KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Amarah Raihan


__ADS_3

"Raihan, minumlah!" ujar Faiq, sembari memberikan secangkir kopi pada Raihan. Faiq sengaja menghampiri Raihan. Dia melihat Raihan diam termenung menatap ke arah tempat Vania terbaring tak berdaya. Ada rasa ngilu di hati Faiq. Ketika dia melihat Raihan terpukul akan keadaan Vania.


Raihan menoleh ke arah Faiq, dengan tatapan lesu. Raihan menerima secangkir kopi dari Faiq. Raihan terus menatap tubuh Vania yang terbaring lemah tak berdaya. Selang infus tertancap sempurna di telapak tangan kirinya. Penambah tenaga yang saat ini dibutuhkan Vania. Alat bantu pernapasan menjadi penopang hidup Vania. Kondisi yang membuat tubuh Raihan seakan lemah dan tak berdaya. Vania tak mampu bertahan tanpa alat-alat kesehatan yang kini menunjang hidupnya. Vania yang ceria dan selalu hangat. Kini bak mayat hidup, tak ada tawa dan kehangatan yang diberikan Vania. Semua menghilang dalam ketidaksadaran Vania.


"Kak Faiq, kenapa Vania menyembuyikan semua ini dariku? Tidak pernahkah Vania menganggap aku ada. Kenapa selalu Vania menempatkanku pada posisi terakhir? Dia membuatku merasa tak berharga. Siapa sebenarnya aku dimata Vania? Aku tak berdaya setiap kali menjadi yang terakhir dalam daftar hidupnya. Kapan Vania akan bersedia bergantung padaku?" ujar Raihan lirih, Faiq melihat ke arah yang sama dengan Raihan.


Raihan menjadi orang yang paling terpuruk melihat keadaan Vania. Sebagai seorang laki-laki Raihan seakan tak lagi mampu berdiri di atas kedua kakinya. Raihan merasa lemah tak berdaya. Vania membuat luka yang begitu besar dan dalam di hatinya. Vania diam membawa luka hatinya. Sampai akhirnya malam ini Raihan melihat Vania terbaring tak berdaya di rumah sakit.


Sembari menatap tubuh sang adik yang lemah. Faiq menjadi orang yang paling merasa bersalah akan kondisi Vania. Faiq satu-satunya orang yang mengetahui alasan depresi Vania. Janji seorang kakak pada adiknya. Membungkam mulut Faiq serapat-rapatnya. Faiq tak mampu mengungkap alasan kegelisahan Vania. Namun saat ini janji itu seolah tak berarti lagi. Faiq merasa semua layak untuk dikatakan. Kondisi Vania akan semakin menurun. Seandainya beban pikiran Vania tidak segera terselesaikan.


Faiq tidak pernah menyangka. Jika Vania akan mengalami semua ini. Hanya karena janji antara diriny dengan Vania. Kini dia harus melihat sanga adik terbaring tak sadarkan diri. Bahkan hampir kehilangan nywanya. Kini hanya berusaha menjadi dokter terbaik yang bisa dilakukan Faiq. Agar dia bisa menyembuhkan Vania yang lemah. Sebab jika Vania terus tak sadarkan diri. Akan berakibat fatal pada janin kembar yang sedang di kandungnya.


"Cinta yang membuat Vania menyembunyikan semuanya darimu. Kenyataan kamu satu-satunya laki-laki yang ada dalam hati dan hidupnya. Membuat Vania kecilku takut membuatmu terbebani. Dia akan menghadang badai demi melindungi dirimu. Meski semua itu harus mempertaruhkan nyawanya. Vania menjadikanmu orang terakhir yang bisa disentuh nenek Sabrina. Titik lemah keluarga Prawira yang tak pernah berubah dengan sifat serakahnya. Kamu bukan laki-laki terakhir prioritas Vania. Namun kamu laki-laki yang paling penting dalam hidup Vania!" ujar Faiq tegas, tak ada keraguan dalam setiap perkataannya.


