
"Kiara!" sapa Rizal, sontak Kiara mendongak. Dia melihat Rizal berdiri tepat di sampingnya. Sebenarnya Kiara sedang menunggu sholat isya. Setelah sholat magrib, sengaja Kiara tidak kembali ke kamar. Dia menanti waktu sholat isya di depan teras masjid. Saat itu tanpa sengaja Rizal melihat Kiara duduk sendiri.
Hubungan Rizal dan Kiara sudah terdengar di seluruh pondok pesantren. Abi dan umi merestui hubungan keduanya. Hanya tinggal menanti kesiapan Kiara, lahir dan batin menerima Rizal. Bukan ingin menolak jodoh terbaik, tapi Kiara tidak ingin melihat Rizal dipermalukan oleh ibunya. Secara agama dan iman, Rizal jauh lebih baik dari Kiara. Namun pendapat ibunya akan berbeda pada Rizal. Pendapat itu yang seolah membuat Kiara takut mempertemukan Rizal dengan keluarganya.
"Sedang apa ustad di sini? Akan tidak baik, bila ustad dan aku terlihat berdua. Aku tidak ingin ada yang salah paham. Meski hubungan kita sudah diketahui semua orang, tapi sampai sekarang kita belum mukhrim. Jadi sangat tidak pantas, bila kita duduk berdua!" tutur Kiara lirih dengan tetap menunduk. Rizal menoleh pada Kiara. Dia melihat Kiara yang selalu menjaga pandangannya. Hanya sekali Rizal pernah melihat Kiara. Itupun tanpa sengaja, tak pernah lagi Rizal melihat wajah Kiara. Hanya kekaguman akan sifat rendah dan prinsip sederhana Kiara yang mengetuk hati Rizal.
"Kamu berbicara sembari menunduk, karena itu kamu tidak menyadari siapa yang ada di sekelilingmu. Kita tidak berdua, menolehlah ada abi dan beberapa kyai lainnya sedang bicara. Sedangkan di belakang kita, Mila bersama beberapa santri. Aku tidak mungkin menghancurkan kepercayaan kakakmu Rafa. Aku berjanji akan menjagamu dengan iman. Lagipula seandainya mereka salah paham. Itu jauh lebih baik, akan ada alasan pernikahan kita dipercepat. Setelah itu tidak akan ada jarak yang mengatakan, kita bukan mukhrim. Kamu akan menjadi makmum dunia akhiratku. Aku akan bertanggungjawab penuh atas dirimu, baik dan buruknya dirimu akan menjadi bagian dalam hidupku!" ujar Rizal lirih, Kiara membisu mendengar perkataan Rizal. Harapan indah yang tersirat, tapi terlalu takut untuk diwujudkan oleh Kiara. Tak pernah Kiara ingin menjauh dari Rizal, tapi setiap kali mendekat pada Rizal. Dia akan teringat watak ibunya. Kiara tidak akan pernah rela melihat ibu kandungnya menghina Rizal.
__ADS_1
"Harapan indah yang ingin aku gapai. Sebuah ikatan suci yang aku dambakan. Namun semua terasa gamang. Saat aku mengingat betapa keras dan buruknya watak mama. Bukan ingin mengumbar aib orang yang melahirkanku, tapi pengalaman seolah ingin mengingatkan aku. Apa yang menjadi tolak ukur mama dalam memilih menantu? Membayangkan ustad tidak dihargai oleh mama. Sungguh aku tidak pernah sanggup. Apalagi jika semua sampai terjadi, entah apa yang akan terjadi padaku? Dua orabg yang kusayangi harus, saling menghina dan terhina. Setidaknya sebelum aku menjadi milikmu sepenuhnya. Aku masih bisa memilih untuk tetap di tengah. Aku ingin menyayangi mama, tanpa harus melihat dia menghina ustad!" ujar Kiara lirih, Rizal mengangguk mengerti. Alasan dibalik penolakan Kiara selama ini tak lain demi kehormatan Rizal. Kiara tidak ingin melihat Rizal terhina oleh keangkuhan Sabrina ibu kandungnya.
"Alasan ini yang membuatku yakin dan percaya. Kamu makmum terbaik, penyempurna agamaku dan pemilik tulang rusukku. Aku belum mengucap ijab kobul bersamamu. Namun dengan nyata kamu menjaga kehormatanku. Kamu tidak ingin melihatku dihina atau direndahkan orang tuamu. Kamu tidak ingin memilihku, tapi menjauh dari orang tuamu. Sebaliknya kamu ingin bersamaku, tanpa menjauh dari orang tuamu. Akan kupastikan kita bersama, tanpa kamu harus memilih!" sahut Rizal, Kiara mengangguk percaya. Keduanya terdiam larut dalam pikiran masing-masing. Terdengar sayub murottal, menandakan waktu isya akan segera tiba. Rizal berdiri hendak mengumandangkan azan. Lalu tiba-tiba menoleh.
"Kiara Putri Prawira, nama itu yang kini ada dalam doa dan sujudku. Kuyakinkan dirimu takkan ada yang bisa merendahkanku. Sebab kamu ada untuk menjaganya. Takkan aku takut terhina, asalkan tanganmu menggenggam tanganku. Kita akan mampu melawan semua itu. Dengan keyakinan akan niat yang suci. Menjadi pasangan dunia akhirat. Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Apapun yang terjadi? Cukup kamu yakin aku imam yang kamu dambakan. Sudah cukup menjadi semangatku!" tutur Rizal, lalu meninggalkan Kiara yang duduk termenung di teras masjid. Tak berapa lama terdengar suara Rizal mengumandangkan azan. Kiara tertegun mendengar suara merdu Rizal. Suara yang menyerukan hamba yang beriman. Sejenak menghentikan aktivitasnya, sekadar untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.
Tanpa Kiara sadari, Rizal terus menatap punggungnya. Setelah selesai mengumandangkan azan. Rizal menatap sendu punggung Kiara yang duduk menatap langit malam ini. Rizal merasakan ketakutan yang sama, kala dia mengutarakan niatnya pada orang tuanya. Dia ingin bersama dengan Kiara, tanpa berpikir ingin melukai hati kedua orang tuanya. Hal yang sama sekarang tengah menjadi kegelisahan Kiara.
__ADS_1
"Biarkan dia memantapkan hatinya. Jangan paksa dia memilih, untuk sesuatu yang masih dia ragukan. Kiara butuh waktu meyakinkan hatinya, jika dirimu imam terbaik dan menantu yang akan diterima dengan tangan terbuka oleh orang tuanya. Abi yakin semua sudah diatur. Jika Kiara jodohmu, tidak akan pernah ada yang bisa memisahkan. Semakin abi mengenal Kiara, semakin abi yakin dia mampu menjaga kehormatanmu. Sekarang yang harus kamu lakukan, menjadi laki-laki terbaik diantara yang baik. Jika yang membuatmu dan Kiara berbeda hanya harta. Tanpa Kiara ketahui, kamu memiliki itu semua. Lalu kenapa kamu menutupinya dari Kiara?" tutur Abi Malik lirih, Rizal menunduk membisu.
"Rizal ingin melihat Kiara menerima kesederhanaan, bukan kemewahan yang sudah dia rasakan semenjak kecil!" ujar Rizal lirih, abi Malik mengangguk pelan.
"Lakukan yang menurutmu baik, tapi Kiara berhak tahu tentang semuanya!" ujar abi Malik meninggalkan Rizal.
"Akan kupastikan kita bersama dengan cara apapun. Kamu makmum dunia akhiratku!" ujar Rizal lirih, menatap Kiara yang sedang berjalan memasuki masjid.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...