KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Aku Berbeda


__ADS_3

Malam semakin larut, gelap dan sunyi. Hanya terdengar suara hewan malam saling bersahutan. Pesta pernikahan yang megah, berakhir menyisakan kenangan yang indah. Sang raja dan ratu semalam kembali menjadi pribadi yang semula. Para tamu satu per satu meninggalkan pesta. Sebagai tanda akhir dari kemeriahan pesta.


Tepat pukul 22.00 WIB, para tamu sudah meninggalkan pesta. Hanya tersisa beberapa kerabat yang masih ingin saling bertemu dan menyapa. Di sudut salah satu taman. Berkumpul beberapa anak muda bersama kedua pengantin. Terlihat keakraban dan kehangatan tercipta dengan begitu mudahnya.


Rafa dan Hana sudah meninggalkan pesta sejak satu jam yang lalu. Sedangkan Faiq dan Davina masih tinggal. Sekadar ingin menyapa Faiz dan Farah. Vania dan Raihan memutuskan pulang bersama Faiq. Sebab malam ini Vania akan menginap di rumah Rafa. Vania merindukan suasana rumah yang ramai. Kalau di rumahnya sendiri, sepi tidak ada banyak orang. Terkadang Vania merasa takut dan kesepian.


"Vania, apa dia wanita yang mendekati Raihan?" ujar Faiq memancing amarah Vania. Sontak Vania menoleh, dia melihat Sovia datang bersama Saniya. Terlihat mereka sedang bicara bersama Alfian dan Sesil. Raihan juga melihat ke arah Sovia. Dalam hati dia berharap, Sovia tidak melihatnya.


"Sovia, dia bukan wanita yang mendekati suamiku!" sahut Vania tegas, seketika Raihan menarik napas lega. Vania tidak mengungkit lagi masalah yang terjadi dengan Sovia. Faiq mengangguk percaya, jika Sovia bukan wanita yang mendekati Raihan. Sebab Faiq tidak pernah mengenal. Wanita yang sedang dekat dengan Raihan. Hanya Faiq mengetahui, ada wanita yang mencoba mengganggu ketentraman rumah tangga adiknya.


"Oh aku pikir dia. Sedari tadi dia menatap kemari. Dia melihat Raihan seolah ingin melahapnya. Kedua matanya seakan ingin terlepas dari tempatnya ketika menatap Raihan. Syukurlah kalau bukan dia, kecantikan yang dimilikinya bisa membuat Raihan terpikat!" ujar Faiq santai, Raihan dan Farah menggeleng lemah. Mereka menyayangkan perkataan Faiq.


Farah mengenal sifat Vania, dia akan melampiaskan amarahnya tanpa peduli sekitar. Sebaliknya Raihan tidak ingin melihat Vania semakin salah paham padanya. Meski pernah ada hubungan diantara dirinya dan Sovia. Namun itu terjadi jauh sebelum mengenal Vania. Sekarang hubungan Sovia dengannya murni hubungan kerja tidak lebih.


"Dia bukan wanita yang aku maksud, di tidak mendekati suamiku. Tapi wanita yang pernah dekat dengan suamiku. Mantan yang tidak akan pernah suakmiku lupakan!" ujar Vania lirih dan tenang. Sontak Raihan menggeleng tak percaya. Faiq tersenyum melihat ke arah Vania yang terlihat kesal, tapi tetap tenag.

__ADS_1


"Aku sudah menduganya. Dia memang wanita yang cantik dan berpendidikan. Pantas bila dia merasa pantas dekat dengan Raihan. Lagipula bukan salahnya menyukai Raihan. Ketampanan dan kesuksesan Raihan bisa membuat para wanita terlena!" ujar Faiq lirih, Vania mengangguk setuju. Raihan hanya diam dan tak berharap ikut dalam pembicaraan Vania dan Faiq.


"Itulah kenapa papa Rafa merasa kecemburuan mama Hana sangat pantas? Ketampanan dan kesuksesan papa, mampu memikat wanita manapun. Namun tak pernah mama Hana cemburu. Ketika ada wanita yang mendekati papa. Sebab secara pribadi, papa menghadang siapa saja yang ingin mendekat kepadanya?" tutur Vania tegas, Faiq mengangguk setuju dengan perkataan Vania.


"Sudahlah, hentikan pembicaraan yang tidak akan pernah ada ujungnya. Kita disini merayakan pernikahan Faiz dan Farah. Bukan ingin mengenal wanita yang tengah mendekati Faiq!" sahut Davina. Dia mulai merasa permbicaraan antara Faiq dan Vania sudah sangat jauh. Sebelum semua semakin kacau. Davina menghentikannya, agar tak ada yang terluka dan terhakimi.