Raihan menganggap sikap diam Vania tidak lebih dari sikap tak peduli Vania padanya. Namun semua dugaan Raihan sangatlah salah. Vania tidak pernah menganggap Raihan tak berharga. Sebaliknya Vania menganggap Raihan satu-satunya laki-laki yang paling utama di hati dan hidupnya. Vania tidak ingin ada luka yang menyakiti Raihan. Selamanya Vania ingin Raihan baik-baik saja. Meski dengan begitu dia harus terluka dan menderita.


Faiq merasa Raihan perlu mengetahui cara berpikir Vania. Dibalik sikap keras dan mandiri Vania. Hanya Raihan yang menjadi alasan keputusannya. Rasa sakit Vania hanyalah badai yang coba dihadang olehnya demi Raihan. Suami yang akan selalu dilindungi kehormatab dan harga dirinya. Vania tidak ingin Raihan berurusan dengan Sabrina. Neneknya yang selalu merasa ditindas dan tertindas oleh Rafa. Faiq menjadi satu-satunya orang tempat curahan hati Vania. Sebab selama ini dia tidak pernah ingin ikut campur dalam mengambil keputusan Vania.


Faiq selalu memantau Vania, bila dia terluka. Faiq akan menjadi orang pertama yang menjaga dan melindungi Vania. Namun kondisi Vania saat ini luput dari pengawasan Faiq. Dia tidak pernah menyadari. Jika Vania akan tumbang secepat ini. Vania sengaja menutupi kondisinya dari Faiq. Sebab Vania tidak pernah ingin melihat Faiq cemas memikirkan kondisinya.

__ADS_1


Sebaliknya disaat Faiq merasa alasan Vania benar dengan menyembunyikan semuanya. Raihan satu-satunya orang yang merasa semua itu salah. Baginya Vania segalanya dalam hidup. Seandainya dia harus memilih diantara harta dan kemewahan atau Vania dan buah hatinya. Raihan akan memilih Vania dengan sepenuh hati tanpa keraguan. Sebab Vania harta paling berharga yang dimilikinya.


Raihan menggelengkan kepalanya tak percaya. Jika Vania memilih melawan badai yang tak akan pernah bisa menyentuh Raihan. Kini bukan hanya Vania yang terluka. Raihan menjadi orang yang paling hancur. Dalam sekejap dunianya menjadi gelap. Dia harus melihat Vania terbaring tak berdaya bersama dua buah hatinya. Bahkan mungkin Raihan harus siap menerima kemungkinan terburuk. Kehilangan Vania selama-lamanya. Ketakutan yang membuatnya hancur tak bersisa.


Dunia Raihan seakan hancur bersama tumbangnya Vania. Tulang rusuknya telah patah, sehingga Raihan merasa tubuhnya lemah. Bukan hanya Vania yang berjuang melawan maut. Dua buah hati yang belum pernah dilihatnya. Kini tengah berjuang bertahan dalam rahim Vania. Raihan seakan taj lagi mampu menahan tubuhnya. Tak ada cinta yang dirasakan Raihan. Cinta yang dikatakan Faiq. Seolah isapan jempol belaka. Ketika dengan mudahnya Vania menutupi semua beban pikirannya.


"Dimana letak cinta Vania padaku? Jika dia mencintaiku, Vania akan membagi suka dan dukanya padaku. Apa yang dia dapatkan dengan sikap kerasnya? Merasa benar dengan menyembuyikan beban pikirannya. Namun memberikan luka yang teramat padaku. Kenapa dia menghukumku dengan bersikap sejahat ini? Tidakkah dia berpikir, aku akan hancur melihat tubuhnya yang terbaring tak berdaya. Hanya demi harta yang tak berharga tanpa ada Vania di sampingku!" ujar Raihan marah, Faiq menunduk merasa bersalah.


Amarah Raihan terlihat nyata, dia tak lagi mampu menahan amarah yang tak lain imbas kecemasannya. Raihan tak lagi mampu menutup mata dan hatinya. Menganggap semua yang terjadi baik-baik saja. Raihan seolah kalah oleh sakit Vania. Senyum Vania yang menghilang. Raut wajah Vania yang pucat. Membuat Raihan merasa hidupnya tak berharga. Saat dimana Raihan merasa harta yang dimilikinya tak berarti. Tak ada yang bisa merubah semua yang sudah terjadi.


