
Raihan bergegas menuju ruang tengah. Dia sudah tidak bisa menahan rasa cemasnya. Kondisi Vania yang sakit setelah kehujanan semalam. Membuat Raihan merasa sangat bersalah. Dengan mantap tapi perlahan Raihan berjalan menuju ruang tengah. Rizal dan Rafa hanya bisa tersenyum melihat tingkah Raihan. Cinta yang baru bersemi, terkadang membuat orang bisa lupa diri. Apalagi Raihan yang terlihat begitu mencintai Vania. Rasa bersalahnya terlihat begitu nyata saat dia mendengar Vania sedang sakit.
Faiq menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia melihat seorang pembisnis handal sekelas Raihan bertekuk lutut dalam diam Vania. Tidak ada yang bisa menolak cinta wanita bercadar keluarga Prawira. Cinta yang tersimpan rapat dalam diam Vania. Membuat Raihan kelabakan dan gelisah. Seandainya Vania marah dengan sikap kekanak-kanakan Raihan. Mungkin Raihan tidak akan gelisah. Namun diam Vania menyimpan banyak pertanyaan. Dia tidak ingin tersiksa dengan cinta yang penuh teka-teki. Namun disisi lain, Raihan takut mendengar kata pisah dari bibir Vania.
Saat Raihan sudah berada di ruang tengah. Dia melihat tubuh mungil Vania meringkuk di balik selimut. Napas Vania terdengar memburu, jelas memperlihatkan kondisinya yang tidak baik. Raihan mengusap wajahnya kasar, dia gusar memikirkan kondisi Vania yang sedang sakit. Sejenak ada rasa marah dan kecewa akan sikapnya pada Vania. Niatnya ingin mengenal Vania, malah membuatnya semakin jauh. Raihan duduk tepat di depan Vania. Raihan menatap punggung Vania. Selimut tebal yang digunakan Vania. Menunjukkan betapa kondisi Vania tidak baik-baik saja. Lama Raihan menatap punggung Vania. Dalam hati ingin rasanya Raihan memeluk punggung itu. Memindahkan demam yang dialami Vania padanya. Menggantikan rasa sakit yang sedang dirasakan Vania.
Tak berapa lama, Hana menghampiri Raihan. Sebagai seorang wanita dia memahami gejolak hati Raihan. Namun disisi lain, dia mengerti dilema yang dirasakan Vania. Mencintai Raihan tidak semudah yang orang pikirkan. Ketampanan Raihan akan menarik para hawa untuk mendekat. Perlu hati berbenteng baja, agar tak ada rasa sakit akibat cemburu yang menembus hatinya. Kemapanan Raihan serta kehebatan Raihan, membuat para wanita berebut ingin menjadi miliknya. Sehingga keteguhan hati yang harus Vania pegang teguh. Agar cinta tak tergoyah oleh cinta yang lain.
__ADS_1
"Tidak perlu cemas Raihan, Vania baik-baik saja. Dia hanya demam, karena kehujanan semalam. Vania hanya butuh istirahat yang cukup. Panasnya sudah turun, lagipula ada Faiq yang akan menjaganya. Jadi tidak perlu terlalu khawatir. Percayalah, dia baik-baik saja. Sekarang minumlah kopimu. Tidak akan twejadi apapun pada Vania!" ujar Hana ramah, sembari memberikan secangkir kopi. Dengan perlahan Raihan memgangguk pelan. Dia menerima kopi yang diberikan Hana. Setelah meneguk kopinya, Raihan kembali menatap Vania. Masih tertidur pulas dan dalam posisi yang sama.
"Mama, apa Vania akan memaafkanku? Mungkin aku keterlaluan telah meragukan cintanya. Namun yang kulakukan hanya demi cintaku padanya. Tanpa berpikir semua itu akan menyakiti Vania. Aku sungguh mencintai Vania, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan dirinya dihatiku!" ujar Raihan lirih, Han mengangguk mengerti. Tak pernah ada yang meragukan cinta Raihan. Dengan melihat kecemasan Raihan akan kondisi Vania. Sudah bisa menunjukkan seberapa besar cinta Raihan pada Vania.
