
"Pagi mama!" sapa Kiara pada Sabrina. Kiara sedang berada di dapur. Dia sedang menyiapkan sarapan untuk semua orang. Semalam Rizal dan Rafa menjaga tuan Ardi. Kiara dan Hana tidak diperbolehkan begadang. Apalagi Hana yang sedang mengandung. Rafa melarang keras dia terjaga. Hanya Rafa dan Rizal yang tetap terjaga sampai pagi.
Sebenarnya Hana ingin membantu Kiara. Namun kejadian semalam, sempat membuat Hana trauma. Dia tidak ingin menjadi alasan terjadinya keributan. Hana bersikap bijak dengan menghindar bertemu dan Sabrina atau Lisa. Hana tidak ingin menyulut pertengkaran dalam kondisi berduka seperti ini. Akhirnya Hana memutuskan diam di kamar Rafa. Bahkan Hana tidak berniat sarapan bersama keluarga Prawira. Sejujurnya sejak dini hari, Hana tiba-tiba mual dan muntah-muntah. Kiara melihat kondisi Hana yang menurun. Namun Hana meminta Kiara untuk tutup mulut. Dia tidak ingin menambah kecemasan untuk Rafa. Sekarang hanya kondisi tuan Ardi yang jauh lebih penting.
"Sedang apa kamu di dapur? Sejak kapan kamu bisa memegang alat-alat dapur? Apa selama di rumah Hana dia memintamu memasak sendiri?" ujar Sabrina kesal sekaligus terkejut. Kiara menoleh seraya tersenyum simpul. Tangannya terus bermain dengan peralatan dapur dan bahan-bahan yang siap diolah. Sabrina melihat tanpa berkedip, dia terkejut saat kedua matanya melihat. Betapa cekatannya Kiara menggunakan peralatan dapur. Sabrina melihat sendiri, Kiara menggunakan pisau. Alat yang paling ditakuti sejak kecil. Kiara mengolah bahan-bahan dengan sangat cepat. Sabrina tidak pernah menyangka. Putri manjanya kini telah berubah. Kiara semakin dewasa dan mandiri.
"Kiara sedang menyiapkan sarapan.Sebentar lagi selesai, mama tunggu saja di meja makan. Kak Hana sedang tidak sehat. Jika tidak dia sudah membantuku memasak." ujar Kiara, Sabrina terdiam mendengar cara bicara Kiara yang terdengar sangat bijak. Tak terdengarl lagi Kiara yang merengek, sekadar takut akan terkena pisau. Kini malah yang terlihat, Kiara sangat dekat dan seakan dengan peralatan yang dulu tidak pernah dia sentuh.
"Apa Hana yang memintamu memasak? Bukankah di rumah Rafa ada koki sendiri. Kiara kamu bukan ART yang harus memasak untuk semua orang!" sahut Sabrina kesal, Kiara menggeleng lemah. Kiara mulai menyiapkan makanan dan diletakkan di meja makan.
"Justru kak Hana yang telah mengajarkanku menjadi seorang istri yang baik. Aku memang bukan seorang ART, tapi aku juga bukan Kiara yang sendiri. Aku sudah memiliki suami, kini aku memiliki tanggungjawab mengurus dan menjaga suamiku. Kak Hana bukan memintaku memasak dengan terpaksa. Dia yang membuatku menyadari akan peran seorang wanita. Mungkin mama heran dan tidak terima melihatku memasak atau melakukan pekerjaan rumah tangga yang lain. Sebab sejak kecil mama selalu menjauhkanku dari pekerjaan itu. Mama selalu mengatakan padaku, seorang wanita tidak harus pintar dalam hal rumah tangga. Namun seorang wanita harus terlihat terhormat dan elegant. Jika dulu aku sependapat dengan mama. Ketika aku merasa bahwa harta segalanya, hanya harta yang akan membuatku bahagia. Sekarang aku tidak lagi berpikir sama, saat aku melihat cinta kak Rafa pada kak Hana. Sebuah cinta dan rasa bahagia tanpa harta. Sejak saat itu aku menyadari, harta bukan segalanya. Namun dihargai dan dicintai itu kunci kebahagian seorang wanita. Penghargaan yang akan kita dapatkan, bila kita menyadari akan peran kita sebagai seorang istri!" tutur Kiara, Sabrina melotot kaget. Sejujurnya dia tidak pernah menyangka, Kiara akan berpikir sejauh itu. Seorang anak manja berubah menjadi sangat dewasa hanya dalam beberapa bulan. Prinsip yang dia tanam selama bertahun-tahun. Menghilang tanpa bekas dan hanya menyisakkan pemikiran yang sangat mengagumkan.