Faiq merasa bersalah dengan sikapnya yang mendukung Vania. Dia selama ini diam melihat beban Vania. Bukan Faiq tidak peduli akan hidup Vania. Namun sikap Vania yang keras akan semakin keras. Bila tak ada yang berpikir mengerti dirinya. Selama ini Faiq selalu menjadi kakak yang setia mendengarkan keluhan Vania. Tanpa berpikir ikut campur akan keputusan Vania. Setidaknya Vania masih bisa mengautarakan isi hatinya. Sehingga akan ada satu orang yang mengerti permasalahan sebenarnya.


"Salah, mungkin sikap Vania salah. Namun dalam salah Vania ada prinsip yang tak pernah bisa kamu ubah. Prinsip yang tercipta dari kesalahpahaman kalian berdua. Kesalahpahaman yang tercipta saat pertama kali kalian bertemu!" ujar Faiq lirih, sontak Raihan menoleh.


Jantung Raihan berdegub hebat. Rasa kaget akan perkataan Faiq membuat tubuhnya bergetar. Tubuh Raihan seketika membeku. Ada rasa nyeri di dada Raihan. Ketika dia mendengar alasan sikap keras Vania. Sebuah alasan yang disebabkan oleh kesalahpahaman akan keraguannya pada Vania. Faiq diam menatap Raihan yang menyesalkan terjadinya kesalahpahaman itu.


Penyesalan Raihan seakan tak berarti saat ini. Apa yang pernah Raihan katakan kini nyata menjadi kenangan yang tak mudah dilupakan Vania. Meski kini dia menyesal, semua sudah sangat terlambat. Vania telah memutuskan menutup rapat masalah keluarganya dari Raihan.


"Kenapa semua itu seolah semakin membuatku tak berdaya? Sebenci itukah Vania, sampai dia mengingat kesalahanku dulu!" ujar Raihan lirih, Faiq menggeleng lemah.

__ADS_1


Kesalahpahaman yang pernah terjadi. Tidak akan dengan mudah terlupakan. Apalagi bila itu mengenai harga diri seseorang. Bukan rasa benci pada Raihan. Namun rasa cinta Vania yang terlalu besar pada Raihan. Membuat Vania takut akan keraguan Raihan padanya. Sejak awal mereka menikah. Tidak pernah Vania berpikir ingin menguasai harta Raihan. Sebab itu tidak pernah Vania berpikir mencampuradukkan masalah keluarga Prawira dengan keluarga Raihan. Sebisa mungkin Vania menutupi keburukan keluarga Prawira di depan Raihan. Cara Vania membalas budi pada keluarganya. Agar tak pernah ada yang bisa merendahkan keluarganya.


"Raihan, sebagai seorang anak perempuan dari sebuah keluarga. Sangat tidak mungkin Vania mengatakan permasalahannya padamu. Dia tidak ingin dirimu menganggap keluarganya benalu. Jika dia bisa menyelesaikan sendiri. Maka dia akan melakukannya. Semua itu bukan karena rasa benci. Tapi murni rasa tanggungjawab Vania pada keluarganya!" ujar Faiq, Raihan hanya bisa diam. Dia tidak bisa memahami cara berpikir Vania yang terlalu rumit.


"Vania hanyalah seorang anak yang tak lagi bisa menjadi tulang punggung keluarganya. Dia menjadi tulang rusukmu. Melindungi harga diri dan kehormatanmu. Sebab saat seorang putri menikah, sudah gugur tanggungjawabnya pada orang tuannya. Tanggungjawab yang seakan belum mampu Vania lepas. Apalagi ketika mendengar kegelisahan bunda Kiara. Jika dulu Vania masih bisa memenuhi permintaan nenek Sabrina. Namun kini Vania lemah tak berdaya. Ketika tak ada lagi hasil jerih payahnya!" ujar Faiq lagi, Raihan menoleh tak mengerti.


"Maksud kak Faiq aku salah meminta Vania berhenti bekerja!" ujar Raihan salah paham, Faiq diam lalu meminum kopi yang dipegangnya. Suara helaan napas Faiq, seolah menunjukkan beban yang begitu berat.


