
..."Harta itu sebuah titipan yang tak sepatutnya memisahkan. Harta itu kelebihan yang selayaknya menyatukan. Harta itu kelemahan yang mampu membutakan. Harta kebahagian yang terkadang membawa kehancuran. Jangan jadikan harta alasan hancurnya sebuah keluarga. Jangan agungkan harta, sebab keluarga jauh lebih berharga. Syukurilah harta dengan iman, agar senantiasa kita ingat akan manfaatnya. Jangan silau akan harta, sebab kita takkan pernah tahu kapan harta membutakan? Ingat senyum akan berakhir berganti tangis. Sebaliknya tangis akan berganti menjadi senyum. Setiap yang ada sudah sesuai takarannya. Hanya dengan bersyukur kita bisa mengetahui nikmat yang ada."...
...☆☆☆☆☆...
"Sayang!" sapa Rafa, sembari memeluk Hana. Semenjak hadirnya si kecil, Rafa selalu pulang tepat waktu. Dia tidak pernah pulang terlambat, bahkan Rafa jarang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Rafa seolah menikmati kehidupan barunya sebagai seorang ayah. Saat Rafa datang, kebetulan Hana sedang menyusun baju di lemari. Sedangkan si kecil sedang diam di atas tempat tidur.
"Kak Rafa, aku sedang sibuk. Mandilah dulu, aky akan buatkan teh! Kak Rafa, bau!" ujar Hana kesal, Rafa mengeratkan pelukannya. Hana sampai susah bernapas. Dengan santai Rafa mencium pipi Hana yang berisi. Hana menatap Rafa dengan kesal.
"Baiklah, aku akan mandi!" ujar Rafa sembari melepaskan pelukannya. Rafa berjalan mendekat pada si kecil.
"Kak Rafa, jangan menciumnya. Kak Rafa baru datang, banyak kuman yang menempel!" ujar Hana dingin, Rafa mengangguk pelan. Rafa mengiyakan perkataan Hana. Rafa memandang putranya yang seakan menurut pada Hana. Dia tidak rewel saat Hana sibuk.
"Sayang, aku merindukanmu!" bisik Rafa dengan senyum nakal, Hana menggeleng lemah. Dia tahu maksud Rafa, tapi semua masih sangat tidak mungkin.
"Kak Rafa, segeralah mandi. Aku harus menyiapkan makan malam. Jika kak Rafa terlalu lama, aku tidak bisa menitipkan si kecil padamu!" ujar Hana kesal, Rafa terkekeh. Dia segera pergi ke kamar mandi. Hana meneruskan pekerjaannya. Hana sebisa mungkin mengurus keperluan Rafa dan si kecil sendiri. Hana tidak terlalu ingin bergantung pada ART. Selama Hana bisa dia akan mengerjakannya sendiri.
Setengah jama kemudian Rafa sudah kembali dengan tubuh yang lebih segar. Terlihat rambut hitam legamnya masih basah. Senyum dan tawa si kecil selalu membayangi Rafa saat si kantor. Itu alasan yang membuat Rafa selalu pulang lebih cepat.
Hana melihat Rafa menghampiri si kecil, Rafa gemas melihat pipi gembul si kecil. Tidak henti-hentinya Rafa mencium pipinya. Hana meninggalkan Rafa berdua dengan si kecil. Hana harus segera menyiapkan makan malam. Sebab hari ini Dinda dan Salsa akan datang menjenguk si kecil.
"Hana sayang, aku datang!" teriak Diana, disusul Salsa dibelakangnya. Hana segera keluar menemui Diana dan Salsa. Hana memeluk sahabat dan saudara satu-satunya. Hana bahagia melihat kedatangan Salsa. Sejak lama Hana memaksa Salsa tinggal bersamanya. Namun ditolak oleh Salsa, sebab dia masih betah di kampung.
"Hana, keponakanku mana?" ujar Diana, Hana memberikan isyarat dengan menempelkan telunjuk di depan mulutnya. Diana dan Salsa mengerti jik si kecil sedang tidur.