__ADS_1
"Kiara, apa Hana yang meracuni pikiranmu? Dia telah merubah dirimu menjadi Kiara yang lain. Mama seakan tidak mengenalmu!" ujar Sabrina, Kiara menggeleng lemah.
"Mama salah, bukan racun yang kak Hana berikan pada pemikiranku. Namun pengertian akan yang benar dan salah. Sebuah pengertian yang tak pernah aku dapatkan dari mama. Sejujurnya apa yang kak Hana katakan benar? Setiap hari tangan suamiku bekerja. Hanya demi sebuah kebahagian secara lahir dan kehidupan yang jauh dari kata kurang. Tangan yang takkan merasa lelah, demi senyum yang terlihat dari bibirku. Lalu pantaskah jika aku sebagai seorang istri hanya diam menerima. Seharusnya aku juga melakukan hal yang sama. Tanganku juga harus merasakan betapa lelahnya bekerja. Bukan demi materi, tapi demi menghapus lelah di wajah suamiku. Akan kugunakan tanganku merawat dan menjaga suamiku. Kupersiapkan semua keperluannya, agar dia tersenyum saat pergi dari rumah. Itulah kebahagian seorang wanita, menjadi seorang istri yang mampu memahami lelah suaminya!" tutur Kiara, Sabrina diam mematung. Dia duduk di meja makan, dengan tertunduk. Kiara seolah tidak peduli akan diam mamanya. Kiara sibuk menyiapkan sarapan.
"Hana, apa yang kamu miliki? Satu per satu orang yang aku sayangi berubah. Rafa putra yang tak pernah bisa aku peluk. Sebab dingin hatinya mampu membekukan orang disekitarnya. Dengan mudah kamu menjadi istri dan mendapatkan cintanya. Sebuah cinta suci yang tak pernah goyah. Selalu membela tanpa takut melawan akan dunia yang menentangnya. Gunawan suami yang selalu mengagungkan diriku. Tak pernah dia membentak atau mengaturku. Sekarang dia orang yang paling lantang menyalahkanku. Cintany mulai goyah padaku, tergantikan ketegasan seorang suami yang bertahun-tahun tak pernah aku lihat. Kini putri manjaku Kiara, berubah menjadi dewasa. Mengerti akan tanggungjawabnya sebagai seorang istri, pengertian yang tak pernah aku berikan. Prinsip yang baik, tapi bukan aku ibunya yang mengajarkannya. Hana hatimu memang sangat baik, dengan kasih sayang kamu merubah keluarga Prawira menjadi keluarga yang penuh kasih sayang. Rumah yang dulu gelap dan dingin. Kini terang dengan cinta yang kamu tebarkan. Serta terasa hangat penuh dengan pengertian. Sejujurnya bukan dirimu yang hina, tapi yang tak pernah sadar diri. Akulah yang hina dan tak pernah menerima keadaan. Aku terlalu takut mengakui kelebihanmu, aku cemburu pada dirimu yang dengan mudah mendapatkan hati orang-orang yang kusayangi. Seandainya awal pertemuan kita lebih baik. Tentu aku tidak akan malu memelukmu. Namun kini hatiku terlalu takut mengakui kebaikanmu!" batin Sabrina.
"Kiara, mana kakakmu Hana? Kenapa dia tidak membantumu membuat sarapan?" ujar Rafa, sesaat setelah tiba di meja makan. Kiara menggelengkan kepala, sejak awal Hana melarang Kiara mengatakan kondisinya pada Rafa. Gunawan datang bersama Fathan. Gunawan menggendong Fathan dengan penuh kasih sayang. Kerinduan akan cucu yang lama tidak bertemu. Rizal mengambil duduk di samping Kiara. Lisa duduk tepat di samping Sabrina.
