KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Izinkan aku memanggilmu mama


__ADS_3

"Kak Rafa, aku melihat ada gelang perak di tangan kanan Fathan. Apa kak Rafa yang memberikannya?" ujar Hana penasaran, Rafa menggeleng lemah. Hana menatap wajah Rafa lekat. Dia mencari kebohongan yang mungkin disembuyikan Rafa. Namun kedua mata Rafa tetap tenang, seolah mengatakan dia tidak berbohong.


"Kak Rafa, aku serius! Siapa yang memberikan gelang perak pada Fathan? Jika bukan kak Rafa, artinya ada orang lain yang masuk ke dalam kamar kita!" ujar Hana cemas, Rafa menunduk menahan tawa. Rafa berhasil membuat Hana cemas. Bagaimana Hana tidak akan cemas? Semalam Fathan belum menggunakan gelang. Pagi tadi Hana akan sholat subuh. Melihat Fathan menggunakan gelang perak. Hana takut jika ada orang yang masuk ke dalam kamarnya. Bukan takut kehilangan sesuatu, tapi semalam Hana melepas hijabnya saat tidur.


"Sayang, tidak akan ada yang berani masuk ke dalam kamar kita. Lagipula aku selalu mengunci kamar. Jika aku sudah masuk ke dalam kamar!" ujar Rafa, Hana menoleh pada Rafa yang sedang menggendong Fathan. Dengan seutas senyum Rafa membalas tatapan kesal Hana.


"Jika bukan orang lain, itu artinya kak Rafa. Lalu kenapa berbohong? Saat aku bertanya, malah mengatakan bukan pemberian kak Rafa!" ujar Hana kesal, Rafa terkekeh mendengar kekesalan Rafa. Dengan santai Rafa duduk di sofa tengah dengan memangku Fathan. Rafa memegang gelang perak yang semalam dia pakaikan ke tangan sang putra.


"Aku tidak bohong. Bukan aku yang memberikan gelang perak ini. Mama yang memberikannya, jauh sebelum dia meninggal. Mama sengaja menitipkan ini pada papa. Agar disampaikan padaku. Mama juga membuatkan dua baju rajut untuk Fathan dan adiknya kelak. Mama juga menyiapkan satu gelang emas untuk adik perempuan Fathan!" ujar Rafa santai, Hana melotot tak percaya. Rafa baru saja membohonginya, mungkin saja dia juga berbohong.


"Kak Rafa mengada-ada, mana mungkin mama menitipkan hadiah untuk Fathan! Lagipula aiapa yang mengatakan, akan ada bayi lagi di keluarga kita. Tidak akan secepat ini!" ujar Hana, Rafa tidak peduli dengan perkataan Hana. Rafa mencermati gelang yang dipakai Fathan. Ukiran yang ada terlihat sederhana dan indah. Rafa mencium gelang sekaligus tangan Fathan. Hana mendekat pada Rafa, dia menyadarkan kepalanya.


"Kak Rafa serius mengatakan, jika almarhumah mama yang sengaja menyiapkan gelang ini. Lalu selama ini, siapa yang menyimpannya?" ujar Hana, Rafa menoleh pada Hana.


"Papa, dia yang menyimpan. Ada satu surat terselip dalam kotak. Jika kamu ingin membacanya Kamu ambil di laci meja kerjaku!" tutur Rafa, Hana menggeleng lemah. Dia mendongak menatap wajah tampan suami. Wajah tanpa cacat, hanya iman yang belum sepenuhnya kembali.


"Surat itu untukmu, bukan untukku. Aku tidak ingin membacanya, sebab isi surat itu pasti sangat pribadi. Aku bersyukur putraku akhirnya bisa merasakan kehadiran sang nenek. Meski mereka tidak akan pernah bertemu. Tapi gelang itu wujud kasih sayang sang nenek. Aku yakin putraku akan menghargai kasih sayang sang nenek!" ujar Hana seraya berdiri hendak meninggalkan Rafa. Hari ini Rafa sengaja libur; hanya untuk menemani sang putra. Hana ingin mengajak Rafa mengunjungi Salsa. Jika memungkinkan, mereka akan berbelanja sebentar.


"Sayang, masih ada satu gelang emas. Dia menanti pemiliknya hadir. Sebaiknya kita tidak perlu pergi. Kita wujudkan harapan almarhumah mama, memiliki cucu perempuan!" ujar Rafa sembari tersenyum. Hana menoleh dengan santai dan penuh senyum.

__ADS_1


"Masih butuh waktu untuk hadirnya bidadari di rumah ini. Sebab sang tuan muda masih butuh ASI. Jadi sabarlah menunggu hari itu tiba!" ujar Hana sembari berlalu. Jika tidak segera meninggalkan Rafa. Hana akan terus berdebat tanpa henti. Rafa menatap kepegian Hana dengan rasa heran. Namun yang dikatakan Hana memang benar. Fathan masih terlalu kecil untuk memiliki seorang adik.


...☆☆☆☆☆...


