
Pertemuan Rafa dan Hana membawa pada satu keputusan. Rafa akan membantu Kiara bangkit dari rasa malu. Dengan syarat Hana bersedia ikut pulang bersamanya. Jika tidak Rafa akan tetap menutup mata dan telinga akan rasa malu yang ditanggung keluarga Prawira.
Hana bukan pribadi yang acuh, dengan setengah hati Hana mengiyakan permintaan Rafa untuk kembali tinggal bersama. Hana akan kembali tinggal bersama Rafa di rumah baru. Rumah yang sengaja Rafa beli untuk dia dan keluarga kecilnya kelak.
Rafa tak ingin lagi kehilangan Hana, dengan cara apapun Rafa akan mempertahankan Hana. Kedatangan Naufal setelah beberapa tahun, sedikit membuat Rafa waspada. Munculnya pesaing, membuat Rafa menyadari Hana bukan wanita sembarangan.
Rafa membawa Hana menuju rumah barunya. Rumah yang sederhana dari luar, tapi mewah di dalam. Sengaja Rafa memadukan dua gaya, sebab dia ingin Hana merasa nyaman di rumah barunya. Rafa ingin memberikan yang terbaik untuk Hana dan buah hatinya.
Sebelum datang ke rumah yang dibeli Rafa. Hana mengajak Rafa datang ke rumah ustad mengajinya dulu. Hana ingin menikah secara agama dengan Rafa. Meski perkataan Rafa dikatakan dalam kondisi tidak sadar. Namun Hana takut itu sudah jatuh talak baginya. Maka dari itu, Hana meminta Rafa menikahinya kembali secara agama.
Hana menginjakkan kakinya di rumah Rafa. Hana melihat rumah yang tertata rapi, halaman depan cukup luas dengan bermacam-macam tanaman bunga. Rafa pernah melihat Hana suka menanam bunga. Demi kesenangan Hana, Rafa sengaja mencari rumah dengan halaman yang luas. Agar Hana bisa menanam bunga sepuasnya.
"Sayang, kamu suka rumahnya. Aku memilih ini sesuai dengan gayamu. Ada beberapa barang yang sengaja aku ambil dari rumah lamamu. Aku tidak ingin kamu merasa asing dengan rumah baru ini!" ujar Rafa, sembari memeluk Hana. Rafa meletakkan kepalanya dipundak Hana. Tangan kekar Rafa melingkar sempurna di perut buncit Hana. Rafa merasakan perut Hana yang keras.
"Hmmmm!" sahut Hana dingin. Meski semua sesuai dengan gaya Hana. Namun rumah ini tetaplah sangat besar dan luas bagi Hana.
"Sayang, ada yang kurang menurutmu! Katakanlah, aku akan memperbaikinya. Suaramu seolah tidak suka dengan rumah ini!"
"Aku bukan tidak suka, tapi rumah seluas ini. Hanya untuk kita berdua, apa tidak terlalu berlebihan!" ujar Hana kesal, Rafa terkekeh mendengar kekesalan Hana. Rafa sempat takut Hana tidak suka dengan arsitektur rumah. Sekali Hana berkata tidak suka. Saat itu juga Rafa akan membeli rumah baru.
"Sayang, rumah ini tidak akan sepi. Kelak rumah kita akan ramai dengan suara putra-putri kita. Aku ingin memiliki banyak anak. Aku tidak ingin putraku sendirian tanpa saudara. Aku merasakan sepinya hidup tanpa saudara!" ujar Rafa, Hana mengembik. Dia memajukan bibirnya lima senti ke depan. Hana tidak setuju dengan perkataan Rafa.
"Melahirkan satu saja, aku belum mampu. Sekarang malah berharap memiliki banyak anak? Apa kak Rafa pikir mengandung, melahirkan dan membesarkan itu mudah? Bagi kak Rafa mungkin mudah, setelah menaruh benih. Kak Rafa tinggal begitu saja. Sisanya aku yang mengurus!" ujar Hana kesal sembari berjalan meninggalkan Rafa. Sedangkan Rafa tersenyum bahagia, akhirnya Hana kembali seperti dulu. Hana kembali menganggap Rafa berarti.
Hana melangkah masuk menggunakan kaki kanan. Dia ingin memulai semua dengan awal yang baik dan berharap dapat yang terbaik. Rafa mengikuti Hana dari belakang. Kedua bola mata Hana membulat sempurna. Saat dia melihat ke dalam rumah Rafa.
Barang-barang mewah tertata rapi. Ada lift di sudut kanan, entah kenapa Rafa membuat lift? Namun barang mewah yang mampu membuat Hana terperangah. Kedua mata Hana menatap penuh arti pada satu benda yang menempel dengan apik di dinding. Sebuah foto pernikahan yang diedit sedemikian rupa. Sehingga terlihat mirip asli bukan editan. Sebuah foto yang terbingkai indah dengan figura yang terlihat elegant dan mewah.