"Rafa, bukankah Hana tadi mencarimu. Tadi sempat bertemu papa, saat papa akan membawa Fathan bermain. Sepertinya wajahnya sedikit pucat. Mungkin Hana sedang istirahat di kamar!" ujar Gunawan, tanpa menjawab Rafa langsung berlari mencari Hana. Sejak semalam Rafa melupakan Hana. Pikirannya hanya fokus pada tuan Ardi. Dengan berlari Rafa menaiki tangga. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Hana.
Rafa naik ke atas tempat tidur. Dia memutuskan untuk menemani Hana. Rafa memeluk Hana, meletakkan kepalanya di punggung Hana. Rafa seolah mencari ketenangan dengan tidur di belakang Hana. Keduanya sama-sama terlelap, sampai melupakan waktu sarapan.
__ADS_1
"Kemana Rafa? Kenapa tidak kembali untuk sarapan?" ujar Gunawan, Kiara tersenyum mendengar pertanyaan papanya. Kiara sudah menduga, jika Rafa tidak akan turun. Sebab tanpa Hana, Rafa tidak akan pernah selera untuk makan. Baginya sangat penting sarapan bersama Hana. Sebab pagi waktu yang paling tepat melihat wajah dan senyum Hana. Sesuatu yang menjadi semangat Rafa melawan kepenatan.
"Kak Rafa, tidak akan turun tanpa kak Hana. Dia tidak akan sarapan. Bila kak Hana tidak sarapan. Seorang suami yang akan semangat dengan senyum dan wajah istrinya. Takkan merasa kenyang, saat istrinya lapar!" ujar Kiara lirih, Gunawan dan Rizal mengangguk bersama. Lisa dan Sabrina diam, dalam hati mereka ingin memiliki cinta yang dimiliki Hana. Sebuah cinta dengan pengertian yang takkan pernah mudah.
"Kiara, sampai kapan kamu akan tinggal di rumah kakakmu? tidakkah kamu ingin hidup mandiri bersama Rizal!" ujar Gunawan lirih, Kiara menunduk. Rizal melihat raut wajah sedih Kiara. Sebenarnya sudah lama Rizal meminta Kiara tinggal hanya berdua dengannya. Namun Kiara selalu merengek, bukan ingin membantah Rizal. Kiara masih ingin belajar banyak hal dari Hana. Rizal selalu kalah setiap kali melihat raut wajah sedih Kiara.
"Papa, aku tidak memaksa Kiara untuk segera pindah. Biarkan Kiara merasa bahagia dengan tinggal bersama kak Hana. Bukan maksudku enggan hidup mandiri. Namun jika ketenangan dan kenyamanan Kiara hanya ada di rumah kak Rafa. Aku akan menurutinya, kelak jika Kiara sudah siap. Kami pasti akan tinggal berdua. Kiara sedang mencari kasih sayang yang tak pernah dia dapatkan. Kiara hanya ingin menjadi istri yang baik!" ujar Rizal, Kiara menunduk lemah. Dia merasa bersalah telah memaksa terus tinggal di rumah Rafa.
"Selama kalian saling mengerti, papa tidak akan melarang. Satu pesan papa, jangan biarkan Kiara menjadi wanita yang lupa diri. Didik dia dengan keras, jangan lemah hanya karena cinta dan tangisnya. Jika kelak akhirnya meninggalkan penyesalan. Rizal, sepenuhnya papa titip Kiara. Tuntun dia menjadi makmum yang baik. Jangan biarkan yang papa lakukan terulang pada kalian. Kini hanya penyesalan yang tersisa!" ujar Gunawan, Rizal mengangguk tegas. Kiara berdiri memeluk Gunawan. Sabrina hanya bisa diam. Kini dia benar-benar kalah oleh kasih sayang Hana. Sabrina hanya memiliki keangkuhan dalam dirinya.
"Tuan Ardi, sudah sadar!" ujar perawat yang menjaganya. Segera mereka berlari melihat tuan Ardi, Gunawan mencium punggung tangan orang yang selama ini berjasa dalam hidupnya. Kiara dan Rizal bergantian mencium tangan tuan Ardi.
__ADS_1
"Masa kritis sudah terlewati, sekarang kita fokus pada masa pemulihan!" ujar Lisa, semua orang mengangguk mengerti.
"Hana, aku ingin bertemu Hana!" ujar tuan Ardi lemah.