Setengah jama setelah meninggalkan Rafa, Hana cemas memikirkan si kecil. Dengan perlahan Hana mengintip ke kamar. Hana melihat Rafa tertidur meringkuk di samping si kecil. Sebaliknya si kecil merasa aman dan tidur di samping Rafa.
Dengkuran halus ayah dan anak terdengar indah di telinga Hana. Rafa terlihat sangat lelah, terlihat dari posisi tidurnya yang tidak menggunakan bantal. Rafa tertidur tanpa sadar. Sebab Rafa tidak pernah tertidur saat menjaga si kecil.
Hana menyiapkan makan malam dibantu oleh Diana dan Salsa. Sudah lama Hana tidak memasak bersama kedua sauradaranya. Setelah selesai, Hana menyiapkan semua makanan di atas meja. Saat Hana hendak memanggil Rafa. Terlihat tuan Ardi datang bersama Gunawan dan istrinya. Kedatangan mereka hendak menjenguk putra pertama Rafa. Pewaris keluarga Prawira.
"Kakek, silahkan masuk. Kita sekalian makan malam bersama. Hana akan memanggil kak Rafa!" ujar Hana, lalu mencium punggung tangan tuan Ardi. Diana dan Salsa melakukan hal yang sama. Tuan Ardi tertegun melihat sopan santun kedua saudara Hana. Sikap mereka menunjukkan betapa baik mulia hati mereka. Meski baru pertama kali bertemu. Mereka sudah menghargai tuan Ardi.
Hana mencium kulit tangan yang mulai keriput dimakan usia. Tangan kasar yang pernah menjadi penopang keluarga Prawira dulu. Mungkin sekarang tubuh tuan Ardi lemah. Namun dulu tulangnya yang menjadi sandaran para pewaris keluarga Prawira, termasuk Rafa Akbar Prawira.
__ADS_1
"Kakek, kapan datang? Papa juga ikut!" sapa Rafa berjalan menghampiri meja makan. Terlihat semua orang duduk saling berhadapan. Tak ketinggalan Sabrina yang juga ikut pergi ke rumah Rafa.
"Kak Rafa!" sapa Salsa sembari mencium punggung tangan Rafa, Rafa terperanjat melihat kedatangan Salsa. Rafa melirik ke arah Hana. Rafa sedikitpun tidak mengetahui kedatangan Salsa. Rafa sudah menganggap Salsa layaknya adik sendiri.
"Kapan kamu datang? Kenapa kakakmu diam saja? Siapa yang menjemput?" cecar Rafa kesal, Hana menunduk seraya mengutas senyum tipis. Dia sengaja tidak mengatakan pada Rafa, jika Salsa akan datang. Hana tidak ingin mengganggu pekerjaan Rafa. Hana sengaja meminta bantuan Diana menjemput Salsa di terminal.
"Aku datang tadi sore, kak Diana yang menjemputku di terminal. Aku meminta kak Hana menyembuyikan kedatanganku. Aku tidak ingin merepotkan kak Rafa!"
"Jika kamu menganggapku kakak, seharusnya kamu tahu. Aku tidak akan pernah merasa direpotkan bila itu menyangkut dirimu!" ujar Rafa dingin, Salsa menunduk. Hana menepuk pelan tangan Rafa. Hana mengedipkan mata seolah meminta Rafa untuk diam.
"Sebaiknya kita mulai makan. Tidak perlu membahas Salsa!" ujar Hana ramah, Rafa mengangguk. Entah mungkin watak Sabrina yang selalu merendahkan orang lain. Dengan santainya Sabrina menghina Salsa.
"Pa, lihat sekarang siapa yang datang? Satu lagi orang kampung yang ingin menumpang hidup dari harta keluarga Prawira!" ujar Sabrina lirih, meski lirih Hana mampu mendengar jelas perkataan Sabrina.
"Sabrina diam, jangan menyulut api kemarahan Rafa. Dia mulai membuka diri menerimamu. Kamu tidak akan tahu, apa yang bisa Rafa lakukan?" bisik Gunawan, Sabrina seketika terdiam. Rafa hanya diam saja, entah dia mendengar atau tidak?
