
Pagi yang cerah berubah menjadi suram. Keluarga Prawira harus menerima amarah Rafa. Kemarahan Rafa sudah tidak bisa dibendung. Kehilangan Hana dan hampir saja kehilangan putra yang belum terlahir. Membutakan mata hati Rafa. Dia tidak bisa lagi mengenal siapa keluarga Prawira? Rafa seakan menganggap mereka orang asing.
Rafa meminta salah satu stafnya, menyebarkan berita tentang masa lalu menantu keluarga Prawira. Masa lalu seorang Sabrina Prawira istri kedua Gunawan Adi Prawira. Tanpa ada yang menyadari Rafa memiliki semua bukti masa lalu Sabrina.
Seluruh kota gempar, saat mengetahui menantu keluarga terpandang selevel Prawira. Memiliki menantu yang tak lain mantan perempuan malam. Bukan hanya dunia club, Sabrina terkenal sebagai perempuan malam kelas atas. Semua terjadi jauh sebelum bertemu dengan Gunawan.
Berita itu bak bola panas yang bergulir, rumah keluarga Prawira penuh dengan wartawan yang ingin mengetahui kebenaran tersebut. Tuan Ardi Prawira tak lagi mampu mengatakan apa-apa? Dia diam membisu, melihat semua orang mengetahui aib keluarganya. Menantu keluarga Prawira mantan perempuan malam. Fakta yang sengaja ditutup rapat mengudara tanpa bisa dicegah. Mirisnya lagi semua berita dikeluarkan oleh Rafa Akbar Prawira.
"Papa!" sapa Gunawan, dia bersimpuh di kaka tuan Ardi. Gunawan menangis mencium tangan orang tuanya. Sabrina menunduk malu, dia tak lagi mampu menatap orang dalam rumahnya. Bahkan memerintah ART di rumahnya Sabrina seolah tak pantas.
"Papa, maafkan Gunawan yang gagal menjaga nama baik keluarga Prawira. Maafkan Gunawan!" ujarnya dengan bersimpuh bahkan mencium kaki tuan Ardi. Sabrina menangis melihat suaminya harus meminta maaf pada ayahnya. Kiara tak ingin bertemu Sabrina. Dia mengunci dirinya di dalam kamar. Kiara melempar semua barang yang ada di kamarnya. Rasa malunya tak mampu dia tanggung.
"Gunawan, papa sudah sangat tua. Tubuh papa sudah renta tak bertenaga. Papa bukan lagi ayah yang mampu membelamu. Dengan jelas papa mengatakan, Rafa yang kelak akan menjagamu. Sekarang dia orang yang ingin menghancurkan kita! Katakan pada papa, kurangkah kasih sayang papa pada kalian berdua. Sampai kalian tidak bersedia memenuhi permintaan sederhana papa! Berdamai dengan Rafa, penopang keluarga kita kelak!" ujarnya lirih, Gunawan hanya mampu menangis.
Sabrina duduk bersimpuh tak jauh dari tuan Ardi. Selama menjadi menantu keluarga Prawira, tuan Ardi tidak pernah memperlakukan Sabrina berbeda. Meski jauh dalam hati dia tidak bisa menerima Sabrina sepenuh hati. Namun tak pernah dia membenci Sabrina. Hanya Sabrina alasan kebahagian putranya.
Tuan Ardi menunduk lemah, aib yang bertahun-tahun di tutupi. Kini terbuka lebar, muncul ke permukaan. Gunawan meratapi kelemahannya yang tak mampu mendidik Sabrina. Cintanya yang begitu besar membutakan mata hatinya. Bahkan demi Sabrina, Gunawan mengacuhkan ibu kandung Rafa hingga napas terakhirnya.
__ADS_1
"Papa, maafkan Sabrina yang telah menutupi masa laluku. Sekarang tak ada lagi yang mampu kukatakan. Aku kotor, aku tak pantas menjadi menantu keluarga ini!" ujarnya sembari menangis, tuan Ardi menggeleng lemah. Sabrina mengakui kesalahan agar tak disalahkan oleh keluarga Prawira. Dia sangat mengenal keluarga ini. Keluarga yang mudah memaafkan, tanpa berpikir itu tulus atau tidak.
"Sabrina, jika aku merasa kamu tak pantas menjadi menantuku. Sejak awal sudah aku keluarkan kamu dari rumah ini. Namun aku tetap diam, menutup telinga dan mataku. Melupakan semua masa lalumu. Hanya demi kebahagian putraku. Sayangnya harta dan status yang kamu sandang, membuatmu merasa pantas menghina Hana. Wanita yang jauh lebih mulia dibanding dirimu!" tutur tuan Ardi lirih, Sabrina terperangah mendengar penuturan tuan Ardi. Gunawan mengusap wajahnya kasar. Dia tak mampu lagi menatap wajah ayahnya, orang yang selalu mendukung setiap langkah salahnya. Tanpa bertanya ataupun menyalahkan!
"Maksud papa apa? Aku tidak mengerti, apa sekarang papa lebih membela Hana? Papa membela dan memujinya, setelah papa mengetahui masa laluku. Papa egois, membuangku setelah mengetahui aku kotor!" ujar Sabrina kasar, dia berdiri dengan penuh emosi.