"Raihan, tanpa bekerja Vania mampu memenuhi kebutuhan nenek Sabrina. Namun dengan meminta haknya pada kak Fathan. Jangankan meminta padamu, meminta haknya pada kak Fathan. Vania tidak bersedia, dia hanya akan memberikan nenek Sabrina hidup layak dengan keringatnya sendiri. Tanpa berpikir menengasahkan tangan pada orang lain. Apalagi membebani orang lain demi keegoisan dan keserakahan nenek Sabrina!" ujar Faiq, Raihan mengangguk mengerti.


"Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan? Vania adikmu terlalu sulit aku pahami. Katakan jalan mana yang harus aku pilih. Aku tidak ingin kehilangan Vania. Aku mohon katakan padaku!" ujar Raihan memelas.


"Percayakan semua pada papa, biarkan masalah keluarga Prawira selesai tanpa campur tanganmu. Besok papa akan memberikan semua yang diminta nenek Sabrina. Meski dengan begitu, papa harus melepaskan rumah keluarga yang sedianya ingin papa berikan pada buah hatimu dengan Vania!" ujar Faiq lirih, Raihan menggeleng lemah.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa Vania menolak pembagian harta ini? Sehingga dia gelisah, lalu kenapa kalian memutuskan membaginya? Jika memang Vania tidak mengharapkannya. Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Aku tidak akan membuat sakit istriku sia-sia. Aku akan pertahankan milik Vania dengan cara apapun!" ujar Raihan, Faiq mengangguk seraya menepuk pundak Raihan.


"Kamu memang benar, Vania tidak pernah mengharapkan adanya pembagian dalam keluarga Prawira. Baik bunda Kiara dan Vania, tidak mengharapkan harta keluarga Prawira. Bagi kami semua keluarga Prawira itu satu, tanpa harus terbagi. Namun keegoisan satu orang membuat keluarga Prawira harus terpecah. Takkan pernah ada jalan lain, selain memenuhi keinginan itu. Jika tidak selamanya dia akan meminta. Yakinlah papa bisa menyelesaikannya. Sudah waktunya papa bertindak!" ujar Faiq, Raihan diam menatap Vania yang terbaring lemah tak berdaya.


"Mungkin malam ini aku diam mendengar sarab dari kak Faiq. Namun besok pagi, akan kupastikan semua akan tetap menjadi satu. Tidak akan pernah ada perpecahan, seperti yang kamu takutkan. Tidak akan ada pembagian, seperti yang kamu khawatirkan. Jika kamu tidak bisa mengatakan kegelisahanmu. Maka aku yang akan mencari alasan kecemasanmu. Aku akan mengakhiri semuanya hari ini. Aku tidak akan membiarkan nenek Sabrina menggerogoti tulang punggungmu. Sudah cukup kamu menjadi penopang hidupnya. Akan kutebus utang budimu pada nenek Sabrina. Jika aku harus memberikan hartaku. Akan kulakukan, tapi akan kupastikan dia tidak datang kepadamu lagi. Hartaku mampu aku berikan, tapi tidak senyummu. Nenek Sabrina akan membayar lunas rasa sakitmu. Dia memilih lawan yang salah. Dia mencoba menguji kesabaranku. Dengan menempatkan istri dan putraku dalam bahaya. Aku bertekad akan membuatnya membayar semua ini. Dengan halus atau dengan kekerasan, tapi aku pastikan dia akan menyesalinya!" batin Raihan marah dan emosi.

__ADS_1


Raihan memukul kaca di depannya berkali-kali. Kaca yang membatasi dirinya dengan Vania. Hanya lewat kaca bening ini dia menatap tubuh Vania yang tak berdaya. Faiq melihat jelas amarah yang keluar dari mata Raihan. Faiq hanya bisa mendukung apapun keputusan Raihan.


"Lakukan apa yang menurutmu benar? Dengan catatan, jangan pernah berpikir melampaui papa. Sebab Vania akan membenci orang yang meremehkan papa. Bijaklah dalam bertindak, aku pastikan akan membuat Vania mengerti!" ujar Faiq, Raihan mengangguk mengerti.


__ADS_2