"Kak Hana, Salsa kenyang. Bisa tidak Salsa menunggu di ruang tamu!" ujar Salsa, Hana mengangguk pelan. Hana mengetahui jika Salsa terluka dengan perkataan Sabrina. Bukan hanya Salsa, Diana merasakan hal yang sama.
"Salsa, aku akan menemanimu. Kita akan pergi bersama!" bisik Hana, Diana mengangguk pelan. Dia juga mengikuti perkataan Hana.
"Sayang, kamu akan kemana? Kamu belum makan malam. Diana dan Salsa juga belum makan malam! Kenapa kalian bertiga meninggalkan meja makan!" ujar Rafa, tangannya menahan Hana.
"Kami bukan orang yang ingin menumpang makan. Sebaiknya kak Rafa lanjutkan makan malamnya. Aku akan membawa si kecil pergi dengan Diana dan Salsa. Aku akan pergi keluar sebentar! Kak Rafa tidak perlu menungguku. Jika kemalaman, aku akan tidur di tempat Diana. Aku merindukan Salsa!" ujar Hana dingin, Rafa bingung melihat sikap Hana. Tuan Ardi merasakan sesuatu yang tidak baik. Gunawan menunduk merasa bersalah. Hana pergi karena perkataan Sabrina.
"Tunggu sayang, apa yang terjadi? Jangan pergi tanpa mengatakan sesuatu!" ujar Rafa, Hana tersenyum tipis. Dia meletakkan tangan Rafa pelan.
Hana meninggalkan meja makan. Dia mengambil si kecil dari kamar. Hana menggendong si kecil, menyelimutinya rapat agar si kecil tidak kedinginan. Hana juga membawa tas kecil berisi pakaian si kecil. Rafa melihat sikap dingin Hana, dia mengusap wajahnya kasar. Sabrina mematung melihat sikap Hana yang berani. Biasanya Hana akan diam, malam ini dia melihat Hana membangkang. Bahkan dia meninggalkan meja makan tanpa banyak kata.
Setelah kepergian Hana, Rafa menghentikan makan malamnya. Dia pergi menuju kamarnya, Rafa mengambil sesuatu yang akan diberikan pada kakeknya. Tuan Ardi tertegun melihat sikap sopan Hana dan saudaranya menghilang. Mereka pergi dengan rasa kecewa.
"Kakek, ini harta milik keluarga Prawira. Sedikitpun aku tidak mengambilnya. Simpanlah baik-baik, agar menantumu tidak menghina istriku terus menerus!" ujar Rafa dingin, lalu dia duduk di samping tuan Ardi.
Setelah kepergian Hana, tak ada satupun orang yang makan malam. Semua seakan kenyang melihat sikap dingin Hana. Rafa gelisah memikirkan kepergian Hana dan si kecil. Pertama kalinya Hana pergi, tapi Rafa hanya diam saja. Bukan dia tidak ingin mempertahankan Hana. Namun amarah takkan membuat Hana melupakan perkataan Sabrina.
__ADS_1
"Rafa, kakek tidak berhak atas semua ini. Harta keluarga Prawira telah habis. Apa yang ada sekarang sepenuhnya milikmu? Kerja kerasmu sendiri, kamu yang membuat nama keluarga Prawira kembali berjaya. Kami sudah menyusahkanmu selama ini. Kakek tidak akan menerima harta ini. Umur kakek sudah tidak lama lagi!"
"Papa, maafkan Gunawan. Sekali lagi Gunawan tidak bisa membuat Sabrina diam. Kepergian Hana semua karena perkataannya!"
"Rafa, papa minta maaf. Kalau perlu papa akan mencari Hana. Papa akan berlutut di kakinya!" ujar Gunawan sembari menangkupkan tangannya.