"Tenanglah Raihan, Vania akan memaafkanmu. Meski berkali-kali kamu menyakiti hatinya. Berkali-kali juga akan ada kata maaf untukmu. Sebab kamu satu-satunya laki-laki yang membuat Vania jatuh cinta dan merasa dicintai. Jadi semarah apapun Vania? Sesakit apapun hatinya akan sikapmu? Atau sekecewa apapun dirinya padamu. Tetap kamu yang membuatnya berharga dan berarti. Jadi yakinlah, akan ada kata maaf dari Vania untukmu!" tutur Hana menenangkan, Raihan mengangguk mengerti perkataan Hana. Setidaknya perkataan Hana membuat hatinya sedikit lebih tenang. Bukan hanya Hana yang mengatakan betapa besar Vania mencintainya. Orang tua Vania dan saudaranya juga mengatakan hal yang sama. Namun entah kenapa Raihan merasa kurang yakin akan cinta Vania? Bukan meragukan cinta Vania, tapi Raihan ingin merasakan kemesraan dua insan yang mencinta. Dia ingin membuat kenangan manis bersama Vania. Wanita yang percaya bahwa dirinya layak menjadi imam bagi hidupnya.
"Kapanpun kamu berkenan? Mama akan mendukungmu, lihatlah di samping kananmu. Bunda Kiara tersenyum mendengar niatmu. Satu restu yang akan kamu butuhkan. Agar kamu bisa melangkah menuju ikatan suci itu. Tidak akan ada yang menghalangimu menghalalkan Vania. Sudah cukup Vania mencari alasan menghindar. Keteguhannya selama ini sudah cukup meyakinkan hatinya. Kamu imam yang dirindukan Vania. Hubungi orang tuamu, minta mereka datang segera. Bila memang hatimu sudah mantap meminang Vania. Jika jodoh berkehendak, kalian akan menikah dalam waktu dekat. Kedatangan orang tua Vania. Sebagai pertanda awal ikatan suci diantara kalian. Saling menyakiti dan menyalahkan tidak akan pernah ada ujungnya. Hanya akan menambah luka tanpa ada manfaat yang kalian dapatkan!" tutur Hana tegas, Raihan mengangguk ragu. Bukan dia tidak bahagia mendengar perkataan Hana. Namun restu yang Hana berikan belumlah cukup. Sebab Hana bukan orang tua kandung Vania. Meski Vania telah menganggap Hana layaknya ibu kandungnya. Ada hubungan yang tak bisa dilupakan begitu saja. Raihan takut restu Hana tidak sejalan dengan restu orang tua Vania.
__ADS_1
"Tapi ayah dan bunda!" ujar Raihan lirih hampir tak terdengar. Lalu Kiara mendekat pada Raihan, dengan mengutas senyum. Kiara duduk di samping Hana. Menatap Raihan dan Vania bergantian. Ada rasa sedih dan bahagia menyelimuti hati Kiara. Ketika dia menyadari putrinya sudah dewasa dan kelak akan menjadi seorang istri.
"Raihan, apa yang diputuskan kak Hana itu keputusan kami juga. Restu yang diberikan kaka Hana akan menjadi restu kami. Dia mungkin bukan orang tua kandung Vania. Namun dia ibu yang membesarkan Vania dengan cinta dan kasih sayang. Sedangkan bagiku, kak Rafa dan Hana bukan hanya seorang kakak. Mereka layaknya orang tua bagi kami. Jadi jangan meragukan keputusannya. Kami yakin kamu terbaik untuk Vania. Selama kedua kakakku percaya padamu. Halalkan putriku segera, tidak perlu pesta mewah atau mahar yang besar. Pinanglah Vania dengan inti Al-quran dan keutamaan Al-quran. Bunda yakin Vania akan mengangguk setuju!" ujar Kiara ramah, Raihan mendongak menatap Hana dan Kiara bergantian. Raut bahagia jelas terlihat dari kedua mata indahnya.
"Terima kasih, aku akan menghalalkan Vania!" ujar Raihan mantap, sembari menatap punggung Vania.
Tiba-tiba Vania membalikkan badanya menghadap Raihan. Sontak Raihan terperangah melihat wajah Vania tanpa cadar. Seketika Raihan menunduk kikuk, wajah Vania terlihat tanpa terhalang cadar. Raihan merasa bersalah telah melihat wajah Vania. Apalagi Vania belum mengizinkan Raihan melihatnya.
__ADS_1
"Kenapa menunduk? Bukankah wajah itu yang kamu rindukan!" ujar Fathan menggoda Raihan.