"Sabrina, jaga bicaramu! Jangan bersikap tidak sopan pada papa!" ujar Gunawan emosi, Sabrina meradang mendengar Gunawan berkata kasar padanya.
"Kenapa kamu marah? Aku memang benar, papa membela Hana setelah tahu aku hina. Kalian berdua sama, tidak menghargaiku setelah tahu aku kotor. Apa kamu menyesal menikah denganku? Apa kamu lupa? Bukan aku yang mengemis ingin menikah. Kamu yang berlutut di depanku. Kalian keluarga kaya tak beradab. Membuangku setelah mengetahui masa laluku!" ujar Sabrina marah, tuan Ardi menggelengkan kepala. Gunawan meradang mendengar perkataan Sabrina yang terus memojokkan dirinya, terutama ayahnya yang selama ini selalu membela mereka.
"Sabrina!" teriak Gunawan, Sabrina menatap tajam ke arah Gunawan.
"Tutup mulut, kamu tidak tahu apa-apa?"
"Apa yang tidak aku tahu? Kalian membuangku seperti sampah. Setelah masa laluku terkuak. Kamu menghinaku, kalian ayah dan anak yang kejam!"
"Sabrina cukup! Kamu tidak mengetahui apa-apa? Papa dan aku sudah tahu, jika kamu bekerja sebagai wanita malam. Kami tahu masa lalumu yang kelam. Kami tahu semuanya!" teriak Gunawan marah, tuan Ardi menunduk. Kedua bola mata Sabrina membulat sempurna, dia terkejut mendengar perkataan Gunawan.
__ADS_1
Selama menikah dengan Sabrina, tidak satu kalipun Gunawan berbicara kasar. Jangankan mengangkat tangan, membentak Sabrina tak pernah dilakukan Gunawan. Hari ini dia membentak, bahkan mengangkat tangan. Ketika Sabrina terus dan terus menyalahkan ayahnya.
"Apa?" ujar Sabrina lirih, Gunawan menarik tubuh Sabrina. Melemparnya ke depan tuan Ardi.
"Iya Sabrina, kami mengetahui semuanya. Kami tidak pernah mengungkit masa lalumu. Kami menerima dirimu dengan tangan terbuka. Selama hidup papa, dia menutup mata dan telinganya. Menjadi tembok perisai hubungan kita. Hanya demi kebahagianku, karena kamu senyumku. Aku membuang putraku demi dirimu. Dia mengacuhkanku hanya karena aku suami yang meninggalkan ibunya demi dirimu!"
"Lihat dengan kedua matamu, tubuh renta di depanmu yang selama ini menjadi perisai menutupi masa lalumu. Dia melindungimu dengan sekuat tenaga, bahkan saat Rafa ingin membuka aibmu. Laki-laki tua itu yang menghiba pada Rafa. Dia yang menjamin hidupmu. Berjanji tak akan pernah kamu menyentuh Hana. Namun sepertinya harta membuatmu silau, melupakan asal-usulmu yang hina. Menganggap dirimu pantas dan lebih berharga daripada Hana. Kamu hampir membunuh cucuku dengan keangkuhanmu dan kesombonganmu. Kamu keterlaluan Sabrina, kamu menghina cintaku. Kamu selalu meremehkan diriku, tapi aku diam demi hati yang telah memilihmu!" ujar Gunawan emosi, Sabrina duduk bersimpuh. Dia menyesali perkataan yang terlanjur terucap. Sabrina menangis di depan kaki tuan Ardi.
"Sabrina, aku tidak pernah merendahkanmu. Aku menutup mata dan telinga, hanya demi Gunawan putraku. Aku tak pernah meminta lebih. Aku hanya meminta padamu. Jangan pernah usik Hana, karena kemarahan Rafa tidak akan bisa kamu bendung. Sekarang kamu lihat sendiri, aib yang kututupi selama ini. Terkuak berkat sikap sombongmu!" tutur tuan Ardi lirih, Sabrina menangis tanpa bisa berkata apa-apa?
"Sekarang semua sudah terjadi, nama baik keluargaku Prawira sudah hancur. Berdoalah, semoga Rafa menghentikan kegilaannya. Jika tidak, bukan hanya nama baik. Rafa bisa menghancurkan perusahaan Prawira, yang artinya kita harus siap menjadi gelandangan!" ujar tuan Ardi lirih, lalu berdiri meninggalkan Gunawan dan Sabrina.
"Pa, maafkan Sabrina!" ujar Sabrina, tuan Ardi menoleh.
"Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu tidak pernah tahu harga diri itu apa? Ketahuilah Sabrina, harga diri seorang wanita hanya ada ketika dia mampu menghormati dan menjaga martabat suaminya. Hana tidak pernah menuntut apapun dari Rafa! Hana menjaga kehormatan Rafa, dengan tidak menjadi musuh bagi keluarga Rafa. Hana melindungi martabat Rafa dengan tetap diam, menyembuyikan diri sebagai istri Rafa. Bukan karena malu akan statusnya, tapi demi menjaga nama baik Rafa. Itulah harga diri yang sebenarnya. Jangan pernah merendahkan seseorang, jika ternyata dirimu lebih rendah darinya!"
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
TERIMA KASIH😊😊😊