Dalam foto terlihat Hana menggunakan kebaya putih sederhana, yang dipadukan dengan hijab putih yang dihiasi bunga melati. Rafa berdiri di sampingnya, dengan menggunakan setelan kemeja putih. Rafa dan Hana terlihat sangat serasi. Namun bukan itu yang menarik perhatian Hana. Foto kedua orang tuanya yang berdiri tepat disampingnya. Sedangkan kakeknya berdiri tepat disamping Rafa.
"Sayang, mereka alasan senyummu. Aku membuatnya agar kamu tak pernah merasa sendiri. Rumah ini bukan rumahku sekarang. Seluruh isi rumah ini dan aku menjadi milikmu seutuhnya. Jangan pernah menangis atau tertawa sendiri. Aku ada untuk menggantikan mereka disisimu!" bisik Rafa, Hana mengangguk lemah. Air matanya menetes, dia teringat akan kedua orang tuanya. Akankah mereka bahagia melihat Hana bahagia sekarang!
"Terima kasih!" ujar Hana dengan suara sedikit serak. Hana berbalik seraya memeluk Rafa erat. Hana menempelkan wajahnya tepat di dada bidang Rafa. Pelukan yang selalu Rafa rindukan. Pelukan penuh ketulusan, karena Hana melakukannya tanpa Rafa meminta atau dipaksa.
__ADS_1
"Akhirnya aku mampu memahami dukamu. Mereka alasan sedih dan bahagiamu. Maafkan aku yang pernah menghinamu dan meragukan cintamu. Aku yakin mulai hari ini, keteguhan cinta yang menuntun kita pada kebahagian. Terima kasih memberikanku pelukan penuh cinta!" batin Rafa sembari mencium puncak kepala Hana.
"Kak Rafa, terima kasih!" ujar Hana lirih, Rafa mengangguk seraya memeluk Hana erat.
"Aku mencintaimu, jangan pernah menguji cintaku lagi. Sejujurnya aku takkan pernah sanggup!" ujar Rafa, Hana menutup matanya. Dia merasakan kehangatan pelukan yang telah lama pergi.
...☆☆☆☆☆...
"Rafa, kamu datang nak!" sapa Gunawan, Rafa mengangguk pelan. Gunawan melihat tatapan berbeda Rafa padanya. Memang Rafa tak pernah bersikap hangat padanya. Semenjak kematian ibu kandungnya. Rafa seolah tak ingin mengenal Gunawan. Namun Rafa tetap bertahan demi janjinya pada mendiang ibu yang melahirkannya.
"Dimana kakek?" ujar Rafa dingin, Gunawan tertegun melihat sikap dingin Rafa. Dinginnya mampu membekukan tubuhnya. Tak ada lagi tatapan hangat, suara yang terdengar bak suara lebah. Mampu menyengat dan membunuh siapa yang tersengat?
"Papa ada di ruang tengah, beliau sedang menonton TV bersama Kiara!" ujar Gunawan, Rafa berjalan tanpa peduli pada Gunawan. Rafa melihat tuan Ardi duduk bersama Kiara. Tak terlihat Sabrina di ruang tengah.
"Kakek!" sapa Rafa, tuan Ardi mendongak menatap ke arah Rafa. Kiara yang melihat Rafa, sontak emosi dia menyiram Rafa dengan segelas air.
Byuuuurrr
Pryaaaaaaarrr
Suara gelas yang menghantam lantai dengan sempurna. Rafa merebut gelas dari tangan Kiara. Dia membanting sempuran gelas yang dipegang Kiara.
"Jaga sikapmu, jika tidak aku bisa membuatmu hancur seperti gelas itu! Kamu anak kecil yang tidak tahu apa-apa? Jadi jangan menguji kesabaranku!" ujar Rafa emosi, Gunawa menarik tangan Kiara. Sabrina yang mendengar keributan keluar dari kamarnya. Sabrina terkejut melihat Rafa datang, dengan kondisi basah kuyub.
"Rafa, apa lagi yang kamu inginkan dari keluarga ini? Bukankah kamu sudah melakukan yang menurutmu baik!" ujar tuan Ardi lirih. Dia tidak bisa menyalahkan Rafa atau membenarkan Rafa atas sikapnya yang menghancurkan keluarganya sendiri.
"Aku datang untuk meminta maaf pada kakek. Aku telah membuat nama keluarga Prawira hancur. Maafkan aku kakek, memikirkan kehilangan putraku yang belum lahir membuatku kalut!"
"Kakek mengerti Rafa, sudahlah semua telah terjadi. Tidak perlu lagi dibahas!"
"Kakek jangan diam saja. Minta seluruh harta keluarga Prawira. Dia tidak pantas memilikinya, karena dia aku malu. Aku tidak bisa bertemu temanku. Dia membuat mama malu, dia tidak beradab. Dia berhati iblis!" teriak Kiara, Rafa menghela napas panjang. Rafa berusaha setenang mungkin. Sabrina mendekat pada Kiara.