"Lupakan, tak perlu mencari Hana. Dia pergi karena keinginannya sendiri. Aku sengaja membiarkan dia pergi. Aku lelah terus melihat Hana dihina. Sedangkan istri papa terus merasa Hana sebagai orang yang menumpang. Biarkan Hana tenang, jika Hana merasa tenang. Pasti Hana akan kembali. Rafa kenal siapa Hana?" ujar Rafa dingin, Gunawan diam membisu melihat sikap dingin putranya. Beberapa hari yang lalu dia baru merasakan kehangatan Rafa. Malam ini, dia harus merasakan kembali sikap dingin Rafa.
"Papa, ambillah apa yang menjadi hakmu? Kelola dengan benar, Rafa tidak akan bertanggungjawab. Sekarang tak ada lagi harta keluarga Prawira yang ada sangkut pautnya denganku!"
"Nyonya Sabrina, aku sudah memberikan harta yang seharusnya menjadi milikmu dan papa. Hak Kiara aku tetap simpan. Aku tidak ingin Kiara kesusahan suatu hari nanti. Dia saudaraku satu-satunya, aku takkan membiarkan keserakahanmu membuatnya susah. Akan kupenuhi janjiku pada mendiang ibuku!" ujar Rafa dingin, tuan Ardi menepuk tangan Rafa pelan. Dia melihat Rafa yang berbeda.
"Rafa tidak membenci putriku, meski karena diriku ibunya harus menderita! Kemana Rafa yang angkuh? Kenapa aku melihat Rafa yang penuh kasih sayang? Sungguh tidak mungkin Hana merubah Rafa. Si gunung es menjadi begitu hangat!" batin Sabrina.
"Ambillah Rafa, milik kakek akan menjadi milikmu dan Kiara. Simpanlah dengan baik, tidak akan ada yang mengatakan harta ini milik keluarga Prawira. Sesungguhnya harta ini kerja kerasmu. Sekali lagi kakek minta maaf!" ujar tuan Ardi sembari menangkupkan kedua tangannya. Gunawan menunduk malu pada putranya. Entah apa yang harus dia lakukan pada Sabrina? Seakan hidup Sabrina hanya harta dan harta.
"Kami pamit Rafa!" ujar tuan Ardi, Rafa mengangguk. Setelah kepergian mereka semua, Rafa masuk ke dalam kamar si kecil. Dia menatap sendu box bayi yang ada di sudut. Rafa duduk bersimpuh di samping box bayi. Rafa mengingat sedetik yang lalu. Dia masih bisa memeluk tubuh mungilnya, mencium harum bedaknya.
"Sayang, papa rindu. Kamu dan mama baik-baik saja bukan! Jaga mama untuk papa, bujuk mama agar tidak marah!" ujar Rafa lirih, dia memeluk guling mini milik putranya.
...☆☆☆☆☆...
Hana, Diana, dan Salsa pergi dari rumah Rafa. Mereka menghentikan taxi, bukan pergi menggunakan mobil milik Rafa. Hana tak pernah membayangkan akan meninggalkan Rafa. Hana membawa putranya yang masih berumur beberapa bulan. Hana tidak akan merasa hina, bila bukan saudaranya yang dihina. Hana masih mampu berdiri meski tanpa harta keluarga Prawira. Bukan salah Rafa mengenal Sabrina. Hana hanya akan pergi untuk semalam. Hana ingin menenangkan hati saudaranya Salsa.
"Hana, tidak seharusnya kita pergi tanpa pamit. Apalagi membawa si kecil. Kasihan dia di luar malam-malam seperti ini!" ujar Diana mengingatkan, Hana menggeleng lemah.
"Jika dengan pergi bisa melupakan rasa terhina. Jauh lebih baik aku pergi. Aku kuat dihina, tapi tidak melihat saudaraku dihina!"
"Kak Hana, maafkan jika kedatangan Salsa membawa masalah untuk keluarga kak Hana!" ujar Hana
"Salsa, kamu satu-satunya yang kak Hana miliki. Jadi tidak akan kakak biarkan mereka menyentuhmu. Kakak jauh lebih rela mereka menghinaku, tapi tidak dirimu. Sekarang lupakan yang tadi. Kita istirahat, besok kak Hana akan mengantarmu mencari tempat kuliah!"
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
TERIMA KASIH😊😊😊