"Sayang, tak pernah aku membiarkan Sovia mendekat padaku. Selamanya hanya kamu wanita yang dekat denganku!" bisik Raihan tegas. Vania diam mendengar perkataan Raihan. Tak ada hasrat Vania, untuk mengangguk percaya atau menggeleng tak setuju. Raihan pasrah melihat sikap diam Vania. Raihan merasa sudah berusaha meyakinkan Vania. Bahwa tidak ada hubungan diantara dirinya dengan Sovia.


Akhirnya topik pembicaraan berganti. Mereka tidak lagi membicarakan Sovia. Faiq dan Faiz bercerita tentang masa lalu. Mas dimana mereka menempuh pendidikan di luar negeri. Pembicaraan hangat tercipta begitu saja. Raihan hanya menyimpak tanpa ikut dalam pembicaraan. Dia tidak terlalu mengenal Faiq atau Faiz. Jadi sangat tidak mungkin Raihan menyatu dalam pembicaraan mereka.


"Permisi, boleh aku bergabung dengan kalian!" ujar Sovia, Raihan dan Vania mendongak melihat ke arah Sovia. Sontak keduanya terlejut dan meletakkan ponsel mereka. Tak ada lagi hal yang paling mengejutkan. Ketika melihat Sovia berdiri di depan mereka.


Sovia duduk diantara Raihan dan Vania. Entah sengaja atau tidak, Sovia seolah ingin menunjukkan siapa dia bagi Raihan? Vania tidak merasa terusik dengan kedatangan Sovia. Sedangkan Faiq tersenyum simpul, seolah ingin melakukan sesuatu pada Sovia. Sebagai seorang kakak, Faiq berhak melindungi adiknya.


"Raihan, kenapa kamu hanya minum jus? Biasanya kamu akan meminun minuman bersoda atau beralkohol!" ujar Sovia memulai aksinya. Terlihat jelas Sovia ingin membuat Vania marah. Dengan mengingatkan Raihan akan kenangan diantara mereka berdua dulu.

__ADS_1


"Aku sudah tidak minum semua itu. Sesuatu yang tak diperbolehkan oleh agamaku!" sahut Raihan tegas, Sovia terdiam malu. Jawaban Raihan mematahkan harapan Sovia. Bahwa Sovia yang menjadi bagian masa lalu dari seorang Raihan.


Ketika Sovia sibuk menggoda Raihan. Berusaha mencari simpati dan memancing amarah Vania. Sebaliknya sikap tenang dan tidak peduli justru yang terlihat. Vania seakan tidak menganggap keberadaan Sovia. Vania larut dalam layar ponselny. Dia sibuk bermain dengan ponsel kesayangannya.


"Melihat kedekatanmu dengan Raihan. Sepertinya masa lalu kalian sangat dalam dan indah. Namun semua itu kini hanya masa lalu. Sebab Vania wanita yang secara resmi menjadi istri Raihan!" ujar Faiq lirih, Sovia merasa tersindir. Dengan tatapan tajam, Sovia melihat ke arah Faiq.


"Memang Vania wanita yang menikah dengan Raihan, aku tahu itu. Namun satu hal yang harus kalian ketahui. Vania bukan wanita yang dicintai Raihan. Aku tahu jelas selera Raihan. Vania jauh dari kriteria calon istrinya. Vania tidak cantik, sebab itu dia menutup wajahnya. Vania bukan wanita berpendidikan tinggi. Seorang santri pesantren tidak akan melanjutkan kuliah. Apalagi menempuh pendidikan di luar negeri!" tutur Sovia tegas, Faiq tersenyum simpul.


"Vania, sampai kapan kamu akan diam diremehkan? Dia pantas mengenal siapa dirimu? Sebagai seorang kakak aku ingin melihatmu membela diri. Setidaknya berjuang demi cemburu yang kamu rasakan!" ujar Faiq, Sovia tersenyum sinis. Merasa semua perkataannya benar.


"Vania jauh lebih baik darimu!" ujar Raihan tegas.


"Kalau memang dia begitu meyayangimu. Minta Vania melepas cadarnya demi dirimu!" tantang Sovia. Sontak Raihan menggeleng.


"Kecantikannya hanya untukku bukan untuk orang lain!" ujar Raihan tegas.

__ADS_1


"Aku mungkin tidak secantik wajahmu, tapi kecantikanku hanya milik suamiku. Bukan milik umum layaknya kecantikanmu. Aku mungkin tidak sepintar dirimu, tapi aku lulus dengan nilai terbaik dari universitas terbaik. Selama ini aku diam, bukan karena aku takut pada wanita sepertimu. Diamku hanya ingin menjaga kehormatan suamiku. Aku bukan wanita sepertimu yang merasa bangga dengan tatapan lapar laki-laki. Kepintaranku bukan untuk sejajar dengan kepintaran suamiku. Aku tidak ingin lebih tinggi dari suamiku. Sampai kapanpun suamiku harus lebih tinggi dariku? Aku bukan dirimu, aku berbeda denganmu!" sahut Vania tegas.


"Kehormatan suamiku segalanya untukku!" ujar Vania lagi.


__ADS_2