"Kiara, tutup mulutmu. Apa yang dilakukan kakakmu benar? Dia pantas marah, karena mamamu hampir membunuh putranya! Kamu hanya mendengar dari mamamu. Kenapa tidak bertanya pada papa? Siapa yang benar dan salah?"
__ADS_1
"Papa hanya membela dia. Papa tidak pernah sayang pada Kiara! Dia laki-laki berhati dingin, pantas saja dia memilih istri yang kampungan. Hana hanya mencintai hartanya, bukan hatinya!" ujar Kiara emosi, Rafa meradang mendengar hinaan Kiara pada Hana. Rafa menatap Kiara dengan tatapan ingin membunuh.
"Kiara, diam kamu! Jangan memancing emosi Rafa!"
"Kenapa kakek? Semua yang kukatakan benar, Hana hanya mengejar hartanya. Jika tidak dia pasti akan pergi menjauh. Kak Rafa bukan manusia, dia robot berhati dingin! Hanya wanita haus akan harta dan bodoh yang hidup dengannya!" ujar Kiara penuh dengan emosi, Rafa mendekat pada Kiara. Dia menarik Kiara menjauh dari Sabrina.
Plaaakkk
"Jaga bicaramu, jangan hina istriku dengan mulut kotormu. Jika bukan karena dirinya, aku tidak akan menginjakkan kakiku disini. Dia bukan wanita yang pantas kamu hina!" ujar Rafa emosi, Kiara memegang pipi bekas tamparan Rafa. Sabrina meradang melihat Rafa menampar Kiara.
"Jangan berani mendekat padaku. Seharusnya kamu menyadari kesalahanmu, bukan malah mengatakan yang tidak-tidak pada putrimu! Aku bukan dirimu yang berhati dingin! Mungkin papa dan kakek menerima kenyataan. Jika kamu mantan wanita malam. Namun mereka akan membuangmu ke jalanan. Jika tahu sebusuk apa hatimu?" ujar Rafa pada Sabrina sembari menunjuk wajah Sabrina penuh emosi.
Braaakkk
"Ini berkas kepindahanmu ke luar negeri. Aku sudah menyiapkan semua keperluanmu. Jika kamu berminat, pergilah lanjutkan sekolahmu disana. Aku akan membiayai semua keperluanmu. Aku melakukan semua ini atas permintaan istriku yang hina menurutmu. Dia orang yang menyadarkanku, kamu tidak bersalah!"
"Kakek, Rafa sudah mentransfer uang ke rekening kakek. Itu untuk keperluan rumah ini. Aku akan memperbaiki nama keluarga Prawira. Namun tidak dalam waktu dekat. Menantu kesayanganmu masih angkuh mengakui kesalahannya!"
"Sekali lagi, Rafa minta maaf kek!" ujar Rafa lirih, Rafa menoleh pada Sabrina.
"Sebenarnya aku ingin memaafkanmu dan mengembalikan wibawamu di rumah ini. Namun sepertinya, sifat angkuh dan sombongmu belum hilang. Jadi nikmati saja rasa malumu. Hiduplah di dalam rumah ini, seperti tikus yang takut bertemu kucing. Satu hal lagi, sekali lagi kamu menyentuh istri dan putraku. Bukan rasa malu yang kamu dapatkan, tapi akan kubuat dirimu hidup di dalam jeruji besi!" ujar Rafa dingin pada Sabrina.
"Pa, kontrak yang papa ajukan! Harus Rafa tolak, bukan karena masalah diantara kita. Namun perhitungan papa terlalu tinggi. Jadi aku kesulitan untuk mencari sisi keuntungannya. Aku akan menyetujui berkas papa. Jika papa sudah merevisi!" ujar Rafa lalu meninggalkan mereka semua.
"Sabrina, kamu tidak berubah! Rafa datang dengan harapan sebuah perdamaian, tapi kamu menyulut api amarahnya lagi. Jangan sepelekan ancaman Rafa. Jika tidak ingin hidup dibalik jeruji besi. Kamu jangan lupa. Kebencian Rafa ada semenjak meninggalnya Ainun, ibu kandung Rafa!" ujar tuan Ardi.
"Gunawan, ikut denganku ke kamar. Aku akan memberikan ATM ku padamu. Aturlah sesuai kebutuhanmu dan rumah ini!" ujar tuan Ardi, Gunawan menggeleng lemah.
"Maafkan Gunawan, pa. Sudah saatnya Gunawan hidup dengan kerja keras. Jadi biarkan aku berusaha. Aku tidak ingin Rafa menatapku dengan tatapan iba. Aku ingin dia bangga, lalu memelukku dengan erat! Aku merindukan Rafa!"
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
__ADS_1