon tersenyumlah atau jika perlu hari ini aku putuskan kerjasama dengan Sesil!" ujar Rafa tegas, Hana menoleh sembari memincingkan mata. Seolah tak percaya akan perkataan Rafa.
"Serius bisa, kak Rafa rela kehilangan proyek yang sudah berjalan. Tidak takut rugi!" ujar Hana tak percaya, Rafa mengangguk seraya mengambil ponsel pintarnya. Belum sempat Rafa mengetik nama Sesil, Hana sudah merebut ponselnya. Bahkan Rafa belum sempat menghidupkan ponselnya.
"Dikunci!" ujar Hana dingin, Rafa menggeleng tak percaya melihat sikap Hana. Dengan kesal Hana mengembalikan ponsel pada Rafa. Lagi dan lagi masalah sepele, menjadi alasan kemarahan Hana.
Jika biasanya Hana akan diam atau bertanya baik-baik. Sekarang tanpa bertanya, Hana langsung marah. Sungguh Rafa dibuat kalang kabut dengan sikap Hana. Adrian senang melihat Rafa kewalahan menghadapi Hana. Hanya Hana yang mampu membuat Rafa bahagia. Jika dulu mungkin Rafa sudah marah, tapi bersama Hana amarah Rafa seolah berubah menjadi cinta.
"Sayang, jika tidak aku kunci. Semua orang bisa membukanya. Kamu sendiri tahu, banyak file penting didalam ponsel ini. Jika orang lain bisa membukanya, mereka bisa melihat isi file penting itu!"
"Sayang, berapa bulan kita menikah? Sudah hampir satu tahun lebih, sayang. Pernah kamu menghubungiku dulu? setidaknya untuk menanyakan kabarku. Pernah kamu meminta nomer ponselku? Agar kamu mudah menghubungiku. Pernah kamu memegang ponselku? Sekadar ingin tahu aku menggunakan ponsel jenis apa? Atau setidaknya kamu tahu berapa kali aku sudah berganti ponsel selama kita menikah? Jawabannya tidak pernah, kamu tidak pernah peduli dengan ponsel atau apa yang aku gunakan?"
"Memangnya kenapa kalau aku tidak pernah peduli? Apa sekarang kak Rafa melarangku?" ujar Hana kesal, Rafa tersenyum. Lalu mengecup puncak kepala Hana.
"Sayang, aku tidak melarang atau marah. Aku sangat senang bila kamu peduli padaku. Sandi ponselku tak lain tanggal kelahiranmu. Wallpaper ponselku, foto pernikahan kita. Enam angka terakhir nomer ponselku, tanggal pernikahan kita. Pin ATM yang aku gunakan, tak lain tanggal pertama kali kita bertemu! Semua dalam hidupku berputar tentangmu!" ujar Rafa, sembari merangkul tubuh gembul Hana.
"Apa alasan kak Rafa begitu mencintaiku?" ujar Hana lirih, Rafa tersenyum semanis mungkin. Hana terperanjat saat mengetahui kenyataan, bahwa Rafa selalu mengingatnya dalam setiap kesempatan. Hidup Rafa berputar hanya disekeliling Hana. Dengan semua fakta yang ada, Hana semakin takut bila Rafa akan berpaling.
"Sayang, jika mencintai butuh alasan. Maka tidak akan ada orang yang mengatakan cinta itu buta. Aku mencintaimu, karena hatiku yang memilihmu. Kedua mataku kagum akan kesholehanmu. Kedua telingaku terpesona mendengar suara merdumu saat berbicara. Bibirku selalu kelu bila berhadapan dengan diammu. Aku mencintaimu dengan kesederhanaan, bukan dengan alasan. Aku menyayangimu dengan keteguhan, bukan keraguan. Aku menghargaimu dengan keikhlasan, bukan keterpaksaan. Aku memilihmu, karena imanmu yang mengetuk hatiku yang beku!" tutur Rafa, Hana merangkul tubuh Rafa.
__ADS_1
"Ternyata aku benar! Aku tak pernah cantik di depanmu. Buktinya kamu tak pernah memujiku. Seandainya kamu bertemu wanita yang lebih cantik. Pasti kak Rafa berpindah hati!" ujar Hana, Rafa menggeleng lemah. Dia sudah tidak tahu bagaimana menjelaskan pada bumil yang keras kepala? Adrian mendekat pada mereka berdua. Adrian melihat besarnya rasa sayang Rafa pada Hana. Dia bisa melihat, Rafa yang lain bila bersama Hana.
"Hana yang manis, ibu hamil yang sedang cemburu. Tentu saja bagi Rafa kamu tidak cantik. Sebab yang membuatnya Rafa jatuh hati padamu. Tak lain perhatianmu saat membuatkan Rafa sarapan. Pertama kalinya dalam hidup Rafa ada yang peduli pada dirinya. Memikirkan kesehatannya dengan cara yang berbeda. Jika Rafa ingin mencari yang cantik, itu mudah tapi yang sepertimu sangatlah tidak mudah. Kamu membuat sahabatku belajar arti mencintai. Jika kamu bisa bekorban menerima masa lalu Rafa. Maka Rafa bisa melupakan semua kesenangannya, hanya agar tetap bersamamu!" ujar Adrian, Rafa menunduk malu. Hana menatap wajah Rafa, Hana melihat kesungguhan dalam kedua mata Rafa.
"Kak Rafa, aku tidak ingin kamu hidup sebagai orang lain. Kamu berhak bahagia. Jangan karena diriku, kak Rafa lupa cara bahagia!"
"Sayang, jangan pedulikan perkataan Adrian. Kata siapa aku tidak bahagia? Menjadi seorang ayah, hadiah terindah darimu. Bersamamu aku bisa marah lalu kesal, tertawa kemudian sedih. Percayalah aku bahagia bersamamu!" ujar Rafa, Hana menggeleng. Seketika Rafa melempar bantal sofa ke arah Adrian.
Bugh
"Semua karena dirimu, Hana marah lagi!" ujar Rafa kesal, sesaat setelah melampar bantal.
"Kak Rafa, aku juga bahagia bersamamu. Maaf jika aku mengacuhkanmu, aku hanya takut salah bila terlalu memperhatikanmu. Sejujurnya aku tidak marah melihat fotomu bersama Sesil. Aku hanya kesal, kenapa kita tidak pernah berfoto seperti itu? Aku tidak cemburu mendengar kak Rafa membicarakan Sesil. Sebab aku tahu hanya diriku yang berarti untuk kak Rafa. Cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya akan cintanya. Sama halnya hatimu yang memilihku, hatiku juga yang memilihmu!"
"Hana, kamu mengerjai Rafa!" ujar Adrian, Hana mengangguk pelan.
"Aku hanya ingin merasakan ketulusan kak Rafa. Jika dia memang tulus padaku. Kak Rafa pasti lebih memilihku daripada yang lain. Ternyata bukan kak Rafa yang terkejut, malah aku yang malu. Mengetahui besarnya cinta suamiku!" ujar Hana lirih, Rafa mencium puncak kepala Hana.
"Kami duniaku, bersamamu aku menjadi sempurna. Jadi aku takkan pernah menggantikan dirimu dengan yang lain!"
" Terima kasih!" ujar Hana, Rafa tersenyum.
"Kalian membuatku iri, kapan aku menikah dengan Diana? Hana jadilah saudara yang baik, bantu aku mendekati Diana?" ujar Adrian lirih.
"Diana sudah dekat denganmu, hanya kamu perlu kesabaran untuk membuka pintu hati yang telah terkunci rapat!" ujar Hana dingin.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