"Kak Hana, aku merindukanmu!" sapa Salsa lantang, dia menghampiri Hana mencium tangan Hana lalu memeluk Hana erat. Selama ini Salsa tinggal bersama Diana. Dia membantu sebisanya di toko. Diana tidak membebankan pekerjaan berat pada Salsa. Diana meminta pada Salsa untuk rajin Kuliah. Hanya itu harpan Hana dan Diana. Salsa melihat Rafa masuk ke dalam toko. Dengan sopan Salsa mencium punggung tangan Rafa.


"Diana, kita jadi keluar ke pusat perbelanjaan. Aku butuh beberapa gamis sederhana. Rencananya akan aku kirim pada Kiara dan teman-temannya. Agar bisa bermanfaat uang yang diberikan suamiku.


"Sayang, jika Diana keluar ikut bersama kita tidak enak. Sebab ada yang lebih ingin mengantarnya pergi. Aku akan menghubunginya!" ujar Rafa, seketika Hana menoleh sembari menggeleng. Rafa menganguk mengerti. Tak mungkin Hana mengizinkan Diana satu mobil dengan Adrian. Selama mereka belum sah dan halal.


"Sayang, jangan khawatir. Diana akan ditemani Salsa. Jadi Adrian dan Diana tidak berduan dalam satu tempat!" ujar Rafa menerangkan, sembari menggendong Fathan Hana mengangguk pelan.


Terdengar suara pintu terbuka, seketika semua orang menoleh. Terlihat seeorang anak kecil menggunakan seragam masuk ke dalam toko. Diana dan Salsa saling memberikan isyarat. Seakan mereka mengenal anak itu. Lama Hana menatap wajah itu, sedetik kemudian Hana mengenali jelas siapa yang datang? Hana mengutas senyum ke arah anak itu.


"Mama Hana!" ujarnya lantang, sembari memeluk tubuh Hana erat. Rafa menatap Annnisa yang jelas merindukan Hana. Salsa dan Diana sudah terbiasa melihat Annisa datang. Hampir setiap hari Annisa datang ingin bertemu dengan Hana.


"Kak Rafa, boleh tidak aku menyuapinya. Sepertinya Annisa belum makan sesuatu!" ujar Hana cemas. Rafa mengangguk pelan, sembari menerima Fathan. Rafa menjauh dari Hana dan Annisa. Dengan tangan mungilnya, Annisa memeluk tubuh ramping Hana.


"Sayang, kamu harus makan siang dulu. Setelah itu kita lanjutkan bicaranya!" Annisa mengangguk pelan, Hana mengambilkan makan siang untuk Annisa. Dengan telaten Hana menyuapi Annisa. Rafa melihat betapa bahagianya Annisa, sebaliknya dia melihat Hana begitu telaten pada Annisa.

__ADS_1


"Mama Hana, Annisa rindu! Setiap hari Annisa datang kemari, tapi mama tidak pernah ada!" ujar Annisa dengan mulut masih mengunyah makanan. Hana tersenyum sembari mengusap lembut kepala Annisa. Hana terus menyuapi Annisa sampai satu piring habis.


"Mama, aku ingin memeluk mama Hana!" ujarnya manja sesaat setelah Hana membersihkan mulutnya. Annisa memeluk tubuh Hana sangat erat. Seakan tak ingin melepaskan. Hana membalas pelukan Annisa, dia mencium puncak kepala Annisa.


"Sayang, jika Annisa merindukan tante. Katakan saja pada tante Diana atau Salsa. Mereka akan mengantar Annisa ke rumah tante Hana. Tapi tante mohon jangan datang setiap hari. Kasihan papa cemas menungu Annisa pulang!" ujar Hana lirih, Annisa mengangguk pelan. Dengan lembut Hana melepaskan pelukan Annisa.


"Tante izinkan aku memanggilmu mama. Aku tahu tante tidak akan pernah menjadi mamaku. Bolehkan aku menganggapmu sebagai mamaķu!" ujar Annisa lirih, Hana menoleh pada Rafa. Hanya Rafa yang berhak memutuskan. Dengan sigap Rafa mengangguk, isyarat dia setuju Annisa memanggil Hana mama.


"Silahkan, selama Annisa menginginkannya!"


"Terima kasih, Annisa sayang mama Hana!" ujar Annisa lalu mencium punggung tangan Hana. Bergantian dengan yang lain, setelah itu dia pamit pulang. Hana menghampiri Rafa dengan senyum semanis mungkin. Rafa menyadari jika Hana heran, kenapa Rafa mengizinkan Annisa memanggil Hana mama?


"Aku tahu rasanya kekurangan kasih sayang seorang papa. Aku tidak ingin ada anak lain merasakan hal yang sama. Jika dengan memanggilmu mama, sudah cukup membuatnya bahagia. Lalu untuk apa aku harus mencegahnya? Bukan salahnya lahir dalam rumah tangga yang kacau. Dia berhak bahagia, layaknya putra kita Fathan. Aku akan mengizinkan selama dalam batas wajar!" ujar Rafa tegas, Hana mengangguk lemah. Dia mengambil Fathan dari tangan Rafa.


"Terima kasih!" ujar Hana, Rafa mengangguk lalu mengecup kening Hana.


Cup


"Hanya hati tulus yang mampu melihat kasih sayangmu. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku!" ujar Rafa sesaat setelah mengecup kening Hana.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


__ADS_2